Blanc Carnations

Blanc Carnations
70. Foto Box



Tempat wahana selanjutnya adalah komedi putar. Terlihat kekanak-kanakan tapi akan terasa menyenangkan jika menaikinya. Dan ya, yang benar saja. Hanya Rafa yang menaiki wahana itu, Adnan tidak ingin katanya. Dia hanya bagian yang memfoto Rafa saja. Kalau dijadikan spot foto sih memang bagus di wahana ini. Tapi dengan suasananya, lebih baik dan bagus sih di malam hari. Namun ya sudahlah, bagaimana Adnan saja.


Saat bermain dengan Abel tadi, Rafa tidak sempat bermain wahana ini karena Abel sudah sangat lelah juga. Padahal disini tidak banyak bergerak, hanya naik lalu duduk udah deh. Tapi ya tetap saja Abel tidak ingin, dia butuh istirahat dan duduk dengan tenang. Kalau disebut zaman sekarang sih remaja jompo kali ya hmm. Tapi tunggu! Rafa termasuk orang yang kalau sedikit-sedikit merasa lelah atau capek, apakah Rafa juga termasuk remaja jompo juga kah? Pemikiran yang ngga penting sih ini sebenarnya haha.


Rafa senang sekali bisa menaiki komedi putar karena pertama kalinya. Tapi lama-kelamaan juga terasa sedikit pusing juga ya ternyata haha.


Adnan melihat Rafa tersenyum senang. Dia ikut senang melihatnya. Adnan segera mengeluarkan ponselnya dari Saku celana kanannya. Dia membuka aplikasi kamera lalu menyesuaikan dengan media yang akan dia potret. Sedikit disayangkan juga Adnan tidak membawa kamera, padahal hasilnya akan terlihat lebih baik dibandingkan kamera ponsel. Tapi ya mau bagaimana lagi sudah terlambat. Adnan melihat Rafa melambaikan tangan padanya dengan tersenyum manis. Momen yang sangat pas untuk memotret. Beberapa kali Adnan memotret Rafa saat melewatinya. Cantik, puji Adnan dalam hati. Senyumnya merekah ketika dia melihat hasil fotonya di galeri ponsel Adnan.


Rafa sudah selesai menaiki wahana itu lalu menghampiri Adnan dengan sumringah. Moodnya jadi kembali baik.


"Seneng banget nih Rafa keliatannya," ucap Adnan dengan tersenyum senang sambil menatap lembut Rafa.


Rafa tertawa, "Iya nih haha. Udah selesai kan? Adnan ngga ada wahana lagi yang mau Adnan naiki?"


Adnan menggeleng, "Ngga ada. Udah cukup."


"Heee. Padahal Adnan cuman naik bianglala aja lho. Beneran nih? Rafa temani Adnan lama juga gapapa kok."


"Gapapa Rafa. Udah cukup kok cuman naik bianglala doang. Lagian kasian Abel nunggu kita lama-lama."


"Oke deh! Yaudah ayok!" Mereka berdua langsung pergi kembali menuju tempat Abel. Sesampainya disana, mereka melihat Abel tertidur di atas meja. Rafa segera membangunkannya dengan menepuk pelan bahu Abel. Dia pun terbangun.


"Eh udah selesai?" ucap Abel yang nyawanya masih belum sepenuhnya sadar. Rafa dan Adnan menangguk. Abel langsung bangkit dari tidurnya. "Ya udah, ayo kita foto!" Kita langsung melangkah menuju foto box. Letaknya tidak terlalu jauh dari keberadaan mereka dan untungnya tempatnya sepi. Tapi Abel tetap berlari menuju tempat itu agar tidak ada orang yang masuk. Begitulah Abel, rusuh haha.


Kami bersiap-siap dengan membenarkan penampilan wajah dan rambut, juga pakaian.


"Rafa kamu pake ini dong." Abel menyodorkan tangannya yang memegang bando telinga mickey mouse.


"Foto awal biasa aja dulu ngga sih?" jawabnya.


"Bener juga sih. Tapi kamu pake ini ya, atau mau bando ini?" Abel kembali menunjukkan flower crown yang diambilnya dari tempat pernak-pernik di depan kamera. Barang-barangnya digantung dan tersusun rapi.


"Hmm iya deh iya.." ucap Rafa pasrah. "Sini biar Rafa sendiri yang milihnya untuk dipakai." Rafa mengambil kedua barang tersebut dan memegangnya.


"Adnan mau pakai apa?"


"Hah?"


"Udah siap ya! Abel mulai nih." Abel segera menekan tombolnya. Kami berganti pose tiap jepretannya. Melihat hasil dari take pertama, bagi Rafa terlihat cukup bagus. Namun berbeda dengan Abel, karena matanya tidak bisa bekerja sama dan alhasil terlihat aneh. Memang benar sih, tapi terlihat lucu padahal. Abel keukeuh harus take ulang sekali lagi. Tidak adil baginya. Yasudah deh… Adnan menahan tawanya ketika melihat foto Abel. Andai saja dirinya sempat mengeluarkan ponsel lalu memfotonya di kamera ponsel. Sangat disayangkan jika tidak di foto, dan ini perlu diabadikan seharusnya haha.


Sekali lagi Abel menekan tombolnya. Dan akhirnya jepretan kali ini sudah benar sepenuhnya. Tidak ada lagi yang perlu di ulang. Adnan juga Rafa sudah setuju dengan hasil jepretannya. Mereka tinggal menunggu dalam bentuk nyatanya. Abel mencetak foto sebanyak tiga buah saja, sesuai dengan jumlah yang ada. Tidak ada duplikatnya.


"Adnan pulangnya bagaimana?"


"Adnan ada perlu dulu ke kota, mau bertemu kakak. Kalian bagaimana?"


"Hoalaa oke deh. Abel pulang bareng sama Rafa. Apa Adnan mau sekalian bareng juga kah? Ya.. itung-itung menghemat ongkos ya ngga? haha."


"Ngga usah, gapapa."


"Eey ayolah. Yuk!?" Abel menggoda Adnan dengan mendorong sikunya pada lengan Adnan.


Mobil Abel tiba tepat di depannya lalu kaca pintu depan terbuka, "Ayok!"


"Tuh ayo, ah Adnan." Abel mendorong Adnan untuk masuk kedalam mobilnya. Dia langsung terduduk di kursi penumpang belakang. Rafa menahan tawa melihat sikap Abel. Tujuan Abel memang benar untuk memudahkan Adnan juga dan menghemat ongkos.


Rafa dan Abel segera naik ke dalam mobil.


"Pak, nanti kita berhenti dulu sebentar ya. Antar Adnan ke tempat… tempat apa Nan?" Abel menoleh ke kursi belakang.


"Ya? Ke Ko'rafe," jawab Adnan.


"Nah ke tempat itu pak. Bapak tau kan tempatnya?"


"Woiya jelas tau dong. Siap!!" Mobil Abelpun melaju dengan lembut. Ia menjalaninya dengan berhati-hati.


Rafa sudah sangat lelah hari ini. Dia juga sama sekali belum sempat untuk beristirahat, tidak dengan Abel yang sudah mendahuluinya istirahat. Matanya juga sudah tidak tahan lagi untuk buka. Dengan perlahan ia menutup matanya dan tertidur pulas disana. Kepalanya memiring ke arah Adnan. Begitu Adnan menyadarinya, dia membenarkan posisi tidur Rafa agar nanti saat bangun dia tidak merasa pegal dengan mengatur sedikit posisi kursinya ke belakang. Adnan berbisik pada Abel melalui kacai tengah, "Rafa tidur." Abel mengangguk mengerti dan mengacungkan jari 'ok' pada Adnan.


Tak lama kemudian mobil Abel menepi di pinggir jalan, tepat depan tempat yang Adnan tujuan. Dia berpamitan pada Abel dan berterima kasih padanya telah mengantar Adnan. Abel juga berterima kasih dengan waktunya hari ini. Lalu mobil Abel kembali melaju menuju rumah Rafa. Saat Adnan turun pun Rafa masih belum juga terbangun.


-o0o-