
Nana juga berencana ingin membuka usahanya di Bandung, walaupun tahu kalau di Jakarta menjadi kota pusat untuk berbagai macam hal dalam soal bisnis. Kamipun sudah mengambil keputusan pasti, rencana untuk pindah ke Bandung.
Bahkan sebelum percakapaan ini nenek bilang lebih baik pindah dan tinggal di rumah ini. Lokasinya memang terbilang sangat strategis dan nyaman disini, tapi Agha dan Nana menginkan hal lain.
Hari kedua kami di Bandung, kami berencana untuk mencoba makanan khas Bandung. Dan kebetulan hari itu nenek memberitahu kami ada festival makanan di daerah Braga yang dekat dengan Asia Afrika.
Tentu saja kami pergi kesana dan sesampainya disana tidak hanya ada festival makanan, tapi ada live musiknya juga. Cocok untuk menemani pengunjung makan.
Kami mencoba membeli salah satu makanan khas Bandung di salah satu stand disana. Kami membeli ayam serundeng dan es cendol. Tidak hanya itu, kami juga membeli beberapa cemilan seperti es hidrogen. Namanya terdengar asing di telinga Agha dan Nana, tapi membuat menarik dan kami juga belum pernah mencobanya. Mana sempat juga kami jajan beginian di Jakarta. Tidak hanya itu, kami juga membeli beberapa jajanan ringan. Rasa-rasanyapun baru di lidah Agha dan Nana. Ah, iya kami tidak lupa mencicipi makanan seblak. Sering sekali mendengar makanan ini di kalangan masyarakat, Agha dan Nanapun menjadi penasaran. Seblak digemari banyak orang dan juga setiap orang-orang berlibur atau berkunjung ke Bandung, tak lupa dengan mencoba makanan seblak. Mungkin bisa dibilang sebagai iconicnya Bandung kali ya? Awalnya merasa aneh melihat makanannya. Isinya seperti sup namun ini lebih banyak menggunakan kerupuk dan beberapa bahan lainya seperti mi atau kwetiaw, batagor, siomay, dan masih banyak lagi. Apapun bahannya bisa dijadikan sebagai seblak jika bumbu, rempah dan tekniknya sama.
Hal yang paling mengejutkan di Bandung yaitu Ketika kami berpapasan dengan guru sekolahnya Nana yang merupakan dosen Agha juga. Kami baru menyadari saat menyapanya. Beliau memang dikenal akan keramahannya dan juga asik. Jadi orang-orang mudah berbaur dengan beliau. Dia bersama istrinya dan tujuannya sama seperti kami sedang berlibur ke Bandung. Malahan lebih dulu beliau daripada kami. Hari ini hari terakhir bagi mereka berlibur, makannya berpuas diri di acara festival makanan ini. Beliau juga sempat terkejut dengan hubungan kami, beliau sendiri tahu bagaimana sikap Agha yang begitu cuek di kampus tapi sebenarnya Agha itu pintar. Lalu sikap Nana yang terkenal ramah tapi juga berisik, rewel. Lucu juga haha bisa bertemu tidak sengaja seperti ini. Dan pastinya tiba-tiba teringat dengan kejadian di masa lalu kemudian menceritakan kembali. Terdengar konyol, namun ya pasti begini jika tak sengaja bertemu.
**
Nana memberitahu Agha kalau dia dapat undangan reuni dari teman SMAnya. Dia juga membujuk Agha untuk ikut bersamanya, katanya ingin memperkenalkan Agha pada teman-temannya. Tapi bukannya teman-temannya tahu ya? Padahal dia sendiri yang mengundang teman-temannya di acara kami. Nana tidak bisa berkata-kata, tapi dia berusaha membujuk Agha dan yang akhirnya Agha mengizinkannya juga berhasil dibujuk untuk ikut. Toh Agha juga takut kalau ada apa-apa pada Nana.
Kami berangkat dengan membawa oleh-oleh yang mama bawa dari Bandung. Mama terkadang sekalinya membeli sesuatu selalu banyak, Nana selalu mengingatkan mama untuk menghemat dan juga lebih baik sesuai dengan orang yang ada saja. Tapi mama selalu berkata, “Untuk bagi-bagi dengan yang lain, tetangga lain atau bisa bagi-bagi dengan rekan kerja Agha atau Nana.” Yang dilakukan mama tidak salah juga, tapi takutnya memberatkan mama dan mama sendiri bilang kalau dia merasa tidak apa-apa. Senang juga bisa membelikan sesuatu untuk orang lain. Agha dan Nana sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, itu sudah menjadi kemauan mama sendiri. Namun Agha juga kagum dengan sikap mama, beliau selalu memikirkan orang lain dibandingkan hanya memikirkan dirinya sendiri. Saat mama bisa membeli sesuatu apapun itu, kenapa mama tak belikan pada orang lain juga gitu kan selagi mampu dan sempat. Bukan bersifat memaksa, tapi selagi ada rezeki lebih baik berbagi kebaikan dengan orang lain. Sosok mama yang membuat Agha sangat menyukinya dibandingkan dengan mamanya sendiri.
Agha melihat beberapa teman Nana yang waktu itu datang dipernikahannya, tapi beberapa sisanya tidak datang. Yang katanya waktu itu Nana bilang teman-teman band Gilby. Agha baru sadar kalau Gilby tidak datang. Sudah lama juga tidak melihatnya dan biasanya Gilby selalu mengekori Nana terus menerus. Tapi semenjak dari hari pernikahan sampai sekarang Agha tidak mendengar Nana bercerita tentang Gilby lagi. Tidak seperti Agha dan Nana berkenalan, dia kadang bercerita mengenai Gilby yang katanya sahabat Nana. Tapi gapapa, baguslah. Gilby pasti masih menyukai Nana dan Agha kurang suka padanya walaupun Aghat tahu Gilby baik. Agha juga percaya pada Gilby, tapi tetap saja Agha kurang menyukainya.
**
[D-7 Sebelum Agha Kecelakaan]
Agha berencana akan membelikan sesuatu untuk Nana dan anak-anak sesuai kerja.
Mereka bilang bahwa kami telah melakukan plagiarisme dengan design pesanan yang kami buat. Sebagai ketua divisi, Agha merasa bahwa design yang dibuatnya sangat rapih dan berhati-hati.
Bahkan divisi lain tidak ada satupun yang melihat secara langsung dengan proses pembuatannya bagaimana dan seperti apa, mereka baru mengetahuinya setelah pesanannya dikirimkan kepada klien.
Dan juga yang mengetahui bagaimana proses dan hasil pertamanya tidak lain dari divisi Agha beserta rekannya lalu ketua atau atasannya Agha.
Dalam kasus ini pastinya salah satu di antara perusahaan ini dengan yang lain ada yang menjiplak design salah satunya.
Agha juga tidak terima, dia yakin kalau rekannya tidak ada yang membocorkannya ke orang lain. Mungkin saja bisa jadi dari rekan kami diluar yang mmengetahui ini lalu menggunakannya.
Atasan Agha sendiri juga tahu bahkan sudah mengenali bagaimana sikap Agha beserta rekan timnya.
Mereka sudah bertahan lama juga di perusahaan. Mau tidak mau juga Agha dan rekan-rekannya harus bertanggung jawab. Atasan Agha juga membantu mereka sepenuhnya.
Atasan Agha tidak mementingkan citra perusahaannya, ia lebih menghargai dengan apa yang karyawan usahakan. Dia juga percaya orang-orang disini sama-sama bekerja keras, tapi kalau soal tegas tentu saja atasan Agha tegas.
Atasan Agha memintanya dan rekan lain untuk pulang saja, sisanya dia yang mengurus masalah itu. Terbilang cukup rumit juga, namun apa daya jika tidak dibantu.
Agha sendiri sudah merasa pusing dengan pikirannya saat ini. Dengan mengingat kembali saja semakin tidak karuan pikirannya.
Daripada berlama-lama terpaku dengan itu, Agha memikirkan Nana dan anak-anak. Huft, Agha jadi semakin rindu dengan mereka. Dia tiba-tiba teringat kalau Nana pernah bilang ingin martabak Bangka.
"Martabak Bangka dimana belinya ya?"