
Cahaya matahari memasuki celah jendela kamar Rafa dan langsung menyorot pada mata Rafa membuat dirinya terbangun. Perlahan matanya terbuka sambil bangkit dari kasurnya lalu meregangkan tubuh kecilnya. Jesy membuka pintu kamar dengan penampilannya yang masih menggunakan celemek. Dia memanggil Rafa untuk segera sikat gigi dan sarapan. Rafa mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk sikat gigi terlebih dahulu.
Kakang sudah selesai sarapan terlebih dahulu, tinggal Rafa dan Jesy. Dia segera pergi ke kamar mandi ketika Rafa datang.
Jesy membereskan terlebih dahulu piring Nathan dan memindahkannya ke tempat cucian. Kemudian segera makan bersama Rafa. Dia menuangkan susu pada gelas baru dan air mineral untuk Rafa. Tak lupa menuangkan air mineral untuk dirinya. Mereka Pun segera menyantap makanan buatan Jesy. Ia sadar kemampuan masaknya masih kurang profesional seperti ibu rumah tangga pada umumnya, tapi semoga saja anak-anak menikmati dengan masakannya yang cukup sederhana ini. Jika Jesy ada waktu, dia akan mencoba beberapa resep yang belum pernah ia coba. Merasa menyesal juga tidak melihat Nana memasak waktu.
Nathan sudah bersiap untuk berangkat sekolah, begitupun dengan Rafa. Wajah Rafa masih terlihat lelah padahal dia yang paling lama tidur dibandingkan dengan Nathan juga Jesy.
“Kalian tunggu di depan ya. Kakak ngecek-ngecek dulu sebentar, takutnya ada yang kelupaan.” Mereka mengangguk dan pergi menuju halaman rumah. Ternyata udaranya sangat dingin. Padahal Rafa sudah memakai cardigan tapi tetap saja tidak berpengaruh. Kedua tangannya kini dingin dan dia menggigil. Nathan yang menyadarinya membuka jaket dengan merentangkan tangannya sedikit, Rafa menoleh dan langsung memeluk erat Nathan. Begitupun dengan Nathan memeluk Rafa dengan erat agar tidak kedinginan. Kepala Rafa tenggelam di jaket Nathan. Tingginya memang tidak bisa mencapai Nathan dan terlihat sangat lucu. Tapi jika disandingkan dengan teman-temannya, Rafa terlihat cukup tinggi. Standar sih ya lebih tepatnya.
“Udah mendingan?”
Rafa sedikit mendongak dan melihat kakang. “Udah mendingan, tapi kalau lepas sekarang bakal kerasa lagi dinginnya,” jawab Rafa, nadanya bergetar tidak bisa berhenti karena masih kedinginan.
“Tunggu sampai kak Jesy keluar.” Nathan bisa merasakan kepala Rafa mengangguk oleh tubuhnya. Pelukannya pun semakin erat.
“Udah kayak pacaran aja nih,” gumam Rafa tiba-tiba.
“Ih masih kecil kamu, tahu apa soal pacar-pacaran.” Kesal Nathan.
“Kayaknya wanita yang paling beruntung banget bisa pacaran dengan kakang. Bisa ngerasain pelukan kayak gini. Tapi dia kayaknya jadi wanita kedua setelah Rafa deh, karena Rafa duluan yang bisa ngerasain pelukan kakang sehangat ini. Rafa jadi penasaran deh siapa ya kira-kira?”
“Diem deh, gada pacar-pacaran. Mending kamu fokus aja sana belajar, ngga kerasa bentar lagi ujian nasional lho.”
“Ih jangan diingetin dong! Kepala Rafa jadi pusing dengernya.”
“Makannya belajar sama kakang. Jangan males!” Dikalimat terakhir Nathan sengaja menekankan ucapannya.
“Ya habisnya Rafa ngantuk, capek.” Nathan malah menggelitik adiknya membuat tubuh Rafa menggeliat seperti cacing. “Ih haha kakang curang mainnya ginian!” Rafa melepaskan pelukannya. Bahaya jika terus berdiam di sana karena kakang pasti tidak akan berhenti menggelitik Rafa.
Nathan tertawa melihat Rafa kesal. Wajahnya tetap lucu membuat Nathan tidak bisa berhenti untuk menggodanya. Tangannya bersiap untuk mencubit Rafa, tapi Rafa menangkisnya dan menghindar. Semakin Rafa mengelak, semakin juga Nathan tidak berhenti dan alhasil mereka kejar-kejaran juga saling mengejek. Sampai Jesy teriak untuk berhenti dan menyalakan mesin mobil. Rafa mengejar kak Jesy untuk mencari perlindungan sambil mengejek Nathan. Masih tetap tidak mau berhenti sampai mereka naik mobil. Ni dua anak pusing banget kalau sikapnya udah kayak gini. Kalau saja Nana sama Agha lihat, mereka juga pasti cape lihat tingkahnya.
Mobil mereka menepi di sekolah Nathan. Rafa membuka kaca mobil dan berteriak, “Semangat belajarnya kakang jelek!” Nathan tersenyum mendengarnya, tingkahnya Rafa menyebalkan tapi juga menggemaskan. Dia melambaikan tangan lalu pergi dan masuk ke dalam sekolah.
Diandra berlari dan merangkul Nathan membuat Nathan sedikit terkejut. “Pagi!” Sapa pria bertubuh kecil dengan bahunya yang lebar, bahu yang banyak diidamkan oleh sebagian pria. Tidak ada jawaban dari Nathan.
“Adik lo lucu juga ternyata.” Goda Diandra. Nathan langsung melepas rangkulannya dengan kasar.
“Jangan macem-macem lo!” Raut wajahnya langsung berubah menjadi menyeramkan.
“Wey. santai bro. Gue cuma mengutarakan pendapat doang, ngga macem-macem kok.” Diandra terkekeh karena sikap Nathan.
“Pak Hendra hari ini masuk ngga?” Nathan langsung mengalihkan pembicaraan, tidak nyaman juga terus membahas Rafa apalagi oleh Diandra bisa bahaya.
“Ngga. Ada perlu soalnya.”
“Lo? Apanih?”
“Cuma nanya tentang pendaftaran aja.”
“Hah? Kuliah atau apanih?”
“Gausah tahu lo!”
“Buset! Serem amat.”
“Lo sendiri yang mancing. Serah deh.” jutek Nathan. Capek lama-lama meladeni Andra. Mulutnya gapernah berhenti dan anehnya juga gapernah berbusa tiap kali dia banyak bicara. Heran jadinya.
Diandra mendorong kecil Nathan dengan sikunya membuat orang disekitar terkena karena tubuh Nathan.
“Aduh!” Barang yang dibawa orang itu jatuh dan berserakan di lantai.
Nathan menyadari dan langsung membantunya, “Maaf. Saya benar-benar minta maaf,” ucap Nathan. Ia sangat merasa bersalah. Kalau saja tubuh Nathan bersiap untuk menahan dorongan Andra, pastinya tidak akan seperti ini. Nathan menoleh sebentar pada Andra dengan tajam. Memberinya kode untuk bertanggung jawab juga atas tingkah cerobohnya.
“Maaf ya,” ucap Diandra ikut membantu.
“Lain kali hati-hati. Saya pergi duluan.” wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Gatau situasi banget nih orang emang.” Gumam Nathan dengan melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.
“Ya maaf.”
Kini mobil Agha menepi di depan sekolah Rafa berada. Jesy ikut turun untuk melihat Rafa benar-benar pergi masuk ke dalam sekolah. “Semangat belajarnya!” Teriak Jesy sambil melambaikan tangan pada Rafa.
Rafa membalasnya sambil tersenyum.
Jesy melihat temannya berlari kencang menghampiri Rafa, wajahnya terkejut Dia turut senang melihat Rafa tersenyum. Semoga menjadi hari yang membahagiakan hari ini bagi Rafa, begitu pun Nathan dan juga dirinya. Dipermudah dan dilancarkan setiap kegiatannya. Jesy menancapkan gas dan pergi menuju urusannya.
“Yeey Rafa masuk!” Seru Abel sambil menggandeng tangan Rafa.
“Pagi Abel.” Sapa Rafa senang.
Saat menuju kelasnya, mereka melihat Adnan berjalan di depan tak jauh darinya dan berencana untuk mengejutkan Adnan. Mereka mengendap-ngendap menuju Adnan lalu mengagetkannya. Rencana mereka berhasil, Adnan terkejut walaupun tidak terlalu heboh seperti orang lain pada umumnya. Rafa dan Abel berlari menuju bangkunya dengan seru, mereka tidak ingin tertangkap kesalnya Adnan. Tapi sebaliknya, Adnan berjalan santai menuju bangkunya karena mereka sudah kabur duluan.
-o0o-