Blanc Carnations

Blanc Carnations
31. Rindang



Beberapa kali kami istirahat mengikuti tempat rehat yang sudah disediakan. Hingga pada akhirnya kami berhasil sampai di atas gunung. Rasanya sangat berbeda. Dibawah sebelum menaiki tangga udaranya terasa dingin, tapi tidak sedingin di atas gunung. Dan saat menaiki tangga, aku sama sekali tidak merasakan udara saat itu karena badan ku terasa panas dan keringat ku terus-menerus bercucuran.


Agha segera membeli air mineral pada warung kecil yang berada di sana. Air mineral ku dihabiskan oleh sepupu Agha, setiap kali kami beristirahat sejenak Ia selalu meminta air mineral ku hingga tidak terasa dia sudah menghabiskannya. Dia memberikan ekspresi wajah tidak berdosa. Aku mewajari karena dia masih anak kecil.


Sekitar kurang lebih selama satu jam kami di atas gunung, menikmati pemandangan dari atas juga menghirup udara dingin disana. Setelah merasa cukup dan dengan melihat cuaca juga sudah menunjukan gelap kami pun turun, takutnya tiba-tiba hujan turun.


Diperjalanan pulang, benar saja hujan turun tapi untungnya tidak begitu deras. Aku baru teringat setelah selesai turun dari gunung, ternyata aku tengah mengandung anak ku di bulan kedua. Suatu hal yang sangat membuat ku terkejut dengan apa yang ku lakukan.


Ibu hamil yang menaiki tangga yang cukup banyak itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh ibu hamil lainnya. Aku sendiri baru memikirkan apakah anak ku akan baik-baik saja setelah menaiki anak tangga itu?


Agha memastikan keadaan ku dengan memeriksakan kandungan ku ke dokter. Aku bersyukur tidak ada tanda-tanda yang membuat ku khawatir. Dokter bilang keadaan bayi ku sangat sehat, tidak ada hal yang mencurigakan.


Semuanya baik-baik saja. Tapi setelah aku bercerita padanya kalau aku hari ini telah menaiki tangga Gunung Galunggung, dokter sangat terkejut. Ia terheran-heran bagaimana bisa aku menghadapinya dengan rintangan yang cukup sulit itu? Apalagi dengan keadaan ku yang sedang mengandung.


Aku sendiri menertawai diri ku, sebuah hal mustahil yang dilakukan orang-orang ternyata menjadi kelebihan ku. Lumayan juga untuk melatih kaki ku karena sudah lama tidak menaiki tangga dan berjalan sepanjang ini haha.


Malamnya Agha menyiapkan daging bakar, bukan daging sapi pada umumnya melainkan daging ayam. Ia tidak mau membakar daging sapi, katanya terlalu lama saat membakarnya jadi Agha memilih daging ayam karena tidak butuh waktu lama untuk membakarnya. Aku hanya mengikuti apa yang Agha mau.


Sebenarnya kami menginap di guest house terpencil, itu juga milik omnya Agha. Dia mengizinkan kami untuk memakainya, katanya sekalian untuk menguji coba bagaimana dengan perasaan kami saat menempatinya.


Tempat ini baru saja berdiri sekitar seminggu yang lalu dan baru saja dibuka hari ini. Namun om Agha masih belum berani untuk membukanya secara umum. Dan untungnya kebetulan sekali kita pergi liburan ke kota ini.


Tempatnya membuat ku sangat tertarik, dengan konsep yang tidak terlalu ribet, dan sederhana. Tidak salah lagi design interior dari keluarga Agha itu tidak pernah gagal. Semuanya terlihat bagus dan sangat di luar ekspetasi ku.


Guest house ini juga memiliki halaman di belakangnya, tidak terlalu luas namun cukup jika digunakan untuk merilekskan diri dan bersenang-senang dengan beberapa teman maupun pasangan.


Banyak sekali tanaman yang om Arga simpan di halaman belakang, namun tetap tertata dengan rapi dan enak dipandang. Lagi-lagi pastinya aku mengaguminya sampai mulut ku terasa lelah. Agha cukup sabar mendengarkan kebawelan ku. Haha dia bisa bertahan juga dengan ku.


Aku terduduk di kursi pantai sambil menselonjorkan kedua kaki ku, meregangkan seluruh tubuh ku. Hari ini cukup lelah bagi ku, bukan lelah pikiran namun lelah fisik ku. Agha memakaikan ku selimut, bahaya kalau aku masuk angin katanya. Hal kecil ini yang membuat ku semakin menyukai Agha. Perhatian yang Ia perlihatkan pada ku itu begitu manis, membuat ku gemas sendiri saat melihatnya haha.


Bahkan ketika aku mencari alat makan, Agha dengan sigap memberikan alat makan pada ku. Banyak sekali perbuatan manisnya pada ku.


“Agha, Nana mau tanya," Agha menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri ku.


“Kenapa?”


“Agha ada rencana atau keinginan untuk membangun atau mempunyai rumah impian gitu?”


“Pernah sekali saat di awal pernikahan kita, tapi Agha sendiri menyadari jikalau aku ingin sesuatu aku harus bekerja keras lebih giat lagi. Tapi juga karena kita sudah sah berstatus suami istri, aku harus meminta izin padamu dan perlu membuat keputusan bersama,” jelas Agha.


Benar apa yang Ia katakan, kita harus membuat keputusan bersama. Apalagi jika itu menyangkut dengan hubungan rumah tangga kita.


“Kalau dengan Nana sendiri?”


“Hampir sepenuhnya sama denganmu. Namun itu juga bukan hal yang tidak pasti suami dan istri miliki. Aku tidak mengharapan banyak. Tapi jika anggota kelompok merasa setuju dengan rencana ku, aku tak akan segan menggunakan rencana tersebut haha..”


**


Aku sudah mulai memasuki kehamilan anak pertama ku di bulan ke lima. Rintangan yang ku lalui kali ini bertambah sulit. Lebih tepatnya sulit bagi Agha haha. Ngidam ku semakin menjadi-menjadi dan terkadang aku meminta yang aneh-aneh.


Tapi tenang saja, pinta anehnya aku tidak seperti orang lain. Masih bisa di maklumi. Hanya saja ketersediaan barang yang aku inginkan memang cukup limited, jadi Agha harus pintar-pintar mencari toko yang sedang membuka opslot.


Pastinya juga kebanyakan orang tidak terbagi membelinya karena kecepatan suatu internet dan aplikasi yang kita punya. Dimana biasanya baru dua menit saja barangnya sudah sold out. Bahkan ada penjualan yang baru saja dibuka selama dua detik sudah sold out.


Aku tidak mengerti bagaimana bisa mereka mendapatkannya dalam kurun waktu yang sangat cepat? Terus juga padahal kan server yang semua orang pakai juga tentu saja akan sama, tapi bagaimana bisa dengan beberapa orang yang bisa mendapatkannya? Mereka orang-orang yang sangat beruntung.


Dari yang k uceritakan ini saja orang-orang pasti tahu bukan? Ya! Memesan tiket konser idol haha. Impian ku satu-satunya untuk menonton konser idol sampai puas, namun tidak bisa terlaksana karena susahnya untuk memesan tiket konser. Karena kita kalah dengan sinyal dan waktu.