Blanc Carnations

Blanc Carnations
67. Kekhawatiran



Nathan meletakan ranselnya di sofa dengan rapi. Ia mengambil segelas air putih dan membawanya ke ruang tengah lalu duduk dan menyalakan tv. Tangan yang membawa segelas air minum itu kini menyentuh bibirnya, ia meneguk air dengan banyak. Sementara Rafa berlalu lalang sibuk mencari barang. “Nyari apa sih?” Nathan sedikit kesal melihat Rafa tidak bisa diam.


Rafa menjawab, “Ngga. Ngga ada.” Tapi dia tetap tidak bisa diam.


“Terus kenapa mondar-mandir gitu?”


“Ngga jadi.” Rafa langsung pergi menuju kamarnya.


Rafa kalau sekalinya aneh, ya aneh banget. Gatau deh ngga jelas tiba-tiba.


Di kamar, Rafa masih merasa gelisah. Pikirannya masih kacau karena sebentar lagi ia akan mengikuti ujian nasional. Karena itu dia jadi tidak karuan begini. Sama seperti dirinya masih menginjak sd kelas enam. Rafa selalu panik duluan sebelum hari h. Seperti sudah menjadi kebiasaannya. Namun jika untuk ujian biasa, dia tidak pernah dan tidak sampai panik seperti ini. Rafa menjadi takut kalau dia gagal dalam ujiannya kali ini. Apalagi saat ini persaingannya cukup tinggi. Bagaimana dengan yang melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Ih sereem, Rafa bergidik ngeri. Dia duduk termenung di kursi belajarnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada notif pesan masuk dari Abel.


Abel : Rafaa haloo?


Fa : Ada apa?


Abel : Besok Rafa ada waktu luang?


Fa : Kenapa gitu?


Abel : Kita main yuk!


Fa : Hey! Bentar lagi kita ujian nasional lho Bel!


Abel : Ih tapi Abel bosen banget nih :( Tiap hari ketemu buku terus, kepala Abel jadi pusing.


Rafa kira hanya dia saja yang merasakan muak dengan buku. Ternyata Abel juga haha. Memang benar yang dikatakan Abel. Kami juga sudah selama kurang lebih dua minggu lamanya fokus pada belajar dan terpaku pada buku. Butuh untuk menjernihkan pikiran. Bisa gila lama-lama bertemu dengan materi tiap hari. Sudah menjadi resikonya tapi ya begitulah.


Fa : Rafa coba minta izin dulu ke kakang sama kak Jesy


Abel : Lho? Kak Jesy masih ada di rumahmu?


Fa : Iya nih. Rencana awalnya cuman sebentar di Indo. Tapi katanya kak Jesy jadinya akan pindah ke sini.


Abel : Hoalaa oke deh. Abel tunggu kabar baiknya!^^


Rafa keluar kamar menuju ruang tengah. Terakhir kali kakang ada disana, jadi mungkin saja dia masih berada disana. Dan ternyata benar! Kakang lagi tidur pulas disana. Ada pikiran jahat dalam dirinya. Rafa mengambil gantungan kunci kamarnya yang berbentuk dreamcatcher. Bulunya ia mainkan pada lubang telinga kakang. Rafa sangat tahu kelemahan kakaknya. Diluar saja kelihatan kuat, tapi dia lemah kalau soal ginian haha. Kepala kakang tidak bisa diam, tangannya pun mengibas-ngibas di sekitar telinga bermaksud menghindari sesuatu yang mengganggu. Tapi ia tidak berhasil karena Rafa dengan cepat menjauhkan dreamcatchernya dari telinga kakang sambil menahan tawanya. Lalu kembali melakukan aksinya sampai kakang jadi kesal sendiri. “Duh apasih ini!” Kakang bangkit dari tidurnya. Ia melihat Rafa tertawa dengan  puas. Tidak salah lagi kalau bukan Rafa pelakunya. Kakang menjitak dahi Rafa membuatnya meringis kesakitan.


“Ih curang mainnya pake jitak-jitakan!” kesal Rafa. Mulutnya mengerucut.


“Lagian kamu sendiri gangguin kakang lagi tidur! Pake apasi hah!?” Rafa membuang mukanya, tidak menanggapi kakang. “Dih apasih ngga jelas banget kamu!”


Rafa baru teringat, niat awalnya kan meminta izin pada kakang. Dia tiba-tiba merubah sikapnya. “Kakang..” panggil Rafa lembut. Kakang yang mendengarnya jadi tersedak lidah sendiri. Ia bergidik ngeri melihat sikap Rafa yang tiba-tiba.


“Rafa mau minta izin kakang.” Nadanya memelas.


“Kenapa?”


“Rafa besok mau main sama Abel. Boleh ya? Pliss. Rafa pusing banget tiap hari ketemu soal materi, soal materi teruss. Kepala Rafa pusing banget butuh refreshing. Ya? Ya?”


Kakang berfikir sejenak. Mengizinkan atau tidaknya. Terlihat kasihan juga Rafa terus berkutat dengan persiapan dirinya ujian. Dia juga tidak bisa banyak menemani Rafa bermain karena kesibukannya di organisasi sekolah dan pekerjaan sampingan. Baru kali ini juga Nathan bisa pulang cepat daripada biasanya dan bisa istirahat dengan bebas. Walaupun sangat melelahkan tapi menjadi pengalaman juga baginya. “Tapi cuma hari besok aja. Setelah itu kamu fokus lagi belajar. Kalau ada apa-apa juga jangan sungkan untuk hubungi kakang. Oke?”


“Oke setuju!” Seru Rafa. “Terimakasih banyak kakang!!” kedua tangan Rafa melingkar di leher kakang, memeluknya dengan erat sambil mengecup pipi kakang membuatnya geli.


“Ih udah ah jijik Rafa.”


Rafa melepas pelukannya. “Loh kok gitu sih.”


“Mulut kamu bau tahu.”


“Dih orang Rafa udah gosok gigi kok. Kakang aja kali yang bau. Eh bener kan, kakang baru bangun, kayaknya ada air liur tuh di pipi. Ihhh. Rafa salah, Rafa jadi bau deh gara–gara kakang. Ihhh jijik.” Rafa mengendus kedua lengan dan bahunya, mengingat bahwa dirinya telah memeluk kakang.


“Emang kakang tidur keluar air liur?” tanya Kakang polos.


Rafa tertawa dalam hati. “Iya ih.bauu. Tuh kena sofa kang. Jorok banget sih! Jauh-jauh sana. Jangan deket-deket Rafa!” Kakang tidak percaya perkataannya. Mustahil dia tidur sampai mengeluarkan air liur. Dia mengendus baju dan lengannya. Tapi tidak mencium bau tidak sedap. Rafa aja nih kayaknya yang melebih-lebihkan.


“Heh Rafa bohong ya? Baju kakang ngga bau nih.”  Dia menyodorkan baju lengannya pada Rafa. Membuktikan kalau dirinya tidak bau.


“Itu karena hidung kakang yang bermasalah. Terlalu keseringan nyium yang bau-bau, makannya jadi indra penciumannya jadi berkurang.” Rafa tertawa dalam hati. Seru banget jahilin kakang yang baru bangun. Pikirannya masih belum sepenuhnya sadar jadi dia mudah sekali untuk ditipu haha.


Kakang berkali-kali mencium bajunya. Daripada dia capek sendiri, dia segera membasuh diri.


Ketika kakang masuk ke kamar mandi, Rafa langsung tertawa terbahak-bahak. Dia tidak tahan lagi melihat kakang kena tipu darinya. Mana baru bangun juga hadah. Seru jahilin kakang. Semoga dia ngga sadar deh kena tipu dari Rafa haha. Ekspresinya juga mana polos banget kayak ngga tahu apa-apa. Tapi bahaya juga sih kalau ada orang yang tiba-tiba menawarinya permen di jalan. Hiiii. Semoga jangan sampai deh.


“Kelihatannya kamu seneng banget nih Rafa,” sahut kak Jesy yang baru saja tiba.


Rafa terkekeh. “Seru lihat kakang, kak.”


“Kamu jahilin kakang lagi? Ya ampun nih anak berdua sama-sama nyebelin ya. Pusing kakak lihatnya.” gerutu Jesy sambil memegang kepalanya.


“Ya habisnya seru haha.”


Selama mereka baik-baik saja, tidak masalah bagi Jesy. Dia juga akan merasa senang jika anak-anak senang. Tak terasa juga Nana dan Agha berulang tahun atas pernikahannya dan memperingati kematian mereka. Jika kami memiliki waktu senggang, kami akan berkunjung.


-o0o-