
“KAMU SEKARANG DUKUNG MEREKA, DARREN?!” pekik Kyra baru menyadari hal tersebut.
Darren cengengesan. Ia mengatupkan tangannya di depan wajah. “Ee.. nggak gitu, kok, Mi. Darren cuma—”
“CUMA APA?!” Kyra berkacak pinggang dengan sorot tajam. “Mulai berani, ya? Sekarang bukan dukung maminya, malah dukung orang lain.”
“Ih, mana ada. Darren cuma.. em.. cuma membela diri! Nah, iya!”
Sepasang mata hijau Kyra tetap menyorot tajam. Darren sampai kelabakan ingin membalas dengan kalimat ‘mempengaruhi’ dalam model apa.
Otak! Ayo berpikirlah!—paksa Darren dalam hati. Kalau begini, sia-sia dong usahanya. Bisa menangis sehari semalam, nih.
Berbeda dengan pemikiran Darren, Kyra malah merasa tidak karuan. Mengetahui jika putranya membela keluarga Kennedy, itu artinya Darren senang bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Apa keluarga itu benar-benar berhasil meluluhkan hati Darren?
“Mi, maaf. Darren cuma nggak mau Mami susah-susah kerja lagi buat Darren. Om Eiden, kan, kaya, dia bisa jamin keselamatan Mami juga. Darren khawatir sama Mami,” cicit Darren sendu. Padahal, bocah itu tertawa dalam hati, merasa bangga dengan otaknya yang bisa diajak bekerja sama.
Aura-aura ketegangan di paras Kyra mulai mengendur. Hati wanita itu tersentuh mendengar penuturan putranya. Masalahnya, Eiden seorang mafia. Pemimpin Blood Moon yang memiliki ratusan musuh di luar sana.
Kelompok mafia Kyra memang sangat terkenal karena senjata inovasi mereka. Namun, selama ini Black Rose tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun sehingga banyak kelompok mafia lain yang membeli senjata dan mengajak bekerja sama. Berbeda dengan kelompok mafia milik Eiden yang memang memiliki tujuan tersendiri.
“Mami, Mami marah, kah? Maafin Darren.” Anak itu menggenggam sebelah tangan Kyra dengan bola mata hijau berkaca-kaca.
Kyra memicing curiga. “Ini kamu beneran mau nangis atau pura-pura doang?”
Darren berdecak. Ia membalikkan badannya dengan raut kesal. “Mami nggak seru, ah. Darren udah effort banget, lho, tadi. Melek mata terus biar pedes terus nangis.”
Kyra dan yang lainnya melongo. Sedetik kemudian, mereka tertawa bersama. Darren menggerutu tanpa henti, mulut kecilnya komat-kamit.
“Udah, ah. Ayo pulang.” Kyra menarik tangan Darren supaya ikut bersamanya.
“Iiihh... Mami beneran minta pulang? Beneran ditolak?” Darren masih belum menyerah. Ia panik melihat Emily siap menangis di depan sana. Abigail juga panik karena calon menantunya hendak pergi. “Nanti kalo dicegat, gimana?”
“Mamimu bisa beladiri kalo kamu lupa, Boy.”
“Eh, iya, ya.” Darren manggut-manggut. Kemudian kembali panik. “Aaah, Mami, kasihan Emily. Dia mau nangis.”
Sontak Kyra menghentikan langkahnya. Ia menatap Darren lekat. “Jadi, ini gara-gara Emily? Kamu bujuk Mami karena dia?”
Darren terdiam. Ia melirik Emily sebentar, lalu menatap Kyra lekat-lekat. “Nggak, Mami. Ini keinginan Darren sendiri,” balasnya pelan.
“Kenapa?” tanya Kyra agak menuntut.
“Darren...” Ia melirik ke sana kemari, bingung ingin menggunakan kata apa. “Darren suka di sini. Ada.. Om Eiden, Oma, sama Opa. Emily juga.”
“Rasanya kayak punya keluarga lengkap,” tambah Darren dengan suara pelan.
Kyra terdiam. Tidak disangka jika putranya akan berpikir hingga ke sana. Ingin keluarga lengkap, sesuatu yang tidak pernah Kyra bayangkan menjadi salah satu harapan di hati Darren.
Darren menepis tangan Kyra. “Ayolah, Mi. Jangan begini, kasihan tau Emily.” Buru-buru Darren mengubah topik pembicaraan. Ia tidak mau sampai suasana antara dirinya dengan sang mami berubah canggung.
Tidak ingin menambah keresahan hati putranya, Kyra ikut memainkan drama. “Mami bilang nggak, ya nggak. Kamu bukannya dukung Mami malah dukung mereka.”
“Biarin dong.” Darren menjulurkan lidahnya. Kyra melotot kesal. Wanita itu hendak menangkap Darren, namun bocah itu lebih dulu berlari sembari tertawa.
“SINI KAMU, DARREN!” seru Kyra kesal. Niat pura-pura, tapi putranya sungguh menyebalkan tingkat dewa.
Alhasil, ibu dan anak itu kejar-kejaran memutari pekarangan mansion. Abigail dan Cavan saling berpandangan, lalu terkekeh bersama. Memang, ya, tingkah Kyra dan Darren terlampau unik. Sementara Eiden bergeming di posisi, fokus menatap putrinya yang terus memandang Darren dan Kyra. Ia paham apa yang dirasakan Emily.
Darren berlari sambil tertawa sampai tidak menyadari ada mobil Kyra yang terparkir di depannya. Kyra memekik, “DARREN AWAS!”
Darren menarik Emily dan berdiri di belakang Eiden. Kekehan pelan masih terdengar. “Kita bujuk mommy-mu itu.”
Senyum Emily langsung melebar. Ia memeluk Darren senang.
Kyra berdecak. Kalau mereka berdiri di belakang Eiden, ia harus apa? Masa masih dikejar? Untung saja dirinya rajin berolahraga. Napasnya memang memburu, namun ia tidak kelelahan sama sekali.
Eiden tersenyum kecil melihat putrinya sangat bahagia. Ia menyembunyikan kedua bocah itu di belakangnya dan menatap Kyra tenang. “Berubah pikiran?”
Kyra memutar bola matanya malas. “Memangnya saya punya pilihan lain selain menerimanya, Tuan? Anak saya saja sampai membujuk saya.”
Abigail dan Cavan menghela napas lega. Emily memekik antusias. Sedangkan Darren terkekeh pelan dengan kedua tangan di saku celana.
Eiden langsung mengambil ponsel di saku celananya. Ia menghubungi Garry dan berkata, “Garry, siapkan semua yang diperlukan untuk menikah. Hari ini juga saya ingin menikah dengan Kyra.”
Kyra membisu. Ia syok bukan main. Menikah hari ini?! HARI INI?!!
“Eiden, apa nggak kecepetan?” Abigail kurang terima. Ia sudah memikirkan untuk menyewa WO terbaik guna menyiapkan pernikahan. Namun, Eiden malah berkata lain.
“Minimal kami menikah dulu, Ma. Jangan sampai wanita itu berubah pikiran.” Eiden menyeringai. Ia berbalik menatap kedua anak di belakangnya. “Daddy pergi sebentar, ya.” Ia mengusap kepala Darren dengan senyum penuh arti. “Terima kasih,” ucapnya pelan.
Setelah itu, Eiden menarik Kyra yang hanya patuh diseret oleh lelaki itu. Tujuan pertama, mereka pergi ke butik untuk memilah gaun. Hanya dalam kurun waktu 1 jam, gaun pengantin sederhana berhasil dipakai. Iya, Kyra dan Eiden langsung berganti pakaian di butik.
Tujuan kedua, toko emas untuk mencari cincin pernikahan. Hanya sementara, nanti lelaki itu akan menggantinya dengan cincin ekslusif.
Dokumen pernikahan sudah disiapkan oleh Garry—walaupun lelaki itu bingung bukan main karena atasannya tiba-tiba menikah. Satu gereja siap dijadikan sebagai saksi momen sakral mereka.
Abigail, Cavan, Darren, dan Emily tiba. Di tangan Darren ada buket bunga. Cavan juga berhasil membawa beberapa pihak keluarga dan klien yang sangat penting untuk dijadikan saksi. Ini pernikahan super kilat.
Uang benar-benar memudahkan segalanya.
Tepat di pukul 11.24 siang, Kyra dan Eiden telah mengumandangkan janji suci pernikahan. Mereka resmi menjadi sepasang suami-istri di mata hukum dan agama. Para tamu undangan yang hadir bertepuk tangan meriah ketika Eiden mencium kening Kyra.
“Terima kasih, Istriku,” bisik Eiden tepat di depan wajah Kyra yang termenung.
Isi kepala Kyra langsung bubrah. Kocar-kacir semua pokoknya.
Ini kenapa?
Ini ada apa?
Aku udah menikah?
Aku udah jadi istri orang lain?
Secepat ini?
BENERAN UDAH JADI ISTRI, WEH?!!!
Kyra tidak sanggup berkata-kata. Ini sangat mendadak. Ia melirik ke samping, di mana suaminya tengah meladeni tamu yang mengucap selamat—IYA, BENER! SUAMINYA!! EIDEN BENERAN JADI SUAMINYA DONG!
Darren terkekeh melihat raut pasrah pada paras maminya. Kyra pasti syok karena semua ini terlalu mendadak. “Selamat menempuh hidup baru, Mami...”
“Dan aku juga tentunya.”
Welcome in new family and new world.
^^^To be continue...^^^