
Kyra mendesis sinis melihat senyum mengejek Eiden. Tanpa memedulikan kehadiran Garry, wanita itu menyeret lengan Eiden supaya mengikutinya.
“Kita harus bicara, Tuan Narsis!”
Garry terkejut, ia bergerak ingin membantu tuannya. Namun, Eiden memberi sinyal supaya tidak mengganggu. Alhasil, lelaki itu kembali tenang di posisi.
“Ingin bicara apa, Nona?” tanya Eiden sewaktu Kyra menariknya hingga ke balik pohon besar.
“Kau!” Kyra menuding Eiden. “Apa yang kau lakukan padaku?! Kenapa badanku jadi merah-merah semua, hah?!” serunya dengan suara tertahan. Kyra mana mau mempermalukan diri sendiri di depan umum.
Eiden menyeringai. “Ah, kau baru sadar, ya, Kyra?”
Sumpah, ya. Eiden yang sekarang benar-benar tidak seperti julukannya, cool mafia. Lelaki itu agaknya lupa dengan pengendalian emosi dan raut wajah yang dipelajari. Setiap bersama Kyra, Eiden bukan seperti Eiden yang biasa.
Entah sudah berapa banyak ekspresi yang lelaki itu tunjukkan.
Kyra mendesis. “Dasar Brengsek!”
“Aku? Brengsek?” Eiden terkekeh. “Apa aku harus mengingatkan kau, Nona, apa saja yang kau lakukan padaku?”
Kyra terpaku. Jujur, ia penasaran. Akan tetapi, seringaian yang Eiden tunjukkan sangat mencurigakan. Pasti lelaki itu akan menceritakan sesuatu yang buruk.
Eiden maju selangkah lebih dekat, posisinya tepat di samping Kyra. Bahkan, pipi keduanya saling bersinggungan. Ia berbisik di telinga Kyra, mengatakan apa saja yang Kyra lakukan selama wanita itu terpengaruh obat.
Kyra melotot. Ah, itu tidak benar. MANA MUNGKIN IA MENGGODA EIDEN DULUAN?!!
Kyra mundur selangkah dengan tatapan horor. “Kau menipuku, kan? Heh, mana mungkin aku—”
“Kau ingin bukti?” Eiden tersenyum miring. “Dengan mansion sebesar itu, kau pikir tidak ada CCTV yang terpasang?”
Kyra tertegun. Jika ditantang seperti itu, ia kurang yakin bisa menenangkan taruhan. Bagaimana jika yang dikatakan Eiden semuanya benar? Aduh, mau ditaruh mana muka Kyra? Dia, kan, sudah sok tahu tadi.
Karena tidak tahu harus apa lagi, Kyra melengos. Ia merogoh tas selempangnya dan mengambil kunci mobil. “Kukembalikan, ya, Tuan Narsis.”
Kyra berbalik hendak pergi. Namun, kalimat Eiden lebih dulu menginterupsi otaknya. Kepalanya pening hanya karena berinteraksi dengan lelaki satu itu.
“Tidak ingin mengucapkan terima kasih?” sindir Eiden terang-terangan.
Sepasang bola mata hijau itu terpejam erat. Sebisa mungkin Kyra menahan emosinya supaya tidak meledak-ledak. Bisa bahaya identitasnya nanti. Ia membalikkan tubuh dan mengembangkan senyum—dengan amat sangat terpaksa. “Tuan Nars—maksudnya Tuan Eiden, terima kasih untuk pinjaman mobilnya. Saya sangat merasa terbantu.”
Usai mengatakan kalimat penuh dusta itu raut wajah Kyra kembali masam. “Puas, kan?” pekiknya sebal.
Lantaran tidak ingin menambah kekesalan, Kyra memilih segera pergi. Beruntung ada taksi yang menganggur tak jauh dari posisinya. Jadi, ia bisa segera minggat dari tempat menyebalkan itu.
Eiden terkekeh. Ini kali pertama ia bertemu wanita selucu Kyra. Wanita itu memiliki emosi yang meledak-ledak dan benci kalah atau diremehkan. Jelas sekali ketika ia mengelak kala Eiden ingin memberikan bukti CCTV. Padahal, ya, di kamarnya, kan, tidak ada CCTV. Kalau di ruang lain, sih, ada.
Selepas menetralkan diri, Eiden kembali pada Garry yang wajahnya terlihat kaku. Eiden mengernyit, ada apa dengan asistennya ini?
“Ada apa, Garry?” tanya Eiden tidak mengerti.
Garry memaksakan bibirnya melengkung tipis. “Tidak apa-apa, Tuan. Mari, Anda memiliki meeting penting sebentar lagi.”
Tidak ada bantahan. Lelaki yang dibalut jas hitam dengan kemeja putih tanpa dasi itu masuk ke dalam mobil yang dibukakan pintunya oleh Garry. Percayalah, Eiden sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan asistennya itu.
Sepanjang perjalanan, Garry kembali dibuat salah tingkah. Tubuhnya panas dingin tanpa diminta. Acap kali matanya melirik ke belakang, memastikan aktivitas yang tuan mudanya lakukan.
Astaga, tuan muda kenapa? KENAPA DIA SENYUM-SENYUM SENDIRI SETELAH BERTEMU NONA TADI?!!
Seingat Garry, Eiden hanya akan tertawa atau tersenyum pada dua kesempatan saja. Yang pertama ketika bersama Emily. Lalu, yang kedua ketika lelaki itu berhasil membunuh musuhnya.
Hei, kenapa Garry jadi berpikir yang tidak-tidak? Apa nona tadi adalah incaran tuannya selanjutnya?
Apa tuan muda ingin membunuh nona tadi? Astaga.. malang sekali nona itu.
Garry jadi merasa iba. Selain lancang memeluk Eiden, setahu Garry, Kyra tidak melakukan kesalahan apa pun. Atau mungkin terjadi sesuatu yang membuat Eiden kesal?
Ah, dan Author jadi gemas sendiri dengan kedua lelaki ini. Kenapa tidak ada yang peka, sih? Heran, deh.
“Bagaimana bisa?” ucap Eiden dingin. Aura yang ia pancarkan benar-benar sukses membekukan setiap pribadi yang duduk di ruang rapat ini. Tidak ada satu pun insan yang berani menyahut, mereka bungkam karena tidak berani dan takut.
Soalnya, kalau salah bicara, bisa-bisa kepala mereka pindah tempat ke tong sampah!
“BAGAIMANA KALIAN BISA KECOLONGAN, HAH?!” bentak Eiden marah. Cuma karena ia tidak mengawasi sebentar, ada beberapa keluhan yang ia terima dari investor. Tidak banyak memang, tapi tetap menimbulkan kerugian.
“JAWAB!” teriak Eiden lagi.
Brakk!!
Sontak mereka semua memejamkan mata dengan kepala menunduk. Kaki bawahan-bawahan Eiden itu sudah gemetaran di bawah meja sejak Eiden menginjakkan kaki di ruangan. Lalu, disuguhkan hal seperti ini, tentu saja sama seperti oksigen dalam ruangan direnggut paksa hingga mereka sesak sendiri.
Semengerikan itu jika Eiden marah.
Mungkin hanya Garry yang tampak tenang di sini. Lelaki itu tidak terpengaruh sedikipun dengan bentakan yang menggelegar ataupun gebrakan meja yang keras. Garry masih bisa fokus dengan tablet di tangan.
“Tuan, saya sudah mengatur beberapa orang kepercayaan Anda untuk terjun langsung menangani masalah ini. Saya janji masalah ini akan segera selesai,” kata Garry—yang sudah seperti air di padang pasir. Menyejukkan sekali.
Eiden menghembuskan napas kasar. Napasnya terdengar memburu. Sedetik kemudian, lelaki itu berdiri yang disusul pekerja lainnya. “Cari pengkhianat itu, lalu bunuh tanpa ampun.”
Ya, semudah itu bagi Eiden untuk menghabisi seseorang. Tidak peduli ini adalah Indonesia, negara yang menjunjung adat ketimuran. Eiden dan caranya mengatasi sampah masyarakat tidak akan terpengaruh.
Lagipula, apa salahnya menghabisi orang-orang yang berbuat keji seperti itu? Toh, mereka hanya akan merugikan orang baik.
Eiden keluar dari ruang rapat. Seketika para pekerja perusahaan Kenneth Corp menghirup napas banyak-banyak. Syukur nyawa mereka masih bisa selamat hari ini. Tapi, tidak tahu, sih, kalau lain kali.
Eiden melepas jasnya. Tubuhnya terasa gerah. Ini pasti gara-gara kejadian di rumah rapat tadi.
“Tuan, apa Anda ingin dijadwalkan pergi ke Calgary?” tanya Garry yang selalu berdiri di belakang Eiden.
“Untuk apa?”
“Mengecek perusahaan cabang kita di sana, Tuan.”
Perusahaan Kenneth Corp sudah banyak cabangnya, termasuk di Calgary, Kanada. Untuk saat ini, nama Kenneth memang baru merajalela di Asia. Namun, Eiden sedang berusaha melebarkan sayap hingga ke Eropa dan Amerika. Salah satu cabang yang berhasil dibangun adalah di Calgary.
“Urus itu nanti. Aku sedang malas bepergian,” jawab Eiden jengah. Ia sedang tidak ingin dihadapkan dengan tumpukan berkas. Kepalanya pening.
“Maaf, Tuan Muda, ada tamu yang menunggu Anda di dalam,” kata sekretaris Eiden yang berjaga di depan ruangan CEO.
Alis Eiden menukik tajam. “Lalu, kenapa kau biarkan masuk tanpa izinku?” katanya dingin.
Tubuh pria yang menjabat sebagai sekretaris Eiden itu bergetar, apalagi di bagian kaki. “M–maaf, Tuan Muda. Ta–tapi, beliau—”
“Jadi, kau tidak mengizinkanku masuk, Eiden?”
Pandangan Eiden berubah seketika. Sorot mata lelaki itu melunak melihat sosok di depannya. Ia menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. “Ck, jadi kau yang datang?”
Lelaki itu terkekeh cukup keras. “Tentu saja aku. Memangnya, siapa lagi yang berani masuk ke sini tanpa menunggu izin darimu?”
Eiden memutar bola matanya. “Cuma kau, to*ol!”
Bukannya tersinggung, lelaki yang dikatai itu malah tergelak. “Jaga mulut kotormu itu, Eiden. Anakku ada di dalam.”
Eiden mengernyit. “Kau membawa anak kecil kemari?”
“Hei, Paman! Kami bukan anak kecil!”
Gadis dan lelaki kecil menampakkan diri dari dalam ruangan Eiden. Keduanya kembar identik, wajah mereka bahkan hampir sama dengan lelaki dewasa di hadapannya ini. Namun, yang menarik perhatian Eiden adalah bola mata mereka.
Warnanya unik. Violet atau ungu.
“Anak-anakmu lumayan juga, Ray.”
^^^To be continue...^^^