Blanc Carnations

Blanc Carnations
11. Menunggu Lama



Hari ini aku bergantian berjaga dengan mama. Padahal awalnya aku menolak kalau mama yang menjaga Agha takutnya kelelahan.Tapi ya bagaimana lagi mama orangnya keukeuh jadi mau tidak mau aku mengalah.


"Mama pergi ya, Na. Hati-hati dirumah. Kalau mau masak bahan-bahannya ada di dapur lengkap, kalau kamunya mager pesan aja makanan," ucap mama sambil membereskan barang yang Ia perlukan untuk menginap di rumah sakit.


Aku mengangguk. "Iya ma, pasti! Terimakasih banyak," ucap ku sambil memeluknya erat-erat.


Mama pun pergi meninggalkan ku. Mobil yang Ia tumpangi kini sudah menancapkan gasnya.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, aku segera ke kamar untuk tidur terlebih dahulu. Lelah juga aku selama berhari-hari menjaga Agha. Apa aku keluar dari pekerjaan aku saja ya? Tapi nanti anak-anak gimana duh sudahlah, nanti saja aku pikirkannya. Toh izin cuti pun masih tersisa tiga hari lagi.


Sebelum aku menutup mata ku, aku membuka ponsel sebentar. Takutnya ada seseorang yang berkepentingan dengan ku. Ternyata saat ku cek email, banyak sekali pesan yang masuk. Bakal lebih banyak nih pekerjaan ku huft.


Mama Darel menghampiri ku, "Halo Nana. Bagaimana kabar mu?" tanyanya.


Ia adalah mama dari teman Nathan dan Rafa. Sebenarnya selisih Nathan dan Rafa tidak terlalu jauh, haya beda dua tahun. Namun kalau soal teman, Rafa lebih banyak bermain dan lebih mengenal teman Nathan. Bisa dibilang prinsipnya adalah teman Nathan teman Rafa juga. Begitulah, Mama Darel ini umurnya lumayan jauh dengan ku, sekitar berbeda enam tahun.


Tapi meski begitu aku bersyukur, mama Darel orang yang tidak ambil ribet dan ngga suka gosip. Beliau serba ada dan realistis, beliau juga bisa dibilang sebagai panutan ku. Sikap ku kepadanya ngga terlalu canggung, kami berdua cukup akrab. Bahkan beliau yang membantu ku mencarikan pekerjaan setelah Nathan masuk TK. Aku sangat berhutang budi padanya, bahkan saat aku menggantinya dengan membelikannya barang Ia menolak dan hanya bilang kalau dengan aku yang hidup sehat saja sudah cukup baginya. Mama Darel memang baik sekali padaku.


"Baik Mam.. Mam sendiri bagaimana kabarnya?" begitu aku memanggilnya.


"Tentu saja, baik Na. Syukur deh kamu baik-baik saja, kalau dengan Agha bagaimana?"


Bukannya aku tidak menyukai orang-orang yang bertanya tentang kondisi Agha sekarang bagaimana, tapi aku mencoba untuk menghindarinya. Karena aku sendiri pun bingung bagaimana harus menjawabnya, entahlah. Aku malah semakin kepikiran.


Aku hanya menjawab dengan tersenyum kecil, hanya dengan begitu Mam bisa paham.


“Bagaimana Rafa dan Nathan saat dikelas?” aku penasaran, karena sudah beberapa hari ini aku terlalu sibuk mengurusi Agha. Bahkan aku tidak sempat bermain maupun berbagi cerita dengan anak-anak.


“Mereka seperti biasa, Na. Aman, tidak ada hal yang mengganggu mereka belajar. Tapi memang ada satu hal yang akhir-akhir ini mam khawatirkan pada Nathan. Kadang Ia terlihat sendirian saat teman-temannya bermain dengan Rafa. Mam sendiri sudah mencoba bertanya padanya, tapi Nathan ngga ngasih jawaban. Sepertinya Nathan masih tidak bisa menerima dengan keadaan ayahnya yang sedang koma, Nana tahu sendirikan? Setiap Agha mengantar maupun menjemput anak-anak, dia selalu bermain terlebih dahulu di tempat lain. Dan memberikannya jajanan untuk melepas penat anak-anak akibat belajar di kelas hahaha.. Karena itu juga Nathan jadi terlihat sedih,”


Dengan mendengar penjelasan dari mam, hati ku terasa semakin sakit. Aku kira hanya aku yang terlihat terpuruk dengan keadaan Agha, nyatanya Nathan juga ikut merasakan hal itu.


Apa yang ku pikirkan semalam tentang pekerjaan, sepertinya aku akan lanjut bekerja. Aku tidak boleh hanya memikirkan Agha, aku juga harus memikirkan masa depan anak-anak. Ya! Benar! Aku dan Agha sudah berjanji untuk tetap berusaha demi masa depan anak-anak.


Nathan menghampiri ku, begitupun dengan Rafa yang menghampiriku dengan berlari ceria. Semangat yang Rafa miliki memang diturunkan dari ku. Haha tiba-tiba saja aku teringat saat aku selesai ujian nasional, yang dimana Agha berinisiatif menjemputku.


18 April 2013


Hari ini aku melaksanakan ujian nasional untuk masuk ke perguruan tinggi, semua energi hari ini ku keluarkan demi masa depan ku. Semangat!


“Harap simpan tas di depan kelas. Di atas meja hanya di perbolehkan ada kartu ujian, pulpen, pensil, dan penghapus. Selebih dari itu tolong simpan di tasnya masing-masing. Terimakasih!” ucap pengawas dengan nada yang tegas.


Tanpa basa-basi lagi kami langsung melaksanakan apa yang diperintahkan, kemudian duduk sesuai nomor urut yang sebelumnya sudah dibagikan saat pengecekan di luar kelas.


Huft.


Pengawas yang lain memberikan kami selembar kertas yang berisikan kolom identitas dan kolom jawaban. “Baik, jika semua sudah selesai, tolong isi identitas terlebih dahulu. Untuk memulainya ujian, akan kami beritahu setelah seluruh pelajar menulis identitasnya,” perintah pengawas utama.


Tak lama pun kami telah selesai mengisi identitas. Namun sebelum itu, aku memberanikan diri untuk mengobrol sebentar dengan seseorang yang tak jauh duduk di sampingku.


"Haloo, kakaknya darimana?” tanya ku dengan suara kecil.


“Halo juga, saya dari Bekasi. Salam kenal..” jawabnya dengan tersenyum.


“Hoalaa dari Bekasi toh, salam kenal juga ya. Ngomong-ngomong kakak ngerasa dingin ngga sih?” tanya ku penasaran.


“Ngerasa banget.. sedari tadi kaki ku ngerasa dingin ga berhenti-berhenti!” jelasnya.


Aku tertawa kecil. “Sama kak, yaudah deh semangat ya kak! Semoga lancar ujiannya!” aku memberinya sedikit dukungan agar merasa semangat dalam mengerjakannya.


Ia tersenyum lebar. “Kamu juga ya!”


Aku mengangguk dan tersenyum. Walaupun hanya dengan perkenalan singkat, setidaknya rasa kegugupan ku dapat berkurang sedikit. Dan akhirnya pengawas pun memberikan soal ujian.


“Baik, mari kita berdo’a terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, berdo’a dipersilahkan!"


Aku sangat berharap kalau ujianku hari ini lancar dan tidak ada kendala apapun. Apapun hasilnya, aku ikhlas. “Silahkan kepada semua pelajar untuk memulai ujiannya,"


Suara kertas soal pun mulai ramai terdengar, orang-orang mulai membuka lembar demi lembar kertas ujian. Dan dengan serius kami mengerjakan soal ujiannya.


Setelah berjam-jam bergelut dengan banyak soal, otak ku kini sudah tidak bersemangat lagi. Rasanya aku ingin banyak makan makanan dan minuman manis.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyodorkan air mineral padaku tepat di depan mata, Ia pun memunculkan kepalanya dengan miring dan tersenyum. Senyum ku merekah setelah melihat siapa orang itu, dia Agha.


“Ayo minum!” titahnya singkat.


Aku sedikit cemberut dengan ucapannya yang dingin. Namun aku juga senang dengan kedatangannya sambil memberi ku air mineral.


Segera aku ambil dari tangan Agha, lalu meminumnya hingga tandas. Kukira dia akan menunggu ku, namun dengan tanpa dosa dia meninggalkan ku saat aku sedang minum.


“Mau kemana?” teriak ku.


Agha berbalik lalu memberikan ku isyarat ‘makan’ dengan lucu. Aku tahu apa yang Agha maksud.


“Tunggu aku!” aku berlari mengejarnya seperti anak kecil haha.