
Sesampai Rafa di rumah, tubuhnya langsung menjatuhkan diri ke sofa. Lelah. Pikiran dihari pertama menguras sangat banyak. Padahal hanya satu ujian, tapi soal yang diberinya butuh waktu lama untuk mengatur kembali ingatannya. Berbeda dari ujian sekolah biasanya. Sangat melelahkan.
Nin yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Rafa tergeletak di atas sofa. Dia membangunkan Rafa dengan menepuk pelan lengannya, "Rafa.. mending di kamar aja tidurnya." Tak ada jawaban dari Rafa. Dia sudah tenggelam dalam alam mimpinya. Nin segera mengambil ranselnya yang tergeletak di lantai lalu menyimpannya di kamar Rafa dan memakaikan Rafa selimut. Tapi tangan Rafa menolak, mungkin juga karena dirinya gerah. Namun nin tetap memakaikan selimut tapi tidak sepenuhnya.
Dia segera ke dapur dan memasakkan sesuatu untuk Rafa makan nanti. Padahal usianya dan tubuhnya terbilang sudah sangat tua, tapi nin kalo soal masak masih bisa. Selain itu ia sudah tidak kuat lagi.
Nin jadi teringat ketika dirinya membuat makanan untuk Nana setelah ujian. Sepulang ujian juga dia langsung tertidur lelap. Rafa persis Nana saat seperti ini haha. Tapi ada yang berbeda sedikit, begitu Nana mendengar desisan daging yang nin masak, dia langsung terbangun dari tidurnya lalu berjalan menuju sumber suara dan wangi masakan seperti mayat hidup karena kesadarannya masih belum terkumpul. Dia memeluk dan menaruh dagunya di bahu nin yang lagi memasak. Perutnya juga berbunyi. "Lapar," katanya. Nin tertawa kecil saat mendengarnya. Ia mengambil sepotong daging matang dan mendinginkannya sebentar lalu menyuapi Nana dengan hati-hati. Nana mengunyah masih di atas bahu nin, membuat dirinya bisa merasakan gerak rahang Nana. "Enak," pujinya. Nin tersenyum senang mendengarnya. Ia menyuruh Nana untuk membasuh mukanya dan tunggu di meja makan. Nana berjalan lemas ke kamar mandi seperti pinguin, terlihat sangat lucu haha.
Sedangkan Rafa, dia tetap tidur nyenyak dan tidak terganggu dari suara masak nin.
Begitu nin selesai memasak dan menghidangkannya, dia segera membangunkan Rafa. Cukup lama saat membangunkannya. Apa memang terasa sangat melelahkan tadi Rafa ujiannya? Tapi tidak lama kemudian dia terbangun. Sebelum Rafa makan, dia membasuh wajahnya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya yang sekarang masih memakai seragam. Karena Rafa tidur saat seragamnya masih terpakai, alhasil seragamnya jadi terlihat kusut. Setelah makan ia akan menyetrikanya kembali. Kalau di nanti-nanti takutnya Rafa kebablasan lupa kan bahaya. Apalagi nyertika dadakan, bisa-bisa Rafa besok tidak bisa mengikuti ujian.
Tubuh Rafa tidak semangat seperti sebelumnya. Dia juga tidur sangat nyenyak sampai energinya terkuras banyak. Tangannya bergetar saat menyiuk nasi dari mangkuknya. Alhasil Rafa makan dengan perlahan.
Biasanya jika energi Rafa terisi kembali dengan meminum susu kotak rasa coklat atau makan makanan penutup yang manis-manis. Tapi sayangnya hanya ada susu kotak saja di rumah. Ya setidaknya ada pengisi energi lagi selain makan nasi.
Terdengar sangat aneh ya. Biasanya orang-orang akan merasa mual kalau minum susu coklat sesudah makan berat. Ya karena kan sudah diisi dengan yang berat, lalu minumnya berat juga dan rasanya pun pekat, kuat, dan cukup kental. Tapi berbeda dengan Rafa, dia tidak seperti itu. Namun juga terkadang dia merasa mual ketika terlalu banyak makan atau minum yang manis juga berat seperti susu coklat.
Langit terlihat berwarna orange terang, menandakan sudah sore hari. Tapi Adnan dan kak Jesy tak kunjung datang. Untungnya ada nin yang menemani Rafa di rumah sampai mereka datang.
Rafa seperti biasa membaca ulang sedikit materi, setelah itu dia menonton film kartun di tv.
"Ngomong-ngomong Rafa rencananya daftar ke SMA mana?" tanya nin tiba-tiba.
"Masih belum kepikiran untuk ke sekolah negeri. Tapi Rafa mau coba dulu daftar ke SMA 40, nin." Pandangannya masih tertuju pada tv.
"Ada rencana cadangannya tapi?"
"Ada. Paling ke Hyla School."
"Apa Rafa ngga bosen bisa satu sekolah sama kakang?"
"Rafa justru seneng malah, kalau bisa satu sekolah sama kakang. Rafa kan bisa pulang bareng, kalau butuh apa-apa juga lebih enak, bisa ngintilin kakang kemana-mana haha."
"Yeuu suka banget ya Rafa jailin kakang."
"Abisnya seru nin, ngerjain kakang tuh. Tapi kadang juga suka nyebelin."
"Tapi dia juga tetep kakak kamu Rafa." Rafa tertawa kecil. "Apapun yang Rafa putuskan, nin tetap kasih doa yang terbaik untuk Rafa. Tetap semangat buat gapai mimpi kamu."
Mimpi ya? Keadaan Rafa aja masih seperti ini, mana bisa dia menemukan mimpinya yang sesuai dengan keinginan aslinya. Bagaimana sih supaya Rafa bisa menemukan mimpinya? Harus dengan apa agar dia dapat mengetahuinya? Rafa saja masih takut untuk bercerita pada keluarganya. Dia sendiri juga tidak bercerita tentang apa yang ia suka akhir-akhir ini pada keluarga juga kedua teman dekatnya. Mungkin setelah dirinya sudah menginjak SMA, Rafa akan mencoba memulai hal baru dan mencari mimpi dan kemauannya untuk masa depan nanti.
Tepat pukul setengah enam sore, kak Jesy dan kakang datang secara bersamaan. Padahal kak Jesy tidak menjemput kakang, tapi bisa sampai dengan bersamaan.
Kak Jesy pulang dengan membawa cukup banyak makanan penutup manis. Tepat sekali disaat Rafa sangat menginginkannya. Baru beberapa jam yang lalu Rafa berfikir ingin makan yang manis-manis. Dia berseru saat kak Jesy menghidangkannya.
"Ngidam kamu Rafa?" celetuk kakang. Perkataannya benar, tapi ngidam.. terdengar sedikit aneh di telinganya.
Rafa tertawa kecil dan mengangguk pada kakang. Dia malah mencubit pipi kanan Rafa membuatnya meringis kesakitan. Rafa segera memukul dan mencubit pinggang kakang. Dia juga meringis kesakitan. Lagian dia yang duluan.
"Sakit ih dek." Kakang mengelus-elus bagian yang Rafa cubit.
"Dih dek, tumben manggil dek. Lagian kakang duluan lho. Rafa juga sakit nih pipinya. Jangan banyak dicubit au, sakit banget tau kang!" Rafa mengelus-elus perlahan pipinya.
"Udah hey malah berantem nih berdua. Ayo dimakan hey. Kakak udah capek-capek dapetin makanan itu tau," sahut kak Jesy kesal sambil menghembuskan nafas.
Rafa segera memakannya, tapi dia melainkan mengejek kakang dengan ekspresi yang jelek. Tak kalah dari adiknya, kakang juga meledek Rafa. Dan mereka berdua berlanjut berantem.
Jesy semakin kesal melihat tingkah mereka berdua. Mau tidak mau dia mengambil kembali makanan mereka berdua.
"Ih kok!?" Rafa terkejut makanannya diambil.
"Ribut mulu kaliannya, jadi makanannya kalian anggurin. Bisa diem ga sih sehari aja. Atau ngga diem lagi makan aja tolong, bisa?" Rafa dan kakang terdiam. Mereka bergidik ngeri melihat kak Jesy sedikit meninggikan suaranya.
"Kakang sih ga bisa diem," bisik Rafa.
"Lah kok kakang sih, kamu tuh yang gabisa diem," sahut kakang dengan berisik.
Jesy menggeleng-geleng melihat tingkah berdua. "Kakak simpen aja di kulkas deh kalau gitu, eh atau buang aja ya?"
Rafa langsung menahannya, "Jangan kak! Iya iya, Rafa diem deh. Sayang banget kalo makanannya dibuang." Rafa memelas.
"Jangan ribut lagi makanya. Kalau ngga, kakak ambil lagi nih." Jesy memberikan kembali makanan anak-anak.
-o0o-