Blanc Carnations

Blanc Carnations
16. Perkenalan Singkat



Sejak Nana sering bertemu dengan Agha, entah kapan dan dimana yang terkadang aku mengacuhkannya, namun karena penjelasan om Rangga saat itu membuat ku semakin penasaran dengan Agha. Yang Nana lihat dari Agha itu sangat berbeda dengan opini orang-orang.


Semakin sering Nana bertemu Agha, Nana rasa jadi tahu dengan sifat dan sikap aslinya walaupun tidak semuanya. Ia orang yang sangat lembut, lebih dari yang ku kira. Beberapa sikap yang Ia berikan membuat ku tersentuh, begitu pun dengan perhatiannya.


Padahal dengan apa yang Nana ketahui dari berbagai prespektif orang-orang bahwa orang dingin itu sulit luluhnya, namun nyatanya entah perasaan Nana saja atau memang sikap Aghanya yang sedikit demi sedikit terbuka dan membuat ku tertarik padanya.


Kadang Agha sempat berbagi pengalamannya pada ku. Di cafe tempat biasa kami bertemu dia bercerita saat dirinya pertama kali muncak bersama ayahnya saat smp. Katanya Agha saat itu tidak tahu apa-apa mengenai muncak, Ia hanya mengikuti ayahnya saja.


“Agha kira muncak itu cuma pergi ke gunung saja lalu pulang, ternyata banyak hal yang Agha baru ketahui saat itu. Banyak sekali rintangan-rintangan yang cukup ekstrim saat kami melewatinya. Agha sempat merasa takut saat menaiki jalanan yang cukup curam sampai Agha menangis. Tapi ayah dengan sabarnya menenangkan ku. Menyuruh ku untuk membayangkan itu cuma jalanan biasa yang aku lewati, tapi tetap saja rasa takut ku terlalu besar hingga ayah menjulurkan tangannya pada ku. Katanya, percaya sama ayah. Agha merasa ragu, tapi mau bagaimana lagi hanya itu satu-satunya cara yang ada. Terkadang Agha jadi rindu dengan sosok ayah yang dulu,"


Dari cerita Agha, terrlihat sebenarnya ayah Agha itu baik bahkan dia sayang pada anaknya. Entahlah kenapa bisa sikap ayahnya Agha membuat hubungan mereka merenggang. Aku tidak tahu pasti karena Agha tidak memberitahu ku.


Nana juga merasa Agha jarang sekali bercerita mengenai ibunya, ingin Nana bertanya namun takutnya Agha merasa semakin risih.


Menurut ku Agha tipe orang yang ngga di ambil ribet. Ia tidak suka keributan, jika ada masalah dia lebih memilih diam daripada menanggapi amarah orang, katanya itu menghambur-hambur tenaga.


Tidak hanya itu, Agha juga ternyata pintar. Dia membantu ku mengerjakan latihan matematika. Bisa dibilang Agha adalah mentorku hahaha. Sejak Nana tahu Agha paham mengenai matematika, Nana secara terus menerus selalu bertanya pada Agha dan membuat jadwal les bersama Agha.


Kurang lebih selama dua atau tiga kali dalam seminggu kami bertemu, itu saat Nana sekolah biasa. Namun saat menjelang ujian, kami jadi lebih sering bertemu.


Agha memastikan pemahaman dan kebisaan ku sudah sampai mana. Tapi Agha cukup sabar meladeni sikap ku yang bawel dan juga ngotot. Nana terbilang orang yang cukup keras kepala, tapi tidak terlalu juga hanya saja sikap ku begitu saat bagaimana situasi dan kondisi saja.


Iby belum mengetahui Agha itu siapa dan seperti apa. Memang Nana belum mengenalkan Agha pada Iby secara langsung, Nana baru menceritakan Agha itu seperti apa pada Iby.


Nana pernah berencana memperkenalkan Agha pada Iby, namun tertunda terus karena Iby ada jadwal latihan katanya. Dan setelah beberapa kali Nana meminta waktu luang Iby, akhirnya dia bisa bertemu. Kami bertemu di cafe tempat biasa Nana dan Agha bertemu. Kesannya memang terlihat canggung karena Iby juga baru melihat orang yang Nana sering sebutkan di setiap topik pembicaraan kami.


Aku tertawa canggung. “Kenalin, Iby ini Agha dan Agha ini Iby sahabat Nana,"


Iby pun menjulurkan tangannya pada Agha sambil tersenyum ramah.


“Salam kenal..” Agha segera membalasnya walaupun agak terlambat.


Ia hanya mengangguk seolah-olah Agha menerima perkenalannya.


“Agha emang dingin, jadi tolong maklum ya By,” bisik ku pada Iby, dia mengangguk mengerti sambil tersenyum.


Aku berdiri. “Nana ke toilet dulu sebentar, ya. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu," pamit ku dan segera ke toilet.


Sebenarnya di cafe ini letak toiletnya tidak didalam, namun diluar demi kenyamanan bersama katanya. Tapi bagus juga sih, lebih leluasa juga kalau toiletnya diluar, bisa melewati pintu belakang. Ah, tenang.. untuk keamanannya sudah terjamin kok.


Setelah dari toilet aku tidak langsung menghampiri mereka, aku bersantai sebentar di belakang cafe. Saat merasa cukup, aku segera kembali. Ku lihat mereka masih mengobrol, namun tetap saja Agha memberi tanggapan yang dingin. Haha lucu juga, setelah tahu sikap Agha bagaimana jadi terasa lucu melihatnya bersikap seperti itu pada orang lain.


Aku duduk kembali di samping Iby. “Wah kayanya udah ngerasa deket nih ya haha..” Iby menatap Agha dengan tersenyum, namun Agha tetap tak bergeming.


Pesanan kami akhirnya datang, aku membenarkan posisi duduk. Saat hendak makan, Agha memberi ku sendok dan garpu yang diselimuti tisu karena letak alat makan yang pelayan berikan tidak sesuai posisi konsumen, mungkin pelayannya baru kali ya? Biasanya tidak begitu. “Makasih!”


“Ayo makan!" ajak ku.


Iby merasa tidak nyaman dengan orang yang bernama Agha itu, Ia terlalu dekat dengan Nana. Iby khawatir kalau dia menyakiti Nana.


“Jadi.. bagaimana bisa anda dekat sama Nana?”


“Dia sendiri yang ngintilin saya,” jawab Agha datar.


“Sampai batas mana anda dengan dia?” tanya Iby khawatir kalau-kalau apa yang dia sangka menjadi kenyataan.


“Teman..” Iby merasa jawaban Agha tidak mungkin sepenuhnya benar.


"Aduh.. aku meninggalkan sesuatu ditoilet, aku ke toilet lagi ya maaf!" ujar ku melupakan sesuatu ditoilet, alhasil aku harus pergi lagi ke dalam toilet untuk mengambil barang ku yang tertinggal.


Agha dan Iby hanya bisa menggeleng melihat tingkah ku. Hehehe aku memang terkadang ceroboh orangnya. Aku pun pergi, meninggalkan sisa orang-orang dimeja.


Bagi Agha hanya sekedar teman karena mereka memang belum mengenal cukup lama jika dibandingkan dengan Iby. Tapi tetap tidak menutup kemungkinan jika dilain hari Agha mulai merasakan perasaan yang berbeda bukan. “Sahabat Nana?”


“Iya!”


“Bawel,” ucap Agha tiba-tiba yang sukses membuat Iby tertawa.


“Haha. Nana emang bawel, tapi bawel juga ngga cuma ngomel-ngomel gak jelas. Nana kalau bawel tuh omongannya suka bener, tapi dia juga orangnya perhatian. Iby sendiri tidak sadar kalau dia perhatian pada saya selama ini. Makanya dia berusaha banget buat ajak anda ngobrol dengan Nana,” bodoh! Iby malah keceplosan, apa Agha tahu kalau sebenarnya Nana bekerja keras?