
Bekerja sama dengan orang-orang yang seharusnya berkepentingan dengan atasan Agha ternyata cukup bagus juga. Mereka bilang ingin mengundang Agha untuk bersedia menjadi pemateri di beberapa kegiatannya. Tidak hanya itu, mereka juga bahkan sampai ingin merekrut Agha untuk bekerja di perusahaannya. Agha sangat senang dan berterimakasih atas tawaran mereka. Mereka bercanda untuk meeting selanjutnya meminta Agha yang berpresensi. Agha mendapat banyak point plus dimata mereka.
Setelah meeting selesai, Agha segera menghubungi atasan Agha. Memberikan kabar baik padanya bahwa mereka kemungkinan akan ikut berpartisipasi dengan rencananya yang buat karena ada berbagai alasan juga yang masuk akal. Itu bisa menjadi bermanfaat di kalangan masyarakat luas. Atasan Aghapun merasa senang setlah mendengarnya. Ternyata ia tidak salah memilih Agha untuk menggantikannya, senang bisa mendapati kabar baik seperti ini.
Agha kembali ke station untuk pulang, tapi takdir berkata lain. Kereta terakhir sudah berangkat sepuluh menit sebelum Agha sampai di station. Terpaksa Agha harus menginap sebentar di Purwakarta. Dia mencari beberapa hotel terdekat yang sekitaran station agar memudahkannya dan untuknya Agha dapat. Walaupun tidak terlalu mewah itu tidak menjadi masalah baginya, selama bisa ditempati tidak apa-apa bukan? Tidak lupa juga Agha mengabari Nana kalau dia harus menginap dulu di Purwakarta karena ketinggalan kereta.
Pelayan dalam hotel sangat ramah dan baik, mereka menyediakan banyak keperluan lain untuk kenyamanan pengunjungnya. Tentu saja untuk menciptakan point plus yang lebih di hotel ini agar banyak pengunjung yang berdatangan. Tapi sikap ramah mereka tidak hanya untuk pencitraan saja, dibaliknya mereka tetap ramah juga.
Merasa ada yang kurang dengan tidak adanya keberadaan Nana dan anak-anak. Agha tidak terbiasa jauh dari keluarganya. Ini untuk pertama kalinya Agha jauh dari mereka. Agha juga merasa tidak nyaman untuk tidur karena terus memikirkan keluarga di rumah dan beberapa hal yang sebenarnya tidak usah dipikirkan. Random banget emang haha. Tapi tidak terasa juga Agha akhirnya tertidur.
Sedangkan Nana saat ini merasa khawatir dengan Agha. Ia takut ada terjadi sesuatu pada Agha, tapi semoga saja tidak ada apa-apa.
Nathan tak pernah henti bertanya pada Nana ayah dimana dan kenapa dia masih belum pulang sampai saat ini. Nathan bilang bahwa dirinya rindu dengan ayah ingin bermain dengannya. Nana menjelaskan keadaan ayah pada Nathan.
Dia menangis setelah mendengarnya, memang baru pertama kalinya juga Ayah meninggalkan Nathan ke luar rumah. Yang biasanya kalau sepulang kerja selalu ada di rumah, sesekali ia sempatkan bermain dengan Nathan walaupun sebentar yang setelah itu ia pergi tidur.
Nana jadi panik sendiri dengan tangisan Nathan, dia mencoba menenangkannya tapi tangisan Nathan semakin keras. Nathan menangis sambil berbicara. Dia bilang kalau Nathan khawatir jika ayah tiba-tiba diculik, dibawa oleh orang yang tidak dikenal, dan bagaimana jika ayah direbut oleh orang lain?
Ya ampun.. sekhawatir itu Nathan pada ayahnya. Nana juga mengkhawatirkan yang sama, dia juga khawatir dengan kondisi kesehatan Agha. Tapi semoga saja tidak ada apa-apa.
**
[D-5 Sebelum Agha Kecelakaan]
Agha akhirnya pulang dari Purwakarta dan kurang lebih sampai di Jakarta selama sejam. Bahkan lebih cepat daripada saat dia berangkat ke Purwakarta. Atasan sempat hubungi Agha untuk istirahat dan tidak usah datang dulu ke kantor. Lagian juga hari ini di kantor tidak terlalu banyak dikerjakan dan hanya beberapa divisi lain yang mungkin memang ada keperluan penting di kantor.
Setelah dia sampai di rumah, Nana seperti biasa menyambut hangat Agha. Saat itu Agha pulang dipagi hari karena awalnya Agha akan langsung ke kantor setelah dari Purwakarta. Tapi setelah mendapat kabar dari atasan, Agha pulang ke rumah lebih cepat dan lebih pagi daripada biasanya. Dia sampai di rumah ketika Nathan masih tertidur lelap. Agha melihat tidurnya Nathan jadi merasa lucu. Tubuh mungilnya tergeletak di atas kasur yang ukurannya sangat besar dibandingkan dengan tubuh mungilnya. Awalnya Agha berniat memberi kejutan untuk Nathan, tapi setelah melihatnya yang masih tertidur apa boleh buat Agha ikut tertidur di sampingnya.
Nana menghampiri Agha, “Sarapan?”
Agha tidak bergerak sedikitpun di atas ranjang, “Ngga usah. Agha mau tidur sama Nathan.”
“Malah ikut tidur nih Agha bukannya bangunin Nathan untuk mandi.” Nana berdecak, “Kamu sendiri udah mandi belum disana?”
Nana tak segan untuk mencubit Agha. “Ih jorok, ayo mandi dulu Agha!”
“Nanti ah, mau bobo dulu sama Nathan. Mandinya nanti bareng Nathan aja. Dah ah jangan ganggu Agha, mau tidur dulu,” jawabnya dengan bergumam.
Ya mau bagaimana lagi, Agha susah dibilangin kalau udah kayak gini. Jadi terserah dia sendiri maunya bagaimana. Nana hanya bisa mengalah dan kalau selama Agha benar-benar melakukannya, Nana merasa tidak apa-apa.
Hari ini Nana tidak bekerja, padahal biasanya dan harusnya hari ini itu bekerja. Tapi karena ada alasan dari pihak sananya yang cukup rumit jadi Nana dan beberapa rekan lainnya tidak ke kantor. Kebetulan hal sama pada Agha juga tidak pergi ke kantor, Nana memanfaatkan waktunya untuk bersenang-senang dengan keluarga.
Nana kini membersihkan beberapa ruang terlebih dahulu, setelah itu membersihkan diri dan membuat makan untuk Agha dan Nathan. Bagaimana dengan Nana? Nana biasanya makan lebih dulu karena untuk mengisi asupan untuk makan Rafa. Biasanya Rafa akan terbangun di sekitar pukul sembilan pagi. Waktu dimana yang biasanya orang-orang sudah banyak beraktivitas.
Tidak lama kemudian, Rafa terbangun dengan menangis. Nana terburu-buru ke kamar mendatangi Rara. Ternyata di tangan kanannya ada bentol merah, dia digigit nyamuk. Dengan gesit Nana membalut tangan Rafa dan berusaha menenangkannya. Ternyata tangisan Rafa membuat Agha terbangun. Dia bertanya, “Kenapa?”
“Rafa digigit nyamuk,” bisik Nana. Agha ikut menenangkan Rafa dengan mengelus-elus tangan yang terkena gigitan nyamuk.
“Kayaknya kita harus beli gorden yang anti nyamuk gitu deh, Gha,” ucap Nana tiba-tiba.
“Iya deh, Na. Kasian Rafa sama Nathan.” Agha mengangguk setuju.
“Nanti agak siangan saja kita ke supermarket gimana?”
Agha mengangguk lagi, “Boleh. Kapan juga boleh.”
“Okey sip. Tapi sebelum itu kamu mandi dulu sana.” Nana mengusir Agha dengan mendorongnya menggunakan jari telunjuk.
“Ya ampun Na! Agha ngga sebau itu lho. Agha kalau belum mandi masih tetep wangi, nih cium baju lengan Agha.” Agha mendekati lengannya pada Nana, tapi Nana menangkisnya dia menutup hidungnya. Karena gemas Nana tidak mempercayainya, ia mencoba untuk memeluk Nana tapi Nana menahannya dia tertawa.
“Yaudah mandi aja dulu apa susahnya sih, Gha. Ih jorok!” teriak Nana. Nathan tiba-tiba terbangun.
“Bunda,” gumam Nathan sambil menggosok-gosok matanya. Agha yang menyadarinya segera menghampiri Nathan.
“Tuh Nathan bangun, udah sana mandi sama Nathan!” keukeuh Nana.