Blanc Carnations

Blanc Carnations
23. Alasan Agha



Kedua kalinya aku gagal. Oke mencoba lagi tidak akan jadi masalah kan? Mungkin dua pukulan tadi aku tidak beruntung. Siapa tahu kali ini bisa!


Agha kembali ke tempatnya, Ia juga akan memukul. Dan lagi-lagi keberuntungan datang padanya. Agha berhasil memukulnya. Rasanya ngga adil!


Aku beradu tanding dengannya dan Agha pun menerimanya. Seorang pegawai menyalakan mesin untuk mengeluarkan bola, dan mengawasinya. Kalau-kalau terjadi kemacetan ditengah-tengah permainan.


Ah, aku meminta untuk tetap menyalakan mesinnya agar bola terus berdatangan. Aku percaya diri dan siap menerimanya. Agha sempat khawatir, tapi karena Ia tahu bagaimana sifat ku, jadi Ia membiarkan saja.


Permainan pun dimulai. Pukulan bola pertama gagal karena meleset, begitu pun dengan bola kedua, ketiga, dan seterusnya. Karena bolanya belum habis, aku tetap berusaha untuk memukulnya. Dari yang menganggap bola datang itu adalah Agha, kakak ku yang menyebalkan, begitu pun Jesy yang kadang membuat ku kesal.


Semenjak aku tahu kalau dia adik Agha, sikapnya jadi semakin menyebalkan. Tapi aku beruntung, Agha melindungi ku. Haha dia lebih lucu saat memarahi Jesy.


Aku tidak tahu ini bola terakhir atau bukan, saat memukulnya tiba-tiba saja aku memikirkan skripsi.


Ternyata aku berhasil menghasilkan suara pukulan, yang berarti bahwa aku berhasil memukulnya. Benar-benar terkejut!


“Agha liat? Liat kan! Nana berhasil memukul bolanya cuma gara-gara mikirin skripsi!”


Aku bersorak gembira dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Akhirnya aku berhasil memukul bola. Agha yang melihatnya ikut senang, tapi..


“Na! Awas!” dia berlari ke arah ku.


Aku tidak tahu kalau masih ada bola yang tersisa, dan sekarang bola itu mengarah pada ku. Berhasil mengenai dahi ku sampai aku terjatuh.


Agha mengobati dahi ku secara perlahan. Kami tidak berbicara dan itu membuat ku menjadi bingung, berkali-kali aku melirik Agha sebentar lalu melihat ke arah lain. Kondisi jantung ku saat ini sudah tidak stabil, dan akhirnya aku membuka percakapan untuk menutupinya.


"Agha liat kan, Nana berhasil mukul bolanya? Haha padahal dari pukulan pertama aku anggap bola itu Agha, tapi ngga berhasil. Terus kakak ku dan Jesy, tetep ngga berhasil juga. Bisa-bisa sampai aku anggap bola itu menyerupai teman-teman ku yang menyebalkan. Ternyata hasilnya nihil, sama aja. Eh gak tau kenapa Nana jadi teringat skripsi, dan ternyata berhasil!"


Aku menyombongkan diri dengan semangat hingga membuat senyum Agha merekah. Melihatnya tersenyum, aku jadi ikut tersenyum juga.


“Akhirnya Nana ada yang bisa dibanggakan juga selama ini,” lagi-lagi aku jumawa.


Agha selesai mengobati ku setelah Ia memasangkan plester pada bagian luka ku. “Lain kali hati-hati ya,” ujar Agha.


Bibir ku mengerucut mendengarnya.


“Dih lagian siapa yang pertama mengajak kesini? Udah Nana bilang ngga bisa main itu,” gerutu ku. Agha mendengarnya, Ia mengacak-acak rambut ku.


“Ih Agha!”


**


Iby merasa sakit setiap kali melihat Nana terbaring lemah. Ia kesal, kenapa Nana sangat keras kepala? Sangat susah untuk diberitahu, Nana malah menjadi ngeyel akhir-akhir ini.


Semua perkataan yang Nana katakan saat itu Iby menerimanya. Nana benar, seharusnya sekarang Iby menghilangkan perasaan lama itu. Entah sampai kapan perasaan itu bisa hilang selamanya, Iby pun tak tahu.


Nana terbangun dari mimpinya, Ia terduduk di atas ranjang.


“Terserah kamu, Na. Ini udah jadi keputusan Iby,” Iby menyiapkan meja kecil khusus pasien lalu menyiapkan makanan.


“Mama kamu yang menyuruh Iby untuk membelikan bubur gibas ini, dia ngga bisa jenguk kamu hari ini katanya. Ada beberapa urusan yang harus mama kamu lakukan terkait anak-anak," Nana yang baru saja minum dari gelas, matanya kini sedikit terbelalak.


“Bukan apa-apa, katanya terkait kegiatan luar selanjutnya sama pembagian undangan ulang tahun,” jelas Iby.


**


Seminggu sebelum pernikahan, aku dan Agha sempat bertengkar karena ada hal dari diri kita yang tidak diungkapkan hingga membuat kita salah paham dan salah pengartian. Dan ku kira apa yang sudah aku lakukan itu, Agha mengetahuinya.


Namun nyatanya tidak. Agha tidak pernah mendapat kabar bahwa aku memesan hotel untuk saudara Agha menginap dua hari sebelum pernikahan kami terlaksana. Dia sendiri yang meminta tolong pada ku untuk memesankan hotel. Padahal sebelum aku memesankan mereka hotel, aku memastikan kalau mereka sudah menghubungi dan memberitahu Agha.


Dia juga memberi ku bukti berupa pesan dia pada Agha. Tapi aku heran bagaimana bisa Agha tidak mendapatkan pesannya? Jelas-jelas dia memberi ku bukti nyata yang terlihat waktu pengiriman pesannya.


Dalam beberapa hari juga Agha sempat mengabaikan ku, tidak lama. Agha masih merasa kesal pada ku. Aku sendiri pun tidak bisa menyalahkan saudaranya, dan pastinya aku juga salah karena tidak memberitahu Agha lagi walaupun dia sudah mengirimkan pesan pada Agha.


Kemudian ada masalah pada mc kami untuk di acara resepsi. Ia memberitahu ku bahwa dirinya bentrok di hari itu, tapi beda cerita lagi saat Ia memberitahu Agha. Yang katanya bahwa Ia bisa. Aku tidak mengerti, mengapa dia memberi kami cerita yang berbeda.


Dan aku khawatir kalau dia benar-benar tidak bisa datang saat hari resepsi tiba. Entah apa yang dipikirkan Jesy, dia merekomendasikan Iby untuk menjadi pengganti mc. Memang sudah lama juga aku tidak berkontak dengannya karena aku sibuk mengurus pernikahan ku.


Kalau aku tiba-tiba meminta bantuan Iby seperti ini bukannya malah jadi ngga sopan? Sempat Ia mengajak ku bertemu, namun aku selalu menolaknya. Bukan karena aku ngga suka, tapi saat itu aku masih memikirkan persiapan untuk pernikahan.


Dan juga ada beberapa masalah pada pekerjaan sementara ku. Ingin rasanya aku bercerita pada Iby tentang masalah ku yang sedang aku alami. Namun aku mengurungkan niat ku karena takut menganggu Iby. Toh yang punya masalah ngga hanya aku saja, bisa jadi Iby sedang mengahadapi masalah juga saat itu.


Hingga pada akhirnya setelah aku mencari kemana-mana, teman sma ku bersedia untuk menjadi mc di pernikahan ku. Sudah ku siapkan matang-matang, setelah itu aku memberitahu Agha.


Selang beberapa waktu Agha tidak setuju dengan keputusan ku, dan aku menyuruhnya untuk memastikan kembali mc itu. Ternyata memang benar dia bentrok dengan acara lain, dan mengakui kalau dia tidak memberitahu hal yang sebenarnya pada Agha.


Karena Ia mengira acara dia akan batal, namun tetap terlaksana. Jadinya tidak bisa menjadi mc di acara ku, dan keputusan ku disetujui oleh Agha.


Aku menuruni anak tangga dengan lemas, lelah juga ternyata.


“Na! Ayo makan!” sahut mama dari meja makan. Aku tersenyum melihatnya.


Ada notif pesan pada ponsel ku.


Aghaku. "Cepat siap-siap!"


Hah? Tunggu! Jangan bilang…?


Seseorang mengetuk pintu, mama pun segera membukanya. Dugaan ku benar.


“Na! Ada Agha, nih!” teriak Mama.