
Kesibukan Rafa hanya sebatas pelajar pada umumnya. Dia tidak memiliki kegiatan lain selain belajar. Dia juga tidak seperti kakaknya yang memiliki kelebihan. Rafa masih belum bisa menentukan apa yang dia inginkan untuk kedepannya nanti. Selain Nathan memiliki memori bersama ayah, Rafa juga merasa iri padanya dengan kelebihan yang kakaknya miliki. Tanpa melanjutkan kuliahpun Nathan masih bisa memanfaatkan kelebihannya, mungkin bisa masuk ke dalam dunia pekerjaan. Sementara dengan Rafa, masih seperti orang yang sedang mencari alamat. Masih bingung alamat dan jalan mana yang harus ia tempuh.
Suatu hari saat Rafa masuk sekolah, awalnya terlihat baik-baik saja, Di kelas dia duduk sebangku dengan Abel. Dia ramah terhadap semua orang, tapi kalau soal pertemanan dia memilih Rafa untuk menjadi teman dekatnya entah kenapa. Ah iya, tidak hanya Abel, Rafa berteman dekat dengan Adnan. Orangnya cukup pendiam dan tidak banyak tingkah seperti pria lain pada umumnya. Tapi dia juga dapat memahami situasi dan karakteristik teman-temannya. Tunggu! Terdengar tidak asing, tapi entahlah mungkin saja hanya perasaan Rafa.
Rafa dan kedua temannya selalu bersama saat di kelas, namun jika di luar kelas terkadang Adnan sibuk mengurusi ekskulnya. Ya, dia adalah kapten dari ekskul basket. Banyak orang yang mengagumi Adnan, termasuk Rafa. Tidak hanya itu, para gadis di sekolah ini malah berharap bisa dekat dengan Adnan, tapi dia merespon gadis lain dengan biasa saja. Terkadang juga dia cuek, sebagaimana moodnya saja sih. Yang paling anehnya juga dia cukup terbuka pada Rafa dan Abel. Mungkin juga pertemanan kami bisa sering disebut sebagai ace? Entahlah Rafa tidak tahu persis karena kebanyakan siswa lain menyebut kami seperti itu. Tapi dibandungkan dengan teman kelas, mereka memandang kami biasa saja tidak ada yang special. Kecuali dengan Rena. Dia orang yang selalu membuat gosip aneh-aneh di kelas. Apa yang dilihat dan didengarnya dijadikan gosip. Teman-teman tidak menanggapi Rena, mereka lebih mementingkan dengan kesibukannya masing-masing. Karena itu dia lebih dekat dengan kelas lain.
Terkadang Rafa tiba-tiba terpikirkan dan merasa bahwa dirinya berada ditempat yang salah. Ketika Rafa dengan kedua temannya jalan bersama, ia merasa kalau hanya mereka saja yang bersinar. Tidak dengan Rafa. Di kelas juga Rafa biasa-biasa saja, tidak masuk kedalam ranking sepuluh besar dikelasnya, dan juga tidak memiliki kelebihan seperti teman-teman lainnya. Masuk kelas, belajar, istirahat, belajar lagi, dan pulang. Begitu terus siklusnya. Rafa satupun tidak mengikuti ekskul karena tidak ada yang tertarik dan tidak ada yng minat bagi Rafa. Padahal Abel selalu mendukung dan mengajaknya untuk ikut ekskul yang sama. Abel mengikuti ekskul angklung. Walaupun bersekolah di Jakarta, tapi di sekolah ini juga memiliki ekskul angklung. Karena ada salah satu pelatih yang cukup terkenal dalam bidang ini. Rafa tidak tahu pasti dengan keterkenalnya seperti apa, tapi dia hanya tahu saja karena berada di sekolah yang sama. Berkali-kali Rafa merasa rendah seperti itu. Adnan menyadarinya dan terkadang dia mengajak Rafa untuk menemani Adnan bermain basket. Entahlah tiba-tiba. Tidak hanya itu, Adnan juga tiba-tiba mengajak Rafa untuk menonton pertunjukan musik kecil. Tapi anehnya juga Rafa menerima ajakannya. Mungkin karena merasa bosan juga atau hal lain. Dan Abel juga berusaha untuk terbuka untuk Rafa, dia sangat menerima cerita tentang Rafa dalam hal apapun. Entah itu keluh kesah atau hal lain. Dia bilang kalau dirinya sangat khawatir dengan Rafa. Hingga pada suatu saat, kedua temannya mengajak Rafa untuk berbicara serius. Mereka langsung to the point pada topiknya. Adnan yang memulai dan bilang dengan sepenglihatan dan yang ia rasakan kalau Rafa terkadang merasa canggung ketika mereka bersama. Abel juga sangat penasaran apa yang membuat Rafa menjadi seperti ini. Mereka bahkan merasa baik-baik saja pada Rafa, tidak berbuat jahat padanya. Melainkan mereka juga sangat senang bisa kenal dengan Rafa karena lembut dan selalu mengingatkan mereka dalam hal apapun. Perhatian kecil dari Rafa justru membuat Adnan dan Abel menyukainya. Dia baru menyadari kalau dirinya ternyata berguna bagi mereka. Ia kira selama ini Rafa dianggap sebagai penganggu bagi mereka karena tidak banyak hal yang ia lakukan pada mereka. Soal tugas kelompok, Rafa selalu ingin bersekelompok dengan mereka. Setidaknya salah satu dari mereka agar Rafa tidak terlalu canggung juga. Namun memang dalam kehidupannya sangat beruntung, selama ini Rafa bersekelompok dengan diantara mereka. Makannya teman-teman tidak heran melihat mereka bersama-sama. Terdengar lucu tapi aneh juga kenapa gurunya tidak memecah mereka. Biasanya kan selalu dipecah agar bisa merasakan bagaimana berkelompok dengan orang yang berbeda-beda, namun ini kebalikannya. Rafa dan teman-temannya sendiri tidak tahu apa alasannya. Tapi dia sangat bersyukur. Mereka hanya mengatakannya sampai situ, tapi Rafa masih belum bisa memberanikan diri untuk bercerita. Masih ada perasaan yang mengganjal dalam dirinya. Dia sendiripun tidak bercerita pada om Gilby, nin, kak Jesy, begitupun pada kakak. Rafa lebih memilih untuk memendamnya. Belum ada sesuatu yang membuat dirinya terpancing. Abel dan Nathan juga tidak tahu harus melakukan apa untuk Rafa. Tapi mereka memberi Rafa sedikit memori bersamanya dengan bermain bersama di taman bermain. Rafa sangat senang bisa menghabiskan waktunya bersama teman dekatnya dan rasa sesak di dalam dadanya sedikit berkurang. Ada rasa celah kebebasan bagi Rafa ketika menikmati waktu bersama kedua temannya. Jauh dari lingkungan sekolah tertutama teman-teman di sekolah saat bersama Adnan dan Abel diluar berbeda sekali. Ia lebih senang jika diluar. Berbagai tumpukan dalam kepalanya seolah-olah menghilang seketika. Mereka pergi namun kembali lagi jika sudah memasuki sekolah seperti biasa. Efek dari Adnan dan Abel tidak berpengaruh banyak, tapi Rafa masih bisa merasa senang.
-o0o-