Blanc Carnations

Blanc Carnations
58. Informasi



Jesy mengizinkan Gilby untuk menjenguk Rafa, sebentar. Dia tidak ingin Gilby berlama-lama di rumah, walaupun Nathan membiarkannya.


Gilby masuk dalam kamar Rafa. Dia melihat Rafa berbaring lemas disana, terlihat persis seperti Nana. Tiba-tiba jadi teringat kembali dengan Nana. Dia menghampiri Rafa dan duduk di kursi kecil miliknya yang tepat di samping ranjang sambil menatap lembut Rafa. Anak manis. Dia jadi teringat saat Rafa masih kecil dan dia sangat bawel sekalinya berbicara sama seperti Nana. Dalam waktu yang mungkin sudah lama baginya, dia merawat anak-anak dengan niatnya. Gilby ikhlas, melainkan dia sangat senang bisa membantu mereka.


Mata Rafa perlahan terbuka, Gilby yang menyadarinya membantu Rafa untuk duduk.


“Halo om,” sapa Rafa dengan lemah, suaranya terdengar serak.


Gilby mengecek dahi Rafa, masih terasa panas di tangannya. “Maaf baru jenguk Rafa.” Rafa menggeleng tidak apa-apa. Dia malah senang om Gilby datang. Memang sudah seminggu ini Gilby tidak berkunjung ke rumah mereka karena kesibukannya. Tapi anak-anak sendiri juga tidak memaksa pada Gilby. Kalau dia datang juga sudah bersyukur bagi mereka.


“Gimana pekerjaan om Gilby? Berjalan lancar kah?” tanya Rafa.


“Sejauh ini masih aman aja, lancar. Rafa sendiri sekolahnya bagaimana?”


“Sama juga om, lancar. Tapi Rafa nyesel juga hari ini ngga bisa sekolah.”


“Gapapa. Lebih baik kamu fokus sama kondisi kesehatan kamu dulu Rafa. Gabaik juga kalau dipaksakan, malah jadi lebih buruk.”


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, wanita garang itu menatap Gilby tajam seolah-olah memberi kode untuk segera cepat pergi. Rafa tertawa melihat tingkah kak Jesy dan ekspresi on Gilby yang sangat lucu.


“Ngga pernah sama sekali. Dia lebih tegas ke kita kalo moodnya kadang lagi ga bagus. Tapi kak Jesy asik kok orangnya, cerewet juga tapi Rafa suka, makannya kami nyaman bersama kak Jesy. Suasana juga jadi lebih hidup kalau ada kak Jesy. Moodbooster deh pokoknya.” Sedikit kecewa mendengar jawabannya, tapi benar juga ucapan Rafa. Dia orang yang menghidupkan suasana. Jesy melirik, dia melihat kalau om Gilby merasa sedikit kecewa. “Rafa juga nyaman kok sama om Gilby. Om juga udah sering banget bantu kami, dan maaf juga kami selalu buat om Gilby kerepotan. Kedepannya mungkin bisa kami atasi sendiri.” Lama-lama juga Rafa menjadi kurang nyaman karena terlalu sering merepotkan om Gilby.


“Gapapa Rafa. Jangan sungkan sama om. Kalau ada perlu boleh banget buat hubungi om. Om usahakan bisa bantu kalian. Semoga cepat sembuh ya Rafa. Sekarang kamu makan yang banyak, semangat juga sekolahnya. Om pamit ya, singa betina udah ngode-ngode dari tadi takut haha. Sampai jumpa.” Rafa tertawa lalu mengangguk, Gilby pun pergi meninggalkan Rafa.


Gilby merasakan kalau Jesy melihatnya dengan tatapan yang tajam, tatapannya tidak lepas dari setiap gerak-gerik Gilby. Dia merasa risih dan segera berpamitan pada Nathan juga Jesy. Setelah itu dia benar-benar pergi.


Waktu sudah menunjukan siang hari. Sudah seharusnya Jesy bersiap untuk menemui dengan seseorang yang sudah berjanji dengannya cukup lama. Mungkin bisa dibilang sebagai teman jauhnya Jesy. Dia telah bersiap untuk pergi, namun sebelum itu, Jesy memastikan dengan keadaan Nathan dan Jesy. Nathan juga terlihat sudah bersiap untuk berangkat sekolah, lalu Rafa, dia telah sarapan pagi dan minum obat kemudian Jesy menyuruh Rafa untuk istirahat. Lagipula Jesy kemungkinan tidak akan lama bertemu dengan orang itu. Mereka berpamitan pada Rafa dan memberi peringatan untuk berhati-hati. Setelah itu mereka pergi. Ah iya, Nathan diantar oleh Jesy ke sekolahnya. Kebetulan juga mobil Agha masih tersimpan di bagasi dan kondisinya pun masih bagus. Nathan bilang kalau Gilby yang merawatnya, karena hanya dia yang mengerti. Nathan masih tidak paham untuk menggunakan mobil, jadi dia kalau setiap kali ada keperluan penting selalu menggunakan sepeda miliknya. Tapi kalau dalam keadaan santai yang tidak terlalu terburu-buru, dia pergi berjalan kaki atau menaiki angkutan umum. Jesy mengira kalau Gilby hanya mengurus anak-anak terkait kondisinya, ternyata sampai material-material pun ia rawat. Tapi entah juga kalau yang itu perbuatan murninya atau mama meminta tolong padanya. Soalnya Nathan pernah bilang pada Jesy kalau dirinya disuruh untuk belajar mobil katanya, tapi juga mama mengusahakan pada Nathan untuk belajar motor. Padahal usianya kini masih berusia lima belas tahun, belum cukup umur bagi dirinya untuk membuat sim. Lagian juga bahaya kalau dibawah umur tujuh belas tahun sudah bisa mengendarai kendaraan. Bagus memang belajar motor, tapi yang Jesy takutkan itu adalah kalau ada orang yang memanfaatkan Nathan. Ya tahu, Jesy percaya kalau Nathan bisa menjaga dirinya dan dapat memilih-milih teman yang tidak menjerumuskan dirinya yang tidak-tidak. Tapi tetap saja Jesy khawatir, takutnya terjadi apa-apa. Dan sekiranya kalau Nathan benar-benar ingin belajar mobil atau motor, dia meminta untuk tetap berhati-hati dan juga tidak terlalu menonjolkan bahwa Nathan bisa. Takutnya malah ada seseorang yang malah memanfaatkan Nathan. Lebih baik disembunyikan. Namun kalau Nathan sudah legal, sudah diakui negara haha, tidak apa-apa bagi Jesy. Dia mengembalikan pilihan pada Nathan, karena itu sudah menjadi haknya.


Mobilnya menepi di parkiran sekolah. Kesan pertama saat Jesy melihat gedungnya. ‘Rindu,’ satu kata yang terucap dalam pikiran yang pertama kalinya. Dia masih terpaku melihat gedung sekolah Hyla.


“Kak? Mau masuk?” tanya Nathan tiba-tiba dan membuat Jesy kembali sadar.


Dia menggeleng dan berkata, “Ngga. Sana masuk kelas, semangat!” Jesy melambaikan tangannya sambil tersenyum. Nathan membalasnya dengan melambaikan tangan juga, tapi dia tidak tersenyum lalu masuk ke sekolah dengan berjalan santai. Entah apa yang dipikirannya, padahal dengan melihat siswa lain berlari dengan terburu-buru karena takut terlambat masuk kelas. Tapi ya, seterlambatnya siswa juga tetap masih diperbolehkan masuk kelas dan mengikuti pelajarannya juga absennya masuk walaupun ada keterangan terlambat. Lain cerita kalau dengan kuliah haha. Ah iya, Nathan kini sudah duduk di bangku sma kelas satu semester dua. Haha tidak terasa juga ya. Perasaan kemarin dia mengingat Nathan yang masih kecil, masa-masa imutnya. Jesy juga kini duduk di bangku smp kelas tiga. Waktu serius-seriusnya untuk mendapatkan sma negeri yang dia inginkan karena sekarang persaingannya sudah ketat. Apalagi dengan anak-anak sma kelas tiga yang akan masuk ke perguruan tinggi. Apakah syarat ujiannya masih sama seperti dulu atau tidak. Hmm atau mungkin juga ada beberapa yang diperbaharui, entahlah. Apapun itu yang terbaik untuk anak-anak.


Kondisi sekolah Hylapun masih tetap sama, tapi tidak sepenuhnya. Jesy melihat sekilas ada beberapa tempat yang sedang diperbaiki dan membuat tempat juga kondisi baru. Oh iya, apakah guru-guru dulu juga masih ada atau tidak. Kalau sempat Jesy akan berkunjung ke sekolah, sudah lama tidak jumpa.


Jesy menancapkan gas dan mobilnya pergi jauh meninggalkan Hyla.