
Delapan bulan aku membesarkan Nathan, dia serakang sudah bisa merangkak. Tapi dia langsung belajar untuk berjalan biasa. Nathan selalu memintaku atau Agha untuk membantunya berdiri.
Baru saja dengan berdiri, dia sangat senang sampai tersenyum gembira. Bahkan sampai teriak-teriak haha.
Nathan sangat tidak bisa diam saat bediri, dia menggerakkan lututnya dengan turun naik dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Entahlah dia bisa berbuat begitu pada kepalanya dari siapa.
Tidak hanya itu, yang paling hebatnya adalah Nathan sekarang sudah bisa makan nasi. Walaupun bukan sepenuhnya nasi pada umumnya karena Nathan masih belum cukup untuk mengunyah dan gigimya juga belum terlihat tumbuh. Tapi dia sangat senang bisa makan nasi. Nathan juga sekarang kalau minum lebih suka dari gelasnya langsung tidak seperti bayi umumnya yang masih menggunakan botol dot. Mama saja yang mengetahuinya sangat terkejut haha.
Mama dapat mengetahui itu saat aku meminta tolong padanya untuk menjaga Nathan karena aku sudah bisa kembali kerja walaupun tidak fulltime.
Mama menjaga Nathan di rumahnya karena rumah mamah dekat dengan warga, jadi kalau Nathan merasa bosan, mama bisa nongkrong di terasnya karena langsung menghadap ke lingkungan warga.
Dan juga warga di daerah mama lebih sering beraktivitas di depan rumahnya atau selalu membiarkan pintu rumahnya terbuka. Hampir sudah beberapa minggu aku menitipkan Nathan pada mama. Mungkin bisa sampai setiap empat kali dalam seminggu, itu juga kalau aku benar-benar tidak bisa membawa Nathan ke tempat kerjaku.
Selebihnya saat pekerjaanku tidak serumit yang biasanya atau cuma membutuhkan waktu sebentar, aku bisa membawa Nathan ke tempat kerjaku.
Tapi tetap saja saat disana aku tidak sepenuhnya menggendong Nathan yang sebenarnya sering beralih oleh beberapa karyawanku. Bahkan sampai-sampai bisa ke pangkuan atasanku. Yang membuatku tidak enak adalah Nathan merasa tidak nyaman saat dirinya digendong dipangkuannya, membuat karyawan lain tertawa.
Akupun heran sendiri. Yang aku tahu itu atasanku sangat menyukai anak kecil dan mudah untuk bisa beradaptasi agar terhubung kecuali dengan Nathan. Apa mungkin Nathan tidak suka karena dengan pakaiannya yang formal? Atau bagaimana? Entahlah aku tidak bisa terpikirkan apapun. Tak ada hal yang terlintas pada kepalaku.
Nathan terbilang ramah pada semua orang, kecuali atasanku huhu. Itu masih dipertanyakan. Karena dari situ aku juga jarang bertemu dengannya dan sekalinya dia ada di kantor, akunya sudah pulang. Jadi tak sempat bertemu bahkan sekalipun tidak berpapasan.
Senyuman yang Nathan miliki itu membuat orang-orang menjadi lemah melihatnya haha. Karena begitu manis. Nathan tersenyum lebar dengan pipinya menarik keatas membuat mata Nathan menjadi sipit. Terkadang juga dia genit tiba-tiba, dan itu jarang sekali.
Kalau kami menyuruhnya, Nathan tidak melakukannya. Tapi saat sedang biasa saja, bermain biasa saja, Nathan tiba-tiba menunjukan ekspresi genitnya. Belum lagi pipinya yang gembul seperti mochi, rasanya aku ingin melahap pipi Nathan haha. Tapi sebagai ibu harus menahannya. Kalau aku diluar kembali kan bisa bahaya, yang ada nanti Nathan jadi kesakitan gara-gara aku.
Pastinya yang merasakan gemas pada Nathan tidak hanya aku, Agha juga dan orang lainpun yang melihat atau tahu dengan Nathan. Ya bagaimana tidak gemas dengan Nathan, dia yang murah senyum, kalau digendong orang lain senang dan suka apalagi kalau orangnya asik terus juga emang gampang berbaur dengan bayi ataupun anak kecil. Kemudian pipinya yang menjadi kunci utama kegemasan Nathan.
Hari itu kebetulan juga aku tidak ada keperluan di kantor, alhasil aku tidak pergi kesana lebih memilih berdiam di rumah sambil bersih-bersih sekalian. Saat bersih-bersih aku meninggalkan Agha di lantai khususnya yg memiliki skat gitu, cukup aman bagiku.
Tapi aku juga sedikit khawatir karena Nathan sekarang sudah pintar untuk berdiri. Tapi semoga saja dia tidak mencoba untuk keluar dari zonanya, walaupun kemungkinan besar mungkin saja Nathan melakukannya. Dan ternyata dugaanku benar, kini Nathan sudah tengkurap di lantai dekat lemari televisi. Untungnya juga tidak ada stop kontak atau kabel di sana, karena Agha sudah membenarkan letaknya menjadi di dalam agar tidak berhamburan kemana-mana. Kukira juga Nathan akan menangis, melainkan tidak.
Dia tengkurap dan berusaha kembali untuk berdiri dengan caranya.
Sebelum aku ke supermarket, aku menunggu Agha dengan melihat-lihat dulu ke mallnya. Ya lebih tempatnya supermarket ini berada di dalam gedung mall. Aku melihat beberapa pakaian pria anak-anak yang terlihat sangat menggemaskan. Tidak banyak design, melainkan simple dan minimalis. Tipe kesukaan aku banget haha.
Setelah itu aku melihat ada perlengkapan kerajinan seni dan peralatan seni lainnya. Entahlah aku sangat terpaku begitu melihatnya. Pekerjaan yang kumiliki tidak sepenuhnya dengan melakukan sesuatu secara langsung, walaupun ini berkaitan dengan seni namun bukan seni murni. Aku terkadang berfikir untuk membuka sesuatu dengan ciptaanku sendiri.
Satu-satunya hal yang ingin kulakukan. Aku juga senang bisa bekerja di bidang yang cocok dan sama dengan keterampilanku, tapi aku juga ingin menciptakan sesuatu yang murni buatanku tanpa adanya campur tangan orang lain. Entahlah bisa terkabulkan kapan, itu bisa menjadi salah satu list keinginanku. Semoga saja aku bisa melakukannya.
Tiba-tiba saja Agha datang dengan menusukkan jari telunjuknya pada pipi kananku, membuatku tersadar dan menoleh padanya. Agha tersenyum begitupun denganku.
“Ayok!” ajak Agha.
Aku mengangguk dan berjalan menuju supermarket. Ia menggenggam tanganku.
Agha menoleh sebentar ke toko yang sedaritadi Nana fokus memperhatikannya, lalu pandangannya kembali ke depan dan memberikan Nana senyumannya yang manis.
Kamipun segera membeli beberapa keperluan Nathan, kemudian kebutuhan rumah yang sudah menipis. Tak lupa juga dengan membeli beberapa cemilan dan minuman ringan untuk stok di rumah kalau-kalau diantara kami malas keluar dan ternyata sudah disediakan di lemari.
Jadi tidak perlu di ambil pusing haha. Beruntungnya juga aku belanja bulanan disaat tanggal tengah, keadaan supermarketpun menjadi tidak begitu ramai seperti biasanya di awal atau akhir bulan. Karena ditanggal-tanggal segitu rawan sekali dengan orang yang baru saja mendapat gajinya haha. Aku paling tidak suka dengan keramaian, Agha tahu itu.