
Pukul 6 sore, Kyra mengusir seluruh chef dan pelayan yang ada di dapur. Wanita itu ingin memasak sendiri. Nova, sang kepala pelayan, sampai memelas, memohon pada Kyra supaya mereka diizinkan membantu. Pasalnya, mereka takut jika Eiden mengamuk.
“Tenang aja, Eiden nggak akan marah. Kalian kerjain yang lain sana. Satu orang aja yang di sini, oke?” pinta Kyra dengan senyum manisnya. Satu pelayan yang dimaksud bertugas memberitahunya letak bahan makanan.
“Ada apa ini?”
Tubuh para pelayan dan chef langsung tegang. Itu suara Eiden yang berdiri di belakang mereka.
Kyra tersenyum. “Nggak pa pa, kok. Aku cuma mau masak.”
Eiden mengerutkan dahi. “Kan, ada pelayan. Buat apa aku bayar mereka kalo gitu?”
“Eiden.” Kyra mengikat apron di leher dan pinggang, lalu mendekati suaminya. “Salah kalo istri masakin suaminya? Atau ibu yang manjain anaknya pake makanan? Salah kalo seorang menantu berbakti sama mertuanya?”
Eiden mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Aku, kan, cuma mau masakin keluargaku makanan spesial. Bukan ngajak mereka perang. Sesekali nggak pa pa, kan?” Kyra mengulas senyum teduh ala keibuan.
Eiden menghela napas panjang. Kalau sudah diberi kalimat seperti itu, ia mengaku kalah. Alhasil, menu makan malam ini, Kyra yang masak.
“Mommy!”
Emily yang sudah selesai mandi datang ke dapur. “Mommy mau masak? Emily mau bantu!” serunya antusias.
Kyra yang baru mengeluarkan bahan-bahan dibantu satu pelayan terkekeh. “Boleh dong, Sayang.” Dengan cekatan, wanita itu mendudukkan Emily di kursi bar. Satu baskom yang diisi beberapa bahan tersaji di hadapan. “Sekarang Emily bantu Mommy aduk, ya. Harus sampe kecampur semua, oke?”
“Oke, Mommy.” Emily dengan senang hati mengaduk campuran di depannya. Sesekali ia menanyai ini dan itu pada sang mommy. Untungnya, stok kesabaran Kyra tumpah ruah, jadi wanita itu selalu menjawab.
Ini berkat putranya, sih. Menghadapi Darren itu butuh ribuan kesabaran.
Tidak lama, Abigail bergabung di dapur. Ia tidak diizinkan membantu, jadi hanya duduk menemani Emily sambil berbincang hangat.
Beralih pada Darren. Bocah itu tengah menatap serius papan catur di depannya. Sang lawan, Cavan, juga tidak kalah berkonsentrasi. Babak pertama dimenangkan oleh Darren. Jika babak kedua juga dimenangkan oleh Darren, Cavan kalah telak karena mereka sepakat bermain tiga babak.
Eiden tertawa tertahan. Dilihat dari posisi bidak, Cavan sudah terdesak. Namun, pria paruh baya itu masih tidak ingin menyerah. Terus mencoba mencari celah agar dirinya tidak kalah dari cucunya ini.
“Aduh, yang mau kalah udah berkeringat,” ejek Darren melihat butiran air di kening Cavan.
Cavan mendelik. Ia menggerakkan kudanya maju, yang dibalas gerakan benteng oleh Darren. Eiden menarik kursi di sisi meja lain, ingin memerhatikan permainan.
Beberapa menit kemudian, Darren berseru, “Skat mat!”
“Aaarrrgghh...” Cavan berteriak frustrasi.
Darren tergelak. “Sebagai hukuman, Kakek beresin papan sama bidaknya. Bye!” Bocah itu melenggang dengan dagu terangkat, sombong karena habis menang.
“Sial! Anak itu beneran bikin capek,” keluh Cavan.
Eiden terkekeh pelan. “Jangan remehin anak itu, Pa.”
“Papa tau.” Cavan memandang Darren penuh arti. “Papa yakin, dia akan jadi pemimpin yang hebat. Sekecil ini, otaknya bener-bener meresahkan.”
Eiden mengangguk setuju. Darren memiliki potensi besar dalam dirinya.
...💫💫💫...
Makan malam berlangsung. Aneka hidangan terhidang di meja. Darren dan Emily paling heboh, tidak sabar menyantap masakan Kyra. Ada capcay kuah yang isinya sayuran, ayam, seafood, dan bakso ikan; ayam bakar madu; sup ayam; ikan bakar bumbu kecap; udang saus padang; terakhir udang goreng kipas.
Niat sekali si Kyra ini. Sekali masak nggak tanggung-tanggung.
Kyra mengambilkan nasi untuk Eiden. “Lauknya ambil sendiri, ya.” Lalu mengambilkan untuk kedua anaknya bergantian. “Emily mau pake apa?”
Posisi Kyra duduk memang diapit Darren dan Emily. Jadi, Eiden duduk di depannya. Makanya, wanita itu kesulitan mengambilkan lauk untuk suaminya.
“Mau ayamnya, Mommy.” Emily menunjuk ayam bakar madu.
“Darren mau apa?” tanya Kyra.
“Ikan, Mami.”
“Iiih.. Kakak! Kan, Emily udah bilang, panggilnya ‘mommy’! Jangan ‘mami’!” protes Emily.
Darren menghela napas berat. Ia jadi ingat perdebatannya dengan sang adik beberapa menit silam. Bukan perkara besar, sih. Cuma masalah panggilan. Emily ingin memanggil Kyra ‘mommy’, namun Darren terbiasa menyebut ‘mami’.
Setelah perdebatan panjang, Darren mengalah. Ia akan mengubah panggilannya, tapi bertahap. Mengubah kebiasaan itu butuh waktu.
“Iya, Emily, iya. Kan, Kakak udah bilang ubahnya pelan-pelan. Kalau masih salah, ditegur, bukan diajak gelud,” balas Darren malas.
“Emily nggak ngajak gelud, kok,” seru Emily sengit.
“Udah, udah. Darren, adiknya jangan dijaili terus. Emily, kakakmu ini bener. Ubah kebiasaan itu butuh waktu. Jadi, kalau masih salah, dimaklumi, ya,” nasihat Kyra menengahinya keduanya.
Emily langsung berubah jadi anak penurut. “Oke, Mommy.”
Darren mencibir. Ia ingin sekali membalas, namun perutnya melarang. Ia sudah kelaparan. Kalau pertengkaran ini diteruskan, pasti acara makan malam ditunda.
Makan malam dimulai. Emily terus memuji masakan Kyra yang enak. Anak itu makan dengan lahap. Bahkan, setiap lauk yang ada Emily coba. Gadis kecil yang biasanya tidak menyukai sayur itu berulang kali meminta sup ayam.
“Nggak, Tante. Kyra cum—”
“Mama, Sayang. Panggilnya ‘mama’,” sela Abigail tidak terima. Status Kyra itu menantunya, tapi wanita itu masih memanggilnya ‘tante’.
Kyra mengulum bibir ke dalam. “Iya, Ma.”
Cavan dan Eiden tidak banyak bicara. Kedua lelaki itu fokus makan. Bahkan, keduanya sampai menambah porsi nasi untuk menghabiskan ikan bakar bumbu kecap yang tersisa. Kyra, sih, cuma bisa geleng-geleng.
Makan malam selesai. Para pelayan langsung bergerak membersihkan meja makan sebelum Kyra bertindak. Mereka tidak mau jika gaji mereka dipotong karena membiarkan atasan bekerja.
“Mami—ah, Mommy maksudnya, makanan penutupnya nggak ada?” tanya Darren. Ia hafal betul jika maminya ini selalu menyediakan dessert sebagai penutup makan. Entah itu es krim, yoghurt, ataupun makanan manis lainnya.
“Ada dong. Mommy buat pudding cokelat.” Kyra bangkit menuju kulkas. Dibantu beberapa pelayan, pudding cokelat tersaji di hadapan Emily dan Darren. “Ehm, Mama sama Papa mau juga?”
“Boleh,” jawab Abigail. Seporsi pudding tersaji di hadapan Abigail dan Cavan.
“Kamu mau?” tawar Kyra pada Eiden.
Eiden hanya mengangguk.
“Tadi Emily bantu Mommy buat pudding-nya, lho, Daddy,” kata Emily semangat.
Eiden tersenyum. “Oh, ya? Wah...”
Seluruh keluarga pindah ke ruang keluarga. Menyantap pudding cokelat sembari berbincang bersama. Jelas celotehan Emily yang paling banyak.
“Iihh.. punya Emily habis. Mommy, pudding-nya masih di kulkas?” tanya Emily penuh harap.
“Yaahh.. udah habis, Sayang. Daddy kamu makan dua tuh.” Kyra menunjuk dua piring kecil di hadapan Eiden. Lelaki itu salah tingkah mendapati putrinya tengah melotot padanya.
“Nih.” Darren menyodorkan pudding-nya. Tersisa separuh.
“Buat Emily?”
“Iya.”
Emily tersenyum senang. “Terima kasih, Kakak!” Tidak peduli jika itu bekas kakaknya, Emily tetap bahagia.
Darren beralih menatap Eiden, Abigail, dan Cavan. “Terus kamar Darren di mana?”
“Di sebelah Emily, Sayang. Udah dibersihin tadi pagi. Tapi, interiornya belum ditata, nggak pa pa?” balas Abigail.
Darren mengangguk. “Yang penting Darren bisa bobo’. Interior bisa nanti.”
“Malam ini, Emily mau bobo’ sama Mommy, ya.” Emily tiba-tiba berkata.
Kyra hendak mengiyakan, namun Abigail lebih dahulu menjawab. “Mommy-mu harus tidur sama daddy, Sayang.”
“Tapi, kenapa, Grandma? Emily mau bobo’ sama mommy,” rengek Emily.
Belum sempat Abigail mengeluarkan suara, Darren lebih dulu bertindak. Anak itu nampak membisikkan sesuatu di telinga Emily. Ekspresi Emily langsung berubah. Ia mengangguk-angguk pada sang kakak.
“Oke, deh. Mommy malam ini sama daddy. Tapi, besok sama Emily, ya.”
Kyra tersenyum kaku dan mengangguk. Ia memicing curiga pada sang putra, penasaran dengan apa yang diucapkan bocah itu sampai Emily berubah pikiran. Sayangnya, Darren sengaja menghindar.
Darren bisikin apa, ya?
...💫💫💫...
“Nggak tidur?” tanya Eiden basa-basi. Mendadak satu kamar dengan wanita ternyata menimbulkan perubahan atmosfer, ya. Lelaki itu canggung bukan main.
Kyra menggeleng. Ia tersenyum. “Nunggu suamiku.”
Anj*ng! Eiden refleks mengumpat dalam hati. Kata-kata Kyra sukses mendebarkan jantungnya.
Kyra tergelak melihat wajah Eiden yang merah padam. Wanita itu bergerak mengambil ponsel dan berkata, “Canda doang. Belum ngantuk, kok.”
Eiden menghembuskan napas panjang. Sepertinya ia harus siap spot jantung setiap hari.
Beberapa menit berlalu, keduanya hanya diam dalam posisi berbaring bersebelahan. Jika Eiden merenung, Kyra tertawa cekikikan sembari menatap ponsel. Entah apa yang wanita itu tertawakan.
Eiden kesal entah karena apa. Lelaki itu langsung merampas ponsel istrinya.
“Eiden!” pekik Kyra. “Balikin nggak?!”
Eiden melirik layar ponsel. Kyra barusan membaca novel online. Tidak tertarik. Jadi, Eiden mematikan benda pipih itu dan disembunyikan di saku piyamanya.
Kini giliran Kyra yang kesal. Wanita itu bergeser dan berusaha meraih ponselnya. Jarak di antara keduanya kian menipis. Eiden hanya diam, memperhatikan Kyra yang tanpa ragu mendekat.
Tiba di satu titik, Eiden langsung membalik tubuh Kyra hingga telentang, sementara ia mengukung tubuh bak model itu di bawahnya. Kyra mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Kamu ingat ini malam apa?” bisik Eiden.
^^^To be continue...^^^