Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 76 | Mainan Baru



“Udah siap, Anak Mommy?” tanya Kyra semangat.


“Siap, Mom!” jawab Emily dan Darren tak kalah antusias.


Mobil yang dikendarai oleh Kyra itu melaju meninggalkan mansion Kennedy. Hari ini, Kyra sendiri yang akan mengantar anak-anak ke sekolah karena Eiden memiliki agenda penting pagi-pagi sekali. Makanya, tugas negara hari ini diambil alih oleh sang ibu negara, wkwkwk.


“Nanti yang jemput Mommy juga, kah?” tanya Emily.


Kyra berpikir sejenak. “Mommy kurang tau, Sayang. Hari ini Mommy mau ke butik. Kita liat aja, ya, nanti.”


“Okay, Mom,” balas Emily riang. Suasana mobil tidak pernah hening karena diisi celotehan mereka bertiga. Untuk para bodyguard, mereka menggunakan mobil lain yang mengikuti Kyra dari belakang.


Beberapa saat perjalanan, mobil berhenti di depan sekolah Emily. “Belajar yang rajin, ya, Sayangnya Mommy,” pesan Kyra usai mengecup kening Emily.


“Okay, Mom. Mommy hati-hati, ya. Dadah..” Emily melambaikan tangannya. Lalu berjalan memasuki sekolah, bergabung di antara kerumunan anak-anak di sana. Olin mengekori Emily dengan setia.


Kyra dan Darren melanjutkan perjalanan ke sekolah bocah laki-laki itu. Berbeda dengan sebelumnya, suasana di mobil agak serius karena keduanya sama-sama menyadari ada yang mengintai mereka. Bukan bodyguard, ya. Tapi, memang ada orang lain yang mengikuti mereka dan itu sudah terdeteksi radar seorang Kyra.


Mobil berhenti di depan sekolah Darren. Kyra menatap putranya serius. “Selalu sama teman-teman atau Kak Xania, paham? Jangan sampe sendirian, Sayang,” pesannya.


Darren mengangguk patuh.


“In-K di tubuh kamu masih ada, kan?”


“Ada, Mom.”


“Ya udah. Kalo ada apa-apa, hubungi Mommy atau daddy. Oke?”


“Oke.”


Setelahnya, Darren melangkah menjauh menuju sekolah. Kyra mengode Xania supaya waspada karena orang yang mengintai mereka masih berada di sekitar. Kyra juga lebih tenang karena pengawal bayangan kiriman Eiden sangat berguna di situasi seperti ini.


“Kita akan ke mana, Nyonya?” tanya Ilona.


“Ke butikku.”


“Baik, mari.”


...💫💫💫...


Mobil Kyra berhenti di tepi jalan ketika sebuah mobil hitam lain menghadang jalannya. Wanita itu mengamati sekitar, sepi. Padahal, ia sengaja memilih jalanan yang biasanya ramai dan macet untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Pasalnya, Kyra sedang tidak mood berkelahi sekarang.


Tidak ada pilihan lain, Kyra turun dari mobil. Ilona dan pengawal lainnya berdatangan membantu majikan mereka. Dari mobil yang menghadang, 8 orang keluar dari sana. Mereka bertubuh besar dan berwajah bringas.


“Serahkan wanita itu pada kami,” ucap salah satu dari mereka yang Kyra yakini adalah sang ketua.


“Siapa kalian?!” seru Ilona mengeluarkan senjata dari balik jas kerjanya.


“Tidak perlu tau. Cepat berikan wanita itu!”


“Kami ti—”


Kalimat Ilona berhenti ketika ia merasakan sebuah tepukan di bahunya. Pelakunya adalah Kyra. Wanita itu menggelengkan kepala, kode supaya Ilona tidak berkata lebih lanjut. “Aku mau ikut mereka,” kata Kyra santai.


Ilona terkejut. “Nyonya, tapi—”


“Udah lama aku nggak nebas kepala orang. Lumayan ada mereka. Atau.. kalian mau gantiin posisi mereka?” Kyra tersenyum manis memandang Ilona dan keenam pria lainnya yang merupakan pengawal bayangan kiriman Eiden. Sebenarnya jumlah mereka ada banyak. Tapi, Kyra lebih memfokuskan keamanan anak-anak daripada dirinya.


Glek!


Ilona dan rekan-rekannya menegang. Kepala mereka menggeleng cepat.


“Ya sudah. Aku mau ikut mereka. Kalian hubungi Eiden, oke? Aku mau dia yang jemput aku nanti. Bye.” Kyra melambaikan tangannya santai. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa situasi yang sedang dia hadapi adalah sebuah adegan berbahaya. Wanita itu benar-benar ajaib dengan segala kelakuannya.


Kedelapan pria tadi menyeringai. Mereka mendorong Kyra masuk ke dalam mobil—yang sialnya sesak. Wah, Eiden pasti marah kalau tahu ia berada di antara pria-pria ini. Hehe, Kyra tidak sabar melihat amukan suaminya itu.


Kyra tampak santai mengamati sekitar. Tidak peduli pada tatapan mesum para penculik saat melihat tubuhnya. Setelah 20 menit, mereka tiba di sebuah gedung. Kyra digiring memasuki bangunan kumuh itu. Tidak ada pemberontakan sama sekali dari target mereka.


Kyra, kan, sengaja karena ingin tahu siapa yang menyuruh pria-pria ini menculiknya.


“Kita apakan wanita ini, Bos?” tanya salah satu pria.


“Kurung saja dulu. Tunggu perempuan itu datang.”


Kyra mengerutkan kening. Perempuan? Apa yang menyuruh mereka perempuan?


“Gimana kalo kita nikmati saja, Bos? Dia seksi juga.” Salah satu pria memandang Kyra mesum. Bahkan, ia menggoda Kyra dengan menjilat bibir bawahnya sendiri.


Kyra jelas geram. Ia mengambil ancang-ancang dan—


Bugh!


“Akh!” Pria itu memegang aset berharganya yang ngilu. Kyra tiba-tiba menendang masa depannya dengan kuat. Sumpah, rasanya nano-nano anjay gitu. Pria-pria lain sampai ikut memegang milik masing-masing, ikut ngeri dengan nasib rekan mereka.


“Sekali lagi Anda berkata mesum atau menatap saya seperti tadi, saya bersumpah akan menyunat kamu sampai 4 kali,” ancam Kyra tajam.


Glek!


Aura intimidasi yang Kyra keluarkan tidak main-main. Alhasil, mereka mengangguk-angguk patuh bak kerbau dicucuk hidungnya.


Kyra mendengkus. “Saya harus menunggu di mana?” tanyanya datar.


“Mari, Nona.” Salah satu pria mempersilakan Kyra berjalan dengan sopan. Kalau tahu mereka ini tipe pria yang bisa dijinakkan, sudah Kyra tendang sejak tadi bulung mereka.


Kyra duduk manis di lantai kotor sebuah ruangan. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah menunggu.


...💫💫💫...


“Mungkin lebih tepatnya... nyonya muda menyerahkan diri, Tuan,” kata Ilona gugup.


“Jelaskan!” titah Eiden.


Ilona menceritakan kejadian penculikan Kyra singkat. Ia cukup mengatakan poin-poin penting dan Eiden sudah bisa menyimpulkan sendiri.


Lelaki itu menyeringai mendengar penuturan Ilona. Sepertinya istrinya itu sudah tidak tahan untuk bermain-main. Makanya, Kyra berani menyerahkan diri.


“Ya sudah.” Eiden memutus sambungan telepon. Ia bangkit dari duduknya dan merapikan jas yang melekat di tubuhnya. “Garry, handle jadwalku hari ini. Aku mau menyelamatkan istriku.”


“Nyonya dalam bahaya, Tuan?” tanya Garry yang mendapat anggukan dari Eiden. “Apa perlu saya menyiapkan pasukan untuk membantu Anda?”


“Ya. Suruh beberapa orang datang ke lokasi yang aku kirimkan.” Setelah itu, Eiden keluar dari perusahaan menuju lokasi sang istri yang ia dapatkan melalui GPS yang terpasang di cincin pernikahan mereka.


...💫💫💫...


Ceklek.. krieettt..


Kyra membuka matanya saat suara derit pintu terdengar. Ia melihat seorang wanita berdiri di hadapannya. Tahu siapa dalang dari penculikan ini, Kyra menyeringai.


Orang ini sudah diperingati, tapi tidak dihiraukan. Maka, jangan salahkan Kyra jika ia berbuat kejam pada wanita itu, Clara.


Prok prok prokk..


“Halo, Istrinya Eiden. Oh, ataukah aku harus memanggilmu.. ‘calon mantan istri Eiden’?” Clara tertawa bengis. Ia puas sekali melihat Kyra di situasi seperti ini—yang ia pikir menguntungkan baginya.


Kyra mendengkus. “Bukankah saya sudah memperingatkan Anda untuk tidak mengusik keluarga saya lagi? Tapi, sepertinya Anda tidak paham bahasa manusia. Anda suka bahasa fisik. Benar?”


Clara menatap Kyra tajam. “Setelah tau mau mati, kau malah semakin berani, ya.”


“Heh, memangnya siapa yang akan mati?”


“Tentu saja kau, Bodoh!” Clara menodongkan pistol yang ia bawa. “Ada ucapan terakhir, Nona Kyra?”


Kyra tidak mengatakan apa pun. Wanita itu bangkit dari simpuhan dan berdiri di hadapan Clara. Ia bahkan mencengkeram pistol di tangan Clara berani. Sorot matanya tegas, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. “Anda ingin membunuh saya? Heh, mimpi!”


Dalam hitungan detik, pistol di tangan Clara berhasil direbut. Kyra balik menodongkannya ke kepala wanita itu.


“Kesempatan Anda sudah habis.”


Dor!


“Aaakhh..” Clara menjerit ketika Kyra menembak kakinya.


Teriakan Clara yang menggema menarik perhatian para pria penculik. Mereka bergegas menghampiri tuan yang menyewa mereka sebelumnya. “Nona Clara!” pekik para pria terkejut melihat kondisi Clara yang terbilang menyakitkan.


Clara mendesis sakit. “Apa yang kalian tunggu?! SERANG WANITA INI! HABISI DIA! ATAU KALIAN LAKUKAN APA PUN, TERSERAH!”


Kedelapan pria tadi menyerang Kyra secara bersamaan. Namun, tidak ada yang berhasil melukai wanita itu. Setiap pukulan atau tendangan yang mereka layangkan berhasil Kyra hindari dengan mudah.


Kyra menyeringai. “Waktunya main,” ucapnya senang.


Dor! Dor! Dor!


“AAARGGGHH...!!”


Teriakan pria-pria tadi terdengar bersahutan. Clara yang menyaksikan kekejaman Kyra dalam membunuh preman sewaannya bergetar ketakutan. Bagaimana tidak?


Pria-pria tadi tidak dibiarkan utuh sama sekali. Meskipun mereka sudah mati, Kyra tetap memotong anggota tubuh mereka. Bahkan, tanpa rasa bersalah, mommy-nya Darren itu menendang-nendang dan menginjak-injak mayat para pria tadi.


Kyra menatap Clara dengan wajah penuh cipratan darah. “Siapa selanjutnya?” tanyanya dengan nada rendah.


“K–kau ib–blis!” pekik Clara gemetar.


“Hahaha...” Kyra menginjak kepala pria yang ia tebas lehernya. Melangkah sedikit demi sedikit mendekati Clara yang terduduk lemas di lantai. “Kau yang memancingku, ******.”


“Sayang..”


Clara menoleh cepat. Sedangkan Kyra hanya tersenyum tanpa memutar kepala. Ia tahu itu suara suaminya.


Clara merangkak ke arah Eiden yang baru tiba. “E–Eiden, tolong aku. Di–dia ingin membunuhku. Lihat!” Clara menunjuk mayat pria-pria tadi dengan tangan gemetar. “D–dia membunuh mereka. Dia pelakunya! Tolong aku, Eiden, hiks.. aku takut.”


Eiden menatap mayat-mayat tadi, lalu beralih pada sang istri. “Sayang, ini ulahmu?”


Kyra mengangguk santai. “Iya. Bagus, kan, mahakaryaku, Sayang?”


Eiden tersenyum kecil. “Bagus, kok.” Ia merentangkan tangan yang langsung ditubruk oleh Kyra. “Udah puas mainnya?”


“Belum, Yang. Mereka lemah banget,” adu Kyra manja.


Clara terperangah melihat tingkah keduanya. Sekarang ia sadar sudah memilih lawan yang salah. Pasangan di depannya ini bukan orang sembarang. Mereka pasangan iblis!


...💫💫💫...


“Sayang,” panggil Kyra yang fokus pada ponselnya.


“Ya?”


“Sepertinya bentar lagi kita bakalan punya mainan baru, Yang.”


^^^To be continue...^^^