
Aku terbaring di sofa ruangan Agha. Cuaca yang ku rasakan terasa sangat dingin hingga membuat ku menggigil. Dahi ku dipenuhi dengan banyak keringat, dan aku merasa ada seseorang yang menyentuh dahi ku. Namun aku terlalu lemas untuk menggerakkan tangan dan membuka mata ku.
Dia menggerakkan tubuh ku agar aku tersadar, namun tetap saja aku tidak bisa membuka mata. Aku masih terjerat di alam mimpi buruk, membuat perasaan ku menjadi sangat tidak nyaman. Iby menelpon mama Nana, memberitahu kalau Nana demam.
Setelah itu Iby segera memanggil suster untuk memeriksa Nana. Iby sangat khawatir dengan kondisi Nana. Berhari-hari Nana sibuk mengatasi rumah tangganya sendirian. Tiap kali Iby ingin membantu, Nana terkadang menolak.
Cara ampuhnya hanya dengan izin mama Nana. Beliau juga sangat mengkhawatirkan kondisi Nana.
“Tolong untuk mba Nana supaya beristirahat terlebih dahulu, dalam pola makannya pun tolong dijaga. Mba Nana kekurangan gizi, sepertinya dia jarang sekali makan. Jadi tolong ingatkan. Dan jangan terlalu kelelahan, dia memiliki anemia. Terlalu bahaya untuk usianya sekarang. Begitu saja yang bisa saya sampaikan, tolong ingatkan pesan dari saya. Terimakasih, saya pamit.." jelas dokter panjang.
Sudah Iby duga, Nana terlalu memaksakan diri.
“Iby tahu posisi kamu itu sulit, tapi tolong jangan maksain diri Na. Boleh mikirin anak-anak, boleh mikirin suami kamu, tapi kamu juga harus inget sama kesehatan kamu juga, Na. Iby tahu kalau Nana keras kepala, tapi tolong… hargai tubuh kamu, hargai kesehatan kamu. Istirahat bukan jadi masalah buat kamu, kok. Banyak yang khawatir sama kondisi kamu, Na. Rafa, Nathan, mama kamu, mama Agha, teman-teman kamu, termasuk aku sahabat kamu sendiri, Na. Kita khawatir kalau keadaan kamu makin serius. Setidaknya kamu bisa minta bantuan Iby, Iby bisa bantu kamu kok. Pekerjaan Iby juga ngga terlalu banyak sekarang-sekarang, jadi banyak waktu luangnya," ucap Iby sambil memegang erat tangan Nana dengan kedua tangannya dan menempelkannya pada dahi Iby.
“Maaf,” ucap Nana tiba-tiba.
Iby mengangkat kepalanya lalu menatap Nana, namun Nana melepaskan genggaman Iby dan membalik badannya menjadi mengahadap jendela.
“Nana seneng banget sama niat kamu, By. Aku juga bersyukur kamu bisa nemenin Nana walau aku selalu nolak. Nana juga tahu kamu yang bersedia membantu ku dengan izin mama. Iya Nana seneng. Tapi aku ngerasa ada hal yang buat Nana ngerasa ngga nyaman sama kamu," Iby bergeming.
“Dari kecil, Nana terus-terusan ngerepotin kamu sama keluarga kamu. Nana udah coba untuk balas budi tapi kamu selalu menolak. Kalau untuk kejadian pertama aku masih tidak masalah, tapi karena keseringan Nana ngerepotin kamu Nana jadi makin ngga enak, By. Selama ini Nana pendam perasaan ini. Sulit banget buat aku ungkapin ini, takutnya Iby malah menjauh dari Nana. Tapi karena aku udah menikah dengan Agha, akhirnya aku bisa ngungkapin perasaan ini,” aku menghela nafas.
“Dulu aku sempat merasakan ada hal yang berbeda dengan diri aku. Sikap kamu yang tiba-tiba berubah atau mungkin itu hanya perasaan aku saja. Nana ngerasa kalau Iby yang ku kagumi itu berbeda, aku merasa melihat kamu itu seperti laki-laki. Terdengar konyol namun memang itu kenyataannya. Karena banyak hal yang membuat diri Nana tersadar, aku mengubur perasaan itu dalam-dalam yang aku sendiri gak tau sampai kapan bertahannya. Tapi setelah mengenal jauh tentang Agha, Nana merasa apa yang dia rasakan sama seperti apa yang aku rasakan, By. Ku kira juga aku mengenal Agha hanya sebatas tempat bersandar, tapi kamu tahu? Hal yang terlintas dipikiran ku menjadi kenyataan. Akhirnya aku menikah dengannya sampai memiliki anak-anak yang baik. Aku bisa menghadapi semua rintangan sampai Rafa dan Nathan lahir, itu bukan perjalanan yang sulit By. Dari kehidupan yang kami buat itu ngga semudah yang orang lain kira, kami mencoba hidup mandiri tanpa bantuan orang lain. Walaupun Nana bisa mendapat pekerjaan karena mam Darel. Disitu Nana berjanji untuk tidak merepotkan banyak orang lagi,”
“Loh? Mama kamu sama mamanya Agha membantu mu, lho Na. Kenapa Iby dikecualikan?” tanya Iby merasa tidak adil baginya.
Iby tidak tahu, seberapa susahnya Nana mengubur perasaan sukanya terhadap Iby. Sesekali Nana pernah kena marah ayahnya Iby karena terlalu membuatnya banyak berharap dan meminta kami untuk menjaga jarak, hal ini tidak ada yang tahu kecuali Nana sendiri.
Aku sendiri saja tidak pernah bercerita pada Agha sekali pun mengenai ini. Yang ada Agha cerita kalau Iby menyukai ku. Sejak saat Agha bercerita tentang itu, harapan ku pada Iby muncul kembali. Itu yang aku takutkan. Jika kita terus bertemu, aku takut kalau aku kembali berharap pada Iby. Nana tidak ingin perasaannya goyah karena Iby. Nana takut perasaan Nana yang besar pada Agha itu tiba-tiba runtuh.
“Nana udah punya Agha, By. Tolong jangan banyak tingkah sama Nana. Tolong ngertiin posisi Nana juga By..” air mata Nana mengalir begitu saja, aku sendiri tidak sanggup melihat Iby.
“Hmm,” jawab ku singkat.
Pintu kamar terbuka. “Ndaaaaa!” siapa lagi kalau bukan Rafa yang berteriak. Aku segera mengusap air mata ku lalu bangun dari ranjang.
Rafa memeluk ku dengan erat. “Rafaa.. lain kali jangan teriak ya. Kalau bisa jangan teriak keras-keras. Kasian pasien lain jadi terganggu tidurnya,” ucap ku sambil meragakan jangan berisik dengan jari telunjuk ku.
Rafa menutup mulutnya dengan kedua tangan, haha lucu sekali.
“Maaf bunda.. lain kali Rafa ngga teriak lagi deh dirumah sakit," bisik Rafa.
Aku tersenyum dengan tingkahnya. Rafa pintar, Ia cepat tanggap jika aku menasehatinya. Mama datang sambil membawakan bubur. Ini yang paling aku gak suka, kalau sakit harus makan bubur. Kenapa ngga nasi goreng gitu? Atau kwetiau goreng gitu? Kalau bisa sih pizza hehe.
“Bubur gibas, Na. Bukan bubur biasa, tenang!” aku tersenyum senang setelah mendengar penjelasan mama, kecuali bubur gibas kesukaan ku itu tidak masalah hehe.
Iby membantu mama menata alat makan. “Terimakasih!"
Rafa tergoda melihat bubur di depan ku, hihihi ekspresinya lucu sekali. Aku memberi kode pada mama untuk tolong pinjam sendok kecil, beliau segera mencari sendok kecil lalu memberikannya pada ku.
“Bunda tau pasti Rafa mau bubur ya?” Rafa menggeleng membuat ku tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Kayanya bunda ngga bisa ngehabisin buburnya deh, jadi bisa ngga Rafa bantu bunda ngehabisin bubur ini?”
“Mau!” jawab Rafa dengan semangat.
Haha sudah kuduga.
Iby melihat Nana bahagia membuat dirinya merasa tidak pantas untuk menjadi celahnya. Benar apa yang Nana katakan, apapun usaha ku itu akan terasa sia-sia. Yang ada malah membuat Nana merasa semakin tidak nyaman dengan Iby.
Jika memang itu yang Nana inginkan, Iby akan berusaha merelakannya. Haha lucu juga, ya. Andaikan saat itu Iby jujur pada Nana, jadinya Iby tidak berharap kembali seperti sekarang.