
Waktu terasa lama sekali berjalan. Darren sampai terkantuk-kantuk di posisi. Ia yakin, maminya pasti dalam perjalanan. Atau mungkin sudah sampai di depan bangunan?
Entahlah, Darren tidak ingin terlalu berpikir banyak sekarang. Fokusnya saat ini hanyalah Emily, melindungi gadis kecil itu. Dilihat dari reaksi Emily tadi, sepertinya ini pengalaman penculikan pertama bagi putri Eiden.
Mami kapan datengnya, sih? Darren ngantuk, mau bobo’.
Sementara itu, di luar bangunan, Eiden, Kyra, beserta anak buah Eiden tiba. Mereka berhasil menemukan lokasi berkat Darren yang mengirimkan posisi entah melalui apa.
Sebenarnya, sih, Eiden tidak ingin membawa Kyra. Tapi, wanita itu bersikukuh ikut. Ia mengancam tidak akan mengirim lokasi jika dirinya tidak diajak. Alhasil, Eiden pasrah saja karena memang kunci tempat ini ada di ponsel Kyra.
“Serang ke dalam. Ingat, jangan sampai anak-anakku kenapa-napa,” titah Eiden bercampur peringatan.
“Baik, Tuan.” Puluhan anak buah Eiden—yang tidak lain adalah anggota mafia Blood Moon—menerjang masuk ke dalam bangunan. Berkat informasi dari Darren, mereka bisa bersiap karena jumlah penculik hanya 19 orang.
Perkelahian tidak terelakkan lagi. Suara tembakan terdengar di sana-sini. Cipratan darah tersebar di berbagai area, erangan dan retakan menggema. Sedangkan Eiden, Kyra, Erry, dan Garry hanya menyaksikan dengan raut datar.
Tidak lama, tiga mobil hitam lainnya tiba. Cavan keluar dari sana beserta bodyguard-nya. Semenjak kematian Aariz hari itu, Eiden memberikan setiap anggota keluarganya bodyguard, minimal tiga atau empat orang.
“Di mana anak-anak, Eiden?” tanya Cavan.
“Papa ngapain di sini?” Bukannya menjawab, Eiden malah bertanya balik. Seingatnya, ia sama sekali tidak memberitahu Cavan maupun Abigail mengenai penculikan cucu mereka.
“Jelas Papa khawatir sama cucu-cucu Papa. Di mana Emily sama Darren, hah?” seru Cavan kesal karena pertanyaannya tidak kunjung dijawab. Kyra melirik sekilas, lalu kembali fokus mengamati bangunan di depan.
“Ada di dalam, Pa.” Pandangan Eiden beralih ke depan, begitu pun Cavan. “Kita tunggu sebentar lagi.”
Tit titt.. tit titt..
Kyra membuka ponselnya. Sepasang matanya membulat melihat notifikasi darurat yang tersambung ke ponselnya. Ini berasal dari In-K (nama alat ciptaan Kyra) di tubuh Darren. Jika benda itu mengirim sinyal SOS, artinya sekarang....
“Sialan!” umpat Kyra. Tanpa memberitahu yang lain, wanita itu berlari masuk ke dalam bangunan. Mami datang, Sayang...
“Kyra!” teriak Eiden kaget. Ia ikut menyusul diikuti yang lain.
Kyra masuk dengan mudah karena beberapa penculik berhasil ditumbangkan. Mayat penuh darah berceceran di depan bangunan juga area masuk. Sepasang kaki jenjangnya langsung berhenti bergerak kala ia melihat pemandangan di depan, di mana Darren dan Emily tengah tersungkur dengan pistol yang menodong kepala mereka masing-masing.
“Lepaskan mereka, sialan! Sepengecut apa kalian sampai melukai anak kecil, hah?!” bentak Kyra marah. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh.
Sebelumnya, mengetahui bangunan ini diserang, bos mereka memerintahkan untuk menjadikan anak-anak yang diculik sebagai umpan. Makanya, Darren dan Emily diseret keluar dari ruangan tadi, lalu didorong hingga jatuh. Bahkan, keduanya diberi jarak, tidak boleh bersama lagi.
Darren langsung berteriak ‘help me’ sewaktu ditarik. Fungsinya untuk mengirim sinyal SOS pada sang mami melalui In-K di pinggangnya. Benda itu punya sensor suara yang akan aktif jika Darren berteriak ‘help me’.
Eiden, Cavan, Erry, dan Garry tak kalah terkejut melihat kondisi nona dan tuan kecil mereka. Keempat laki-laki itu sama geramnya. Bagaimana bisa mereka setega itu dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Kyra menelisik sekitar, hanya tersisa lima penculik karena yang lain sudah kalah. “Apa yang kalian mau?” desisnya menahan emosi.
“Menyerahlah kalian. Menunduk sekarang atau anak-anak ini akan mati di sini!” seru salah satu penculik berkepala plontos.
“Anak-anakku tergores sedikit saja, mati kalian.” Sorot mata Kyra menggelap. Seandainya bisa, ia akan langsung menembak mati mereka semua. Namun, putra dan putrinya dalam bahaya di depan. Ia harus menahan diri.
Tanpa sadar, Kyra benar-benar menganggap Emily sebagai putrinya. Entah itu karena perintah alam bawah sadar akibat terlalu banyak menghabiskan waktu bersama atau memang keinginan hati Kyra sendiri, hanya wanita itu dan author yang tahu.
Pria yang menodongkan senjata pada Emily mengokang penutup geser di pistolnya untuk membuka keamanan. Darren dan Emily bisa mendengar dengan jelas bunyi ’klik’ yang terdengar dari benda beramunisi tersebut.
Darren berdiri tiba-tiba, ia mendorong lengan orang yang menghadangnya. Pergerakan bocah itu yang mendadak membuat semua orang kaget, termasuk Eiden, Kyra, Cavan, Erry, dan Garry. Darren menerobos penculik dan berdiri di depan Emily dengan tangan merentang.
“Tidak boleh sakiti adikku!” seru Darren berani. Ia menatap mata pria yang menodongkan senjata, tidak terpancar setitik pun ketakutan di binar anak itu. Bahkan, ketika si penculik mendaratkan moncong pistol di dahi Darren, anak Kyra itu bergeming. Tetap berani di posisi.
Sampai di sini saja batas kesabaran Kyra. Wanita itu berjalan maju sendirian dengan kepala menunduk sedikit. Salah satu penculik maju ingin menghadang, namun ia langsung terpental kala Kyra menendangnya dengan kuat.
Eiden dan Cavan yang masih terkejut dengan keberanian Darren, semakin dibuat menganga dengan aksi Kyra. Wanita itu menghajar tiga pria tanpa senjata. Dan, ketiganya tumbang di lantai. Tersisa dua pria lagi.
Kyra mendongakkan kepala, sorot membunuh terpancar kentara di matanya. Kedua pria tadi mulai bergetar.
“Berhenti! A–atau anakmu akan mati!” seru salah satu pria menutupi ketakutannya.
Kyra tidak berekspresi apa pun. Hingga....
“Aww... Mami.”
Suara Darren langsung mengobarkan api di matanya. Wanita itu menendang kedua pria hingga terlempar jauh. Suara rintihan pria-pria tadi menggema.
Kyra langsung berjongkok, meraih Darren dan Emily ke dalam rengkuhannya. Berulang kali ia mengecup sisi kepala kedua anak itu dengan ucapan syukur di dalam hati. “Mami di sini, jangan takut. Semua baik-baik aja.”
Tangis Emily pecah. Gadis kecil itu memeluk Kyra erat sekali. “Emily takut, Mommy.”
“Jangan takut, Sayang. Mommy di sini untuk Emily sama Darren. Jangan takut, kita selamat.” Dalam satu kali tarikan, Kyra menggendong Darren dan Emily di kedua sisi. Ia membawanya keluar, melewati Eiden dan Cavan yang tertegun di posisi. Untungnya, Garry sudah memerintahkan anak buah mereka untuk meringkus para penculik yang masih hidup guna diinterogasi.
“Tuan Muda, Tuan Besar,” panggil Garry menyadarkan kedua atasannya. “Nona kecil dan tuan kecil sudah selamat. Nona membawa mereka keluar.”
Eiden menghela napas sejenak. Perasaannya sempat kacau karena aksi Kyra tadi. “Bawa mereka ke markas. Interogasi.”
“Baik, Tuan.”
Eiden berbalik keluar bersama Cavan. Mereka melihat Kyra tengah duduk di kap mobil sembari memeluk dua anak di sisi tubuhnya. Pandangannya nampak kosong, menghunus ke depan tanpa binar.
“Nak,” panggil Cavan ketika berada di samping Kyra.
Wanita itu terkejut sebentar. Lalu, mengulas senyum tipis dan mengangguk sopan pada Cavan. “Emily, ada grandpa-nya Emily di sini.”
Emily menggeleng, tidak mau melepas pelukan.
Kyra menatap Cavan tidak enak. “Maaf, Tuan. Sepertinya Emily....”
“Tidak apa-apa, Nak. Yang penting cucu Papa baik-baik saja, itu sudah cukup.” Cavan mengulas senyum tulus. Hatinya menghangat mendengar bisikan-bisikan yang Kyra dengungkan di telinga Darren dan Emily.
Kalimat sederhana sebenarnya. Namun, sukses membuat tangis Emily mereda. Kedua anak itu berangsur tenang di dekapan Kyra yang masih terus bersuara pelan.
Pria paruh baya itu paham sekarang. Ini alasan mengapa istrinya ngotot ingin menikahkan Eiden dengan Kyra, janda beranak satu.
Semoga kalian memang berjodoh, Nak. Papa doakan yang terbaik saja untuk kalian..
^^^To be continue...^^^