Blanc Carnations

Blanc Carnations
22. Basseball



Hari H tiba. Nyatanya Iby tidak ada jadwal padat hari ini. Hanya mengecek kembali produk klien lalu melaporkannya pada atasan dan membuat hasil estimasi. Sisanya Ia senggang dalam waktu yang lama. Sempat berfikir untuk datang ke pernikahan Nana, tapi Ia masih merasa akan canggung nantinya.


Iby berjalan menelusuri jalanan tanpa peta hingga Ia mendapati sebuah toko yang menjual aroma terapi. Iby jadi teringat keinginan Nana untuk mempunyai aroma terapi. Katanya bisa membuat ruangan harum dan membuat rileks. Entah itu benar atau tidak, Iby tidak tahu. Hah bodoh. Mengapa juga Iby berdiri di depan toko ini tanpa membeli.


Hal yang lucu adalah Iby datang ke pernikahan Nana. Tidak salah juga kan Ia datang ke pernikahan sahabatnya. Sahabat yang Ia sukai selama ini.


Iby mengisi buku tamu undangan. Ia melihat ada banyak sekali orang yang datang. Sebuah kehebatan Nana yang ramah pada siapapun, menjadi banyak sekali tamu undangan yang Nana undang. Bisa sampai Iby menjadi tidak terlalu mencolok disana. Berusaha Ia mencari kehadiran teman-temannya.


Ternyata mereka sudah memasuki sesi mengucapkan selamat pada pengantin di atas panggung sana. Nana menerima sambil memberikan senyum kebahagiaannya.


Disana Agha pun tersenyum senang. Mereka berseri-seri dengan kebahagiaan barunya. Senyum Iby merekah saat melihatnya. Dengan melihat sahabatnya bahagia seperti ini sudah cukup bukan? Mau tidak mau Iby harus merelakan perasaannya. Menyadari Nana yang sudah bersanding dengan pria yang Ia pilih disana. Semoga mereka bahagia.


Notif pesan masuk membuat ponsel Iby bergetar.


Jesy. "Dateng?"


Iby mengabaikan pesan Jesy setelah membacanya. Ia kembali ke penjaga buku tamu, menitipkan kado untuk Nana padanya. Setelah itu dia pergi. Saat akan menyalakan mesin motornya, Ia menyempatkan diri membalas pesan Jesy.


Iby. "Iya.."


Setelah itu Iby pun pergi.


**


Aghaku. "Udah selesai?"


Nana. "Belum huhuu.."


Aghaku. "Sekarang dimana?"


Nana. "Gazebo dekat gedung C1-b,"


Aghaku. "Oke!"


Nana. "Mau kesini?"


Agha tak membalas. Kebiasaannya masih sama saja, tidak berubah. Aku menghembuskan nafas sambil mengerjakan skripsi dan melihat skripsi ku sebelumnya.


Ya lebih tepatnya aku merevisi skripsiku. Banyak banget, bagaimana bisa hasil yang aku kerjakan dengan sempurna masih saja ada yang perlu di revisi? Tapi memang salah ku juga sih karena tidak teliti, jadi wajar saja dosen mencoret skripsi ku.


Aku beristirahat sebentar sambil meregangkan seluruh tubuh ku. Dimulai dari kepala, pundak, kemudian tangan. Setelah itu aku kembali mengerjakan. Jari ku sibuk menari di atas keyboard laptop dan membuka kembali halaman skripsi secara bergantian sampai beberapa jari ku menjadi tremor.


“Huaaa andai aja waktu itu Nana teliti, jadinya ngga ada revisi kayak gini. Mana banyak banget capek..” keluh ku sambil menidurkan kepala sebentar pada meja.


Jari telunjuk ku mengetuk-ngetuk meja pelan.


“Udah ngeluhnya?” tiba-tiba saja ada orang yang berbicara membuat ku terbangun.


Agha, dia tertawa sambil memberikan minuman manis pada ku. Senyum ku merekah, haha Agha paling tahu kalau aku stress harus meminum minuman manis.


Saat aku meminumnya, rasanya ada yang kurang. “Kok ngga terlalu kuat rasa manisnya?”


“Jangan terlalu keseringan minum manis, akhir-akhir ini kamu kalau sering minum yang manis suka sakit tenggorokan,” betul juga ucapan Agha.


Aku menghela nafas, lalu kembali mengerjakan. “Yaudah deh, makasi ya!”


Agha hebat bisa bertahan menunggu ku disini, hampir sekitar tiga jam aku mengerjakan skripsi.


Bagaimana bisa dia tidak merasa bosan menunggu ku? Aku jadi merasa tidak enak karena sudah membuatnya menunggu lama. Segera ku matikan laptop dan membereskan berkas-berkas lalu memasukannya pada ransel ku.


“Lho udah beres?” Agha menatap ku.


Aku menggelengkan kepala. “Kenapa ngga diselesain aja?”


“Masih bisa dilanjut di rumah aja Gha. Nana pusing banget gak kuat, butuh healing,” keluh ku sambil memegang dahi dengan kedua tangan.


Agha berdiri. “Ayok!” ajaknya.


Aku menengadahkan kepala sambil menatap Agha. “Kemana?” bukannya menjawab, Agha malah meninggalkan ku.


Aku berjalan lemas menghampirinya. Tapi langkahnya menjadi lebar, memang tak punya kepedulian. Ujung-ujungnya aku berlari mengejarnya.


“Ih tunggu!” teriak ku.


Selama diperjalanan, aku menebak bahwa Agha akan membawa ku ke tempat yang sejuk dan sunyi. Mendamba-dambakan hirup udara segar, tenang, yang membuat kepala ku tentram. Menghilangkan berbagai permasalahan dan pikiran yang terus tertanam dalam benak.


Mobil Agha berhenti di tempat yang begitu tak asing bagi ku, taman bermain?


Agha mengajak ku ke tempat baseball. Sejak kapan di taman bermain ada baseball? Terakhir kali bersama Iby ke sini saat masih sma, tidak ada tuh tempat baseball disini. Tapi entahlah rasanya aneh kalau ada baseball di tempat bermain. Biasanya kan banyak wahana-wahana ekstrim, dan permainan biasa pada umumnya. Namun ini ada atletik juga, rasanya aneh tapi bagus sih.


Ngomong-ngomong aku belum pernah bermain baseball. Eh pernah sih. Terakhir waktu smp, itu juga aku cuma saat pelajaran penjas saja dan hanya sebagai pemukul sekali. Agha memberikan pemukul pada ku.


“Nana gak bisa main ginian,” ucap ku cepat.


Dia mengabaikan ku. Setelah lima bulan Agha melamar ku, sikapnya masih tetap sama. Dia masih mengabaikan ku. Aku sudah cukup banyak bersabar menghadapinya. Aku juga mencoba untuk menahan diri. Takutnya nanti jadi kacau hanya karena ku.


Aku menyimpan ransel dengan kasar, bermaksud agar Agha memperhatikan ku. Hal yang paling membuat ku sebal adalah dia hanya melihat ku datar tanpa bertindak apa-apa. Lalu apa maksudnya Agha membawa ku kesini, kalau dirinya tidak memberikan tindakan yang membuat ku tersentuh.


Yang ada hanya membuat ku terpancing emosi. Saat sebuah bola datang ke arah ku, dengan bersiap aku memukulnya tanpa feeling. Aku bisa merasakannya dengan insting.


Agha terkejut melihatnya. Dengan begitu pemukulan ku bagus bukan? Aku tersenyum tipis percaya diri, tiba-tiba saja Agha menjitak dahi ku hingga membuat ku meringis kesakitan.


“Ih Agha!”


“Jangan sombong, kamu gagal memukul bolanya. Liat tuh di belakang kamu,” ucap Agha sambil bersiap diri dengan posisi benarnya untuk memukul bola.


Benar yang Agha katakan, bolanya ada di belakang ku. Ternyata aku gagal. Aku berdecak kesal. Yaudah sih ya wajar kan, Nana udah bilang ngga bisa bermain baseball.


Sebuah suara pukulan lembut yang Agha berikan terdengar di telinga ku, Ia berhasil memukulnya. Curang!!


Kini Agha yang menyombongkan diri karena berhasil memukul bola. Aku tak mau kalah darinya. Bagaimana bisa Agha semudah itu bisa tepat memukul bola? Dih! Lagian aku belum pernah denger tuh Agha bisa bermain baseball.


Mencoba sekali lagi tidak jadi masalah bukan? Mungkin tadi itu karena akunya tidak beruntung. Siapa tau pukulan kali ini bisa mengenainya. Betul! Aku yakin itu!


Dengan posisi siap dan juga nyaman bagi ku, aku bersiap untuk memukul. Di sebrang sana Agha bersiap menyalakan mesinnya untuk mengeluarkan bola. Ekspresinya membuat ku kesal. Agha mengejek ku! Awas saja ya kamu, Gha!