
Rafa tengah sibuk merakit mainannya, membuat sebuah rumah-rumahan dari balok-balok kayu. Berkali-kali Ia mengganti balok yang pas untuk susunannya.
“Rafa udah makan?” tanya Nathan mengampiri Rafa di tengah kesibukannya.
Rafa menggeleng
“Belom, Rafa laper..” perutnya kini berbunyi lebih keras.
“Ada roti di dapur, mau?” tawar Nathan.
Kali ini Rafa mengangguk. “Boleh deh, kang..” tanpa basa-basi, Nathan segera ke dapur untuk membuat roti selai.
Dengan hati-hati Ia mengolesi selai rasa kacang pada roti. Rafa tak hanya menyukai rasa stroberi, Ia juga menyukai rasa kacang. Sebenarnya Rafa suka segala sih, kecuali rasa durian Ia tidak suka. Baunya menyengat katanya dan bikin mual juga.
Padahal durian enak kan? Apalagi kalau di jadiin es buah, enak banget tuh. Eh kok malah jadi ke es buah haha. Skip deh, takut keterusan. Ntar jadi ngiler sendiri deh yang ada.
Tak lupa Nathan membuat roti untuk dirinya juga. Setelah semuanya selesai, Nathan tak lupa mengeluarkan susu rasa vanilla dari kulkas. Kemudian meletakannya di atas meja ruang tamu. Rafa menyantap roti dengan senang, bahkan Ia sampai hampir menghabiskan jatah Nathan yang seharusnya satu orang tiga roti, tapi Rafa memakan satu roti jatah kakang. Biarkan saja, Nathan mengalah.
“Kenyang?”
Rafa menggeleng. Pasti Ia tidak akan merasa kenyang, sebanyak dia makan roti. Prinsip yang Rafa terapkan yaitu, tidak kenyang kalau tidak makan nasi. Haha biasalah. Walaupun Rafa pemakan segala, tapi kalau dirinya tidak makan dengan nasi maka belum merasa kenyang.
“Ke rumah nenek aja yuk!” ajak Rafa tiba-tiba.
Sebelum mereka pergi, Nathan memastikan nenek dulu apakah beliau ada di rumah atau tidak. Kan sayang kalau kita sudah disana tapi nenek tidak ada.
Nathan berhati-hati menekan tombol telepon rumah. Ia mencermati tiap tulisan angka yang berada di samping telepon dengan keterangan ‘nenek’. Bunda sengaja menaruhnya seperti itu, karena takutnya saat bunda tidak ada di rumah dan tidak ada satupun yang bisa untuk dihubungi.
Di usia yang masih terbilang sangat muda ini, bunda belum memperkenalkannya pada gadget. Tapi entahlah, saat itu Rafa bisa mengangkat telepon dari ku di ponsel nenek. Saat ku tanya lagi di rumah, katanya pernah liat orang yang menggunakannya jadi Rafa tahu. Hanya saja Ia tidak merasa memiliki penasaran yang tinggi untuk mengetahui lebih dalam lagi terkait gadget.
Rafa benar-benar anak yang pintar. Cepat tanggap dan paham dengan lingkungan sekitarnya.
“Halo nenek?” tanya Nathan pelan.
"Oh? Halo Nathan. Ada apa nelpon nenek nih?" jawab suara di seberang sana.
“Nenek sekarang lagi ada di rumah ngga?”
"Nenek masih diluar. Lagi menunggu bus datang, nak. Ada apa?"
Nathan ragu untuk memberi tahu kalau mereka kelaparan.
"Nenek kayaknya mau mampir ke supermarket, Nathan mau apa?"
Bukan sulap bukan sihir, Rafa langsung berteriak ingin meminta sesuatu pada nenek. Padahal jelas-jelas Nathan tidak membesarkan suara teleponnya, tapi Ia bisa mendengarnya dengan tajam.
“Rafa mau es krim! Sama Rafa mau ayam krispi mang Ana!” teriak Rafa.
Tunggu! Bagaimana Rafa bisa tahu dengan nama ayam krispi mang Ana? Padahal kan selama ini toko itu tidak ada sama sekali pajangan nama? Ah apalah itu.
Di sebrang sana nenek tertawa.
"Haha.. Rafa hebat ya bisa tahu ayam krispi mang Ana,"
Nathan ikut tertawa.
"Yasudah. Nathan mau apa?"
“Kakang mau kwetiaw goreng boleh?”
Sudah lama juga Nathan tidak memakan kwetiaw goreng, terakhir kali Ia makan saat pergi liburan ke Bandung.
"Oke deh. Tunggu di rumah saja ya, jangan kemana-mana,"
“Pasti! Oh iya, kakang juga mau es krim hehe.."
"Iya iya tenang aja. Tolong tunggu ya!"
Panggilan pun berakhir.
Mama telah membeli semua pesanan Rafa dan Nathan, Ia berjalan dengan senang hati. Tak lupa mama mengabari Nana. Belum ada jawaban dari Nana, tumben sekali. Biasanya Nana gercep dalam mengangkat telepon.
Apa mungkin dia lagi ke toilet atau ponselnya ditinggal kali ya? Mama mencoba menghubungi Nana sekali lagi dan hasilnya nihil. Tidak ada sama sekali jawaban dari Nana. Tumben sekali.
Nama Gilby terpampang di layar ponsel mama dan mama segera mengangkatnya.
“Halo Iby? Ada apa? Oh iya, Nana tumben banget ngga ngangkat telepon dari mama, ada apa ya? Kira-kira Iby tau ngga?” perasaan mama menjadi janggal, seperti ada yang terjadi pada Nana.
Mama mulai merasa khawatir. Ia terkejut dengan ucapan Iby, pikirannya sedikit kacau. Bagaimana dengan anak-anak? Mereka sekarang di rumah pastinya menunggu mama datang. Untuk sementara mama akan ke rumah Nana terlebih dahulu.
Mama berusaha mengendalikan diri, Ia berusaha untuk memberikan senyuman pada anak-anak. Melihat Rafa menyambut mama dengan senang membuat pikiran negatifnya sedikit demi sedikit menghilang.
“Nenek beli es krim kan buat Rafa?” tanya Rafa berbinar-binar.
Mama mengangguk. “Tentu saja!” mama segera mengeluarkan es krim dari kantung plastik yang Ia bawa.
“Satunya buat siapa?” tanya Rafa heran, perasaan dia hanya meminta di belikan es krim satu untuk dirinya, kok jadi beli dua?
Mama memberikan es krim yang satunya pada Nathan. “Ohhhh buat kakang toh?" Rafa baru mengerti setelah melihatnya. Nathan tertawa kecil.
“Yasudah, taruh dulu es krimnya ke kulkas. Kita makan nasi dulu okey?” pinta mama, Rafa mengangguk setuju, begitu pun dengan Nathan.
“Kalau gitu, siapa yang mau bantu nenek membereskan ruang tamu?” Rafa langsung mengalihkan pandangannya, karena pelaku yang telah membuat ruang tamu berantakan adalah dirinya.
Mama tertawa kecil melihat tingkahnya. “Kalau ngga ada, nenek ngga akan izinin kalian makan deh. Biar nenek aja yang beresin sendirian, jatah makanan kalian jadinya buat nenek saja," Mama jelas menggoda Rafa, Ia menguji Rafa untuk bertanggung jawab.
Nathan gemas melihat tingkah Rafa. Adik perempuan satu-satunya yang Nathan punya, yang Nathan lindungi. Lucu sekali haha, jadi pengen uyel-uyel Rafa deh.
Mau tak mau Rafa ikut membantu mama, karena kalau tidak nanti dirinya tidak bisa makan ayam krispi mang Ana deh. Mama turut senang dengan keikut sertaan Rafa untuk membantunya membereskan ruang tamu.
Rafa pandai membuat ruangan berantakan, tapi Ia cukup sulit untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya. Harus selalu kami ingatkan agar dia berani bertanggung jawab. Nana selalu mengingatkan Nathan untuk menasehati dan mengingatkan Rafa bertanggung jawab atas perbuatannya.
Tapi kalau diingatkan Nathan, Rafa pasti sulit untuk bertanggung jawab. Ia selalu bilang.
“Kan ada kakang, Rafa minta tolong sama kakang saja,” begitu kata Rafa.