
Ada suatu kejadian saat Agha di kampus saat dirinya masih menjadi mahasiswa baru, kebanyakan orang sudah memiliki dan mengenal dengan teman-teman yang lain. Sementara Agha masih belum berkenalan satupun dengan salah satunya. Tapi saat ada seorang pria yang mencoba untuk berkenalan dengan Agha, dia melihat Agha seperti orang yang jutek atau judes. Namun sebenarnya tidak, Agha memberikan timbal balik pada pria itu. Sebelum pria itu berkenalan dengan Agha, Agha sudah mengetahui bagaimana sikap dan perilakunya. Dengan begitu Agha diam-diam memperhatikan gerak-gerik setiap orang dan dia mencoba untuk menyesuaikan setiap kali berbincang dengan orang lain. Karena itulah Agha mendapati teman, namun bukan berarti teman dekat. Hanya teman. Cukup itu saja.
Pandangan orang lain setelah mengenal Agha menjadi nyaman. Tidak terlalu canggung seperti berkenalan dengan yang lain. Namun sebenarnya Agha terkadang merasa canggung, tapi orang lain tidak bisa melihat dan merasakan perasaannya. Agha juga tidak pernah memperlihatkan dengan sikapnya jika terjadi sesuatu padanya, pada perasaannya maupun pikirannya. Beberapa wanita mengincarnya, tapi tahu sendiri kalau Agha bersikap cuek sekali pada wanita. Bahkan setelah beberapa semester akhir, Agha Lebih sering memperlihatkan rasa sukanya pada seseorang. Dia sengaja berbuat itu agar wanita yang lain tidak mendekatinya lagi. Cukup lelah juga setiap saat, tidak setiap saat juga tapi lebih sering di dekati oleh banyak wanita lain. Cara yang dipakai Agha sudah cukup ampuh, berhasil.
Teman dekatnya Agha sendiri saja tidak tahu kalau Agha menyukai seseorang. Ah, Agha masih belum menerima kata ‘teman dekat’ hanya saja dia orang yang sering bersama Agha akhir-akhir ini.
Agha sebagai teman berbincangnya, karena dia sama sekali tidak pernah memberinya ruang untuk menjadi teman sejatinya. Kalau dia ingin berbincang pada Agha, ya Agha akan menanggapinya.
Tapi kalau tidak, ya tentu saja tidak. Ngga usah ambil ribet juga, toh dia sendiri tidak merasa risih atau tidak nyaman dengan sikap Agha. Malahan dia sering sekali memaksa Agha untuk membuka mulutnya agar berbicara.
Tetap saja mau dipancing pakai apapun tidak berpengaruh pada Agha. Tapi Agha cukup bersyukur juga sih dia selalu membuntuti Agha, Agha menjadi dapat informasi yang ia tidak ketahui. Cukup bermanfaat juga, ya terkadang awalnya Agha kira informasinya tidak terlalu penting. Namun ternyata itu sangat berguna untuk menjadi ide dalam kegiatan Agha yang lain haha.
**
Bukannya menyemangati Agha, tapi Ray malah meledek Agha. Dia tertawa Ketika mendengar respon orang-orang mengenai perbedaan sikap Agha. Teman kurang ajar memang.
Dari kejadian itu Agha membalas dendam pada Ray. Perbuatannya bukan untuk mempermalukan Ray padahal, melainkan hanya balas dendam biasa. Tapi bisa sampai tahu banyak orang. Untungnya beritanya tidak seluas sampai semua fakultas atau jurusan, hanya di fakultasnya dan itu juga orang-orang yang sudah akrab dengan Ray. Dapat dilihat bahwa Ray pertemanannya lebih banyak dibandingkan dirinya, tapi Agha masih tidak mengerti mengapa dia memilihnya dibandingkan orang lain? Dia sendiri tahu betapa cueknya sikap Agha dan dinginnya sikap Agha. Tetap saja Ray Lebih memilih Agha dibandingkan yang lain. Katanya Agha orangnya tidak di ambil ribet dan seadanya saja. Tiap kali Ray bercerita pada Agha, dia selalu bilang untuk tidak menceritakannya pada orang lain berkali-kali sampai Agha sendiri merasa risih dan Agha bilang dengan nada tegasnya bahwa dia tidak akan membagikan ceritanya pada orang lain. Lagian untuk apa membocorkannya pada orang lain? Membuang-buang suara saja. Toh Agha juga bukan termasuk orang yang suka gossip. Tapi kalau soal mendengarkan cerita orang lain, Agha jagonya. Telinga Agha sangat tajam jika ada seseorang yang sedang menggosip. Kalau ceritanya yag tidak bermanfaat, Agha pastinya aka mengskip. Tidak berguna juga. Agha Lebih menangkap dengan informasi yang lebih berguna terutama untuk dirinya. Ya contohnya saja Agha jadikan sebagai ide untuk setiap tugas nya kalau-kalau dia mentok dan habis idenya. Berguna bukan? Haha. Agak lucu tapi ya memang ini nyatanya.
Respon dosennya juga cukup bangga dengan Agha karena tulisannya. Agha pernah disuruh untuk membuat essai, dan Agha dapat juara pertama yang ternyata dia melakukannya untuk lomba tingkat kampus. Lomba kecil-kecilan tapi cukup membuat dirinya menjadi kebanggaan sendiri. Agha menemukan keahlian tersembunyinya haha. Padahal Agha sebenarnya lebih menyukai fotografi.
Ah, Agha terkadang kalau dirinya merasa bosan ia curi-curi kesempatan untuk memfoto sesuatu apapun itu. Dan hasilnya terlihat cukup bagus. Berkali-kali Agha seperti itu, hasil fotonya semakin terlihat makna dan adanya isi dalam fotonya. Tapi ada kalanya dia ketahuan memfoto sesuatu oleh salah satu mahasiswa di fakultasnya. Dia melihat hasil jepretan yang Agha ambil itu sangat bagus dan tiba-tiba saja dia meminta Agha untuk menjadi panitia dokumentasi. Sempat menyesal tapi tidak apa-apa. Tidak ada salahnya untuk mencoba dulu bukan? Haha.
Agha cukup terkejut dengan acaranya. Dia pikir perannya sekedar untuk dokumetasi biasa, tapi nyatanya lain. Acaranya itu bisa terbilang besar karena dengan melihat beberapa bintang tamu yang panitia undang itu rata-rata influencer terkenal. Agha tidak tahu bagaimana dengan yang lain, namun Agha tahu dengan orang-orangnya. Padahal terlihat dari luar Agha seperti orang yang tidak tahu dengan kemajuan zaman dan masalah-masalah lain atau informasi apapun dalam dunia teknologi karena Agha terlihat jarang sekali terlihat mencari informasi atau scroll apapun di ponselnya. Agha lebih sering terlihat dengan pekerjaannya dan terkadang juga terlihat sibuk dengan hal lain. Namun nyatanya Agha juga bisa mengetahui itu semua. Toh informasi tidak hanya dari ponsel saja bukan? Bisa didapatkan dalam koran berita, televisi, dan iklan-iklan di jalanan. Kadang juga kalau Agha menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku, ia terkadang membaca hal random lain di sana. Dia tertarik untuk membacanya karena judul dan kalimat singkat di belakang bukunya.
Dengan kematian ayah Agha, Agha juga Lebih menyibukan dirinya dengan kampus disbanding dengan pekerjaan mamanya. Mungkin juga mama sudah merasa kesal dengan sikap Agha yang terus menerus mengabaikannya dan tidak mematuhinya. Maka dari itu semakin kesini jarang sekali adanya percakapan diantara Agha dengan mamanya.