
“Tuan, badan Emily panas,” adu Kyra merasakan suhu tubuh Emily meningkat seiring waktu. Gadis kecil itu masih berada di pelukannya karena mereka masih dalam perjalanan pulang. Bahkan, Emily terus meracau dalam lelapnya, menyebut ‘mommy’ berulang kali.
Eiden mengulurkan tangan menyentuh kening Emily. Hangat. “Garry, kita ke rumah sakit sekarang.”
“Jangan, Om.” Darren menyela. “Emily demam pasti karena syok. Kalo ke rumah sakit, yang ada Emily makin takut karena suasana ramai dan orang-orang nggak dikenal. Mendingan Om suruh dokternya ke rumah aja.”
Kyra mengangguk setuju. “Yang Emily butuhin keluarga yang dia kenal dan dia percaya, Tuan. Kita pulang aja.”
Paham jika saran Darren dan Kyra ada benarnya, Eiden memilih untuk kembali ke mansion. Putrinya butuh perhatian, bukan obat-obatan. Lihat saja gadis kecil itu, dia menempel layaknya perangko pada Kyra. Sedangkan Darren duduk anteng di tengah Eiden dan Kyra.
“Darren mau dipeluk juga?” tawar Kyra merasa tidak enak pada putranya yang harus mengalah.
Darren menggeleng. “Nggak usah, Mi. Darren di sini aja.”
Eiden melirik Darren yang memejamkan mata dengan punggung bersandar. Posisi mereka berada satu mobil dengan Garry sebagai supir. Cavan di depan, sedangkan Kyra dan Eiden di tengah. Darren duduk di antara Kyra dan Eiden, lalu Emily di pangkuan Kyra.
Eiden ingat betul bagaimana Darren berdiri di depan Emily, melindungi putrinya dan mengabaikan keselamatan sendiri. Aksi heroik dari anak sekecil ini sukses menyentuh hati Eiden. Apalagi ia ingat betul dengan kalimat Darren yang menyebut Emily sebagai adik.
Dengan kesadaran penuh, lelaki itu meraih tubuh Darren dan mendudukkannya di pangkuan. Bocah laki-laki itu terkejut ketika tubuhnya melayang. Ia menatap Eiden tak percaya.
“Terima kasih.” Eiden mengulas senyum tipis.
Darren mengalihkan pandangan ke depan. Jantungnya berdebar keras entah karena alasan apa. “Emm.. buat apa, Om?”
“Sudah jadi kakak yang baik.” Eiden menambah lengkungan di bibirnya. Darren sampai sulit berkata-kata. Hanya mengangguk, kemudian memejamkan mata dengan tubuh bersandar pada dada Eiden. “Istirahatlah. Om tau Darren lelah,” bisiknya.
Kyra dan Cavan serempak melirik tingkah dua lelaki beda generasi itu. Hati mereka sama-sama tergelitik, tidak menyangka sosok dingin seperti Eiden mampu melembutkan sikap.
Kyra tersenyum kecil. Ia memalingkan wajahnya keluar jendela—namun, sayang, senyumnya sudah lebih dulu tertangkap oleh sudut mata Cavan. Dia bukan ayah yang buruk...
...💫💫💫...
“Mommy...” lirih Emily dengan mata terpejam. Tubuh mungilnya bergerak gelisah di ranjang. “Hiks.. takut...”
Dokter yang memeriksa Emily menghela napas. Ia merapikan peralatannya, lalu membalikkan badan menghadap keluarga pasien. “Pasien mengalami syok berlebihan karena insiden penculikan ini, Tuan, Nyonya. Saya sulit menjelaskan lebih detail. Saran saya, keluarga pasien terus mendampingi dan tidak mengungkit lagi mengenai insiden hari ini. Jika timbul gejala lain yang membuat pasien kurang nyaman, Tuan bisa membawanya ke psikiater untuk dibantu.”
Eiden mengepalkan tangannya kuat. Dibandingkan luka fisik, luka mental ataupun batin jauh lebih mengancam keberlangsungan hidup. Eiden bersumpah dalam hati akan membalas perbuatan orang dibalik semua ini.
“Terima kasih, Dokter,” ucap Abigail. Ia lalu memerintah Garry untuk mengantar dokter keluar mansion.
“Mommy.. hiks.. Mommy...” racau Emily. Tubuhnya gemetaran.
Kyra yang duduk di tepi ranjang langsung merengkuh gadis kecil itu. “Mommy di sini, jangan takut.” Mata bulat itu terbuka perlahan. Emily memeluk leher Kyra erat.
Darren berdecih dengan suara kuat. Kyra sampai menoleh ke belakang, menatap putranya yang berkaca-kaca. “No problem, Mi. Darren, kan, cuma anak tiri di sini.”
“Sayang, Mami cuma—”
“Terserah, Mami.” Darren memutar tubuh, keluar dari kamar Emily.
Kyra melepas rengkuhan Emily dan berlari menyusul Darren. Emily siap menumpahkan air mata. Sementara Cavan, Abigail, dan Eiden tidak bisa menyalahkan Kyra. Wanita itu jelas akan mengutamakan putra kandungnya, bukan putri laki-laki lain.
“Mommy, hiks..” Emily menangis. Abigail dan Cavan berusaha menenangkan cucu mereka. Namun, Emily terus merengek ingin bersama Kyra.
Eiden bimbang. Ia tidak mungkin memaksa Kyra kemari, padahal Kyra tengah sibuk dengan Darren. Ia bukan siapa-siapa sampai bisa mengatur hidup wanita itu.
Di ruang tengah, Kyra berusaha membujuk Darren yang merajuk. Iya, bukan marah, hanya ngambek. Darren kesal karena tidak diperhatikan. Bocah itu mengerti jika Emily sangat ketakutan. Namun, bukan berarti ia tidak begitu. Jauh di lubuk hatinya, Darren ingin ditenangkan. Dipeluk dan diberi kata penenang.
Sayangnya, Kyra jauh mementingkan Emily ketimbang dirinya, putra kandungnya.
“Maaf, ya, Sayang.” Kyra memeluk Darren dan mengecup kepalanya. “Mami nggak bermaksud ngabaiin kamu. Mami cuma ikuti instruksi hati Mami aja.”
“Iya, dan Mami nggak peduliin Darren sama sekali.”
Kyra tersenyum. “Cemburu, ya?” ledeknya dengan alis naik-turun.
“Ishh.. Mami, ah!” Darren berusaha mendorong tubuh Kyra yang tertawa. Wanita itu malah mengencangkan lingkaran tangannya di tubuh sang anak.
“Mau pulang aja, Sayang?” tanya Kyra ingin tahu pendapat putranya.
Darren terdiam. Bola matanya yang bergerak ke sana kemari menandakan jika lelaki kecil itu tengah bimbang. “Darren ingin pulang. Tapi... Emily?”
“Dia, kan, punya keluarga.”
“Dia butuh mommy,” cicit Darren.
“Kamu juga butuh Mami, Sayang. Darren tetap akan jadi prioritas Mami.” Kyra menarik dagu putranya lembut, sedikit memaksa bocah itu balas menatapnya. “Kamu maunya gimana, hm?”
“Mommy...”
Sontak sepasang ibu dan anak yang tengah duduk berpangkuan itu menoleh. Emily tiba di ruang tengah dengan digendong oleh Eiden. Di belakangnya, ada Cavan dan Abigail. Refleks Darren mengeratkan pelukan.
Sebagai anak yang tidak memiliki ayah, Darren ingin perhatian maminya hanya tertuju padanya. Awalnya, Darren tidak masalah Emily dekat dengan Kyra—karena saat itu mereka tidak terikat hubungan apa pun. Namun, semuanya berubah ketika Eiden melayangkan tawaran pernikahan. Darren takut jika kasih sayang maminya akan terbagi nanti.
Itu hal yang wajar bukan untuk anak kecil seperti Darren?
Bocah itu jelas ingin egois. Sayangnya, hati Darren yang selembut kapas itu tidak tega setiap melihat Emily menangis atau memelas.
Kyra merasakan betapa erat lilitan tangan Darren di tubuhnya. Sepertinya, ia harus pulang sekarang jika tidak ingin ada kericuhan yang timbul malam ini.
Dengan menggendong Darren, Kyra mendekati keluarga Kennedy. “Maaf, Tuan, Nyonya, kami pamit pulang terlebih dahulu.”
Air mata Emily jatuh seketika. “Mommy mau pulang?” tanyanya dengan suara serak.
Eiden menghembuskan napas kasar ke arah lain. Sepertinya, Kyra memilih mundur dari posisinya sebagai calon mommy Emily. Wanita itu sampai mengubah panggilan.
Emily menggeleng cepat. “Emily mau sama Mommy.” Merentangkan tangan.
“Besok kita main lagi, ya. Aunty pulang dulu.” Kyra berbalik usai mengangguk sopan pada Cavan dan Abigail yang menatap sendu. Sedangkan Eiden tidak bereaksi, hanya menampilkan raut datar.
“Nggak, nggak mau! Emily mau sama Mommy! Emily mau ikut Mommy! Huaaa... hiks..” Tangis Emily pecah di sela teriakannya. Ia merengek ingin ikut Kyra, namun Eiden menahan. Abigail memberi penjelasan jika Kyra sedang lelah, makanya harus pulang. Tetapi, itu tidak mempan.
Dan, ya. Darren yang melihat Emily nampak kacau tidak tega. Sifatnya ini jelas bukan turunan dari Kyra. Melainkan sang papi, Wildan. Si lembut yang penyayang—itu alasannya Kyra sampai jatuh cinta dengan Wildan.
“Mi, Mami balik aja sana,” tutur Darren pelan.
Langkah Kyra berhenti di ambang pintu mansion. Ia terkejut Darren berubah pikiran secepat itu. “Kamu bilang apa?”
“Mami balik aja. Kasihan Emily.”
“Terus kamu?”
“Darren mengalah sekali lagi, kayaknya nggak pa pa.” Darren melirik ke belakang sekilas. “Darren nggak tau, tapi rasanya Darren nggak tega, Mami. Kasihan Emily.”
Ah, Sayang! Lihat, putra kita punya hati selembut kamu.
“Yakin, nih?” tanya Kyra memastikan.
“Iya.” Darren minta diturunkan. Ia menarik tangan Kyra masuk. Emily yang melihat Kyra dan Darren kembali menghentikan tangisnya, menyisakan senggukan. “Tuh, anak Mami yang lain udah banjir mukanya.”
Kyra tersenyum. “Yakin tetep di sini? Nanti Mami nggak bisa—”
“Darren cuma nggak tega.” Memalingkan wajah ke arah lain dengan pipi memerah. “Lagian punya adik perempuan nggak buruk, kok,” kata Darren pelan, namun bisa didengar oleh semua orang.
Cavan, Abigail, dan Eiden menahan senyum melihat kelapangan hati Darren. Umur sekecil itu, tapi memiliki jiwa yang besar.
“Mommy...” Emily merentangkan tangan, ingin digendong. Kyra melirik putranya. Darren mengangguk pelan, kode jika ia tidak masalah. Alhasil, wanita itu membawa Emily ke pelukannya. “Jangan pergi.”
“Iya, Aunty—”
“Mommy! Mommy, mommy, mommy, mommy!” Emily memaksa.
“Iya, ini Mommy.” Kyra menyandarkan kepala Emily di bahu. “Sekarang Emily istirahat dulu, yuk.”
“Em.”
Kyra baru saja menaiki satu anak tangga ketika Darren berseru, “Tapi, Darren mengalah karena ada syaratnya.”
Kyra langsung menoleh dengan mata memicing. Melihat putranya tersenyum miring dengan alis naik-turun, Kyra melengos. “Ck! Kamu paling bisa memanfaatkan situasi, Darren Gerald Adiva.”
Darren terkekeh. “Sepakat?”
“Ya, ya, ya.” Kyra menaiki tangga menuju kamar Emily.
Eiden menatap Darren penasaran. “Apa?”
Bocah laki-laki itu mendengkus. “Om, Darren punya nasihat. Kalo ngomong jangan setengah-setengah. Yang lengkap dong. Umur Om nggak akan berkurang cuma gara-gara nambahin beberapa kosa kata!”
Raut wajah Eiden semakin datar. Sedangkan Cavan dan Abigail tertawa, membenarkan perkataan Darren.
“Syarat apa yang kamu maksud?” tanya Eiden memperjelas.
“Darren ingin jadi ‘raja sehari’ besok.” Darren tersenyum senang. Ia mulai membayangkan beberapa hal untuk dilakukan dan maminya tidak akan punya kuasa untuk menolak.
“Raja sehari?” beo Abigail.
“Iya, Oma. Besok, seharian penuh, Darren akan jadi raja sehari. Apa pun yang Darren minta, akan dituruti.” Darren terkikik geli. “Darren siap liat wajah tersiksa mami, hehe.”
Astaga, ada, ya, anak model seperti ini? Kenapa muka Darren langsung cerah membayangkan maminya tengah tersiksa?
“Em.. Oma?” panggil Darren. “Darren lapar. Apa boleh Darren minta roti?”
“Ah..” Mereka baru sadar jika Darren pasti belum makan apa pun mengingat ia juga diculik. Abigail menuntun Darren ke ruang makan dan meminta pelayan menyiapkan beberapa hidangan.
“Maaf, Darren merepotkan.” Ia tidak enak melihat para pelayan bekerja demi memenuhi permintaannya.
Abigail yang duduk di sisi Darren mengusap kepala bocah itu. “Terima kasih, ya, Darren sudah mengizinkan mami Darren tetep di sini.”
“Nggak pa pa, Oma. Sepertinya Emily lebih butuh perhatian sekarang.” Darren menatap antusias makanan di depannya. “Emily sudah baik sama Darren. Jadi, Darren harus baik juga.”
Cavan yang duduk di sisi lain turut mengukir senyum. Tangannya bergerak mengusap kepala Darren. Tidak disangka, tangannya ditepis pelan. “Maaf, akses kepala Darren untuk perempuan saja, Opa. Tidak boleh sentuh-sentuh.”
Abigail tertawa pelan. “Emang kenapa, Nak?”
“Hoo.. sentuhan perempuan sama laki-laki itu beda, Oma. Kalo perempuan, kan, lebih lembut. Apalagi Darren, kan, laki-laki, jadi lebih cocok bermanja ria dengan perempuan. Kalo sama laki-laki vibes-nya beda.”
Cavan dan Abigail terbahak. Jawaban bercampur muka serius Darren sangat lucu bagi mereka. Eiden yang duduk di hadapan bocah itu hanya tersenyum tipis.
Darren mulai makan dengan riang. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Sesekali ia menanggapi pertanyaan Abigail atau Cavan.
“Darren penasaran, Om.” Darren menatap Eiden lurus. “Sebenarnya mommy kandung Emily ke mana, sih?”
^^^To be continue...^^^