Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 38 | Pasti Rindu



Hampir sepanjang malam, Kyra menggerutu tidak jelas. Penyebabnya kentara sekali bukan? Tentu saja ini karena permintaan Darren yang di luar pemikiran sekali.


Apalagi, Abigail dan Cavan sangat mendukung. Mertuanya itu begitu antusias menanggapi permintaan Darren. Katanya, ingin mendengar tangis bayi di mansion mereka.


Oh, mereka enak tinggal meminta. Kan, yang susah dirinya. Harus menjalani proses yang bikin keenakan dengan sang sumi, hamil, terus melahirkan.


Hei, itu tidak mudah, lho.


“Kamu kenapa?” tanya Eiden iseng. Padahal, ia tahu betul alasan istrinya kesal.


Kyra mendelik. “Nggak usah pura-pura nggak tau, deh. Ini gara-gara anak kamu tuh.”


Eiden tersenyum geli. Lelaki itu patuh ketika tangannya direntangkan oleh sang istri. Kalian pasti ingat jika malam ini Kyra akan mengukur badannya untuk menyesuaikan ukuran tuxedo-nya.


“Oke, selesai.” Kyra mencatat hasil pengukuran di buku kecil. Wanita itu memastikan semuanya sekali lagi sebelum menutup buku dan menyimpan benda itu di laci. “Baju kamu udah dimasukin ke koper? Kalau belum, biar aku yang masukin.”


“Nggak usah. Aku punya beberapa baju di Bandung.” Eiden beralasan pergi ke Bandung. Padahal, dirinya akan pergi ke daerah pinggiran di Pulau Jawa, tempat di mana markas utama mafia The Zero berdiri.


“Hm, oke, deh.” Kyra bersiap ingin tidur. Tubuhnya lelah. Sayangnya, angan-angan untuk bisa menikmati alam mimpi dengan nyaman buyar ketika Eiden mengukungnya. “Eiden? Serius minta sekarang? Aku capek.”


“Aku harus ambil sedikit stok selama di Bandung.” Tanpa menunggu persetujuan istrinya, Eiden menyerang bibir Kyra sambil melucuti pakaian wanita itu. Kyra pasrah saja. Ia memilih untuk tidak menolak dan ikut ambil andil dalam permainan.


Kyra benci menjadi pihak pasif.


...💫💫💫...


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali, Kyra menyiapkan makanan khusus untuk suaminya bawa tanpa bantuan pelayan. Wanita itu sangat tahu jika masalah bisnis yang Eiden katakan tidaklah benar. Lelaki itu akan berurusan dengan mafia.


Belajar dari dirinya yang suka lupa makan setiap berhubungan dengan mafia, Kyra menyiapkan bekal untuk Eiden. Sekalian ia membuat bekal untuk kedua anaknya dan sarapan keluarga.


Ketika orang-orang turun untuk sarapan, makanan sudah tertata rapi. Kyra benar-benar melakukan semuanya sendiri, tanpa keluhan sedikitpun.


“Sayang, kamu yang masak semua ini?” tanya Abigail terharu. Penilaiannya pada Kyra tidak salah. Wanita itu sangat cekatan melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak dan suami. Bahkan, Abigail dan Cavan sering dimanjakan dengan aneka makanan yang sedap-sedap.


Cavan sampai khawatir perut kerasnya yang ia pertahankan bisa memudar karena ulah menantunya.


“Iya, Ma. Mama sama Papa duduk dulu, Kyra mau panggil Eiden sama anak-anak.” Setelah mendapat anggukan dari Abigail, Kyra naik ke lantai dua. Cavan sendiri fokus dengan teh buatan menantunya yang memiliki cita rasa unik. Pria paruh baya itu sangat menyukai sensasi hangat yang mengalir di tenggorokannya.


Pertama-tama, Kyra masuk ke dalam kamarnya dan Eiden. Ternyata lelaki sudah siap dengan setelan kantor. Dengan sigap, Kyra mengambil dasi dan membantu membuat simpul.


“Mama benar,” celetuk Eiden sambil memperhatikan istrinya yang tengah berkonsentrasi.


Kyra melirik paras Eiden sekilas, lalu fokus dengan simpul dasi. “Benar soal apa?”


“Kamu cocok dijadiin istri.”


Kyra terkekeh. “Istrimu ini sangat multitalenta, Tuan Eiden. Jadi, Anda harus berbangga diri.” Kyra menyombongkan diri. Eiden hanya tersenyum tipis untuk menanggapi. “Oke, selesai. Kamu turun dulu, ya. Mama sama papa udah di meja makan. Aku mau liat anak-anak.”


Kyra hendak berbalik, namun Eiden menahan lengannya. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan tindakan Eiden.


“Terima kasih udah jadi ibu yang baik untuk Emily,” ucap Eiden tulus. Jujur saja, ini kali pertama dirinya mengucapkan kata-kata keramat itu. Hanya saja, entah kenapa Eiden merasa tidak tahan untuk mengucapkannya sesegera mungkin.


Ditambah lagi, Eiden merasa nyaman di dekat Kyra selama ini. Walaupun kadang suka menjailinya, Kyra adalah wanita pertama yang selalu tahu apa yang inginkan hanya dalam satu kali tatap. Kyra sangat memperhatikan segala kebutuhannya, bentuk perhatian yang tulus tanpa dibuat-buat.


Eiden suka. Dia menyukai wanita itu. Setelah bertahun-tahun mengeraskan hati, Eiden merasa bahwa tidak ada salahnya mencoba untuk jatuh pada Kyra.


Kyra tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Eiden dengan kedua tangannya. “Putrimu, putriku juga. Jadi, jangan berterima kasih sama aku, oke? Ini tugasku sebagai ibunya. Kalau kamu berterima kasih, aku malah jadi keliatan nggak tulus.”


Eiden mengangguk, paham maksud Kyra.


“Ya udah, turun dulu sana.” Kyra menepuk lengan Eiden, lalu keluar dari kamar. Ketika ia hampir mencapai kamar Emily, gadis kecil itu keluar dari kamar Darren bersama di pemilik kamar. Keduanya telah berseragam.


“Mommy, liat rambut Emily. Kakak yang kuncirin.” Emily memutar tubuh, memperlihatkan tatanan rambut yang katanya dilakukan oleh Darren.



“Bagus nggak, Mom?” tanya Emily meminta pendapat.


“Bagus, Sayang. Mommy nggak nyangka Darren bisa kuncir rambut kamu jadi imut kayak gitu.” Kyra tidak terkejut dengan keajaiban yang Darren buat. Bocah itu bisa mempelajari sesuatu sendiri lewat internet ataupun YouTube, aplikasi yang akhir-akhir ini sering Darren pakai.


Darren tersenyum bangga. Sementara Emily tersenyum senang. Ia tidak sabar menunjukkannya pada daddy, grandpa, dan grandma-nya. Dan, niat gadis kecil itu terlaksana ketika Eiden keluar dari kamar dengan tas kerja.


“Daddy!” Emily memeluk kaki Eiden. Kyra lekas meraih tas kerja Eiden karena lelaki itu pasti ingin menggendong putrinya. “Liat rambut Emily. Kak Darren yang kuncir Emily, lho.”


Eiden tersenyum. “Bagus banget.”


“Oke, kita sarapan dulu, yuk. Nanti kalian telat ke sekolah.” Kyra menggandeng tangan Darren supaya turun bersama, sedangkan Eiden sibuk mendengar celotehan Emily tentang Darren yang berusaha keras menata rambutnya.


Tidak jauh berbeda dengan reaksi Eiden dan Kyra, Cavan dan Abigail pun memuji rambut cucu perempuan mereka. Darren yang turut mendapat pujian tersenyum puas.


“Mommy siapin bekal buat kalian, Sayang.” Kyra menaruh kotak bekal berwarna biru dan pink di depan kedua bocah itu. Lalu, kotak terakhir berwarna merah dan ukurannya lebih besar. “Ini kamu bawa, ya.”


Eiden menerimanya tanpa protes. Malahan ia senang karena bekal ini bentuk perhatian istrinya yang lain.


“Buat Papa nggak ada?” Cavan protes. Ia iri melihat isi kotak Eiden yang melimpah dan berbau sedap.


“Emangnya Papa mau ke mana?” tanya Abigail penasaran.


“Nggak ke mana-mana, sih. Papa cuma mau makan aja, kayaknya enak,” jawab Cavan enteng.


“Nanti kalo Grandpa kebanyakan makan jadi gendut,” ejek Darren yang seketika membuat Cavan menatapnya tajam. “Berat badan Grandpa sekarang pasti naik. Sebentar lagi, ucapin selamat tinggal sama perut sixpack kesayangan Grandpa.”


“Kamu—” Cavan kesal setengah mati. Bukan akibat Darren mengejeknya, melainkan karena perkataan anak itu ada benarnya. Bobot tubuhnya naik drastis semenjak Kyra datang ke mansion dan sering membuat banyak makanan. “Grandpa bisa olahraga, kok,” balasnya tidak mau kalah.


“Olahraga sekali, makan lima kali. Yakin cukup?” Darren menyindir telak.


Saking geramnya, Cavan langsung menghampiri cucu laki-lakinya itu dan menggelitikinya hingga Darren terbahak-bahak. Kyra dan yang lainnya sebagai penonton cuma bisa geleng-geleng, sudah terbiasa dengan pertengkaran antara kakek dan cucu itu.


Pagi ini, Emily dan Darren diantar oleh Cavan juga Abigail. Xania dan Olin tentu tidak lupa dibawa. Sedangkan Kyra akan pergi ke butik untuk menyelesaikan pakaian keluarganya bersama Ilona.


“Hati-hati, ya. Bekalnya jangan lupa dimakan. Itu khusus buat kamu, jadi jangan dibagi sama siapa-siapa. Kalo udah sampe Bandung, telepon, ya,” pesan Kyra ketika mengantar Eiden yang ingin berangkat.


Bukan hanya Eiden yang salting di sini, Garry, Erry, dan Michael pun iri. Ketiga lelaki lajang itu mendadak ingin punya satu seperti Kyra, istri yang perhatian.


Untuk sesaat, Eiden merasa bahwa detik itu dirinya hanyalah lelaki biasa yang pergi bekerja dan Kyra mengantarnya dengan mesra. Untuk sesaat, Eiden merasa bahwa pernikahan mereka dilandasi cinta hingga ia merasa sangat bahagia atas segala perhatian istrinya.


“Ya, aku usahakan.” Eiden tidak tahu harus membalas dengan apa. Lelaki itu baru saja ingin masuk ke dalam mobil karena Kyra tidak mengatakan apa pun lagi. Namun, kalimat bernada rendah dari wanita itu sukses membuat tubuhnya membeku.


“Cepat pulang, ya. Aku pasti kangen kalo lama-lama.”


^^^To be continue...^^^