Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 20 | Momen Pertama yang Canggung



“Hati-hati, Mi.” Darren melambaikan tangannya ke arah Kyra yang melajukan mobil meninggalkan sekolah. Wanita itu terburu-buru pergi ke laboratorium—untuk menciptakan senjata inovasi baru.


Sebelum benar-benar membalikkan badan, sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Eiden dan Emily turun dari sana.


Untuk sesaat, pandangan Darren dan Eiden saling bersirobok. Darren mengangkat sebelah alisnya, sorot mata Eiden sedikit aneh menurutnya.


Om Eiden kenapa, sih?


Anak yang lebih tua satu tahun dari Emily itu mengendikkan bahu. Seperti yang dikatakan maminya, Eiden pasti akan berusaha mendekat. Hanya saja, kalau caranya begini, Darren, kan, jadi merasa canggung sendiri.


Haahh.. calon ‘calon papi tiri’ emang nyusahin.


...💫💫💫...


“KAK DARREN!” panggil Emily berteriak di ambang pintu kelas. Suaranya melengking. Murid-murid di sekitar sampai menutup telinga karena terlampau kencang dan tidak enak didengar.


Darren yang tengah makan di kelasnya menoleh. Ia melambai pada Emily, sekaligus kode supaya gadis kecil itu mendekat. Sekarang memang sudah jam istirahat sekolah.


“Kenapa?” tanya Darren usai menelan makanan.


“Kakak tau, mommy sama daddy mau menikah, lho,” tutur Emily antusias.


Darren mengangguk. “Baru rencana, mami belum setuju.”


“Kak Darren setuju, kan, kalo mommy sama daddy menikah?”


Darren terdiam sesaat. Kemudian mengendikkan bahu. “Entah. Rasanya aneh punya papi baru.”


Buru-buru Emily menggeleng. Ia duduk di hadapan Darren dengan binar di matanya. “Kakak tenang aja! Daddy itu orang yang baiiiiiikkk banget. Walaupun daddy sibuk di kantor, daddy selalu ada buat Emily. Daddy pasti juga gitu, kok, sama Kakak.”


“Kamu, kan, anak kandungnya. Jelas Om Eiden akan begitu. Aku, kan, cuma anak tiri,” balas Darren. Lalu, menyuapkan makanan ke dalam mulut.


“Nggak, kok. Daddy pasti juga akan sayang sama Kakak! Emily yakin!” kata Emily bersemangat. “Kakak setuju aja, ya. Emily mau punya mommy.”


“Tapi, aku nggak mau punya papi baru.”


Sampai di titik ini, Emily langsung bungkam. Kalau Darren sudah berkata seperti itu, ia harus membalas dengan cara apa?


“Tapi.. kenapa? Punya daddy, kan, enak,” lirih Emily mulai putus asa. Angan-angannya ingin tidur diapit mommy, daddy, dan saudara baru terancam gagal.


“Papiku nama Papi Wildan. Nggak akan ada papi yang lain.” Darren terdiam melihat wajah merengut Emily. Bola mata cokelatnya berkaca-kaca, siap untuk tumpah.


“Daddy orang yang baik, Kakak... Beneran, kok. Daddy pasti sayang sama Kakak juga.” Emily mengerucutkan bibirnya. “Kakak pasti suka, kok.”


Darren menghela napas berat. “Hm, kita liat aja nanti.” Seberapa besar usaha daddy kamu untuk bujuk aku.


...💫💫💫...


Siang ini, Eiden sengaja tiba di sekolah Emily lebih awal dari seharusnya. Ia berangkat sendirian, tidak bersama Garry, asistennya. Di kepala lelaki itu, berbagai macam kalimat sudah dirancang sedemikian rupa.


Sialnya, situasi ini bahkan lebih menegangkan dibandingkan sewaktu dirinya tengah berhadapan dengan ketua mafia lain.


Dan, ya! Jantung Eiden bertambah kencang debarannya kala bunyi bel pertanda pulang disuarakan. Sumpah, sih, Eiden gugup setengah mati. Ia parno seandainya semua kalimat di otaknya sirna begitu saja nanti ketika berhadapan dengan Darren, putra Kyra.


Demi Emily, pasti bisa!


“Daddy!” seru Emily. Gadis kecil itu berlari ke arah Eiden yang sudah berlutut, siap menyambut pelukan. “Daddy udah dateng?”


“Hm, Daddy jemput lebih awal.” Eiden mengedarkan pandangan. “Itu... mana?”


“Hah? Apanya yang mana, Daddy?” Emily bingung.


“Itu, siapa... em—”


“Aku?”


Eiden terjingkat mendapati Darren telah berdiri di sampingnya. Bocah itu menebar senyum ramah, sama seperti biasa. Dan, yeahh.. Eiden langsung kehilangan seluruh kosakata di kepalanya. S–senyum semanis itu, bagaimana dia mengaplikasikannya?!


“Om cari Darren, kan?” tanya Darren percaya diri.


Eiden tersenyum canggung. “Em, ya. Kyra—maksudnya, mamimu belum sampai?”


Darren mengedarkan pandangannya sebentar sebelum menjawab, “Kayaknya belum, sih, Om. Emangnya kenapa? Om nggak mungkin berniat nawarin tumpangan sekalian ngajak Darren makan siang buat ngobrol, kan?” kelakarnya.


Ah, sial! Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa menebak isi kepala Eiden?!


Ya, itu yang Eiden rencanakan. Ia sengaja tiba lebih awal. Lalu, mengajak Darren pulang bersama dan mampir ke sebuah restoran yang sudah ia sewa. Di sana, Eiden akan mengajaknya berbincang sebentar supaya keduanya saling mengenal satu sama lain.


Eiden langsung kikuk dong. Lelaki itu bingung ingin mengatakan apa lagi.


Tidak lama, mobil Kyra tiba. Wanita itu turun dengan gaya elegan—pakaian trendi dan kacamata hitam plus rambut bergelombang. Udah kayak iklan shampo berjalan aja.


Darren tersenyum. “Mam—”


“MOMMY!” seru Emily antusias. Ia melepas pelukan Eiden dan menghambur ke pelukan Kyra. Wanita itu mengangkat tubuh mungil Emily ke atas dan memeluknya erat.


Darren berdecak. “Kenapa, sih, selalu Darren yang jadi pemeran anak tiri? Biasanya, kan, dapet kiss dulu,” gumamnya kesal. Eiden sampai terkekeh geli mendengarnya. Darren mendelik. “Om jangan ketawa, ya. Ini urusan serius!”


“Hm, ya, serius.” Eiden tidak membantah.


“Kalau gini, Darren jadi lebih nggak setuju kalo mami sama om menikah.” Darren berkata lirih. “Belum menikah aja, Darren udah diabaikan. Gimana nanti setelah menikah? Jangan-jangan mami 24 jam sama Emily terus.”


Eiden terdiam. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Darren—yang sukses membuat bocah itu terkejut. “Kan, ada Daddy. Nanti biar Daddy yang temani kamu.”


Hening. Kedua lelaki beda generasi itu tertegun satu sama lain. Jika Darren terkejut atas tindakan dan ucapan Eiden, Eiden sendiri terkejut dengan sikapnya, tidak menyangka dirinya akan mengucapkan kalimat menggelikan begitu. Ini terlalu... di luar skenario terkaan, ya.


“Ah, maaf.” Eiden menurunkan tangannya dengan canggung.


Darren berdeham canggung. “Restoran mana?”


“Hm?”


“Om pasti udah sewa restoran buat kita makan siang sesuai rencana Om, kan? Di mana restorannya? Darren laper.”


Ah, iya. Rencana gagal itu apa harus dilanjutkan, kah?


...💫💫💫...


Sebuah restoran mewah lengkap dengan ruangan VVIP menjadi tempat pilihan Eiden. Lelaki itu ingin memberikan fasilitas terbaik untuk... calon keluarga kecilnya? Semoga, ya.


Eiden cukup senang karena Darren tampak bahagia diajak ke sana. Aquarium besar dengan aneka ikan hias terpajang sebagai hiasan. Darren dan Emily tampak antusias melihat ikan-ikan itu berenang mengitari aquarium.


Kyra dan Eiden duduk di meja makan sembari memperhatikan anak mereka.


“Daddy, ikan itu apa namanya?” Emily menunjuk ikan berwarna emas dan putih.



“Itu ikan mas koki.” Bukan Eiden yang menjawab, melainkan Darren.


“Oh. Kalo itu?”



“Itu Carrassius Auratus, atau bisa disebut ikan komet.”


“Iih, susah. Kenapa pake atus-atus segala?” Emily berdecak. “Kalo yang itu, namanya apa? Ikannya cantik.”



Darren mengamatinya sebentar. “Itu ikan guppy.”


Eiden tersenyum tipis. Dia anak yang pandai.


“Oh, jelas. Mami-nya, kan, pinter juga.” Kyra menyombongkan diri.


“Cih.” Eiden memutar bola matanya malas.


Tidak lama, pelayan datang menyajikan makanan. Keempatnya makan bersama diselingi celotehan Emily. Bocah itu merengek ingin disuapi dan Kyra menyanggupi dengan senang hati.


Eiden dan Darren saling berpandangan. Pikiran mereka sama.


Om Eiden nggak mungkin mau nyuapin Darren juga, kan?


Apa aku suapin Darren juga, ya?


Dengan sisa keberaniannya, Eiden mengambil sepotong udang goreng menggunakan sumpit. Lanjut mendekatkannya pada Darren.


Darren melongo. “Om ngapain?”


“Ekhem.. suapin Darren?” Eiden kikuk sekali.


Oh, my, God! Kenapa jadi aneh begini?!


^^^To be continue...^^^