
Aku segera kembali ke kamar untuk bersiap diri, gawat kalau Agha melihat keadaan ku yang berantakan saat ini. Bisa-bisa Agha jadi ilfeel deh.
Dengan gerakan cepat aku bersiap-siap agar Agha tidak terlalu lama menunggu ku.
Oh iya! Satu lagi. Tidak lupa untuk memakai parfum, hal wajib bagi wanita kalau di keadaan kaya gini hoho. Eh tapi ngga hanya di keadaan kaya gini saja sih hehe.
Agha melihat ku sambil tersenyum manis. Aku bebisik dari kejauhan. “Ayo!”
“Mama, Nana pamit ya sama Agha. Kalau mama mau nitip apa-apa chat Nana aja,” pamit ku lalu mengecup punggung tangan Mama.
“Hati-hati ya, Na!”
Aku mengangguk. Mama tiba-tiba menarik Agha, tapi mama malah menyuruh ku untuk keluar duluan. Dih curang! Mama banyak tingkah banget ke Agha. Ke anak sendiri jarang diperhatiin nih gimana sih.
Agha mengajak ku makan di puncak, Ia ingin mengistirahatkan pikirannya yang kacau. Sama dengan ku. Mempersiapkan pernikahan itu sulit. Banyak sekali godaan dan rintangan yang harus kami hadapi bersama-sama.
Ini baru simulasi, belum lagi saat kami sudah menikah. Masalahnya pun pasti akan berbeda, bahkan bisa lebih sulit.
Aku menaruh gelas yang berisikan teh manis dingin sambil menghela nafas.
“Capek juga ya, Gha..” Agha bergeming.
Ia malah mengambil satu batang rokok dari saku tas kecilnya. Aku terkejut, baru mengetahui kalau Agha seorang perokok.
“Cuman sementara, Na. Maaf ya..” jelas Agha. Setelah beberapa lama aku bersama Agha, baru kali ini aku melihatnya merokok.
“Gha, Nana mau tanya,"
“Ya?” jawabnya sambil menghembuskan asap rokok.
“Nana penasaran, apa alasan Agha untuk menikahi Nana?” aku menatap matanya yang sayu, Agha terdiam sejenak.
Aku tidak tahu apa yang menjadi alasan dia menikahi ku, apa mungkin hanya sekedar keinginannya saja atau bagaimana. Aku pun tidak tahu. Karena dengan waktu yang pas malam ini Agha megajak ku keluar, jadi sekalian saja aku menanyainya.
Agha segera mematikan rokoknya. Ternyata dia tidak kuat lama untuk merokok. Ya baguslah haha. “Agha merasa kalau kita punya kemiripan, Agha rasain itu. Kita memang ngga sering ketemu, tapi entah kenapa tiap hari Agha selalu memikirkan tentangmu, Na.
Agha tiba-tiba aja mikirin bagaimana perasaan kita saat bahagia bersama. Kadang juga aku penasaran bagaimana hari-harimu, apakah baik-baik saja atau tidak.
Agha merasa ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan untuk kita agar lebih bahagia. Agha butuh partner yang cocok untuk kehidupan Agha selanjutnya, makanya Agha memilih kamu Na.
Agha juga merasa kalau Nana sangat berharga bagi Agha. Tapi ngga hanya itu, Na. Agha berharap kita bisa saling memberi cinta akan setiap kebahagiaan itu. Kebahagiaan bersamamu,” jelasnya dengan menatap ku lembut.
Setiap perkataan Agha, kata-katanya membuat ku tersentuh. Sebuah ungkapan perasaan Agha yang sebenarnya membuat harapan ku pada Agha semakin tinggi. Banyak sekali rencana-rencana yang ingin ku lalui bersamanya.
Membayangkan semua rencana ku bersamanya dari hari ini sampai masa depan. Hari-hari bersama Agha setelah pernikahan, juga membayangkan rencana ku setelah anak ku lahir sampai Ia tumbuh dewasa. Rasanya seperti mimpi, tapi aku yakin kita bisa melakukannya bersama.
Aku memeluk Agha erat-erat, menyembunyikan air mata ku yang terus menerus mengalir tanpa henti. Aku sangat bersyukur bisa mengenal Agha. Tak pernah sekali pun aku merasakan sesal karenanya.
Walaupun sikap Agha dingin, tetapi jika bersama ku Ia pasti menunjukan sisi lembutnya, perhatiannya yang secara tidak langsung.
Agha juga berhasil membuat Nana terkejut karena melamar ku. Yang awalnya ku kira kita tidak mungkin memiliki hubungan sampai sejauh ini. Tentu saja aku bisa bahagia dengan Agha. Aku bisa menjamin itu, tanpa ada rasa sesal.
Agha membalas pelukan ku dan mengelus-elus kepala ku dengan lembut. Bukannya membuat ku tenang, tetapi tangisan ku malah semakin tidak bisa di kontrol.
“Terimakasih banyak, Gha. Nana mengira kalau hubungan kita ngga bisa sampai sejauh ini. Nana kira cuma Nana aja yang ngerasain perasaan ini. Sekali lagi terimakasih banyak, Gha. Nana siap menjadi salah satu kebahagiaan di antara kita. Banyak sekali rencana yang ingin ku lakukan bersama Agha. Tenang aja, rencananya bukan yang aneh-aneh kok,” ujar ku panjang.
**
Aku berbaring sambil melihat galeri pada ponsel ku. Perlahan demi perlahan aku melihat menggeser setiap file tersebut. Melihat senyuman Agha, Rafa, juga Nathan pada gambar yang berada di galeri.
Aku jadi berfikir, kapan ya kita bisa berfoto bersama lagi seperti ini? Berfoto bersama anak-anak saat mereka sudah dewasa. Apakah masih sempat? Ku harap sempat.
Ada sebuah video, ini sudah lama sekali. Aku pun lupa kapan aku mengambilnya. Video itu berisi saat aku menonton live musik Iby. Haha sepertinya saat aku masih menginjak SMA.
Saat itu, tepat tiga hari sebelum acara konser dimulai, Iby meminta ku bertemu. Aku awalnya heran mengapa Ia tidak memberikan tiketnya saat di sekolah saja? Tapi setelah dipikir-pikir juga kalau Iby memberikan ku tiket di sekolah, yang ada nantinya orang-orang jadi meminta tiket ke Iby.
Bukan melalui antrian atau pembelian yang sesuai dengan ketentuan. Aku sendiri jadi merasa tidak enak pada Iby, padahal aku sendiri yang minta untuk tidak lupa memberikan ku tiket acaranya haha. Nana emang ngga tau diri, sih hehe.
Iby meminta ku bertemu di station. Aneh banget ya, kan? Iby awalnya bilang mau ngasih tiketnya, tapi kenapa harus di station? Yaudah deh, mau ngga mau aku ikutin apa yang Iby mau. Aku berfikir karna hanya untuk memberikan tiket saja, jadi penampilan ku tidak terlalu berlebihan.
Hanya menggunakan style-an jersey. Aku sendiri aja ngga bawa tas selempang, hanya membawa dompet kecil dan membawa ponsel.
Ku kira Iby sudah sampai di tempat, ternyata dia belum ada. Sambil menunggunya, aku membeli beberapa cemilan. Ternyata lapar juga karena berjalan dari rumah ke station dengan jarak yang cukup jauh.
Tak lupa membeli air mineral dan susu coklat juga hehe. Sudah beberapa kali balikan aku mondar-mandir di depan station, sama sekali tak terlihat batang hidungnya Iby, ponsel ku bergetar tiba-tiba.
“Iby masih dimana?”
"Lho Iby udah di station daritadi Na. Kamu diem dimana emangnya?"
“Ih gimana sih! Nana daritadi diem di luar dekat parkiran, By!"
"Ya ampun, kenapa ngga masuk ke dalem?"
“Lho? Iby di dalem?”
"Iya. Ayo kesini cepet!"
Aku segera ke tempat Iby berada, terlihat dia sedang duduk santai di kursi tunggu. Aku berjalan pelan-pelan untuk membuatnya kaget.
“Iby!”
Rencana ku berhasil, Iby terkejut.
“Ih, jangan gitu deh Na. Kasian jantung Iby nih,” gerutunya.
Aku menyeringai. “Hehe maaf deh, maaf. Lagian kenapa harus ketemuan disini sih, By? Iby mau pergi atau gimana?”
Iby menggeleng. “Bukan gitu. Iby mau ajak Nana ke Bandung,”
Tunggu! Tiba-tiba?
“Sekarang?" Iby mengangguk dengan percaya dirinya.
“Lho? Kenapa Iby ngga bilang dari awal sih! Liat nih!” aku menunjukan pakaian ku sekarang.
“Masa Nana pakai ini ke Bandung?”
Bandung.. sesuatu berlari melesat sepintas didalam ingatan Nana. Ada sesuatu dengan Kota Kembang tersebut, tapi didepannya kini tengah berdiri seseorang. Tidak mungkin, tidak mungkin dirinya harus merubah ekspresi dalam keadaan seperti ini.