Blanc Carnations

Blanc Carnations
12. Saling Mengasihi



Rafa senang bermain dokter-dokteran dengan Nathan. Ia berperan sebagai dokternya, dan Nathan berperan sebagai pasiennya. Dengan lembut Rafa memeriksa Nathan menggunakan alat dokter mainannya. Seharusnya sebagai pasien itu diam saat dokter sedang memeriksa, namun Nathan tidak bisa diam karena Rafa membuatnya geli.


Ia tertawa dan mengeluh kegelian. Lucu sekali tingkah mereka ini, Rafa benar-benar membuat Nathan tertawa bahagia atas tindakannya. Aku sangat bersyukur melahirkan Rafa, Ia telah memberi keceriaan dalam keluarga kecil ini, dimanapun dan dalam situasi apapun.


Nathan dan Rafa benar-benar saling melengkapi, dengan begitupun aku sudah merasa sangat cukup. Disaat mereka dewasa nanti, aku yakin mereka akan tetap menjalin hubungannya dengan baik. Keharmonisan yang mereka punya itu sangat kuat.


Setelah aku selesai memasak, aku langsung menatanya di atas meja dengan rapi lalu memanggil anak-anak untuk makan.


“Kakang, Rafa.. ayo makan!” ajak ku.


Tidak salah lagi, Rafa pasti akan berlari menuju meja makan dengan ceria. Aku yang melihatnya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum tipis, kamipun lantas segera makan.


Ditengah sibuknya kami makan, tiba-tiba saja Rafa angkat suara. “Ndaaa, Rafa ada undangan dari sekolah!"


Aku mengernyit kebingungan. "Undangan apa?”


“Undangan main Nda. Sama temen-temen, sama guru-guru Rafa juga,” jelas Rafa.


Rafa yang salah menggunakan kosa kata sukses membuatku tertawa kecil. “Bukan undangan Rafa, tetapi acara kegiatan. Bunda sudah dengar dari mama Darel kok,"


Nathan dan aku saling menatap sambil tertawa kecil karena tingkah Rafa.


“Oh namanya acara kegiatan, ya?” ucap Rafa sambil memasukan telur gulung pada mulutnya.


“Iyaa Rafa.." Aku tersenyum padanya.


“Jadi… Nda ikut ngga?” tanya Nathan.


Aku tahu jika salah satu diantara mereka memiliki kegiatan, pasti yang lainnya akan ikut. Nathan menjaga Rafa, sedangkan Rafa ingin ikut saja karena Ia senang bermain dan jika Ia ditinggalkan dirumah sendiri atau dititipkan pada mama Rafa pasti akan cepat bosan.


Kegiatan Rafa bertepatan dengan hari pertama ku masuk kerja setelah lamanya cuti. Jika aku izin lagi, pekerjaan ku akan semakin menumpuk dan atasan pasti sangat membutuhkan ku.


Jika aku meminta mama untuk menemaninya, aku merasa tidak enak karena mama sekarang sudah tidak sekuat dulu lagi. Aku khawatir akan terjadi apa-apa juga pada mama, bener-bener bingung banget duh. Kalau saja mama Darel ikut, aku pasti akan minta tolong untuk menitipkan anak-anak padanya.


“Nda usahain ya,” jawab ku.


Sungguh aku merasa tidak enak pada anak-anak. Semenjak kejadian yang menimpa pada Agha aku jadi terlalu sibuk memikirkan Agha, sampai lupa bahwa anak-anak masih membutuhkanku.


Malam ini aku meminta mama untuk menginap di rumah ku, karena paginya aku harus bekerja dan harus datang lebih awal. Karena aku mengerjakan pekerjaan yang deadlinenya sudah mepet, klien baru saja semalam mengganti beberapa elemen dan harus selesai di siang hari.


Jam sekarang sudah menunjukan pukul 3 pagi, aku terbangun lalu dengan gesit membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu aku membereskan rumah dengan teliti, lalu menyiapkan beberapa dokumen tambahan yang harus aku bawa, dan yang terakhir aku tidak lupa untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan juga mama.


Aku lupa kalau persediaan dapur sudah menipis dan juga tidak sempat untuk membelinya ke supermarket. Tapi untungnya mama membawa bahan sup jamur, katanya Ia tidak sempat memasaknya dan akhirnya bahan-bahan itu jatuh pada tanganku.


Namanya juga memasak dengan bahan yang ada, lagi-lagi aku membuat telur gulung lalu menggoreng nugget pisang untuk camilannya.


Saat aku masak, mama terbangun karena mencium aroma pisang yang begitu mencolok. “Masak pisang, Na?” tanyanya dengan keadaan yang masih belum sadar sepenuhnya.


Aku menoleh ke arah suara berasal. “Nugget pisang, Ma.." jawabku sambil membalik nugget pisang yang sebentar lagi matang.


Akhirnya aku selesai memasak dan mama membantuku menata makanannya di meja makan. “Aku bangunkan anak-anak dulu, Ma..” kataku sambil membuka celemek, Mama pun mengangguk.


Terlihat Rafa dan Nathan yang tertidur sangat lelap. Posisi Rafa saat ini sudah tidak dapat dijelaskan, selimut dan gulingnya sudah berhambur kemana-mana. Aku melipat selimut Rafa terlebih dahulu, kemudian membangunkannya.


“Bangun sayang, bunda udah masakin kalian sarapan..”


Aku tersenyum saat membangunkan Rafa, dilihat dari dekat begini Ia terlihat menggemaskan. Mukanya yang tidak terlalu bulat dengan pipi gembulnya sukses membuat ku tidak dapat menahan diri untuk mengacak-ngacaknya. Haha jahat banget ya aku. Rafa juga memiliki bibir yang mungil dan hidungnya yang tidak telalu mancung.


Tidak ada jawaban dari Rafa, Ia hanya berpindah posisi. Aku mencoba untuk membangunkan Nathan. Si pria tampan yang segalanya diturunkan oleh Agha. Nathan memiliki mata sayu juga dengan hidungnya yang mancung sukses membuat ku terpesona padanya.


Aku jadi kepikiran, teman-teman perempuan Nathan ada yang tertarik dengannya atau tidak ya? Pastinya sih ada, ngga mungkin kalau ngga. Eh tapi kenapa aku memikirkan hal yang seharusnya tidak pantas untuk anak kecil, duh aku makin ngawur nih lama-lama.


“Nathan ayo bangun.. nda sudah masakin kalian sarapan,” perlahan mata Nathan terbuka, dan tak lupa aku bergerak mengecup keningnya.


”Selamat pagi sayang.."


Sekali lagi aku membangunkan Rafa. “Nak, ayo bangun. Udah jam 7 pagi, Nda telat kerja nih..” mata Rafa langsung terbuka, Ia mencari jam dinding kamarnya. Lucu sekali haha, sekali-kali aku harus menipu Rafa agar bangun pagi.


“Ihh nda bikin Rafa kaget aja,” gerutu Rafa.


Aku tertawa kecil. “Good morning sayang..” sapa pagi ku sambil mengecup kening Rafa. Ia menggeliat dengan lucu.


“Ayo cuci muka dulu, jangan lupa sikat gigi! Nda udah nyiapin sarapan di meja. Tenang.. ada nenek disini. Nda tinggal ya, baik-baik selama disana. Nda usahain datang kesana,” pamit ku dan sekali lagi aku mengecup pipi Nathan dan juga Rafa.


Suasana kantor ku masih tetap sama dan seperti biasa pak satpam sudah hadir lebih awal, Ia juga menyapa ku dengan ramah.


“Selamat pagi bu Hana!"


Aku membalasnya dengan tersenyum. “Selamat pagi, pak!”


Segera aku menuju ruangan lantai 4. Ku kira hanya aku yang tiba lebih dulu, tapi ternyata sudah ada dua orang karyawan yang datang lebih awal.


“Selamat pagi bu Hana,” sapa Lili, salah satu karyawan ku.


“Wah akhirnya primadona kami kembali kerja, haha.. Selamat pagi bu Hana,” sapa Yuda.


Ia juga salah satu karyawan ku, dia selalu bersikap seperti itu padaku. Emmm pada semua orang sih sebenarnya. Yuda orangnya terlalu melebih-lebihkan, tapi kalau soal pekerjaan Ia lebih gesit.


Aku tertawa “Selamat pagi juga, tumben banget nih kalian datang pagi-pagi,"


“Ini semua karena bu Hana, kerjaan kami jadi bertambah dua kali lipat karena ibu,” keluh Lili.


Mendengar perkataan Lili membuat ku merasa sakit hati dan juga tidak enak. Lili lantas tertawa melihat aku yang merasa bersalah.


“Bercanda bu, untuk beberapa tugas bu Hana, sudah kami handle kok, bu. Aman, tenang saja. Kami datang lebih awal karena kita harus mendatangi klien pagi ini bu, jadi kita disini cuma mengambil beberapa keperluan yang harus kami bawa," jelas Lili.


Ternyata itu alasannya, aku mengangguk mengerti. Waktu ku di kantor memang tidak terasa, berjalan dengan sangat cepat. Kini jam sudah menunjukan pukul 9 siang. Tubuh ku sudah terlalu lelah karena digunakan selama berjam-jam di tempat yang sama. Aku sama sekali tidak keluar ruangan, namun sesekali aku keluar ruangan hanya untuk ke toilet saja.


Aku berencana untuk membeli makanan atau sesuatu yang mengenyangkan di luar. Namun saat aku hendak keluar ruangan, ponsel ku bergetar. Tertera nama Iby disana. Ternyata Ia masih memakai nomor yang sama. akupun lantas segera mengangkatnya.


“Ada apa?”


"Iby sama anak-anak lagi di kantor kamu, Na. Kita ada di lantai 1, ke bawah ya!"


Iby? Dengan anak-anak ku? Kok bisa? Aku segera berlari menuju lift dan ternyata perkataan Iby benar. Aku mendapati Iby yang tengah berdiri di samping kursi yang Rafa duduki. Mata kami bertemu, aku menatapnya sekejap karena Rafa yang telah menyadari kehadiran ku dari jauh, Ia langsung saja berlari kepada ku.


“Ndaaa!” Rafa memeluk ku.


Aku dan Rafa segera mengampiri Iby dan Nathan.


“Kok Iby bisa kenal anak-anak?” tanya ku heran.


Iby hanya tertawa kecil sambil memberi kontak mata dengan Rafa, wahh ada yang ngga beres nih.


“Mama mu yang meminta ku untuk menjaga mereka,” jelasnya.


“Loh? Terus kerjaan Iby gimana?”


“Kebetulan hari ini Iby banyak waktu luang, soalnya kerjaan Iby udah selesai duluan. Terus juga Iby ada keperluannya nanti malam Na.." Mama membuat Iby jadi kerepotan. Duh jadi ngga enak, Nana.


“Jangan sungkan pada ku, Na. Santai aja,” ucap Iby sambil memberikan senyuman manisnya.


Aku sedikit berjongkok pada Rafa. “Rafa jangan ngerepotin om ini ya. Hati-hati disana, jangan jauh-jauh dari kakang sama om ini ya.." petuah ku pada Rafa yang dibalas anggukan mengerti.


Aku percaya pada Rafa, Ia pasti bisa jaga diri. Aku tahu itu, walaupun tetap saja aku masih merasa khawatir. Rafa memeluk ku dengan hangat, aku pun membalasnya sambil mengelus-ngelus kepalanya. Kemudian mengelus-ngelus kepala Nathan.


“Oh iya, Nana belum makan kan? Iby beliin Nana makanan, ini juga atas permintaan gadis kecil ini nih yang super duper rewel sama kaya kamu,” kata Iby dengan senang sambil menyodorkan kantung kertas yang berisi makanan, haha Iby masih tetap sama.


“Terimakasih banyak Iby, tolong jaga anak-anak ya. Aku titip anak-anak pada mu, hati-hati juga!"