Blanc Carnations

Blanc Carnations
64. Sadar



Rafa bersama kedua temannya menuju kantin dan sama-sama tidak membawa bekal makanan. Lagian juga sudah sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah, berarti alangkah baiknya untuk jajan di kantin bukan? Haha. Tidak begitu juga sih, alasan setiap orang kan berbeda-beda.


Rafa membeli seporsi bakso dan satu botol air mineral. Abel juga memesan yang sama, namun dia membeli satu mug teh manis dingin. Sementara Adnan lebih memilih untuk membeli nasi kuning, katanya dia ingin makan bersama Rafa dan Abel setelah itu dia akan ke lapangan untuk bermain basket. Seperti biasa Adnan pasti sibuk sendiri dengan aktivitas sampingannya. Sudah bersyukur juga Adnan meluangkan waktu makan bersama teman-temannya, sekalian menyambut kehadiran Rafa.


“Kok bisa sembuh cepet, Fa?” Abel yang mendengar ucapan tidak enak dari Adnan langsung memukul pundaknya. Mereka berdua duduk berdampingan dan Rafa duduk di seberangnya.


“Adnan jangan aneh-aneh deh! Tolong banget ya, Rafa baru sembuh. Ngga sopan banget ni orang.” Rafa tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Padahal dia tidak sekolah sebentar, tapi terasa lama saat bertemu kembali dengan mereka.


“Oh iya, bagaimana kemarin? Apakah ada tugas atau info terbaru apapun? Rafa selalu lupa untuk bertanya pada kalian.” Biasanya kalau ada info apa-apa pasti diberitahu di grup kelas, tapi malahan grupnya sepi sekali. Tidak ada pembicaraan apapun dari teman-teman kelas, begitupun dari wali kelas tidak ada. Sudah wajar kalau teman-teman pasti sibuk sendiri dan memilih untuk bertukar pesan pribadi. Tapi ya cukup aneh juga wali kelas tidak memberi kami info satupun di grup kelas. Seharusnya waktu-waktu sekarang grup kelas akan ramai dengan membahas dan mengurusi lanjut sekolah yang ingin mereka tuju. Membahas bagaimana dengan ujiannya nanti. Mereka saja terkadang lebih sering dapat info dari kelas sebelah. Wali kelas kami sangat lambat menangani kelas, ya karena beliau juga sudah berumur jadi sering kali lupa dan memilih membahasnya secara langsung dan memberi infonya dengan mendadak. Teman-teman sering sekali mengeluh karena kita telat mendapat info dan seringkali diberi secara mendadak. Mau tidak mau kita harus bersabar sampai akhir. Dan semoga saja nanti di pengurusan ijazah tidak terlambat. Semoga saja.


“Ngga ada info baru sama tugas sih, cuman Abel nyalin materi buat Rafa. Bukunya ada di tas Abel. Oh iya, di pelajaran ips dan inggris membahas soal pada buku paket ujian. Tenang aja, Abel juga udah nyalin bahasaannya di sana. Rafa tinggal baca-baca saja. Kalau ada yang Rafa tidak mengerti jangan sungkan untuk bertanya pada kami, kami siap membantu.” Jelas Abel dengan bersemangat.


Rafa menghembuskan napas lega, bersyukur tidak ada tugas. Tapi sekarang lebih sering untuk membaca ulang materi, siapa tahu akan muncul di ujian nanti.


“Terimakasih banyak Abel. Maaf jadi merepotkan.”


Abel menggeleng cepat, “Eyy, santai aja kok Rafa. Gapapa.”


“Nenekmu bagaimana?” sahut Adnan.


“Oh iya, maaf banget ya kita gabisa jenguk Rafa.” Abel tiba-tiba jadi teringat bahwa dia tidak bisa menjenguk Rafa karena ada urusan dengan keluarganya yang membutuhkan waktu cukup lama. Sementara Adnan juga tidak bisa karena melatih anak-anak basket untuk mempersiapkan lomba akhir pekan ini. Rafa tidak keberatan mereka tidak menjenguknya dan dia juga tidak berharap. Bersyukur kalau mereka datang ke rumah, tidak apa-apa juga mereka tidak sempat datang. Toh pada akhirnya juga Rafa sembuh.


“Selesai makan Adnan mau lanjut basket, ikut ga?” tanya Adnan.


Selama mereka masih bersekolah disini, tidak apa-apa kali ya untuk beraktivitas lain selain belajar, Setidaknya ada memori lain dari sekolah ini, ya kan?


Rafa mengangguk setuju lalu menatap Abel berharap ikut juga. Matanya kini berlinang dan mengharapkan jawaban baik dari Abel membuat dirinya tersentuh dan mengalah untuk ikut juga.  Mereka bersama menuju lapangan basket. Adnan kali ini tidak bermain sebagai pemain inti karena ia fokus untuk ujian yang akan datang dan pelatihnya pun mengizinkannya, sudah menjadi hal yang wajar. Lagipula ada wakil kapten dari angkatan adik kelas dan juga dia ikut bermain sebagai pemain inti. Adnan hanya membantu saja dan sekalian menjernihkan pikiran juga. Hanya basket yang berpengaruh baginya.


Rafa dan Abel duduk di kursi penonton bagian tengah karena pandangannya lebih baik dan bagus bagi mereka di posisi itu. Adnan bergabung dengan anak-anak lain, mereka menyambut dengan ramah juga sama-sama menghormati. Tapi Rafa melihat Adnan tidak suka dan kurang nyaman diperlakukan seperti itu, ia lebih memilih seperti kawan pada umumnya. Kalau terlalu formal seperti itu ia takutnya ada berita aneh-aneh dan yang tidak-tidak, ya walaupun wajar. Entahlah, pemikiran Adnan kadang susah untuk ditebak. Mereka berbincang sebentar lalu melakukan pemanasan dan bermain sebentar untuk pemanasan juga.


“Dilihat-lihat Adnan keren ya, Bel!” ucap Rafa bangga dan pandangannya tak lepas dari Adnan. Ketika dia di lapangan terlihat sangat berbeda dengan kehidupannya sebagai pelajar. Rafa merasakan ada rasa kebebasan pada Adnan ketika bermain. Lega ya rasanya. Rafa ingin merasakan kebebasan juga, namun dengan apa? Kelihatannya juga sangat seru dan nyaman. Dalam kurun waktu menghabiskan masa siswa smp tidak berlangsung lama dan akan terasa sangat cepat, tapi Rafa masih terpaku dengan memikirkan hal apa yang dirinya inginkan untuk kedepannya. Hmm, tidak jauh-jauh deh. Apa sebenarnya yang Rafa sukai atau gemari pun tidak tahu. Apa tidak masalah jika ia mengetahuinya dengan terlambat? Apa nanti Rafa akan merasa kecewa dengan keputusan dan hasil awal dari perjalanan hidupnya? Takut. Rafa malah takut akan gagal. Tapi apakah bisa? Dan persiapan apa yang harus Rafa nanti lakukan? Apakah dia juga akan menanggung resikonya juga? Apakah Rafa bisa bertanggung jawab dengan semua hal?


“Adnan memang terlihat keren kalau bermain basket. Ini bukan pertama kali bagi Abel melihatnya seperti itu. Sangat disayangkan juga Rafa sama sekali tidak menonton Adnan ketika tanding dengan sekolah lain dan baru melihatnya sekarang. Tapi tidak apa-apa, Rafa jadi tahu bagaimana sisi keren Adnan selama ini.” Benar kata Abel. Coba saja jika Rafa melihat Adnan bertanding waktu itu, dan malah memilih menonton konser musik bersama Adnan dibandingkan menonton sisi keren Adnan. Rafa baru menyadari akan hal itu. Dia berjanji, suatu saat jika Adnan bertanding kembali di sma, Rafa akan menonton. Tidak peduli dia berasal dari sekolah manapun. Dan itu juga kalau dia meneruskan jejaknya. Semoga saja.


Ah iya, kira-kira kita akan bersekolah di sekolah yang sama juga ngga ya? Akan terlihat lucu kalau kembali di sekolah yang sama, tapi Rafa juga tidak bisa memprediksinya.


-o0o-