Blanc Carnations

Blanc Carnations
10. Wisuda



Lina menjamu ku dirumahnya, Ia sengaja mengundang ku. Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke rumah mama Lina. Terakhir kali kami berkunjung sekitar lima bulan yang lalu. Mama Lina lebih sering mengunjungi kami, maka dari itu kami jarang berkunjung ke rumahnya.


Setelah dua tahun kepergian Rafli -ayah Agha, selain mengurusi perusahannya, mama Lina kini menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan sosialisasi masyarakat. Beliau lebih sering berada di luar, makanya setiap selesai dengan pekerjaannya Ia selalu berkunjung ke rumah kami terlebih dahulu. Sempat kami menawarkan untuk tinggal di rumah mama Lina untuk sementara, tetapi beliau menolak. Katanya tidak ingin merepotkan kami. Hanya dengan kedatangan mama Lina ke rumah kami pun sudah cukup baginya.


Aku dan mama Lina kini duduk di balkon, menikmati suasana alam di siang hari sambil meminum teh manis buatan mama Lina. Walaupun air hujan terus berjatuhan, namun rasanya masih tetap menyegarkan. Langit saat ini sedikit gelap, mendukung dengan apa yang aku rasakan sekarang.


“Agha anak yang kuat, Na. Mama tahu banget Agha,” ucap Lina tiba-tiba.


Aku tidak menanggapinya, hanya menikmati minuman buatannya. “Mama tahu kalau sikap mama pada Agha itu salah, mama nyesel sama semua yang mama lakuin terhadap Agha dan juga Jesy. Waktu papa meninggalpun, Agha selalu tersenyum pada kami. Mama tahu kalau itu bukan senyum asli, tapi mama sangat mengakui usahanya. Mama juga tahu, bukan mama saja yang merasakan jatuh atas kehilangan papa. Tapi banyak sekali pemikiran yang membuat mama jadi kesal sendiri, mama terkadang memarahi Agha ataupun Jesy kemudian menangis lagi. Hanya Agha yang dengan berat hati membantu mama bangkit kembali. Sampai Agha menikah denganmu, mama lihat Agha masih tetap terlihat tegar. Adanya berbagai masalah pada keluarga kami, Agha bisa melalui itu semua. Walaupun mama tidak tahu banyak bagaimana Ia bisa menyelesaikannya dengan tenang. Mama tahu, Agha pasti lebih banyak bercerita pada Nana. Sedih sih, tapi tidak apa-apa,” jelas mama Lina.


Perkataan mama Lina benar, Agha lebih banyak bercerita padaku mengenai masalah yang Ia lalui. Ia juga bilang untuk tidak memberitahu mama, karena Agha tidak ingin mamanya menambah pikiran lagi, Agha tahu betul itu.


“Nana sendiri juga ngga nyangka, ma. Ternyata dibalik sosok Agha yang dingin ada sisi menyedihkan juga. Nana terlalu larut dalam kesenangan dengan apa yang Agha berikan,” ucapku.


Kami sempat terdiam sebentar lalu mama Lina mengajak ku ke kamar Agha.


“Setiap kamu kesini, kamu sama sekali belum pernah memasuki kamar Agha. Kebetulan hari ini mama undang, jadi puas-puasin diri kamu di kamar Agha. Istirahat saja dulu disini, baru kamu kembali ke rumah sakit. Mama tinggal ya, kalau mau pergi jangan lupa kunci pintu. Kuncinya bawa saja, nanti mama nyusul kamu ke rumah sakit sekalian jenguk Agha,” kata mama Lina.


Aku mengangguk dan tersenyum tulus pada mama, “Terimakasih banyak, ma.."


Mama Lina pun pergi meninggalkan Nana. Aku terduduk di atas ranjang, ternyata begini kamar Agha. Design interior kamar Agha cukup minimalis dan sederhana. Tidak banyak warna, juga pajangan. Kamar Agha yang dominan berwana hijau fern, yang dimana warna hijaunya terlihat seperti tanaman pakis. Agha hanya memajang sebuah foto dengan frame kecil yang diletakkan di atas meja. Ku ambil foto itu, ternyata itu foto dirinya dengan Jesy dan aku saat Agha lulus kuliah.


Senyum ku merekah melihatnya. Disana hanya aku dan Jesy yang tersenyum lebar, sedangkan eskpresi yang Agha berikan datar. Padahal dirinya yang lulus, tetapi hanya aku dan Jesy saja yang terlihat senang. Saat aku hendak meletakkannya kembali, aku melihat ada yang janggal dengan framenya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal disana, aku langsung membukanya. Ternyata ada selembar kertas, ku buka kertas itu lalu ku baca isinya.


'Hari ini aku lulus kuliah, tidak terasa juga ternyata.


Aku senang dengan kedatangan Nana. Dia sempat meminta pendapatnya tentang pakaian apa yang harus Ia pakai saat di hari kelulusan ku, dan ku bilang senyaman Nana. Aku memang tidak mengharapkan banyak, apapun yang Nana kenakan aku tetap menyukainya.


Asalkan itu Nana, sudah sangat cukup bagiku. Awalnya juga aku berencana setelah acara kelulusan selesai, aku akan melamar Nana. Tapi aku mengurungkan niatku saat aku melihat Nana datang menghampiriku. Aku sangat terkejut karenanya. Jantungku tidak berhenti berdetak, rasanya seperti Nana terus menyerangku. Alasan itulah yang membuatku menunda melamar Nana. Aku tahu Nana baru setahun kuliah, makanya aku menahan diri. Entah sampai kapan, tapi kedepannya aku akan lebih mematangkan rencana dan mengambil waktu yang tepat untuk melamar Nana. Ku harap tidak ada masalah sampai saat itu'


Aku terkejut dengan isi suratnya, alasan mengapa Ia tidak memberikan tanggapan yang lebih seperti biasanya, ternyata karena itu. Kupikir saat itu Agha tidak menyukai kedatanganku karena pakaianku, ternyata akunya saja yang terlalu berfikiran negatif.


____


12 Maret 2013


Jesy mengirimku sebuah pesan, aku langsung membukanya.


Jesy : "Kamu udah beli hadiah buat Agha, kan?"


Nana: "Udah. Tapi aku bingung, dia bakal suka ngga ya? Takutnya ngga sesuai sama keinginan Agha,"


Nana : "Yaudah deh, aku siap-siap dulu ya,"


Jesy : "Oke! Aku tunggu di gedung B-blok D,"


Aku segera mempersiapkan diri untuk datang ke kelulusannya Agha hari ini, mencari pakaian yang cukup cocok denganku. Agha bilang lebih baik aku memakai pakaian yang senyaman aku, tetapi tetap saja aku bingung harus memakai pakaian yang mana. Terlalu banyak pakaian formal dalam lemari ku, dan semuanya bagus-bagus. Akhirnya aku memutuskan menggunakan dress berwarna putih tulang, kuharap ini tidak aneh saat sampai disana.


Kemudian aku mempersiapkan hadiah untuk Agha dengan memasukan kadonya pada sebuah tas kertas kecil berwarna coklat. Semoga saja dia menyukainya. Setelah semua selesai, aku pun langsung pergi menuju lokasi.


Mama yang mengantarkan ku kesana, katanya sekalian karena Ia ada keperluan diluar. Daripada aku berangkat dengan taxi kan jadi sayang sama uangnya, tapi sebenarnya aku yang memaksa mama untuk mengantarkan aku sih hehehe.


Akhirnya aku sampai di lokasi setelah berpamitan pada mama. Ponselku berdering, nama Jesy tertera dilayar dan langsung mengangkatnya.


“Halo Jesy?”


"Nana sekarang dimana?"


“Aku baru sampai, ini lagi jalan ke sana,”


"Tunggu disitu! Biar aku yang jemput kamu. Soalnya acaranya udah beres dan kita take fotonya bukan di gedung, tunggu ya!"


“Okey, aku sekarang lagi di taman dekat gedung A,"


"Oke!"


Sambil menunggu Jesy, aku duduk di sebuah gazebo kecil, dsn tak lama kemudian Jesy pun tiba. Tanpa basa-basi, kami langsung menuju tempat yang Jesy tunjukkan.


Dari kejauhan aku bisa melihat Agha memakai toga bersama teman-temannya. Ia tidak banyak berbicara dan hanya memberikan senyum tipisnya, Mamanya pun terlihat sibuk mengobrol dengan orang tua mahasiswa yang lain.


Mataku dengan Agha saling bertemu saat aku datang menghampirinya.


Aku sedikit malu saat ini, karena aku menjadi pusat perhatian orang-orang. Berkali-kali aku memegang lengan Jesy sambil menutup diri dengan mengalihkan pandangan. Sejak aku tiba, Agha tidak mengeluarkan sepatah kata pun tentang aku hari ini. Sudah kuduga ada yang salah dengan memakai gaun ini, pantas saja orang-orang melihatku.


“Kamu cantik, Na. Terimakasih sudah datang,” ucap mama Agha.


Ternyata benar, Agha tidak suka dengan penampilanku saat ini walaupun mama Agha dan Jesy memujiku. Tapi karena sudah terlanjur, jadi tidak apa-apa. Lain kali kalau di acara formal, aku harus memakai pakaian yang lebih baik lagi.


“Ya udah, sekarang kita foto dulu! Ayo ambil posisi yang bagus!” ajak Jesy.


Kami berfoto sebanyak tiga kali, pertama dengan mama papa Agha, aku, dan Jesy. Kedua dengan mama papa Agha dan aku, terakhir dengan Jesy dan aku. Namun entah kenapa setelah sesi foto selesai, saat aku berbincang ria dengan Jesy dan mama aku merasa ada seseorang yang memotretku. Entahlah siapa, apa mungkin saja aku yang kepedean kali ya? heem.