
Nana jadi tidak sempat membuat sarapan untuk Agha dan menyarankan membeli saja di kantor. Daripada menunggu Nana masak, yang ada nanti Agha akan terlambat kerja. Agha berangkat dengan terburu-buru, ia lupa kalau serakang mobil Agha sudah pulang ke rumah, tapi dia berangkat menggunakan taksi saking paniknya. Nana yang menyadarinya ikut panik juga, mencoba untuk menghubungi Agha. Tapi Agha bilang sudah tanggung, kalau balik lagi juga sangat tidak memungkinkan. Dia menyuruh Nana untuk menggunakannya.
Setelah Nana selesai membasuh diri, dia terburu-buru menghubungi mama. Memberinya kabar untuk menitipkan anak-anak, dan dia bilang kalau anak-anak belum mandi karna Nana dan Agha bangun kesiangan. Mama yang mendengarnya tertawa, dia merasa lucu dengan tingkah Nana yang panik seperti sekarang. Sementara Nana panik dengan waktu kerjanya yang terlambat. Bisa-bisa dia akan kena marah oleh atasan.
Nana telah sampai di depan rumah mama, dia membawa Rafa dan Nathan yang keadaannya masih belum sadar sepenuhnya. “Nana titip anak-anak ya, ma,” ucap Nana sambil mengoper pangkuan Rafa pada mama. Lalu kembali menuju mobil dan menancapkan gasnya, pergi menuju kantor.
Disisi lain mama khawatir dengan Nana diperjalanan. Tapi ya semoga aja tidak terjadi apa-apa.
Nathan menarik-narik ujung baju mama dan berkata, “Nathan laper.” Sambil mengucek mata kanannya.
“Lho Nathan belum makan?” Nathan menggeleng. “Bundamu bilang juga kamu belum mandi ya?” Nathan mengangguk. “Ya ampuun. Yaudah mandi dulu ya, abis itu makan. Nathan juga belum gosok gigi kan?” Sekali lagi Nathan mengangguk.
Mama menuntun Nathan masuk kedalam rumah dengan pelan karena Nathan masih belum tersadarkan diri sepenuhnya. Setelah itu dia menyuruh Nathan untuk menunggu di sofa. Mama memasak air panas terlebih dahulu untuk air mandi Nathan dan sambil menunggu mama buatkan roti selai kacang untuk Nathan. Sudah tahu Nathan belum menggosok gigi, tapi malah memberi roti haha. Tidak apa-apa, sekali-kali hihi.
“Ngomong-ngomong kenapa bunda sama ayah Nathan bisa bangun terlambat?”
“Capek,” jawabnya sambil mengunyah roti. Dan dia tiba-tiba teringat dengan kejadian kemaren. “Oh iya, Nathan pergi jalan-jalan sama ayah sama nda keluar.” Nathan antusias ingin menceritakannya.
“Oh iya? kayaknya asik banget nih jalan-jalan sama ayah sama bunda.”
“Iya, nin. Nathan seneng banget ayah bisa seharian di rumah.”
“Syukur banget ayah bisa di rumah. Jalan-jalan kemana tuh?”
“Nathan sama ayah sama nda jalan-jalan ke inii toko makanan yang besar. Tapi itu tokonya ada barang-barang selain makanan juga nin, Nathan jadi bingung sama tempatnya. Banyak macem pokoknya, nin. Soalnya setiap Nathan liat ke lemari-lemari itu beda-beda nin. Nathan kira cuman makanan doang disana. Tapi masih banyak lagi. Mungkin mall kali ya?” jelas Nathan dengan semangat. Senyum mama merekah karena melihat tingkah Nathan yang begitu antusiasnya.
“Apaan tuh? Supermarket kali ya?”
Nathan menggeleng, “Nathan juga ngga tau apa namanya. Pokoknya gede banget deh, nin. Kali nin mau beli apapun bisa kesana, banyak banget kumplik. Bisa-bisa Nathan beli semuanya buat di rumah, buat nin juga disini.”
“Nathan disana lari-larian sama ayah seru banget. Ayah ngejar Nathan tapi Nathan berhasil buat kabur. Tapi Nathan kalah nin, Nathan kena sama nda. Nda lebih jago daripada ayah.” Mama tertawa. Mendengar cerita Nathan sepertinya Nana sudah pusing dengan tingkah Nathan, jadi mungkin dia mau tidak mau menangkap Nathan supaya diam haha. Nana juga sewaktu kecil masih samanya seperti Nathan, banyak tingkah berlari kemana-mana membuat mama pusing melihatnya.
“Nathan beli sesuatu disana ngga?”
Nathan melompat dari sofa ke lantai, “Oh iya! Nathan ngga beli apa-apa dari sana. Nathan tau-tahu udah di mobil dan sampai kesini. Padahal Nathan mau beli eskim.” Mama duga kalau Nathan tidur lelap sepulang dari sana. “Nin..” Panggil Nathan dengan lembut sambil menghampirinya.
“Ada apa sayang?”
“Nathan hari ini boleh beli eskim ngga?’ pintanya dengan nada lucu, seolah-olah membuat mama luluh.
“Hmmm gimana ya? Nin ngga mau kena marah bunda kamu. Tapi kalau selama Nathan ngga ngasih tahu ke bunda atau ayah, boleh.” Nathan bersorak ria sambil melompat-lompat. “Eits. Asalkan Nathan mandi dulu, abis itu Nathan makan dulu ya! Nanti kita ke warung depan beli eskrim.”
“Okey nin! Nathan janji!” tanpa aba-aba, Nathan membuka bajunya dan segera ke kamar mandi. Mama menyusul Nathan dengan membawa air hangat.
**
Apa yang Nana takutkan benar, dia dimarahi oleh atasan karena terlambat. Bahkan Nana diberikan tugas yang seharusnya bukan pekerjaan Nana, dia mengerjakan tugas tim lain. Walaupun sebenarnya kurang lebih tidak ada yang berbeda dengan timnya, tapi cenderung banyak kesamaan dengan timnya. Nana harus menerima sanksinya, dia juga menyesal karena bangun terlambat. Jika saja tidak terlambat, Nana akan bekerja seperti biasa. Jadi terpikirkan bagaimana dengan keadaan Agha sekarang? Apa mungkin dia juga sama dengan Nana terkena marah atasan? Nana jadi merasa bersalah padanya.
Berbeda dengan Nana, Agha tidak dimarahi oleh atasan melainkan dia dimarahi oleh rekan kerjanya dan beberapa ketua divisi lain yang bekerja sama dengannya. Seharusnya hari ini dia meeting bersama mereka membahas project keduanya, tapi Agha terlambat dan meetingnya diundur. Waktu mereka jadi terbuang sia-sia karena Agha.
Agha kini yang giliran mengatur jadwal mereka. Membagi dan meluangkan waktu itu ternyata cukup sulit. Mereka juga memiliki kesibukannya tersendiri. Makannya dimasa sekarang, dimasa orang sudah menginjak umur jauh akan sulit untuk meleuangkan waktunya. Apalagi kalau orang itu bekerja yang membutuhkan waktu banyak.
Agha dan Nana melalui hari yang cukup sulit hari ini. Yang harusnya pulang sore hari, mereka jadi pulang malam hari dan terlambat menjemput Nathan juga Rafa. Mama menyarankan untuk menginap dulu di rumahnya. Tapi Nana tidak membawa ganti dan dia harus mengurus kembali beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan. Jadi tidak bisa menginap di mama. Mungkin lain kali saja Nana menginap di rumah mama.
Di rumah tidak hanya Nana yang meneruskan pekerjaan, Aghapun juga melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan. Untungnya juga mama bilang kalau Nathan sudah makan, namun Rafa tetap butuh nutrisi dari Nana. Jadi sebelum Nana melanjutkan pekerjaannya, dia menyusui Rafa terlebih dahulu. Setelah itu baru melanjutkan pekerjaannya. Padahal Rafa sekarang sudah bisa makan nasi, tapi dia keukeuh minta nutrisi dari bundanya.
Mereka mengerjakan pekerjaannya kurang lebih sampai pukul sebelas malam. Setelah itu mereka tidur. Selama dua hari ini sangat melelahkan. Semoga saja pagi nanti tidak terlambat bangun lagi.