Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 61 | Penuh Darah



Keesokan harinya...


Eiden menghubungi Garry pagi-pagi sekali dan menyuruhnya menghandle seluruh pekerjaan di kantor hari ini. Sementara ia akan pergi ke markas untuk mengurus masalah lain. Niat awal, sih, begitu.


Namun, siapa sangka jika pagi ini ada sebuah kejadian menggemparkan hingga berdampak buruk bagi penghuni mansion. Alhasil, niat Eiden hancur berantakan.


Entah datang dari mana, kotak berisikan kepala manusia penuh darah sampai ke mansion. Mungkin, bagi Eiden, Cavan, Abigail, dan Kyra, itu adalah hal biasa. Sayangnya, itu tidak berlaku bagi duo bocil yang ada.


Darren dan Emily syok berat. Darren ketakutan, sangat! Walaupun ia sering menemani Kyra ke markas mommy-nya dulu, tetapi Darren tidak pernah dibiarkan melihat hal-hal berbau sadis. Apalagi ini kepala manusia, lho. Jelas bocah 6 tahun itu akan kengerian.


Sedangkan Emily, gadis kecil itu histeris melihatnya. Kyra dan Eiden sampai kewalahan untuk menangani Emily yang terus menjerit ketakutan.


Darren dan Emily terpaksa diberi penangan khusus oleh Erica. Dokter wanita tersebut menyuntikkan obat penenang dengan dosis rendah demi menghentikan gejolak batin anak-anak. Jika tidak ditangani dengan cepat, psikis Darren dan Emily bisa dalam bahaya.


“Apa Anda keberatan jika saya tetap di sini untuk memantau kondisi anak-anak, Tuan? Saya khawatir psikis anak-anak terganggu karena insiden yang Anda ceritakan,” tutur Erica cemas. Bagaimanapun, ia ini lumayan dekat, lho, dengan Darren. Melihat anak kecil kesayangannya terbaring lemas begini, Erica tak kuasa menahan diri untuk tidak turun tangan.


Eiden mengangguk. “Saya tidak keberatan. Lakukan yang terbaik untuk mereka.”


“Untuk sementara, tempatkan keduanya si satu kamar supaya mereka tidak merasa sendiri. Atau mungkin lebih baik jika anak-anak bersama Anda dan Nyonya selama beberapa hari ke depan. Setelah keduanya cukup tenang, Anda bisa memberi pengertian mengenai kejadian tadi,” jelas Erica.


Kyra mengerutkan dahi. “Memberi pengertian? Itu artinya aku harus kasih tau mereka yang sebenarnya? No, Erica! Itu terlalu berisiko! Mereka malah akan kepikiran terus.”


Erica tidak marah. Ia maklum dengan penolakan Kyra. Wanita itu tengah mengkhawatirkan kedua anaknya. Jadi, hal yang wajar bagi Kyra. Lagipula, pendapat Kyra tidak sepenuhnya salah.


“Untuk nona kecil, Nyonya bisa membuatnya melupakan kejadian tadi dengan mengalihkan perhatiannya. Bisa dengan jalan-jalan atau liburan yang menyenangkan. Hanya saja... karena saya mengenal sifat Darren, ini akan menjadi masalah yang lumayan rumit baginya.” Erica menatap Kyra penuh arti.


Kyra paham. Sangat paham. Darren dengan pemikiran cerdasnya tentu akan kesulitan melupakan kejadian mengerikan pagi ini. Kyra benar-benar harus memutar otak supaya Darren baik-baik saja. Mendadak Kyra kesal karena memiliki putra yang genius.


“Solusi lainnya adalah melakukan hipnoterapi, Nyonya. Kita bisa menghapus ingatan anak-anak yang menyebabkan trauma dan bertingkah seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi,” tambah Erica memaparkan beberapa jalan keluar.


Kyra menoleh ke arah sang suami. Ternyata, Eiden masih fokus menatapi kedua buah hati mereka yang terbaring di ranjang dengan sorot sendu. Entah apa yang lelaki itu pikirkan, Kyra tidak tahu. Air muka Eiden terlalu sulit ditebak.


“Eiden?” Kyra menyentuh bahu suaminya. “Jangan kayak gini. Anak-anak butuh dukungan kita, jangan liatin wajah sedih kamu.”


Eiden memutar kepalanya ke arah istrinya. Kyra terkejut melihat sepasang mata Eiden mengembun.


Erica yang paham pun pamit undur diri. Eiden dan Kyra butuh ruang untuk mengeluarkan unek-unek masing-masing. Jadi, dia tidak ingin mengganggu.


“A–aku gagal,” lirih Eiden. “Aku gagal jagain mereka, Kyra.”


Kyra menggeleng tegas. “Nggak, Eiden. Kamu nggak gagal. Ini diluar prediksi kita.”


Tanpa diduga, air mata Eiden berjatuhan satu per satu. “A–aku nggak bisa, hiks.. lindungi anak-anakku sendiri. Aku ayah yang buruk, hiks..”


Buru-buru Kyra merengkuh Eiden erat. Insiden pagi ini memang diluar bayangan. Tidak ada yang bisa menebak jika akan ada teror yang datang pagi ini dan menyebabkan anak-anak speechless.


“Aku tau masalah kita masih belum selesai. Tapi, sekarang kita punya satu masalah lagi. Kita harus cari dalang dibalik semua ini, Eiden. Kita harus balas mereka.” Kyra berusaha memotivasi. Ia sadar, musuh semakin agresif menyerang dari segala aspek. Keluarganya tidak diberi kesempatan untuk membalikkan keadaan.


Tidak butuh waktu lama, tekad di hati Eiden berkumpul jadi satu. Sorot mata lelaki itu berkobar, penuh api kemarahan. Ia bersumpah dalam hati untuk membalas setiap perlakuan mafia The Zero hari ini juga. Di kotak kiriman tadi terdapat lambang The Zero yang khas, jadi Eiden bisa mengenalinya.


Hari ini juga Eiden akan mengurus mereka dengan caranya.


...💫💫💫...


Setelah memastikan keadaan anak-anak, Eiden menitipkan Darren dan Emily pada Kyra. Ia beralasan ingin menyelidiki kasus ini supaya cepat selesai. Padahal, Eiden hendak melakukan sesuatu kepada para mafia sialan itu.


Di sisi lain, keinginan Eiden untuk keluar dari mafia dan menjalani kehidupan sederhana menguat. Ia ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin dan menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan keluarga. Hari-hari dilalui tanpa harus takut dengan ancaman yang tiba-tiba datang. Pasti membahagiakan.


“Hati-hati, ya.” Kyra menatap suaminya dengan sorot khawatir.


Eiden mengangguk yakin. Lantas dirinya pergi dari mansion bersama Michael dan Erry. Garry sendiri ditugaskan di perusahaan menggantikan Eiden yang tidak hadir.


“Gimana keadaan anak-anak, Eiden? Mereka baik-baik aja, kan?” tanya Michael cemas.


Eiden menampilkan raut datar. “Mereka nggak baik,” jawabnya nampak enggan. Dan, itu sudah lebih dari cukup bagi kedua sahabatnya untuk berhenti bertanya mengenai Darren dan Emily.


“Apa yang mau kamu lakuin ke mereka, Eiden?” tanya Erry penasaran.


Eiden menyeringai. “Habisi orang-orang berpengaruh dari mereka malam ini juga.”


...💫💫💫...


Apabila Eiden sudah berucap, maka itulah yang terjadi.


Pembantaian habis-habisan terjadi di markas The Zero di Jakarta. Dengan membabi buta, Eiden menyerang mereka semua dengan samurai. Menebas ratusan kepala hingga pakaian yang dikenakan penuh darah. Malam ini, Eiden melampiaskan seluruh kemarahan di hatinya kepada anak buah Roby.


Mereka yang memancingnya. Jadi, jangan salahkan Eiden jika ia membalas dengan lebih keji.


Setelah itu, markas dihancurkan menggunakan peledak. Beberapa anak buahnya membawa kepala manusia tanpa tubuh. Eiden menyuruh mereka untuk mengirimnya ke tempat tinggal Roby. Ini sebagai peringatan kepada musuhnya itu jika ia tidak main-main memberi balasan.


“Eiden, ini udah malem. Kamu pulang aja, sisanya biar kami yang urus,” ucap Michael. Erry mengangguk setuju.


Eiden mengangguk, membenarkan. Anak-anaknya pasti menantinya di rumah. Ia tidak boleh pulang terlalu larut.


Ketika tiba di mansion, mansion telah gelap. Itu artinya, seluruh penghuni sudah terlelap. Hanya pengawal yang mendapat jatah shift malam saja yang masih terjaga. Mereka nampak berkeliling, mengawasi mansion dengan teliti.


Tanpa disadari, Eiden telah melakukan sebuah kesalahan besar. Lelaki itu masuk dan berjalan santai ke kamar. Gelap. Itu yang dirasakan. Sayangnya, Eiden harus menelan pil pahit ketika tiba-tiba lampu menyala dan seseorang menatapnya tajam dari sudut ruangan.


“Apa yang kamu lakuin dengan badan penuh darah itu, Eiden?!”


^^^To be continue...^^^