Blanc Carnations

Blanc Carnations
48. Peduli



Sudah waktunya Agha pulang. Ah iya, Nana sempat menghubunginya kalau dirinya hari ini tidak bisa menjemput Nathan karena Rafa sakit. Nana meminta tolong Agha untuk menjemput Nathan di rumah mama katanya.


Agha bersiap untuk menjemput Nathan, mobilnya kini meninggalkan parkir kantornya. Dengan hati-hati Agha mengendarainya. Sebelum Agha pergi jauh, dia mengisi bensin terlebih dahulu. Setelah itu lanjut kembali ke tujuan yang dituju. Ternyata diperjalanan cukup macet, mungkin juga karena hari akhir minggu jadi banyak sekali orang-orang yang keluar dari rumahnya. Wajar saja sih, sore hari waktunya para kantoran pulang, belum lagi banyaknya anak muda yang menggunakan waktunya untuk keluar rumah bersama temannya atau bersama pasangannya. Agha jadi berfikir kalau akhir-akhir ini juga dia tidak lagi bermain berdua dengan Nana. Entah itu ketempat yang ramai, sejuk atau yang lain. Karena masing-masing dari kami juga sudah tidak memiliki waktu luang yang panjang seperti sebelumnya. Kami sudah sibuk dengan masing-masing. Sama sama mencari pemasukan untuk kebutuhan keluarga dengan keras. Jika saja ada kesempatan sekali dalam hidupnya, Agha ingin membawa Nana jalan-jalan menyusuri kota, atau bisa dengan muncak bareng. Sepertinya seru! Sudah lama juga kan kami tidak muncak bersama. Agha sangat merindukan moment-moment itu. Apakah nanti Nana akan mau jika Agha mengajaknya berjalan berdua? Takutnya Nana pasti memikirkan anak-anak dan malah mengajak mereka. Tidak keberatan, namun ingin sekali saja bisa menikmati waktu berdua bersama Nana. Maka dari itu Agha haru bekerja lebih keras lagi agar mendapati waktu libur haha. Supaya bisa mengajak Nana pergi bersama.


Sesampainya di rumah mama, ternyata Nathan sudah tertidur disana. Dia mengantuk karena menunggu ayahnya datang menjemputnya. Agha menjelaskan pada mama kalau dijalan macet karena akhir pekan juga dan sore hari jadi wajar saja.


Agha menggendong Nathan dengan hati-hati dan membawanya ke dalam mobil. Mama juga sudah mendengar kalau Rafa sakit, dia menitipkan pesan semoga lekas sembuh dan kalau diantara Nana atau Agha butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi mama. Siapa tahu mama bisa membantunya. Agha mengerti dan pamit pergi pada mama.


Selama perjalanan pula Nathan masih tertidur, mungkin dia sangat lelah. Bermain dan belajar dengan temannya. Ah iya, sudah lama juga Agha tidak mengantar Nathan pergi ke sekolahnya. Mungkin saja besok atau lusa ia sempatkan untuk mengantar Nathan ke sekolah. Semoga saja ada waktu sempat.


Saat Agha sampai di rumah, ia melihat Nana tertidur di samping Rafa dengan masih memegang kain sampingnya. Sepertinya dia tadi mencoba untuk menidurkan Rafa. Agha menidurkan Nathan terlebih dahulu, lalu ia mengecek dahi Rafa. Tidak terlalu panas, Agha merasa panasnya sudah mereda. Tapi saat ia memegang tangan Nana untuk membangunkannya, terasa hangat. Mungkin bisa jadi karena cuacanya yang dingin jadi tubuh Nana terasa hangat. Nana terbangun dan bangkit dari ranjangnya sambil mencoba untuk sadar sepenuhnya.


“Sudah pulang?” lirih Nana.


“Iya. Kamu ngga apa-apa kan, Na?” Nana mengangguk, namun Agha memastikan kembali keadaan Nana dengan mengecek dahinya. Terasa sangat panas. “Lho kamu demam, Na!” ucap Agha panik.


“Masa sih? Nana sehat-sehat aja kok padahal.” Nana juga mengecek dahinya, lalu membandingkannya dengan dahi Agha. Ternyata dahinya panas. “Kok panas sih, Gha?”


“Kamu demam, Na. Suara kamu juga kayak yang berat gitu, sakit. Nana makan eskrim atau minum minuman dingin kah?”


Nana menonjok bahu Agha, “Sembarangan! Nana kan udah ngurangin itu karena kamu, Gha. Gimana sih.”


Malamnya Agha kembali mengerjakan beberapa pekerjaannya yang belum selesai karena kliennya dan penyelesaian rekan kerjanya baru bisa diselesaikan malam hari. Dia terbangun sampai pukul sepuluh malam, setelah semuanya beres, Agha juga ikut tidur di samping Nana. Tangannya memeluk leher Nana sambil mengelus-elus kepalanya. Agha khawatir kalau sudah banyak yang sakit di keluarganya. Ia juga merasa bersyukur Tuhan memberi kesehatan pada Agha dan juga Nathan, jadi ada seseorang yang merawat mereka. Agha jadi ragu untuk pergi bekerja besok. Apa lebih baik Agha meminta tolong mama untuk merawat mereka berdua saat Agha pergi kerja? Ya sebaiknya seperti itu.


**


[D-1 Sebelum Agha Kecelakaan]


Paginya Agha menghubungi mama untuk meminta mama datang kerumah, merawat Nana dan Rafa. Setelah mama mendengar bawa Nana sakit, beliau menjadi panik. Dengan tergesa-gesa mama bersiap untuk pergi ke rumah. Padahal Agha sudah meminta mama tenang dan tidak usah terburu-buru juga.


Agha membangunkan Nathan untuk bersiap sekolah. Dia bertanya heran, tumben sekali yang membangunkan Nathan adalah ayahnya bukan bunda. Agha menjelaskan kalau bunda demam, dia butuh istirahat. Nathan mengangguk mengerti, dia segera membasuh diri. Begitupun dengan Agha, bersiap diri dan mempersiapkan barang-barang sekolah Nathan.


Sembari menunggu mama datang, Agha dan Nathan sarapan dengan roti bakar buatan Agha. Terlihat sedikit ada gosongnya tapi tidak apa-apa, Nathan juga tidak memintanya untuk membuat ulang. Karena sayang kalau rotinya dibuang. Sama sama enak kok. Agha lega ketika mendengar penjelasan Nathan. Dia mengacak-acak rambut Nathan, “Anak pintar,” puji Agha.


Tak lama kemudian mamapun datang dengan membawa bubur yang ia beli di sekitaran komplek. Mama kalau sekalinya panik, dia pasti membeli sesuatu dengan banyak. Ada-ada aja mama ni. Agha dan Nathan pamit pergi.


“Udah lama juga ayah tidak mengantar Nathan seperti sekarang,” ucap Nathan tiba-tiba.


Agha tertawa, “Iya nih, ayah baru sempat lagi. Maaf ya.”


Nathan menggeleng, “Tidak apa-apa ayah. Ayah kan sibuk bekerja, Nathan tidak apa-apa. Walaupun sekalinya ayah mengantar Nathan, Nathan senang bisa bersama ayah. Nathan berharap bisa seperti ini lagi kedepannya, kalau ayah sempat. Kalau tidak juga tidak apa-apa.” Agha tersenyum bangga pada Nathan. Di usianya yang masih sangat muda ini bisa mengerti dan peka dengan keadaan. Agha sudah terbaca kalau Nathan kedepannya akan sukses melebihi ayah bundanya.