
“Nona!”
Kyra dan Eiden berbalik. “Reven? Kamu di sini?” Ia keheranan melihat tangan kanannya berada di pekarangan Kenneth Corp. “Sedang apa kamu di sini?”
“Nona, ada sesuatu yang harus saya sampaikan.” Reven benar-benar terpaksa datang kemari. Ada berita darurat yang harus diketahui Kyra secepatnya.
Melihat raut serius Reven, Kyra langsung mengubah raut wajahnya. “Ada apa?”
Reven melirik Eiden sekilas. “Ada orang yang mengacak-acak rumah Anda, Nona. Saya dan Mauren sudah berusaha mencegah, tapi dia tetap bersikukuh ingin bertemu dengan Anda dan tuan kecil.”
Kyra mendengkus. Penjelasan singkat Reven sudah lebih dari cukup baginya untuk menebak siapa si pelaku. Dengan sorot penuh sesal, ia menatap suaminya. “Maaf, Eiden. Kayaknya aku harus pergi, deh.”
“Apa perlu bantuan?” Eiden sedikit khawatir.
Kyra menggeleng. “Dia cuma orang biasa yang sok berkuasa. Kamu tenang aja, Sayangku.”
...💫💫💫...
Kyra, Reven, dan beberapa orang utusan Eiden tiba di kediaman Kyra sebelum menikah dengan Eiden. Suaminya itu terlalu berlebihan sampai mengirim 10 orang bodyguard untuk menemaninya. Kyra tidak menolak karena menghargai perhatian Eiden.
Dari posisi saat ini, mereka bisa mendengar keributan dari dalam bangunan. Raut wajah Kyra berubah datar. “Kalian tunggu di sini. Orang ini, akan kucabik-cabik sendiri,” katanya tegas yang dituruti oleh Reven dan yang lain.
Kyra masuk masih dengan pakaian elegannya. Sesuai dugaan, si pengacau kali ini adalah mantan mama mertuanya, mama kandung Wildan, Mega. Wanita paruh baya di depannya ini memang sangat angkuh dan arogan, serta egois yang paling utama.
Di antara seluruh keluarga, Mega adalah satu-satunya manusia yang tidak menyetujui pernikahan Kyra dan Wildan kala itu. Padahal, Kyra jelas cantik, mapan, dan ber-attitude. Kurang apa lagi dia?
Yahh... walaupun sikapnya kadang nyeleneh, sih.
“Cukup!” seru Kyra dingin, sukses menghentikan setiap kegiatan di ruangan luas tersebut. Kedua tangannya mengepal ketika ia melihat kondisi ruang tamunya sangat berantakan. “Mauren, keluar.”
“Iya, Kak.” Sebelum benar-benar keluar, Mauren melirik Mega sinis.
“Ada apa Anda datang kemari?” tanya Kyra to the point.
Mega tersenyum miring. “Di mana cucuku?”
Pertanyaan itu sontak menaikkan sebelah alis Kyra. Ada apa gerangan? Kenapa Mega berubah begitu drastis. Wanita beranak dua itu ingat betul kalimat Mega bertahun-tahun silam sewaktu Darren lahir.
“Cih! Cucu? Anak ini bukan cucuku! Aku tidak sudi punya cucu dari wanita seperti dia!”
Lalu, setelah 6 tahun mengabaikan cucunya sendiri, darah dagingnya, Mega tiba-tiba mengakui Darren sebagai cucu dan menanyakan keberadaan putranya? Apa barusan wanita itu terbentur atau tersambar petir sampai otaknya bergeser?
“Cucu mana yang Anda maksud, Nyonya?” Kyra bertanya balik dengan nada dingin.
“Tentu saja cucuku, Darren!” seru Mega.
Kyra melengos. “Sejak kapan Anda mengakui putra saya sebagai cucu Anda?” sinisnya.
Mega menggeram, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. “Katakan saja di mana cucuku! Aku ingin menemuinya!”
“Untuk apa?”
“Aku harus mendidiknya sebagai penerus keluarga Hermawan. Jadi, di mana dia?”
Kyra terbahak. “Hei, Nyonya. Anda kesurupan, ya? Darren putra saya, saya sebagai ibunya saja tidak pernah mengekang kehidupannya. Lalu, Anda yang tidak pernah memiliki andil di hidupnya tiba-tiba ingin memutuskan jalan masa depan putra saya?” Kyra terkekeh sinis. “Anda punya nyali, ya?” ejeknya.
Mega maju hingga berdiri tepat di hadapan Kyra. Tubuhnya yang lebih pendek membuat wanita paruh baya itu harus mendongakkan kepala. “Dia cucu saya! Saya berha—”
“Dia anak saya dan suami saya,” potong Kyra tidak kalah tajam.
“Kau—”
Mega, wanita tua ini tahu identitas asli Kyra sebagai seorang ketua mafia. Wanita tua itu menginginkan menantu yang bisa ia cengkram untuk dikendalikan, bukan seperti Kyra yang selalu bisa mendominasi segalanya dengan kuasanya. Itu alasannya, mengapa Mega sangat membenci Kyra dari awal.
Kyra tahu betapa liciknya isi kepala Mega. Semua yang ada di otak ibu dari suami pertamanya ini kotor. Tidak ada yang bersih. Wildan saja mengakuinya dulu.
Mega tahu jika mantan menantunya ini tidak bisa ia intimidasi dengan kata-kata. Ia selalu kalah apabila ditatap tajam oleh Kyra. “Aku akan mengambil alih hak asuh Darren darimu!” kecamnya serius. “Anak itu pasti tidak bahagia karena kau memiliki anak tiri lain dari suamimu yang sekarang.”
Kyra menyeringai. “Oh, menurut Anda begitu? Anda mendapat informasi dari siapa, Nyonya? Saya jauh lebih tahu kondisi anak saya daripada Anda.”
“Jadi...” Kyra meraih batang leher Mega dan mencengkramnya erat. Napas wanita paruh baya itu tercekat. Tangannya bergerak menepuk-nepuk tangan Kyra di lehernya, mencoba meronta supaya Kyra melepas cekalan. “Jangan mengganggu singa yang sedang jinak, Nyonya. Jika Anda ingin mencoba, lakukanlah. Tapi, Anda tidak akan hanya berhadapan dengan saya, melainkan juga dengan suami saya.”
Kyra menyentak tubuh Mega hingga tersungkur di lantai. Tanpa belas kasih, ia berbalik meninggalkan mantan mertuanya yang terbatuk-batuk.
Mega menatap punggung Kyra tajam. “Sial! Kalau aku tau anak itu sangat genius, aku pasti sudah mengambilnya dari dulu.” Ia menyeringai. “Apa pun caranya, aku harus mendapatkan Darren.”
...💫💫💫...
“Kak! Lo nggak pa pa?” Mauren menghampiri Kyra cepat. Ia tampak cemas. “Nenek sihir itu nggak ngelakuin apa-apa, kan?”
Kyra tersenyum manis, berbanding terbalik dengan sikapnya beberapa detik lalu. “Santai aja. Dia nggak akan bisa lakuin apa pun sama aku.”
Suara jeritan dan benda pecah kembali terdengar. Kyra memejamkan matanya erat-erat, berusaha meredamkan emosi yang bergejolak. Semua insan yang melihat jelas tahu jika Kyra marah. Tetapi, yang paling mengerti adalah Reven dan Mauren. Keduanya tahu betul kalau Kyra tengah menahan diri agar tidak mengamuk di sini.
“Kalian!” Kyra menatap para bodyguard yang diutus Eiden.
“Iya, Nyonya!” balas mereka kompak.
“Suruh wanita tua di dalam keluar dari rumahku. Kalau tidak mau, seret saja. Tidak perlu berbelas kasih padanya, mengerti?” titah Kyra kehabisan kesabaran.
“Mengerti, Nyonya.”
“Reven, Mauren, aku ingin ruang tamuku kembali seperti semula! Panggil petugas kebersihan atau apalah, semprot ruanganku dengan disinfektan. Aku nggak mau ada kuman yang wanita itu bawa tertinggal di rumah kesayanganku!”
“Baik, Nona,” jawab Reven.
“Oke, Kak,” jawab Mauren.
“Kamu!” Kyra menunjuk asal bodyguard dari Eiden. “Aku ingin ke perusahaan suamiku. Antarkan aku ke sana. Mood-ku benar-benar hancur sekarang.”
Pria itu mengangguk patuh. “Baik, Nyonya.”
...💫💫💫...
Kyra tiba di Kenneth Corp. Eiden yang melihat raut masam sang istri dibuat kebingungan. Apa masalahnya sebesar itu sampai Kyra berubah seperti ini?
Menggunakan remote kontrol, Eiden mengunci pintu ruangannya. Bilik khusus CEO ini tidak bisa dilihat apa yang terjadi dari luar dan kedap suara. Jadi, kalau Kyra ingin melampiaskan amarahnya dengan berteriak, Eiden tidak masalah.
“Kenapa, Sayang?” tanya Eiden lembut seraya merangkul pinggang Kyra.
Kyra cemberut. “Nenek sihir itu buat masalah, Eiden. Dia mau rebut Darren dari kita,” katanya ketus. Lebih mengarah seperti mengadu.
“Nenek sihir?” beo Eiden tidak mengerti.
“Ya, dia mantan mertuaku.”
Eiden terdiam. Mantan mertua?
^^^To be continue...^^^