
Hari kedua ujian. Masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang spesial dari itu. Dan Rafa juga melewatinya dengan baik. Dia mengerjakan dengan lancar tanpa adanya kendala. Beban pikirannya juga sudah mulai berkurang dan mulai terasa ringan. Tinggal satu hari dan satu beban lagi Rafa hadapi.
Sebelum Rafa benar-benar pulang ke rumah, dia singgah sebentar di toko minum depan sekolah. Ponselnya bergetar, nama kakang tertera pada layarnya.
"Ada apa?"
[Udah selesai ujiannya?]
"Udah. Rafa lagi beli minuman nih. Kenapa?"
[Mau minta tolong bentar, boleh?]
"Rafa mau dimsum."
[Oke pulangnya.]
"Minta tolong apa?"
[Bantu kakang ke sekolah, boleh?]
"Apa tuh?"
[Ke sini dulu aja, ntar kakang kasih tau. Bentar doang kok]
"Iya Rafa bentar lagi pergi."
Rafa menutup teleponnya. Ia mengambil pesanan minumannya lalu pergi menuju sekolah kakang. Entahlah kakang minta tolong apa. Semoga bukan yang aneh-aneh deh. Awas aja tuh kalo kakang minta yang aneh-aneh, Rafa aduin ke nin tau rasa haha. Ia tertawa jahat dalam hati. Pikirannya jadi terbayang jika kakang dimarahi nin, jadi ciut haha.
Tapi kalau dipikir-pikir juga, kakang kan hari ini ada kegiatan osis. Acara dari organisasi. Apa boleh anak seusianya masuk ke sekolah kakang? Memang betul minggu ini dipenuhi berbagai acara di sekolahnya, tapi apa tidak masalah Rafa masuk ke sekolahnya? Ini juga bisa dibilang kali pertama Rafa berkunjung ke Hyla School. Tiap harinya hanya sampai depan gerbang, itu juga saat mengantar kakang. Tapi kali ini Rafa langsung memasukinya, walaupun karena kakang minta tolong padanya.
Terlihat dari luar saja Hyla School ini sudah tampak mengesankan. Apalagi di bagian dalamnya, pasti terlihat sangat cantik. Rafa melangkah sambil menyeruput minumnya. Matanya berbinar-binar melihat sekeliling gedung sekolah. Para siswa-siswi berlalu lalang di lorong. Mereka memakai jas almamater khusus yang warnanya terlihat seperti biru gelap namun ada warna abunya. Entahlah warna apa itu, yang jelas cantik dan terlihat sangat menawan. Rafa jadi terbayang dirinya memakai jas itu. Akan terlihat cocok bukan? haha.
Rafa merogoh ponselnya dari saku roknya, mencari nama kakang lalu menghubunginya.
"Rafa udah sampe."
[Dimana?]
"Lobby." Rafa menunggu jawaban dari kakang. Teleponnya pun masih belum dimatikan. Kakinya tidak bisa diam di atas lantai, dan pandangannya terpaku melihat gerak-gerik kakinya.
[Coba balik badan] ucap kakang tiba-tiba. Rafa menyerngit tidak mengerti. Dia berbalik badan seperti orang yang kebingungan. Namun terlihat kakang melambaikan tangan pada Rafa. Senyumnya merekah, ia langsung menghampiri kakang.
"Mau ngapain sih kang?"
"Bantu kakang jadi model bentar."
"Hah? Apaan ih Rafa gamau!"
"What? Kenapa harus cuci muka? Kakang aneh. Udah ah Rafa pulang aja. Ga jelas." Rafa memasang wajah masamnya, ia segera pergi tapi ditahan oleh kakang.
"Ih ga aneh. Mending kamu liat langsung dulu deh. Kakang gatau sebutannya apa, tapi kamu pasti tau."
Rafa berdecak dalam hati, "Iya deh iya ayo. Awas aja kalau aneh-aneh, Rafa aduin ke nin." Rafa mengejek kakang dengan menjulurkan lidahnya yang menyebalkan.
"Dih apaan, mainnya aduan ke nin huu." Kakang mencubit pipi Rafa. Capek banget deh apa-apa pipi Rafa jadi korbannya.
Tak mau kalah dari kakang, Rafa menggelitik belakang leher kakang. Tapi dia menghindar dan lari. Tuh ya curang! Kurang ajar banget nih si kakang!
Kakang berlari menghindari serangan dari Rafa ke tempat yang ditujunya. Sesampainya disana kakang menyerah.
"Ih kesel banget!! Apa-apaan nyerah!?" Rafa menonjok pelan bahu kakang. Tapi dia hanya tertawa.
Rafa baru sadar ternyata kakang bawa dirinya ke tempat yang kakang maksud. Make-up class!? Eh atau apa ya? Terlihat dari luar sih make up class, tapi bisa jadi cuma penyuluhan? Entahlah, Rafa sendiri belum tahu pasti.
"Model make-up?" Kakang mengangguk ragu. Jujur Rafa kaget. Selama ini dirinya sama sekali tidak menggunakan apalagi menyentuh make up. Dan sekarang kakang malah menyuruh Rafa sebagai modelnya? What!?
"Kakang minta tolong ya Rafa… anak-anak pada sibuk dan mereka juga ga punya adik. Padahal kakang sendiri ga bilang kalau punya adik. Tapi gara-gara Diandra liat kamu jadi ya dia ngadu asal ngomong. Maaf banget ya :( Pulangnya kan kakang jajanin dimsum. Atau kamu mau apa?" terlihat kakang memasang wajah pasrahnya. Gabisa sih ini, Rafa lemah liat kakang kalau udah kayak gini. Jadi ga tega juga. Gapapa kali ya, cuma jadi modelnya aja kan? Ngga akan ada yang lain lagi? Semoga ngga ada deh. Tapi jadi model make-up gimana ya...
"Yaudah deh, Rafa bantu. Rafa cuma mau dimsum aja kok gapapa."
"Makasih banyak Rafa! Rafa gemes deh." Kakang berterima kasih dengan mencubit pipinya, namun tangannya sudah di tangkis duluan oleh Rafa.
"Tapi jangan cubit pipi Rafa. Sakit tau!" Rafa membuang muka sebal. Kakang tertawa kecil. Dia segera pergi ke ruang kelas dan mengajak seorang wanita untuk bertemu dengan Rafa.
Nanda namanya. Kak Nanda. Dia terlihat angkatan dengan kakang. Maksudnya usianya sama. Tapi entahlah. Kak Nanda memiliki tubuh yang terlihat ramping, tapi berisi. Kulitnya tidak terlalu putih tapi juga tidak terlalu gelap. Mungkin bisa dibilang sawo matang kali ya? Tapi tingkatan warnanya tidak terlalu gelap. Dia memiliki wajah yang manis dan membuat dirinya terlihat cantik juga segar. Kak Nanda ramah dan murah senyum juga. Rafa sendiri nyaman melihatnya.
Kak Nanda menjulurkan tangannya pada Rafa dan berkata, "Halo Rafa. Salam kenal ya, tolong bantuannya." Dia tersenyum ramah.
Rafa baru kali ini berkenalan dengan orang asing. Walaupun umurnya tak jauh dari Rafa, tapi tetap saja Rafa masih merasa canggung. Ia menjulurkan tangannya juga dan menjawab dengan gugup, "Iya kak, salam kenal." Setelah mereka selesai bersalaman, Rafa malah bersembunyi di belakang tubuh kakang karena malu. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Kesan pertama berkenalan dengan orang asing membuat dirinya menjadi tertekan. Malu, canggung, dan takutnya Rafa melakukan kesalahan.
Kakang tertawa kecil. "Maaf ya, Rafa baru pertama kali kenalan sama orang asing. Mohon dimaklumi." Kak Nanda mengangguk sambil tersenyum.
"Iya gapapa. Wajar kok."
"Apa-apaan kamu, tiba-tiba nyalinya jadi ciut gini," bisik kakang pada Rafa. Dia tidak menjawab, melainkan mencubit pinggang kakang membuat dirinya terkejut. "Sakit hey." Kakang meringis kesakitan.
"Ayo Rafa masuk kelas, bantu kakak jadi model. Gapapa ya kakak rombak wajah kamu?" ajaknya dengan tersenyum.
Rafa tidak terlalu keberatan, tapi bahasannya rombak wajah terkesan mengerikan… dia melihat kakang terlebih dahulu, kakang mengangguk percaya tidak akan ada apa-apa dan membantu Rafa untuk ikut dengan Nanda. Rafa berjalan pelan menghampiri kak Nanda dengan menundukkan kepalanya, malu.
"Aku pinjam dulu adikmu ya," bisik Nanda pada kakang. Rafa masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dia juga tahu kakang melangkah pergi meninggalkan Rafa bersama kak Nanda.
-o0o-