
Aku membelinya di warung yang tak jauh dengan daerah komplek ku. Ini menjadi warung gado-gado satu-satunya yang menurut ku dekat dengan lokasi komplek ku. Walaupun lumayan jauh tapi bagaimana lagi hanya warung ini yang menjual gado-gado paling dekat dengan daerah komplek.
Kebanyakan di daerah sini lebih ke minimarket dan beberapa toko juga cafe kecil. Namun sangat disayangkan, harga menu pada cafe bisa terbilang cukup mahal untuk di daerah sini. Mereka menjual menu seperti sudah layaknya cafe mewah pada umumnya. Padahal menunya pun tak jauh berbeda dengan yang lain.
Aku sendiri tidak tahu apa yang membuat harganya begitu mahal.
Pernah Iby mengajakku makan di cafe itu, namun setelah lihat harganya seketika kepala ku jadi pusing. Dan seperti biasa, Iby mengajukan diri untuk membayarnya.
Daripada aku banyak berhutang budi padanya, lebih baik aku meminta untuk mengganti lokasi. Dan ya ujung-ujungnya kami makan di resto padang, kalau ini sih tak perlu dijelaskan lagi haha.
“Mama mu gimana kabarnya?” tanya ibu warung yang bernama Ningsih.
Aku tersenyum. “Baik, bu!"
“Syukur atuh ya, anak-anak sekarang pasti udah gede nih ya? Udah lama ibu ngga lihat anak-anak jajan kesini. Terakhir kali yang ibu ingat saat mereka jajan kesini sama suami kamu,"
Rasanya seperti menyayat jantung ku. “Haha iya, bu,"
“Suami mu sibuk kerja kah?”
Aku menelan ludah, masih belum berani memberitahu banyak orang tentang keberadaan Agha. Bukan karena takut dihina, dinyinyiri, atau apapun itu. Aku takutnya mereka jadi khawatir, terkadang itu menjadi bertambah pikiran ku. Tapi lebih baik aku berkata jujur saja kali ya?
"Agha dirawat di rumah sakit, bu!" Ibu terlihat sangat terkejut setelah mendengar kabarnya.
“Ya ampun, semoga lekas pulih ya, Na. Ibu disini pasti do’akan suami mu dan kamu juga semoga diberi kesehatan dan ketabahan. Kalau butuh apa-apa langsung kabari ibu aja, Na. Ibu pasti bantu kamu, tenang aja,"
“Terimakasih banyak bu atas do’a dan tawarannya. Semoga ibu juga selalu diberi kesehatan,” ujar ku.
“Aamiin. Sama-sama neng, terimakasih kembali,” Ibu Ningsih mengulurkan tangannya dengan memegang gado-gado yang sudah jadi.
“Ini neng Nana," aku segera memberikan uangnya. “Ini bu, terimakasih banyak,” kata ku dengan tersenyum.
Bu Ningsih menanggapi dengan senyuman juga. “Sama-sama neng, hati-hati dijalan!”
Aku berjalan menuju halte, cukup melelahkan juga berjalan sambil membawa barang. Namun tidak apa-apa, lumayan bisa menurunkan lemak pada tubuh ku haha.
Senang sekali rasanya aku bisa menemani anak-anak bermain di luar, setelah kesibukan ku mengurus Agha. Mama sendiri yang telah berjuang keras membujuk ku untuk menemani anak-anak, karena mereka membutuhkan ku dan biar dirinya yang menjaga Agha.
Saat setelah dari kantor, aku berkunjung sebentar pada Agha. Berpamitan padanya, izin untuk membagi waktu pada anak-anak dengan menemaninya bermain. Agar aku tidak merasa ada yang kurang saat aku asik bersenang-senang dengan anak-anak. Ku harap Agha bisa merasakan dan melihatnya dari sana.
Di sebrang halte, aku melihat anak-anak sedang duduk disana bersama mama. Ikatan anak dengan ibu pasti sangat kuat, Rafa menyadari kedatangan ku. Aku menyapanya dengan senang, begitu pun dengan Rafa sambil melompat-lompat. Sepertinya Ia sangat senang karena perjalanannya kali ini bersama bundanya sendiri.
Lampu lalu lintas telah menunjukan warna hijau, tandanya pengguna jalan kaki diperbolehkan menyebrang. Kala itu tidak ada yang ku pikirkan selain anak-anak yang excited akan perjalanannya dan kondisi Agha yang akhir-akhir ini telah memberikan kabar baik.
Perasaan ku menjadi sedikit lebih lega. Tempat yang ku tempati di ruang kecil ini dengan kedap udara, kini akhirnya aku bisa merasakan adanya kesegaran dan keleluasan dalam diri. Namun, ketika aku melihat wajah ceria Rafa yang sekarang menjadi hilang, membuat ku berfikir.
“Bagaimana dengan anak-anak jika tidak ada aku?”
**
Aku teringat saat dimana aku mengandung Nathan. Saat pertama kalinya aku senang mendapat kabar bahwa aku hamil, begitu pun dengan Agha. Dia selalu memanjakan ku, selalu membantu ku, dan selalu menjaga ku. Pernah suatu ketika aku membeli makanan pedas dan minuman dingin, yang berakhir dengan Agha yang memarahi ku.
Ya pantas, karena makanan dan minuman yang aku konsumsi sangat tidak baik untuk ibu hamil. Dia segera menggantikannya dengan membeli makanan sehat juga jus wortel yang di padukan dengan tomat.
Agha mengetahui kalau mat aku kurang sehat dan terkadang juga merasa perih atau buram tiba-tiba. Makanya kalau teringat, Agha pasti membelikan ku jus wortel mix tomat. Untungnya juga aku tipe orang yang bukan pilih-pilih, bukan yang apa-apa harus dengan kriteria dan kemauan ku. Aku orangnya bebas, asal ada batasannya, ngga terlalu berlebihan.
"Haahh.."
Makanan pedas dan minuman yang ku beli sekarang digantikan oleh Agha yang memakannya. Ia tahu kalau batasan level pedas ku itu cukup tinggi, tapi Agha tetap memakannya.
Katanya sayang kalau dibuang, uang ku jadi sia-sia. Tapi Agha pintar, dia menggunakan taktik ku untuk menetralisir rasa pedas dengan menambahkan gula. Dengan begitu rasa pedasnya tidak terlalu kuat.
Haha dia lama-lama menjadi mengikuti kebiasaan ku, tapi kadang juga sebaliknya hehe.
Di usia dua bulan kandungan ku, aku pergi berlibur bersama Agha. Hmm lebih tepatnya bukan hanya kami berdua yang pergi, namun dengan sepupunya Agha. Kami pergi ke gunung Galunggung, kebanyakan orang pasti sudah tidak asing dengan tempat ini, tidak salah lagi karena tempatnya berada di Tasikmalaya.
Kami memutuskan untuk menaiki tangga biru karena tidak terlalu ribet mungkin daripada tangga kuning.
Sepupu Agha lebih semangat menaiki tangga di bandingkan aku. Sementara Agha lebih mengutamakan keselamatan ku, makanya Ia membantu ku menaiki tangga.
Tentu saja aku tidak ingin kalah dari sepupu Agha, dengan semangat aku berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Terkadang juga kami istirahat sebentar untuk mengatur nafas, setelah itu kami kembali menaiki anak tangga.