
Enam bulan aku membesarkan Nathan. Setiap kali setelah bermain-main dengan Nathan, dia sering menggerakkan tangan dan tubuhnya ke samping. Seperti akan melakukan sesuatu. Darisitu aku masih belum tersadar dengan apa yang dilakukan Nathan.
Padahal sudah berkali-kali dia melakukan itu, Agha belum melihat secara langsung dengan apa yang dilakukan Nathan selama ini.
Suatu hari ketika mama berkunjung ke rumah ku, Ia melihat tingkah Nathan dan mama bilang kalau Nathan sedang berusaha untuk tengkurap. Masa-masa ini biasanya bayi belajar untuk merangkak.
**
Aku mendapatkan undangan dari ketua angkatan sekolah. Sebenarnya bukan ketua angkatan juga sih, cuma dia orang yang lebih aktif dan sering sekali berurusan dengan anak-anak soal apapun itu. Dia juga bukan termasuk sebagai anggota osis, lebih tepatnya dia mantan anggota osis.
Memang sayang sekali dia lebih memilih bakatnya dan keluar dari osis. Ya, dia membuat rencana untuk mengumpulkan teman-teman sekolah angkatan. Bisa dibilang reuni kali ya. Dia, beberapa teman dekatnya, dan teman osisnya dulu sudah membuat rangkaian acaranya dengan matang.
Sudah mencarikan tempat yang pas terutama cukup untuk teman-teman angkatan yang cukup begitu banyak. Dia dan teman-temannya sudah memastikan untuk mengadakan acara reuni di tempat cafe yang cukup sekali untuk kami.
Tapi ada yang lebih membuat ku terkejut ialah dia menyewa cafenya selama satu hari penuh. Ku kira hanya sebagai pengujung biasa pada umumnya yang pengunjungnya berbagai masyarakat. Aku cukup salut tapi tiba-tiba saja aku memikirkan dengan budgetnya untuk menyewa tempat itu.
Dia bilang ini sebagian dari sisa uang kas perkelas katanya dan sebagian juga dia yang bayar. Aku pikir sistemnya akan sama bagi rata dengan semua orang, ternyata dia sendiri yang menanggung sisanya. Ia biang ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak katanya.
Tapi kalau soal makan dan minum memang ditanggung masing-masing. Awalnya dia kepikiran untuk nanggung makannya cuma kan ini hal yang ngga mungkin banget, apalagi kita bukan cuma satu atau dua orang aja gtu. Ini lebih dari dua orang.
Dua hari sebelum acara, aku memikirkan apa aku harus mengajak Agha juga kah? Walaupun dia bukan dari sekolah ku, tapi apa salahnya kan kalau aku mengajaknya. Takut-takut kalau aku tidak ada teman ngobrol disana. Lagian Jesy juga belum tentu bisa hadir di acara, begitu pun dengan Iby. Oh, iya selama ini aku dengannya sudah hilang kontak.
Mungkin karena aku juga sangat sibuk mengurusi rumah tangga, boro-boro kepikiran buat menghubungi teman-teman. Tapi aku penasaran dengan dia. Apa dia baik-baik saja? Semoga saja sih baik-baik saja.
Pernah aku tak sengaja membuka insta dan melihat kalau mamanya Iby memposting story baru. Dengan otomatisnya aku buka, terlihat mereka sedang di luar negeri. Kalau dilihat dari keaadannya sih seperti sedang meeting besar atau entahlah bisa jadi hal yang lain karena ada beberapa artis terkenal yang masuk framenya mama Iby.
Mungkin saja Iby bahagia karena di cerita kedua mama Iby memperlihatkan sosok wanita yang sedang berdiri bersama Iby, terlihat sangat serasi entah kenapa. Senyumnya pun terlihat manis, cantik, anggun, dan mewah. Aku menyangka kalau mereka itu memiliki hubungan, bisa jadi sih.
Tapi bisa jadi dugaan ku salah. Bukan urusan aku juga sih sebenarnya haha. Namun di acara reuni ini apakah Iby akan datang? Aku terlalu takut untuk menghubunginya. Kaya seolah-olah aku seperti tak tahu malu setelah lamanya aku menikah dengan Agha aku tidak pernah sekali pun menghubungi atau saling memberi kabar padanya lalu tiba-tiba aku menghubunginya secara tiba-tiba. Jadi aneh juga sih.
Oh iya, setelah aku mencoba membujuk Agha untuk ikut dan akhirnya dia ikut ke acara reuni ku. Walaupun aku sering kali bilang apa kamu merasa tidak apa-apa nanti disana? Soalnya Agha juga kan bukan asli alumni dari sekolah ku, takutnya Agha malah jadi merasa bosan kan. Tapi Agha bilang tidak keberatan baginya.
Dia juga sekalian menjaga dan melindungi ku, takutnya ada terjadi apa-apa saat disana. Semoga saja tidak ada.
Haha waktu aku pergi berlibur dengan Agha saat itu, aku tidak bilang ke mama kalau aku juga berkunjung ke rumah nenek. Bahkan kami menginap disana. Aku baru bilang saat di perjalanan pulang ke Jakarta. Jadi baru saat ini mama bisa berkunjung ke rumah nenek.
Mama membawa beberapa cemilan khas kampung. Hmm, sebenarnya ngga beberapa sih. Ini lebih dari beberapa, terlalu banyak. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa mama membawanya sebanyak ini. Padahal sedikit saja sudah cukup.
Dan Kebetulan juga untungnya aku ada acara reuni sma, jadi sekalian saja aku bawa kesana. Daripada sayang tidak dimakan, lebih baik bawa saja kesana hohoo.
Hari H tiba, aku dan Agha sudah sangat bersiap untuk berangkat. Tak lupa juga dengan membawa perlengkapan dan keperluan Nathan. Masih dimana kalau kemana-mana itu harus bawa perlengkapan Nathan.
Kami melihat sudah ada sebagian orang yang datang, termasuk teman-teman kelas ku. Aku lebih memilih untuk duduk di dekat teman-teman kelas ku. Ah, iya, di cafe itu ada dua tipe, lesehan dan duduk dikursi biasa namun berbagai macam material. Aku, Agha, dan teman-teman kelas ku duduk di bagian kursi. Namun setelah kami asik berbincang-bincang lama kemudian makan juga dan ternyata Nathan merasa tidak enak.
Aku merasa sudah waktunya untuk mengganti popok. Agak sulit juga untuk mengganti popok disini kecuali di lesehan. Karena kalau di toilet itu sangat tidak memungkinkan, apalagi diluar.
Tapi aku juga merasa tidak enak dengan teman-teman yang lainnya kalau di lesehan. Mereka bilang tidak apa-apa sudah wajar juga, terus yang membuat ku terkejut adalah teman-teman membantu ku untuk menutupi kalau aku mengganti popok Nathan.
Begitu pun dengan Agha. Awalnya hanya Agha dan teman kelas ku, tapi teman-teman yang lain, duduk di lesehan ikut membantu ku untuk menutupinya. Aku jadi sangat berterimakasih pada mereka, ku kira mereka tidak akan seperti ini.
Haha mungkin karena aku juga sudah lama tidak bertemu teman-teman dan ini baru pertama kali bagi ku bertemu dengan mereka usai pernikahan. Aku sangat bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka. Haha rasanya seperti kembali saat sma. Setelah aku selesai mengganti popok Nathan, aku akhirnya duduk di lesehan dan mengobrol juga dengan teman-teman lain disana.
Lalu ada yang membuat ku terkejut, Nathan tiba-tiba saja posisinya sudah merangkak. Dia seperti berusaha untuk berjalan sedikit demi sedikit dan juga kadang terjatuh. Aku membantunya agar terasa seimbang, toh Nathan juga sangat bersemangat untuk lanjut belajar berjalan dengan merangkak.
Haha mungkin Ia tahu kalau dirinya saat ini bersama banyak orang, seperti ingin menunjukan bahwa dia bisa untuk itu lhoo gitu. Teman-teman yang melihatnya menjadi gemas sendiri. Bahkan ada selain ku yang membawa anaknya kesini, Ia bergabung bersama ku dan membiarkan anaknya untuk bermain dengan Nathan.
Nathan terlihat kebingungan juga dan senang mendapat teman baru. Tapi dia sedikit canggung karena baru pertama kalinya mereka bertemu. Lucu banget sih ini sampai Agha memfotonya untuk diabadikan, saat ku lihat hasilnya terlihat lucu sekali.
Ekspresi Nathan dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga lalu anak disebelahnya menatap Agha seperti kebingungan sambil memiringkan kepalanya tapi Ia tidak terlihat tersenyum. Namun itu saja sudah cukup bagi ku.
Tiba-tiba saja aku kepikiran, bagaimana jadinya nanti kalau mereka bertemu saat sudah tumbuh besar? Pasti tidak menyangka juga kali ya. Dan juga entahlah mereka akan mengenalinya atau tidak.
"Huhh.. andai saja dunia memihak ku, tapi rasanya tidak adil jika hanya aku yang bahagia," gumam Nana.