
Acara pun berlangsung selama tiga jam. Yang tak lupa berisi sambutan dari ketua pelaksana, dan ada beberapa penyampaian dari tamu undangan. Setelah itu lomba pun dimulai.
Tiga jam lebih berlalu, Jesy telah menyelesaikan olimpiadenya. Akhirnya Ia bisa terbebas. Tinggal menunggu pengumuman dua hari kedepan, lolos atau tidaknya. Semoga saja Jesy bisa lanjut sampai ke olimpiade tingkat nasional.
Seharusnya Agha menjemput Jesy, tapi setelah ditunggu-tunggu kurang lebih selama setengah jam tidak ada batang hidung Agha yang terlihat. Hal yang tidak memungkinkan kalau Agha lupa dengan janjinya. Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? Eey Abang ngga sampai segegabah itu. Dia bukan tipe orang yang ceroboh.
Jesy menelepon abang pun tidak diangkat. Yang ada hanya pesan dari Nana. Memang Nana saja yang pengertian. Apa mungkin Jesy harus mencoret abangnya dari kk dan menggantikannya dengan Nana? Ide bagus! Eh jangan deh, nanti abang nangis-nangis mohon sama Jesy haha.
Nana menyuruh Jesy untuk datang ke cafe notes. Tapi tetap sama saja bukan, sih? Pergi ke cafe sendirian sama saja.. tapi gapapa deh.
Setelah Ia sampai di cafe, Jesy mencari keberadaan temannya itu. Dia melihat dengan seksama, namun tidak terlihat. Yang ada tiba-tiba seseorang menutup mata Jesy dari belakang.
“Ini Nana hehe..” bisiknya. Untung saja Nana, takutnya orang lain yang melakukan ini.
Nana membawa Jesy ke tempat yang sudah Ia booking di pojok cafe. Pantas tidak terlihat karena terhalang tembok besar, terlebih tempatnya tertutupi tangga. Saat Nana melepaskan tangannya, terdengar jelas suara popper confetti yang berhasil membuat dirinya terkejut.
“Selamat Jesy telah bekerja keras!!” ucap bersamaan.
Mata Jesy perlahan terbuka, hal yang paling membuatnya terkejut adalah dengan keberadaan abangnya.
“Loh abang?” sontak Nana dan Iby terkejut. Nana tidak menyangka, ternyata adik Agha yang sekolahnya sama dengan Nana itu adalah Jesy!
**
Bab 27 : *Kecerobohan Nana*
_Blanc Carnations_
_*(Salinan Bab Yang Udah Direvisi)*_
Jesy merasa dirinya dikhianati oleh teman dan abangnya sendiri. Bagaimana bisa mereka kenal? Dan yang paling Jesy kecewakan adalah kenapa abangnya tidak memberitahu Jesy kalau dirinya kenal bahkan bisa dibilang dekat dengan Nana? Abang tahu kalau Nana temannya Jesy, begitu pun sebaliknya.
Bisa-bisanya abang tidak mengucapkan satu kalimat pun pada Jesy. Dan ternyata selama ini yang membuat abangnya bertingkah aneh di rumah itu karena Nana. Jesy sangat menerima kalau yang berada disisi abangnya itu Nana. Karena Jesy juga tahu bagaimana Nana, Ia merasa mereka sangat cocok. Jesy kurang tahu bagaimana sikap mereka saat bersama.
Tapi ketika melihat Nana berinteraksi dengan abangnya, tidak ada rasa canggung diantara mereka. Bahkan Nana senang berbincang dengan abang, walaupun tanggapannya tidak seheboh orang-orang.
Agha pernah sekali bercerita pada Jesy, bahwa dirinya memiliki perasaan yang aneh. Itu menjadi pengalaman pertama bagi abangnya. Sebelumnya dia tidak pernah merasa seperti ini, jadi wajar saja dia merasa salah tingkah sendiri di rumah.
Setelah kejadian itu, abang akhir-akhir ini sering bercerita pada Jesy. Ia juga terkadang meminta pendapat dan saran.
Jesy mendengar cerita Agha mengenai Nana. Ia bercerita seperti dirinya tertarik pada Nana. Setiap nada bicaranya terdengar berbeda. Mungkin bisa saja itu hanya perasaan Jesy. Agha bercerita bagaimana cerewetnya Nana, yang terkadang dia sebal karena Agha tidak menanggapinya.
Ia terkejut dengan perilaku Nana yang begitu lembut, Jesy setuju dengan ucapan Agha. Lalu Agha bilang kalau Nana ceroboh. Ia selalu lupa dengan barang yang Ia simpan sendiri ketika bersama Agha. Seperti saat Agha menemani Nana mengerjakan tugas laporan di taman kampusnya.
Saat itu Agha menemani Nana di taman kampus. Agha lihat Nana masih bersama teman-temannya disana, dengan tak ragu Agha menghampiri Nana. Namun temannya sadar akan kedatangan Agha. “Agha datang tuh, Na,” katanya.
Nana yang sibuk pada laptopnya kini menoleh dan melihat Agha sambil tersenyum. “Ayo duduk aja Gha. Tunggu bentar, ya,” ucap Nana sambil membersihkan tempat duduk di sebelahnya yang kosong.
Teman-teman Nana begitu pun dengan Nana tengah sibuk mengerjakan laporan. Sebenarnya Agha tidak merasa keberatan menunggunya sampai selesai, Agha tentu tidak mempersalahkannya.
Agha berbisik. “Butuh bantuan?”
Nana menengok. “Ngga usah, Gha. Gapapa,” jawabnya.
“Na, aku udah mengerjakan bagian bab satu. Udah ku kirim ke kamu lewat email. Tolong periksa ulang, takutnya ada yang terlewat,” ucap salah satu temannya.
“Oke, bentar Nana cek dulu!" Nana mengecek file dokumen yang diberikan temannya dengan seksama.
Sambil mengisi kebosanan, Agha pergi ke minimarket yang dekat dengan kampus Nana untuk membeli beberapa cemilan dan minuman karena melihat stok makanan yang mereka bawa sudah menipis. Mengingat bahwa Nana sering meminum susu coklat, Agha tak lupa untuk membelinya.
Namun akan tetapi saat Agha kembali, teman-temannya Nana sudah tidak ada. Perasaan Ia keluar cuma sebentar deh. Ternyata Agha telat membeli makanan untuk mereka. Ia sayang dengan seluruh makanan dan minuman yang dibelinya. Kalau dibawa juga tidak mungkin akan habis, jadinya Agha membagikan pada beberapa warga kampus.
“Kenapa ngga kasih tahu Agha?” tanya Agha sambil membenarkan posisi duduknya sebagai sopir.
Nana sibuk sendiri dengan ranselnya, membuat dirinya lupa tidak memakai sabuk pengaman. “Hah? Oh iya! Lupa maaf..” jawab Nana seperti orang linglung, dia merasa ada sesuatu yang tertinggal.
“Kenapa?” Nana menggeleng pelan.
“Ngga gapapa, tapi Nana rasa ada yang tertinggal tapi gak tau apa itu,"
“Udah lengkap deh perasaan Na,”
“Iya kali ya, udah lengkap?”
Baru saja mobil Agha sampai di depan rumah Nana, Nana baru teringat kalau flashdisknya tidak ada di dalam tas kecilnya. Agha membantunya dengan mencarikannya di setiap celah mobil, takutnya terselip atau jatuh. Dan hasilnya nihil.
“Udah tanya temen kamu?” bisa jadi flashdisk Nana ada pada temannya.
Seingat Agha juga sebelum pergi ke minimarket, Nana memberikannya pada salah satu temannya.
“Eh?” Nana dengan cepat merogoh tas kecilnya, mengambil ponsel lalu menghubungi temannya. Ternyata dugaan Agha benar, flashdisknya ada pada temannya.
“Kamu sendiri lho Na, yang kasih flashdisknya ke temen kamu,” Agha menggeleng-geleng.
Nana cengengesan. “Gitu ya? Maaf Nana gafokus," Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nana Nana.. lucu banget si?" Agha mencubit pipi gembul Nana. Seketika hati gadis itu menghangat. Ohh.. apakah dunia boleh iri dengan keberuntungan Nana mendapatkan Agha?
"Ih Agha jangan gitu.." ucap Nana memalingkan muka merah nya.
Agha semakin semangat menggoda. Lelaki itu tertawa kencang melihat semburat rona merah di kedua pipi gadisnya.