Blanc Carnations

Blanc Carnations
60. Paruh Waktu Nathan



Jesy kembali ke ruang tamu. Dia tersenyum ketika melihat mama lalu menghampirinya dan mencium punggung tangan mama yang keriput. Ia duduk di sampingnya. Kepalanya menoleh sebentar pada Rafa dan berkata, “Air hangatnya sudah siap.” Rafa mengangguk dan bersiap untuk membasuh diri.


“Bagaimana kabarnya Jesy?” tanya mama dengan suara yang terdengar sedikit lemah.


“Baik ma. Jesy baik-baik aja di Singapura dengan suami.”


“Belum ada rencana momongan?”


Jesy tertawa kecil. “Ih mama. Jesy masih ingin berkarir, ma. Terus juga Jesy mau ngurus ni anak berdua. Gabisa Jesy tinggalin soalnya. Jesy juga di amanahi oleh Nana untuk merawat mereka berdua. Jesy gapapa kok, ma. Malahan seneng banget ngurusin ni dua bocil haha.” Jelas Jesy dan kembali tertawa.


Mama tersenyum mendengarnya. Selama itu keputusan yang Jesy inginkan, mama tidak keberatan kalau Jesy juga merasa senang. Itu sudah menjadi hak Jesy. Sekarang juga mama tidak bisa mengurus banyak anak-anak karena tubuhnya sudah tidak terlalu kuat seperti dulu. Makannya terkadang ia sering menghubungi Gilby untuk merawat anak-anak karena tidak ada seorangpun selain Gilby. Mama juga tidak bisa meminta bantuan pada Jesy karena berada di Singapura dan takut mengganggu waktu sibuknya.


Sebetulnya di waktu sebelumnya, mama sering sekali menghubungi Gilby untuk menjaga anak-anak dan memperhatikan mereka. Tapi mungkin karena umur juga, mama menghubungi Gilby hanya ketika mengingatnya saja.


Di sela-sela waktu kosong Nathan, dia gunakan untuk bekerja. Bukan bekerja berat juga, tapi dia bekerja hanya di rumah saja dengan mengandalkan komputer miliknya. Jesy masih belum tahu soal ini dan hanya mama, Rafa, dan Gilby yang mengetahuinya. Mereka bukan bermaksud untuk menutupi apa yang dilakukan Nathan, tetapi biar Nathan sendiri yang berbicara langsung pada Jesy. Lebih baik memberitahunya secara langsung bukan? dibandingkan orang lain yang memberitahu. Yang ada kalau begitu Jesy akan merasa kecewa. Nathan butuh waktu yang tepat untuk memberitahu Jesy soal pekerjaannya. Dia tahu betul bagaimana sifat Jesy yang super heboh dan apa-apa pasti ngomel. Belum lagi kalau moodnya sedang tidak baik, dia pasti akan menyita atau melarang sesuatu pada Nathan. Malah jadi gagal deh rencana yang ia buat.


Nathan bekerja sebagai influencer? Mungkin bisa disebut seperti itu kali ya? Dia senang sekali dengan seni, sama seperti bundanya haha. Nathan sering membuat design dari idenya untuk template promosi di berbagai media sosial maupun platform. Padahal dia tidak belajar menggunakan aplikasi edit pada umumnya yang sampai les sana-sini. Nathan pernah melihat sekilas ketika bunda mengerjakan pekerjaannya di rumah. Bunda juga sadar akan hal itu, dia malah memberi pelajaran pada Nathan dan mengizinkannya untuk melihat bagaimana caranya agar bisa menggunakan aplikasi khusus tersebut. Tidak hanya sekali, bahkan bisa beberapa kali Nathan belajar bersama bunda. Dia sangat senang sekali. Dan saat Nathan menginjak di bangku smp, dia mencoba sedikit demi sedikit tentang aplikasi editing lalu mengaplikasikan ajaran yang pernah bunda ajarkan. Perlahan demi perlahan juga Nathan jadi mulai mengerti. Kemampuannya semakin meningkat. Di waktu dirinya kelas dua smp, dia mengajukan diri untuk sebagai panitia salah satu acara kelasnya. Ya walaupun hanya makan bersama dan kegiatan ringan lainnya, guru wali kelas meminta agar ada dokumentasinya. Entah itu berupa foto maupun video untuk menjadi kenang-kenangan katanya. Dari situlah Nathan memberanikan diri dengan kemampuan yang ia miliki walaupun belum sepenuhnya. Setelah semuanya beres, Nathan memberi tahu sedikit dengan video dan foto yang ia edit. Baru saja awalan, Nathan sudah diberi respon yang sangat bagus oleh guru wali kelas. Kemampuannya sangat bagus katanya. Beliau malahan menyarankan untuk terus mengulik dengan apa yang Nathan sukai. Bukan hanya sebagai healing untuknya, tetapi juga memberi dampak yang sangat positif untuk orang lain. Beliau bilang toh kita tidak tahu bagaimana dengan masa depan kita dan kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Terutama kita juga belum tahu pilihan apa yang akan kami buat untuk masa depan. Belum tahu pilihan apa yang Nathan buat setelah ia lulus sekolah. Dengan ini juga Nathan bisa belajar lebih selain dari pelajaran. Guru wali kelas sangat mendukungnya, ia sangat percaya dengan Nathan.


Ketika Nathan sudah selesai mengeditnya, dia segera membagikan ke grup kelas. Dan ternyata bukan guru wali kelas saja, teman-temannya pun memberi banyak respon yang baik. Mereka juga sama dengan guru wali kelas, mendukung Nathan. Merasa malu tapi tidak apa-apa, dia juga sangat senang ketika teman-teman dan guru wali kelas menyukai karyanya. Walaupun mungkin terlihat sederhana tapi bagus di kalangan sekolah atau tahunnya sudah sangat terlihat hebat di mata orang. Belum lagi kalau Nathan sudah menjadi lihai dalam bidangnya.


Dan ternyata benar, terjadilah saat ini. Kemampuan yang Nathan miliki kini dijadikan sebagai usaha sampingan dibalik identitas sebagai pelajar. Sangat sederhana tapi sulit dilakukan dan hanya bisa di beberapa orang saja. Nathan juga tidak sepenuhnya sebagai siswa pintar, tapi dia lebih ke rajinnya. Selama ada yang harus dikerjakan, ya Nathan kerjakan. Jika tidak, ya tentu saja tidak. Nathan juga terlihat tidak melihat banyak belajar ketika di rumah. Pastinya sibuk dengan ponselnya, atau sekali-kali dia membantu Rafa belajar. Sangat menyenangkan juga ketika mengajari adik sendiri. Apalagi kalau otak Rafa benar-benar sedang tidak atau susah untuk terhubung dengan Nathan. Dia memarahinya karena Rafa selalu bertanya di hal yang sama. Ketika materi sudah terlewat, tapi Rafa masih saja bertanya terkait materi sebelumnya. Sedikit kesal tapi ya Nathan harus menahannya. Melainkan Nathan membalikannya dengan menggoda Rafa dan menjahilinya. Dia meyuruh Rafa untuk istirahat terlebih dahulu agar bisa fokus kembali. Padahal yang dimaksud dengan Nathan adalah berhenti atau mengistirahatkan pikirannya sejenak dari materi sekolahnya, namun yang dilakukan Rafa adalah tidur. Mau heran, tapi itu Rafa. Nathan juga tidak bisa mengelak. Mungkin karena Rafa begitu dia jadi tidak bisa fokus belajar dan butuh untuk istirahat. Nathan merasa senang merawat adiknya yang imut ini. Kelakuannya membuat Nathan menggeleng-gelengkan kepala


-o0o-