
Rafa merasa kalau di sisinya ada kakang, berarti aman baginya. Apa-apa pasti digantikan atau diwakilkan oleh kakang. Padahal niat kami begitu untuk kebaikan Rafa agar berani bertanggung jawab dan tidak terlalu mengandalkan orang lain.
Setelah semua selesai, Rafa dan Nathan pun segera makan. Perut mereka sudah tidak bisa menahan rasa laparnya, terlihat pada Rafa yang makan dengan lahap. Rafa juga telah selesai membereskan ruang tamu jadi tenaganya terkuras habis banyak.
Haha lucu juga melihat Rafa yang begitu lahap makannya akibat kelelahan.
“Pelan-pelan Rafa, jangan buru-buru. Tenang kok, makanannya enggak akan pergi,” ucap Mama tertawa, Nathan melihat tingkah Rafa pun ikut tertawa dibuatnya.
Bab 21 : *Undangan Pernikahan*
_Blanc Carnations_
_*(Salinan Bab Yang Udah Direvisi)*_
“Kakak baik kenapa bisa kenal sama bunda?” tanya Rafa penasaran sambil memutar-mutar kubik milik Iby.
Iby tersenyum.
“Dia teman kakak sewaktu kecil hingga SMA,"
“Lalu kenapa bunda ngga nikah sama kakak baik?” tanya Rafa polos.
Iby tertawa. “Ayah kamu yang sekarang itu lebih baik dibandingkan kakak. Dia lebih cocok untuk bunda Nana,”
“Lho kakak kan baik, ganteng, peduli sama Rafa, peduli sama Nathan juga. Malahan kakak baik kenal banget tuh sama nenek,” Jelas Rafa.
Iby yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Rafa masih anak kecil, jadi wajar saja Ia berbicara begitu. Karena Ia belum bisa memahaminya. Namun apa yang Rafa katakan benar bagi ku. Ku kira karena kedekatan yang Iby miliki dengan Nana akhirnya mereka akan bersama-sama dalam satu atap. Namun takdir berkata lain.
Nana mengakui Iby.. sangat mengakui kelebihan yang Iby punya. Tapi memang ada perbedaan yang cukup jauh dengan Iby, tanpa Iby sadari. Tepat setelah Ia melihat Nana menikah dengan Agha, Ia menjadi tahu apa yang menjadi pembeda di antara mereka.
Iby membuka pintu rumahnya dengan lembut, Ia melepaskan sepatunya sambil berdiri dan melonggarkan dasinya. Saat menyimpan kunci motornya di atas lemari, Ia melihat ada sepucuk surat undangan.
“Ah itu ada undangan dari Nana,” sahut mama tiba-tiba saat Ia menyadari anaknya melihat surat tersebut.
Iby terkejut atas kehadiran mamanya. “Lho sejak kapan mama pulang?” tanya Iby sambil membawa surat undangan ke ruang tamu untuk dibaca. Kemudian meletakan tas kerjanya di sofa.
“Tadi siang mama baru sampai,” jawab mama sambil sibuk menyiapkan hidangan di atas meja makan.
Iby pindah ke meja makan, sambil membawa surat undangan yang belum Ia buka karena melihat mamanya menyiapkan makanan.
“Bagaimana dengan pekerjaannya? Lancar?” tanya Iby sambil membuka surat undangan dan membacanya dengan saksama.
Mama mengangguk. “Tentu saja lancar. Selama seminggu ini mama akan istirahat dulu dirumah, jadi tolong bantuannya ya By," Iby mengangguk mengerti.
Iby kira mama Nana yang akan menikah, tapi ternyata Nana lah yang akan menikah. Perasaannya terasa begitu sakit saat melihat nama Nana dan Agha tercantum di sana. Hanya ada satu kalimat yang terpampang dalam benaknya, kenapa dia? Iby kira setiap Ia mengajak Nana untuk menemuinya, Ia selalu menolak.
Menghindar dari Iby karena benci pada Iby. Ternyata Ia sibuk menyiapkan pernikahannya. Nana sama sekali tidak memberitahu pada Iby bahwa dirinya akan menikah.
Notif pesan masuk berbunyi di ponsel Iby. Tertera nama Nana di layar ponsel, Iby segera membukanya.
Nana. "Haloo Ibyy.. gimana kabarnya nih? Huaaaa Nana kangen banget sama Iby. Sebelumnya maaf banget Nana baru bisa ngirim pesan, Iby pasti kaget ya tiba-tiba udah ada undangan pernikahan dari Nana? Hehe maaf.. Maaf juga Nana ngga cerita banyak tentang pernikahan Nana, sibuk banget soalnya By huhu. Nana harap Iby datang ke pernikahan Nana ya? Nana pengen liat Iby udah lama bangett. Dateng ya? Ya! Ya! Ya! Nana tungguu.."
Iby yang melihat pesan dari Nana bukannya ikut bahagia, tapi perasaannya malah terasa semakin sakit. Perasaan yang Ia pendam selama ini menjadi luka baginya, berakhir sudah harapan yang Ia dambakan.
“Ayo makan, By. Keburu dingin nasinya, ntar ngga enak," Mama menyadari Iby tak fokus karena terlalu melihat layar ponsel.
Iby meletakkan ponselnya dalam keadaan tertutup, lalu mengambil sendok dan bersiap makan.
“Nana,” jawab Iby sambil merapikan nasi dan lauknya untuk lahapan berikutnya.
“Dia katanya berharap Iby datang ke pernikahannya," Lanjutnya.
“Tapi kamu bakal dateng kan?”
Iby menggeleng. “Belum tahu,”
“Dateng dong, By. Nana pasti berharap banget kamu dateng ke pernikahannya. Apa mau bareng sama mama?” tiba-tiba mama memberi tawaran.
“Ngga, ma. Liat situasi dan kondisi nanti saja, ma. Kalau memungkinkan, Iby usahakan datang,” jelas Iby.
Mama tidak tahu bagaimana perasaan Iby sekarang. Sekarang saja Iby sudah teriris-iris tipis hatinya, apalagi jika Ia pergi ke pernikahannya Nana. Yang ada malah semakin hancur.
Di malam hari ponsel Iby terus bergetar karena teman-teman smanya aktif di grup. Membahas siapa yang akan pergi ke pernikahan Nana, apa yang ingin mereka berikan untuk Nana, apapun yang terkait dengan pernikahan Nana selama dua hari kedepan.
Ada salah satu notif chat dari Rian.
Rian. "Datang?"
Ibyy. "Kemana?"
Rian. "Jangan sok pura-pura gatau deh, By.."
Ibyy. "Gatau.."
Rian. "Dih, masih suka sama Nana?"
Ibyy. "Apasih malah jadi kesitu, skip skip!"
Rian. "Fix cemburu sih ini.."
Ibyy. "Apasih? Orang Iby lagi sibuk juga. Jangan suka nyimpulin seenaknya deh,"
Rian. "Serah deh. Kalau mau dateng, bareng gitu sama anak-anak. Biar rame-rame,"
Ibyy. "Ya.."
Iby sedikit terkejut karena Nana ternyata mengundang teman-teman band Iby juga. Iby kira hanya teman-teman kelas yang Ia undang. Haha lucu juga. Lalu, ada satu notif pesan lagi dari Jesy.
Jesy. "Dateng ngga?"
Ibyy. "Apasih kenapa orang-orang jadi banyak yang ngechat gini ke Iby,"
Jesy. "Yee tomat, serius.."
Ibyy. "Gatau deh ah gimana nanti Jes,"
Jesy. "Nana berharap kamu dateng, By.. Mana pesan dari dia belum dibales sama kamu, Nana khawatir tahu. Setidaknya balas pesan Nana kek By,"
Ibyy. "Ya.."
Egois juga ya Nana, siapa yang menghawatirkan siapa. Iby lebih menghawatirkan Nana yang tiba-tiba mengindarinya tanpa sebab. Selalu menolak setiap kali Iby ajak makan bersama.
Nana tidak menghawatirkan, atau tidak tahu dengan perasaan Iby saat ini? Perasaan Iby selama ini sampai menyalahkan diri sendiri karena Iby berbuat salah pada Nana? Iby menjadi ragu dengan kedatangannya nanti di pernikahan Nana. Takut kalau tiba-tiba saja Iby lepas kendali.