
Rafa baru bisa tidur setelah satu jam saat kepergian Nathan dan kak Jesy karena entah kenapa dia tiba-tiba kepikiran dengan ayah dan binda. Dalam kondisi yang tidak sehat ini memang rawan pada pikiran. Entah tiba-tiba berpikir mengenai bencana, apapun yang hal-hal negatif dan juga terkadang jadi terpikirkan dengan seseorang yang ia rindu siapapun itu. Bahkan juga sampai memikirkan beban atau tekanan yang terlintas di pikirannya padahal sudah berlalu. Lelah juga saat menghadapi sakit. Itu mungkin juga karena kitanya yang terlalu lelah jadi bisa seperti itu. Dia terbayang wajah ayah dan bunda dalam pikirannya. Senyuman bunda yang sangat tertanam dalam ingatannya namun ia hanya bisa membayangkan wajah ayah tanpa senyuman. Bunda pernah bilang padanya kalau senyuman ayah sangat manis. Sewaktu Rafa kecil, ayah selalu memegang pipi dan hidung Rafa. Gemas katanya. Bunda bilang juga kalau ayah tidak sabar ingin melihat putri satu-satunya memakai pakaian seorang putri kerajaan dan ingin bermain bersama Rafa. Begitupun sebaliknya, Rafa ingin menikmati waktu berdua dengan ayah. Mengajaknya ke tempat Rafa sukai, memakan makanan yang Rafa sukai dengan bersama. Tapi sayangnya tidak ada satupun yang terlaksana. Rafa hanya bisa mengingat ayah yang tidur lama dengan berbaring di ranjang rumah sakit, tanpa ada kemajuan lainnya. Selalu seperti itu setiap kali Rafa menjenguk ayah ke rumah sakit bersama Nathan dan nin. Dia tidak tahu apa yang dirasakan ayahnya yang sebenarnya. Tapi Rafa sempat berpikir, apakah ayah tidak lelah tidur dengan waktu yang lama? Apakah ayah juga tidak merasa bosan bermimpi kepanjangan? Rafa yang menunggunya merasa bosan melihat ayah yang terus berbaring di ranjang. Memori bersamanya juga tidak banyak, bahkan tidak ingat apa yang mereka lakukan sejak Rafa kecil. Terkadang ia merasa iri pada kakaknya. Dia memiliki banyak memori bersama ayah dibandingkan dirinya. Sempat kesal, tapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak bisa memaksa kehendak dan itu sudah jadi jalan terbaiknya. Rafa nyaman bersama Gilby seperti ayah dimatanya. Dia selalu memberi perhatian, bermain bersamanya, dan bahkan dia juga sampai menghibur Rafa. Gilby selalu melakukan apa saja untuk Rafa agar dia tersenyum dan merasa ada kehidupan dalam dirinya. Rafa sangat bersyukur bisa mengenal Gilby dan bisa dibilang cukup lama dia bersama Gilby. Rafa mengenalnya dari dia masih kecil, bahkan ingatannya lebih banyak bersama Gilby. Dia juga mengingat bersama bunda, sangat mengingat. Bisakah Rafa bertemu bunda secara langsung? Sekali saja. Kalau Rafa punya kesempatan dalam hidupnya, dia ingin menemui bunda dan terutama ayah. Dia ingin merasakan bagaimana bermain dengan ayah dan ingin melihat bagaimana dengan senyuman manis ayah yang seringkali dibicarakan oleh bunda dan Nathan.
Di waktu istirahat Rafa, dia berharap bisa menemui ayah dalam mimpinya. Walaupun cuma sekali sudah sangat bersyukur baginya. Rafa tidur dengan nyenyak entah sampai kapan.
Jesy menemui seseorang yang dulu pernah dekat dengan Nana sewaktu masih di bangku sma. Dia juga satu kelas dengan Nana. Ah sebenarnya teman di kelas Nana baik dan ramah semua, bahkan bisa dianggap sebagai keluarga sendiri. Di kelasnya juga memiliki hubungan yang cukup erat daripada kelas lain. Ya memang benar sih kalau dibandingkan dengan kelas Jesy yang dipenuhi dengan orang-orang yang aneh. Dia sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa dia satu kelas bersama mereka. Tidak hanya itu, mereka juga orang yang cukup berbahaya apalagi dalam soal percintaan. Aneh deh pokoknya. Yang masih waras hanya beberapa, termasuk Jesy. Makannya tidak heran dengan sikap Jesy yang cukup terlihat bar-bar haha.
Mereka bertemu untuk membicarakan bisnis. Katanya dia ingin bekerja sama dengan perusahaan Jesy karena membuatnya tertarik lalu cocok untuk produk buatannya dan masih banyak lagi sebenarnya. Tidak hanya itu ternyata yang mereka bicarakan. Dia menanyakan kabar Jesy dan anak-anak Nana. Dia juga bercerita tentang Nana, bahkan dia juga rindu dengan sosok wanita ramah yang cerewet itu. Katanya tiap kali berbincang dengan Nana akan merasa nyaman dan hangat. Berbeda dari orang lain, entahlah.
Berbincang masa lalu itu menyenangkan dan kadang juga menyakitkan. Mengingat kembali kejadian yang tertanam dalam ingatan. Banyak hal lucu dan menyenangkan juga. Hal-hal sederhana tapi membuat kita bahagia. Namun sangat disayangkan, kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Walaupun banyak hal yang ingin diperbaiki, ingin mengulang kembali suatu kejadian yang menurutnya bahagia, dan masih banyak lagi. Seseorang merasa bahwa dia menyesal dengan perbuatan di masa lalu dan kecewa terhadap diri sendiri. Tapi dengan itu, dia bisa melewati semuanya. Melewati rintangan yang sulit.
Seperti yang Jesy janjikan, dia bertemu dengan orang itu tidak lama. Sebelum dirinya benar-benar kembali ke rumah, Jesy membeli makanan terlebih dahulu. Untuk dirinya juga Rafa. Jesy juga membeli bahan-bahan makanan untuk persediaan di rumah kedepannya. Mencoba untuk tidak boros, ya walaupun hari ini dia membeli makanan berat yang sudah jadi karena mood Jesy masih mageran haha. Maaf ya Rafa, Nathan. Nanti sore sepulang Nathan sekolah, Jesy akan masak makanan untuk kalian.
Jesy membuka pintu kamar Rafa lalu mengecek keadaannya. Dia mengeluarkan banyak keringat dalam tubuh Rafa. Mungkin saja rasa sakitnya sudah menghilang, karena Jesy mengecek dahi Rafa sudah tidak panas seperti sebelumnya. Melainkan dia merasakan keringat dalam dahinya.
“Rafa..” panggil lembut Jesy. “Ayo makan. Kakak bawain makanan buat kamu.”
Mata Rafa perlahan terbuka dengan lemas. Kepalanya masih terasa pusing dan badannya terasa sangat lemas. Jesy membantunya bangkit dari ranjang dan menuntunnya ke ruang tengah. Pelan-pelan membantu Rafa duduk di kursi sofa. Setelah itu dia menyuruh Rafa makan. Makanannya sudah disiapkan diatas meja.
“Keliatannya kamu udah mendingan, Rafa.”
Rafa tertawa kecil, “Haha iya nih kayaknya kak. Tapi Rafa lemes banget, ngga ada tenaga.”
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah. Rafa beranjak dari sofa menuju pintu dan membukannya. Otot pipinya menarik ke atas, menghasilkan kerutan jelas di wajahnya. Matanya menatap sayu padanya. Rafa membuka lebar pintu rumah dan membuatnya masuk ke dalam rumah. Rafa menuntun nin ke ruang tengah dan membantunya duduk di sofa. Tubuhnya sudah tidak terlalu kuat seperti dulu. Rafa juga menyiapkan minum untuk nin.
“Jesy mana?” tanya nin.
“Ada di kamar mandi nin, lagi nyiapin air hangat buat Rafa.” Jawab Rafa dan terkekeh.
“Nathan masih belum pulang?”
“Iya, kakang belum pulang. Mungkin sebentar lagi kakang datang.”
Tangan keriputnya menempel pada dahi Rafa, bermaksud untuk mengecek kondisi Rafa. “Rafa sekarang udah mendingan nin. Tapi masih terasa lemas karena kurang tenaga.”
“Syukurlah. Nin kira kamu ngga sakit. Jesy beritahu nin kalau kamu sebenarnya sakit.”
Rafa menggeleng dan menggenggam tangan nin, “Gapapa. Sekarang kan Rafa udah baik-baik aja. Tenang nin. Ada kak Jesy juga yang ngerawat Rafa.”
-o0o-