Blanc Carnations

Blanc Carnations
9. Kunjungan



Aku tertidur di atas ranjang Agha dengan menenggelamkan kepalaku. Suasana yang sunyi membuatku tertidur pulas. Samar-samar terdengar suara monitor dan jarum jam yang berdetak. Tetap saja di setiap menit yang ku tunggu sampai saat ini, tidak ada pergerakan sama sekali dari Agha. Apa Agha terlalu asik dengan dunianya disana? Apa Agha memikirkan Nana dan anak-anak juga? Baru seminggu Agha koma, aku masih terlihat lemah. Masih belum terbiasa dengan keadaan yang kuhadapi sekarang. Ternyata begini rasanya, mengharapkan seseorang yang belum pasti ia akan bersamaku lagi atau tidak.


Aku terlalu tenggelam dengan alam mimpi, tidak sadar bahwa ponselku berdering terus menerus. Terlihat Nathan dan Rafa sedang bermain di taman kecil, aku dan Agha duduk bersama di gazebo yang letaknya cukup jauh dari mereka, mengawasi mereka dari kejauhan. Agha memakai kemeja berwarna abu yang terlihat sangat cocok untuknya, dengan rambut yang sedikit berantakan namun modelannya seperti anak muda dibelah tengah. Ia terlihat formal dan rapih. Kini Agha tersenyum lebar melihat tingkah anak-anak yang begitu menggemaskan. Senang rasanya melihat Agha tersenyum lebar seperti itu.


Setelah kami menikah, Agha semakin memberi banyak perhatiannya padaku begitupun pada anak-anak. Padahal selama kami mengenal saat aku masih menginjak SMA kelas dua sampai aku kuliah dia bersikap dingin. Namun dengan berjalannya waktu, perlahan-lahan Agha memberikan sedikit perhatian dan kepekaannya padaku.


Dengan melihat Agha tersenyum lebar, aku menginginkannya lebih banyak.


Melihat Agha tersenyum manis setiap hari saat membangunkanku dan membangunkan anak-anak, merasakan pelukan hangat yang Agha berikan saat aku mengalami kesulitan dan banyak hal. Aku merindukan dan menginginkan hal-hal itu dengan lebih.


Mimpi itu terasa sangat Panjang, sampai samar-samar aku mendengar suara gesekan pintu yang membuatku terbangun. Ternyata suster datang untuk mengecek rutin keadaan pasien.


“Tolong sering ajak pasien untuk mengobrol, agar ada kemajuan dengan baik,” ujar suster.


Aku tersenyum. “Tentu saja, terimakasih banyak suster,” Ia pun menangguk lalu pergi meninggalkan kami.


Perutku sudah berbunyi dan kebetulan persediaan makanan yang biasanya ku bawa sudah habis. Aku berencana untuk membeli sesuatu di luar dan memakannya disini sambil menemani Agha. Namun sebelum pergi, aku membereskan tempat yang kupakai tidur terlebih dahulu sambil menelfon mama untuk menanyakan kabar anak-anak, aku rindu.


“Halo ma..”


"Ndaaa!" serunya dari jauh.


Baru saja aku ingin menanyakan kabar anak-anak tapi sudah didahului oleh suara lantang Rafa. Senyumku merekah.


“Wahh pagi-pagi gini Rafa udah semangat ya,”


"Iya nda! Rafa mau pergi ke sekolah tapi sekarang lagi nunggu kakang, lama banget nda," mendengar keluhan Rafa membuatku tertawa kecil.


“Kakang emang kemana?”


"Kakang balik lagi ke rumah, katanya ada barang yang ketinggalan," jelas Rafa.


“Nenek sekarang ada dimana?”


"Nenek tadi ke supermarket dulu mau beli roti,"


"Lho Rafa nunggu sendirian dong? Rafa sekarang nunggu dimana?” aku khawatir kalau Rafa benar-benar sendirian di luar.


"Rafa lagi di halte nda, tadi sempat ada kakak baik nemenin Rafa disini sebentar jagain Rafa, cuman sekarang kakak baiknya udah pergi jadi Rafa sendirian lagi," nada Rafa terdengar sedikit kecewa.


“Tapi tempatnya ramai kan?”


"Ramai kok, nda. Ah tunggu nda! Nenek datang!" syukurlah mama datang lebih cepat dari dugaanku.


"Halo Na, ada apa?"


“Halo ma, tadinya Nana mau nanya kabar anak-anak, tapi sudah kok ma. Mendengar suara lantang Rafa sudah terbaca kalau mereka baik-baik saja,” jelasku.


"Ohh begitu.. syukurlah, apa ada kabar lanjut lagi mengenai Agha?"


Aku berhenti bersih-bersih. “Belum ada ma. Nana minta do’anya saja dari mama, semoga ada kabar baik,"


"Aamiin, semangat ya, Na! Mama, Nathan, sama Rafa selalu dukung kamu," perlahan air mataku mengalir tanpa rencana.


Aku mengangguk. “Iya ma, terimakasih banyak,"


"Ngomong-ngomong kamu udah makan?"


Segera ku hapus air mataku. “Belum, Rencananya Nana akan beli makan setelah aku selesai beres-beres,"


Aku senang mendengarnya. “Terimakasih banyak ma. Nana tunggu! Hati-hati dijalan," Mama menutup telfonnya. Kebetulan juga aku sudah lama tidak memakan rendang buatan mama, rindu juga ya.


“Agha.. Nana kebawah dulu sebentar ya. Nana mau beli minuman hehe, tenang bukan minuman yang manis. Sebelum Agha mengizinkan Nana untuk meminum minuman yang manis, Nana pasti bakal minum yang sehat-sehat kok Gha. Makanya Agha cepat bangun.. biar Nana bisa beli boba lagi hehe," aku tertawa kecil dengan perkataanku yang menggelikan.


“Nana tinggal bentar ya,” ucapku sambil mengecup kening Agha.


Saat aku hendak pergi, aku melihat Agha yang berdiri tak jauh dariku.


Iby memintaku untuk mengizinkannya melihat keadaan Agha. Dengan senang hati aku memberinya izin. Dengan memperbolehkan orang lain menjenguk pasien, lebih baik bukan? Selain berinteraksi denganku, aku ingin orang lain mencoba mengajaknya berbicara. Setidaknya tidak hanya satu informan saja, selain aku. Aku menunggu Iby di ruang tunggu yang terletak di lantai satu sambil meminum teh hangat, tak lama kemudian Iby datang menghampiriku.


“Udah makan?” tanya Iby, aku menggeleng.


“Belum, tapi mama mau kesini bawain Nana rendang buatannya,” jelasku.


Iby memberikanku sebuah tas kertas yang berisi makanan. “Iby bawain ini buat kamu ngemil-ngemil kalau ngga ada makanan sama sekali, tolong terima," tanpa berfikir Panjang aku langsung menerimanya.


“Terimakasih!"


Saking canggungnya, kami tidak ada satupun yang berani bicara. Rasanya aneh juga, karena aku dan Iby jarang sekali bertemu setelah aku menikah dengan Agha. Dan pertama kalinya kami bertemupun tidak sengaja, saat aku membeli minuman di supermarket yang tidak jauh dari rumah sakit.


“Anakmu bagaimana kabarnya?” tanya Iby tiba-tiba.


“Baik-baik saja, mereka tetap terlihat ceria kapanpun, mereka juga telah menjadi semangatku selama ini,” jelasku lirih.


“Syukurlah, Iby jadi ingin melihat mereka,” ucapnya sambil menatapku dengan tersenyum manis. Senyuman Iby masih terlihat sama, tampan.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”


Setelah ku ingat-ingat, Iby memiliki hobi bermain gitar. Dan waktu SMA dia tampil di panggung dan juga kalau tidak salah dia ambil kuliah di Australia dengan jurusan musik, apa mungkin sekarang Iby menjadi musisi? Mungkin saja.


“Iby sekarang bekerja sebagai produser, Na. Aku sengaja lebih memilih pekerjaan ini, dan syukurnya lancar, Iby juga menikmati pekerjaan Iby sekarang ini," jelasnya dengan bangga.


Aku tertawa kecil karena sudah lama tidak mendengar Iby berbicara panjang.


“Ah maaf, Nana tiba-tiba ketawa,” senyum Iby merekah. Ia juga merasa rindu dengan tawa Nana.


“Syukur kalau begitu, semoga kedepannya tetap lancar ya, By. Semangat!”


“Terimakasih Na!" setelah lamanya kutunggu, akhirnya mama datang juga.


“Wahh siapa ini?” mama mengampiri kami, Iby langsung menyapa mama.


“Halo tante, udah lama Iby ngga ketemu tante,” ramah Iby.


“Iby? Serius ini Iby? Mama pangling banget liat kamu. Gimana kabarnya?” tanya mama sambil duduk di kursi kecil.


“Kabar baik tante, tante sendiri gimana kabarnya?”


“Sama kok By. Oh iya, Iby udah makan belum?”


“Udah tante, Iby udah makan dulu sebelum kesini,"


“Ih, mama bawa rendang banyak nih. Sayang kalau ngga habis, ayo kita makan!” ajak mama keukeuh.


Dilihat-lihat juga mama memang benar membawa rendangnya cukup banyak, padahal bilang awalnya untuk aku bukan? Yang benar saja mama memberiku porsi banyak, yang ada aku jadi mual akibat kebanyakan makan.


Mau tidak mau Iby ikut makan Bersama tante juga Nana. Sudah lama juga Iby tidak bertemu dengan tante, dan berbincang dengannya.