
Agha menepi di dekat sekolah Nathan, lalu mengantarkan Nathan sampai depan gerbang. Sebelum Nathan pergi, dia memberikan pelukan hangatnya pada Agha. Begitupun sebaliknya, namun Agha mencium pipi Nathan dan mencubitnya dengan kedua tangan membuat Nathan meringis kesakitan.
“Ih ayah sakit!” lirihnya sambil mengelus-elus kedua pipinya lalu ia pergi dengan berjalan lemas dan memasang wajah cemberutnya karena masih kesakitan. Guru Nathan tersenyum ke arah Agha, lalu dia menggenggam Nathan menuntunnya masuk ke dalam sambil berbincang seru. Agha tidak bisa mendengarnya karena mereka sudah berjalan jauh.
Begitu Agha sudah merasa puas melihat Nathan masuk sekolah, ia langsung pergi menuju kantornya. Seru juga mengantar Nathan! Mungkin besok dan seterusnya giliran Agha yang mengantar Nathan. Nana dan mama sudah keseringan, sekarang gantian jadi giliran Agha haha. Mereka pasti sudah kelelahan juga, belum lagi Nana sambil mengurus Rafa. Agha hanya bekerja keras di kantor saja sudah melelahkan, apalagi Nana yang mengurus banyak hal.
Nana hari ini izin tidak masuk kantor. Keadaannya malah lebih parah. Suhu pada tubuhnya semakin panas dan kepalanya terasa sangat berat seperti ditekan dengan beban yang sangat besar. Sampai siangpun Nana belum juga keluar kamar, jika ia bergerak maka tubuhnya akan semakin terasa panas. Udaranya terlalu kuat untuk menyerang tubuh Nana.
Teringat dengan keadaan Rafa sekarang. Syukurnya Rafa sudah sembuh. Rafa kebingungan dengan keberadaan bundanya yang berbaring meringkuk di atas ranjang. Hingga lupa kalau hanya Rafa yang sehat sekarang, Nana menghubungi mama untuk datang ke rumah. Nana tidak kuat untuk bergerak banyak saat ini.
Mama yang mendengar kabar dari Nana segera berangkat ke rumah Nana. Dia menyuruh Nana untuk tidak mematikan teleponnya sampai ia tiba di rumah karena takut tiba-tiba terjadi apa-apa.
Diperjalanannya menuju rumah, mama terus berbicara. Dari mulai bertanya tentang keadaan Nana sekarang bagaimana, lalu bertanya keadaan Rafa saat ini juga, kemudian bertanya mengenai keadaan Agha dan Nathan. Saking khawatirnya mama mengintrogasi Nana secara menyeluruh. Haha memang kebiasaannya. Ah iya, dia juga bertanya makanan yang ingin Rafa makan saat ini apa. Mama berencana sekalian membeli makanan untuk Rafa dan juga Nana. Tidak usah ditanya lagi, dalam keadaan sakit seperti sekarang ini Nana akan makan bubur gibas kesukaannya dan juga sayur telur puyuh. Setidaknya ada lauk yang basah agar seimbang dan lancar di kerongkongan saat memakannya.
Setelah terdengar suara pintu rumah terbuka, Nana mengetahui kalau mamanya datang. Tanpa aba-aba dia langsung tertidur yang seharusnya dia sudah tertidur sedari tadi, namun mamanya meminta untuk tidak mematikan telepon dan terus menerus mengajak Nana berbicara. Jadi selama itu dia menahan rasa kantuknya.
Mama membuka pintu kamarnya, ia melihat Rafa sedang sibuk bermain dengan bantal juga gulingnya di samping Nana. Dia terkejut saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Mama menghampiri Nana dan membangunkannya menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu. Tapi Nana menolak, ia ingin tidur dulu baru makan. Matanya sudah tidak kuat untuk terbuka, ia butuh istirahat sebentar. Kemudian mama menggendong Rafa, mengajaknya keluar kamar untuk makan. Nana bilang tadi saat berbincang di telepon bahwa jika ingin Rafa untuk makan jangan lupa dengan menambahkan beberapa takaran produk yang dokter rekomendasi. Dia menjelaskan semuanya mengenai produk itu agar Rafa tidak terlalu pemilih makanan, tidak jadi malas makan juga, dan akan bersemangat untuk makan. Mamapun segera melakukannya, ia juga penasaran apakah produk tersebut akan berpengaruh atau tidak. Nana bilang juga kalau kemarin Rafa melahap makanan cukup banyak dari biasanya, entahlah dengan hari ini. Mungkin bisa saja bertambah porsi haha. Hal yang tidak mungkin, tapi lihat nanti saja.
Siangnya Nana terbangun, ia baru bisa merasa udara kamarnya panas. Selimut-selimut yang dipakai Nana kini jadi berserakan di atas ranjang. Dia membuka gorden kamarnya dengan kasar, membuat cahaya masuk dengan menyerang. Mata Nana ikut terkejut, salah sendiri juga tidak membukanya dengan pelan-pelan. Jadi pusingnya terasa kembali. Nana berusaha menenangkan kepalanya dan perlahan membuka matanya. Ia membuka jendela kecil kamarnya lalu keluar kamar dengan sempoyongan karena cahaya putihnya masih membekas dimatanya membuat kepala Nana jadi pusing.
Nana melihat mamanya tertidur di sofa bersama Rafa. Ia tidak ingin menganggunya dan langsung pergi ke meja makan untuk mengambil minum. Karena keadaannya masih belum sadar sepenuhnya, Nana menjadi ceroboh. Dia tersandung kaki meja. Seketika kesadarannya jadi sadar sepenuhnya akibat tersandung. Rasa sakitnya terasa sampai ujung kepala Nana. Dan tiba-tiba mama datang menghampiri Nana. Katanya suara sandungannya terdengar sangat keras sampai kesana. Nana tidak terlalu menyadari suaranya, ia hanya merasakan sakitnya saja karena terkejut juga. Mama jadi menyuruh Nana untuk duduk di ruang tengah, biarkan dia yang membawa minumnya. Sebelum itu mama menghangatkan bubur gibas terebih dahulu dengan waktu yang singkat agar terasa enak saat dimakan. Bubur kalau sudah dingin rasanya akan menjadi aneh, dan nafsu makannya juga akan menjadi berbeda dibandingkan dengan bubur yang masih hangat.
“Mama tadi sempat membeli obat pereda demam yang biasanya kamu konsumsi sewaktu sma, siapa tahu masih cocok. Makan satu tablet saja dulu tapinya,” ucap mama sambil mengeluarkan obat dari tas selempangnya lalu meletakannya di atas meja agar Nana tidak lupa.
“Iya ma, siap. Makasih banyak ya, ma. Maaf juga Nana jadi ngerepotin mama.”
Mama menggeleng, “Gapapa Na. Mama justru seneng kalau kamu ngerepotin mama. Tenang aja, Na. Jangan ngerasa sungkan sama mama. Mama juga pernah ngalamin kayak kamu.” Nana mengangguk lemas sambil tersenyum. “Oh iya, sekarang gimana? Udah ngerasa baik dari sebelumnya, Na?”
Nana menaruh kembali gelasnya ke atas meja, “Iya sedikit. Ya lumayan ngga separah tadi pagi, ma.”
“Syukur kalau begitu. Tapi mama hari ini menginap disini ya. Gapapa kan? Mengantisipasi haha,” lanjut mama.
Nana mengangguk lagi, dia menjawab “Gapapa kok, ma. Santai aja. Nanti mama tidur di kamar Nana aja, biar Agha sama Nathan tidur di kamar sebelah.”
Mama menyerngit, “Lho kok?”
“Gapapa, ma. Sesekali Nana tidur bersama mama. Agha pasti tidak apa-apa kok, selama dia ada teman tidur juga. Toh biarkan Nathan sibuk menghabiskan waktunya bersama Agha. Jarang-jarang juga Agha seperti itu. Dia juga akhir-akhir ini pekerjaannya tidak sebanyak seperti sebelumnya. Jadi tiap kali di rumah, dia bisa bermain dan menjaga Nathan juga Rafa. Ya walaupun sesekali dia meneruskan pekerjaannya di malam hari,” jelas Nana sambil tertawa kecil.
Mama yang mendengarnya menggeleng-geleng. “Terserah kamu aja deh. Kalau mama kena marah Agha, kamu yang harus tanggung jawab ya.” Nana mengangguk setuju sambil tersenyum-senyum. “Yaudah kamu habisin dulu buburnya, mama bereskan rumah kamu dulu,” lanjutnya lalu segera membereskan beberapa tempat yang terlihat berantakan. Beberapanya mama dengan Nana sangat jauh berbeda. Orang-orang pasti tahu perbedaannya.