
Sepulang sekolah, Rafa dan kedua temannya berencana pergi ke toko buku besar di kota untuk membeli beberapa buku yang mereka perlukan. Rafa sebenarnya hanya menemaninya saja, namun siapa tahu dengan begitu tibanya disana ada yang perlu Rafa beli.
Mereka pergi menggunakan bus sekolah, karena kebetulan melewati toko buku besar kota. Jadi sangat mudah.
Begitu sesampainya disana, mereka langsung menuju ke lantai buku pelajaran. Suasananya sangat berbeda dengan lantai bawah. Lebih tepatnya di bawah lebih banyak perbukuan novel, resep, beberapa pelajaran mengenai seni, dan masih banyak lagi. Namun lain atas adalah bagian perbukuan yang paling serius. Dan pengunjung juga terkadang lebih banyak berdiam di lantai bawah.
“Udah nemu buku yang kamu perlu?” tanya Abel pada Adnan sambil membawa dua buku besar ditangannya.
Adnan menoleh sebentar dan menjawab, “Belum.” Ia kembali mencari buku dan baru menemukan satu. Adnan menoleh kembali pada Abel, namun ia tidak melihat keberadaan Rafa. “Rafa dimana?”
“Ngga tahu, tuh? Kalau ngga salah sih sebelumnya dia diam di buku komik lantai bawah. Mungkin Rafa masih disana,” sahut Abel. Adnan mengangguk-angguk dan ber oh ria.
Awalnya Rafa hanya melihat-lihat di daerah perkomikan, tapi tidak berlangsung lama karena dia hanya melihat cover komiknya saja. Gambarnya membuat dia menarik perhatian, tapi tidak menarik perhatian untuk membacanya. Dia lebih menyukai web komik dibandingkan buku karena tidak paham dengan cara membacanya. Setelah itu dia berkeliling di tempat pernak-pernik dan alat tulis. Rafa lebih senang untuk memegang dan melihat-lihat saja daripada membeli. Takutnya barang yang ia sudah beli jadi rusak tiba-tiba karena tangannya yang ceroboh. Namun Rafa sedikit terkejut begitu memasuki gedung lain. Ia melihat ada piringan hitam. Tumben sekali mereka menjual ini, padahal kemarin-kemarin barang seperti ini tidak ada. Dan tidak hanya itu, mereka juga menjual kaset lama. Unik sekali melihatnya. Jarang-jarang Rafa bisa menemukan seperti ini. Oh iya, mereka juga menjual album penyanyi Indonesia dan penyanyi luar. Lebih tepatnya sih menjual album penyanyi dari berbagai mancanegara. Hebat! Ini sih bukan lagi disebut sebagai toko buku besar karena isinya sekarang sudah menjadi diluar topik utama. Tapi tidak apa-apa, toh yang datang ke tempat ini juga cukup banyak. Hebat juga ya pemasarannya haha.
Rafa melihat ada pemutar kaset disana, dia mencoba menggunakannya dengan memasukan salah satu kaset yang dipilihnya lalu memasangkan headphone. Dia mendengarkan musik luar yang entah apa judulnya ia tidak ingat. Lagu lama namun enak didengar Rafa. Dia sangat menikmati dan meresapi lagunya. Memahami makna dari lagunya. Dan entah mengapa air matanya menetes karena maknanya sangat dan benar-benar related dalam kehidupan Rafa. Setiap lirik dan alunan iramanya semakin dalam dan berat baginya. Hingga ia tersadar karena ada yang menepuk bahunya. Mata Rafa terbuka lalu menoleh ke belakang.
“Rafa kenapa?” tanya Adnan heran. Wajahnya sangat mengkhawatirkan Rafa.
Rafa melepas headphonenya dengan heran dan berkata, “Eh? Memang kenapa?”
“Itu kamu habis nangis?” Adnan menunjuk pada mata Rafa.
Eh? Bagaimana bisa Rafa menangis tanpa ia sadari? Apa mungkin karena lagunya kah? Rafa segera mengusap air matanya dan membenarkan kembali penglihatannya. Dia tertawa kecil, “Haha mungkin karena lagunya.” Rafa menunjukan tempat kaset yang dia pegang daritadi.
Baru kali ini Adnan melihat Rafa seperti itu, walau dia sendiri tidak sengaja. Apa mungkin lagu yang dia dengar benar-benar menyedihkan sampai dia terbawa dengan suasana? Mungkin saja. Semoga alasannya hanya karena itu, bukan yang lain. “Kalau ada yang perlu Rafa ceritakan, beritahu Adnan atau Abel saja. Jangan sungkan. Kami siap untuk mendengarkannya,” ucap Adnan serius.
Rafa tersenyum paksa sambil tertawa kecil. Gawat! Padahal Rafa baik-baik saja tapi malah membuatnya semakin khawatir, gerutunya dalam hati.
Abel datang dan bergabung, “Ada apa nih?"
Adnan dan Rafa menoleh pada sumber suara tersebut. “Rafa abis mencoba dengerin lagu dari salah satu kaset ini,” jawab Rafa dengan tersenyum agar Abel tidak merasa khawatir seperti Adnan dan anggap tidak terjadi apa-apa.
“Waw iya kah? Abel baru lihat mereka menjual barang seperti ini disini. Sepertinya baru ya?” Mata Abel berbinar karena melihat kaset-kaset dengan lagu lama yang jarang sekali ia jumpai.
“Iya kayaknya baru. Rafa juga baru lihat,” sahut Rafa. “Oh iya, gimana? Udah nemu buku yang kalian perlukan?”
Adnan menangguk dan Abel menyaut, “Sudah. Ayo kita pergi!” Mereka melangkah menuju kasir.
“Kalian pulangnya bagaimana?” tanya Abel.
Abel menempelkan tangan pada jidatnya, ia lupa kalau rumahnya searah dengan Adnan. “Maaf, maaf. Kalau Rafa bagaimana?”
“Kakang bilang sih mau menyusul kesini, jemput Rafa. Kayaknya masih dijalan.” Saat dikasir tadi Rafa di telepon kakang menanyakan keberadaannya. Dan juga karena kebetulan kakang berada di letaknya tak jauh dengan toko buku kota jadi dia menjemput Rafa untuk pulang bersama. Ia bilang abis dari rumah temannya memberi barang padanya, entah apa itu.
“Oh jemput kamu? Kita tunggu kakaknya Rafa datang ya!” Adnan mengangguk setuju pendapat Abel. Rafa sangat berterimakasih banyak dan meminta maaf karena merepotkan mereka.
Mereka menunggu dengan duduk di kursi material depan toko buku. Rafa melihat langitnya perlahan gelap. Semoga saja tidak hujan.
Dan tak lama kemudian kakang datang. Dia tersenyum pada Rafa dan teman-temannya. “Maaf terlambat. Nunggu lama ya?”
“Gapapa, kok.”
“Haloo teman-temannya Rafa~” Sapa ramah Nathan pada kedua temannya Rafa. “Abel dan Adnan, betul?”
Mereka berdua mengangguk, “Betul kak. Kalau begitu kami pamit pergi duluan ya, kak,” ucap Adnan ramah.
Nathan mengangguk, “Silahkan, silahkan. Hati-hati dijalan ya kalian berdua. Sampai jumpa.”
Adnan dan Abel pergi menuju halte.
“Laper ga?” Rafa mengangguk lemas sambil memegang perutnya. “Kita makan dulu yuk sebelum pulang.”
“Tapi jangan makanan yang terlalu berat. Ngga enak nanti sama kak Jesy kalau kita sudah makan duluan.”
Nathan tertawa, “Haha. Tentu saja! Kakang tahu kok, tenang aja.”
Mereka berdua pergi menuju toko makanan penutup yang letaknya tak jauh dari sana. Nathan yang memandu jalannya karena ia tahu. Rafa berjalan sambil menggandeng tangannya pada kakang. Nathan melihat Rafa sangat lucu, dia mengacak-acak rambutnya karena gemas dan membuat Rafa kesal. Sudah capek-capek ia benarkan agar terlihat rapi meskipun pulang sekolah, tetapi malah dirusak kakang. Tak segan ia mencubit pinggang kakang dan membuatnya meringis kesakitan. Lagian salah sendiri juga!
“Sakit Rafa.” Sebal kakang.
“Bodo amat!” cetus Rafa. Dia melepas gandengannya karena kesal.
Ada niat jahat yang tertanam dalam pikiran Nathan. Ia merangkul adiknya sambil menutup mata Rafa. Lebih asik dengan menjahili adiknya haha.
-o0o-