Blanc Carnations

Blanc Carnations
56. Kepulangan Jesy



Jesy pergi menemui Nathan dan Rafa di rumah mereka. Dia mengunjungi untuk melihat secara langsung bagaimana keadaannya. Mama bilang kalau anak-anak baik-baik saja, tapi Jesy tetap harus melihatnya dengan langsung. Sepulang dirinya dari Singapore dan sampai di Indonesia pada malam hari, dia segera ke rumah Nathan dan Rafa tanpa istirahat terlebih dahulu. Sebelum pergi, dia menghubungi Nathan memberitahu akan ke rumahnya. Untungnya juga mereka sedang ada di rumah, tapi Rafa sudah tidur lelap.


Ditengah kemacetan lalu lintas, Jesy melihat ada sebuah toko makanan yang masih buka di seberang jalanan. Dia menepi sejenak untuk membeli beberapa makanan, dari makanan cepat saji, makanan ringan untuk ngemil, dan beberapa minuman kemasan juga. Setelah itu Jesy melanjutkan perjalanannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, beberapa menit lagi Jesy tiba di rumah Nathan dan Rafa. Jesy jadi penasaran bagaimana keadaan mereka sekarang setelah tiga tahun lamanya Jesy tinggal ke luar negeri. Dengar dari mama juga kalau Gilby sesekali berkunjung ke rumah mereka dan akhir-akhir ini semakin sering berkunjung, entah ada niat apa dia begitu. Jesy juga merasa aneh tapi yasudahlah, dia membuang pikiran itu. Mungkin bisa saja dugaannya salah. Ah, Jesy juga rindu dengan Nana dan abang. Bagaimana keadaannya ya sekarang? Jesy memberitahu mama kalau dirinya sudah memiliki pasangan hidupnya di Singapura dan mereka memutuskan menikah disana. Mama juga mengizinkan, tapi dia tidak bisa hadir dan hanya diwakilkan oleh om Rangga. Jesy sendiri tidak mengerti mengapa mamanya akhir-akhir ini seperti menjaga jarak dengannya tanpa alasan. Padahal Jesy sudah sangat berusaha untuk memaafkan perbuatan mama, tapi mungkin dia masih merasa takut kalau menyakiti anaknya lagi makannya dia menjaga jarak. Begitupun juga pada bang Agha. Walaupun beberapa lama setelah pernikahan abang mama sempat meminjam mobil abang untuk keperluan bisnisnya. Dan setelah dari situ juga mama menjaga jarak. Ah, Nana sempat bilang kalau mama pernah mengundang dia ke rumahnya. Bercerita tentang Agha dan sampai mengizinkan Nana ke kamar Agha.


Jesy membuka pintu rumah dengan perlahan. Nathan yang menyadarinya langsung menuju ke sumber suara tersebut. Dia menyambut Jesy dengan memberikan senyum manisnya. Jesy melepaskan heelsnya dan menaruh di rak sepatu yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk. Nathan dengan sigap mengambil koper yang Jesy bawa, membawanya ke dalam. Jesy tersenyum dan berterima kasih sambil mengelus kepala Nathan. Rumahnya masih sama, tidak ada yang berubah. Namun mungkin sekarang lebih agak kosong, tidak terlalu banyak pajangan dan lemari kecil seperti biasanya. Sekarang lebih terlihat lebih luas juga dan tidak terlalu sesak. Jesy membuka pintu kamar belakang dengan perlahan, terlihat Rafa sedang tidur dengan lelap. Dia kembali ke ruang tengah dan menyalakan televisi lalu menaruh beberapa cemilan yang tadi beli. Nathan duduk disampingnya.


“Sekolahmu bagaimana?” tanya Jesy berbasa-basi.


“Sekolahnya baik, ngga ada yang rusak. Cuman ya ada beberapa murid yang rusak.” Jawabnya datar. Wajah Jesy jadi masam. Benar juga perkataannya, tapi bukan maksud kesana juga. Dia pura-pura atau bagaimana sih maunya? Baru saja bertemu lagi dia sudah memberi sikap begini.


“Maksudnya bukan itu, kamu di sekolah baik-baik aja? Ada kendala ngga? Atau ada orang yang mengganggumu, atau mungkin ada masalah dengan pelajarannya? Sulit dimengerti kah?”


“Nathan baik-baik saja, aman ngga ada yang ganggu Nathan sama sekali. Kalau soal pelajaran sih udah wajar kali, pasti sulit. Ada tahapan kesulitannya juga.” Jelas Nathan datar.


“Rafa?”


“Rafa juga baik-baik aja. Tapi akhir-akhir ini dia merasa tidak enak badan, demam.  Besok Rafa juga izin tidak sekolah.” Untung saja Jesy langsung mengunjungi anak-anak. Kalau saja tidak, mungkin Agha akan jadi kewalahan. Membagi waktunya antara urusan rumah dengan sekolah. “Tante sendiri gimana?”


Mendengar panggilan dari Nathan membuat Jesy merasa hatinya tergores, setua itukah Jesy? “Jangan panggil aku tante lagi bisa? :( Kesannya gimana gitu. Aku padahal seumuran dengan mamamu lho. Panggil kakak aja.” Nathan  mengangguk mengerti. Entahlah dia benar-benar akan memanggil ‘kak’ atau tidak. “Kakak baik-baik aja. Tapi terkadang merasa lelah juga mengerjakan pekerjaan yang ya, lumayan berat juga. Namun berkat adanya suami kakak jadi lumayan beban kakak berkurang sedikit demi sedikit. Ya setidaknya tidak separah waktu pertama kali kerja. Kakak juga bahagia disana, tapi kakak lebih suka Indonesia. Kampung halaman kakak. Ini saja kami masih berbincang memutuskan untuk lebih baik pindah ke Indonesia atau tidak. Dan juga kebetulan kakak disini ada urusan seminggu jadi ya sekalian ngecek keadaan kalian. Mama bilang, eh maksudnya nin bilang kalau kalian baik-baik aja. Eh untungnya kakak datang langsung kesini, ternyata Nathan bilang Rafa tidak enak badan. Coba aja kalau kakak ngga kesini, kamu pasti kebingungan juga kan?” Nathan tertawa kecil mendengar perkataan kak Jesy, benar juga. Nathan masih merasa canggung untuk meminta tolong nin. Takutnya juga malah menjadi mengganggu waktunya, jadi pastinya dia yang akan menanggung semuanya sendirian. “Ngomong-ngomong, nin suka kesini ngga?”


“Oh iya, kakak numpang nginep di sini boleh? Kalau balik ke apartemen juga barang-barang kakak kayaknya udah di pindahin ke rumah mama Lina hehe.” Orang yang ngga tahu malu emang, numpang di rumah orang sembarangan. Bukan sembarangan juga sih, toh Nathan dan Rafa masih termasuk sebagai keluarganya juga kan? Jadi ngga salah juga. Kalau Jesy harus menginap di hotel selama seminggu biayanya terlalu mahal juga, lebih baik ikut menginap di rumah anak-anak sekalian menjaga mereka juga. Tenang saja, Jesy ngga mungkin bikin rumah ini menjadi berantakan. Dia pastinya rapih.


Nathan mengangguk, dia tidak keberatan dengan kehadiran kak Jesy. Melainkan senang, dia juga tidak merasa canggung saat bersamanya. Ya walaupun Nathan tidak bersikap heboh seperti Jesy. Dia dingin, tapi pengertian juga. Sama saja bagaimana dengan abangnya haha. Tapi lebih ngeselin anaknya sih daripada abang. Contohnya aja tadi hadah, gak paham lagi deh.


“Tenang aja, kakak bakal tidur di kamarnya Rafa. Ngga mungkin juga kan kalau kita sekamar. Nathan pasti malah jadi ngerasa canggung hmm. Tenang aja. Jadi mohon kerjasamanya ya. Kalau ada kendala pada Nathan sendiri atau pada Rafa, langsung kabari kakak aja. Jangan ngerasa sungkan, santai aja kok.” Jesy mengulurkan tangan pada Nathan, dia membalasnya dan bersalaman karena Nathan setuju dengan perkataannya.


"Tapi.." Natan menatap Jesy ragu ragu.


"Ya?"


"Apa Nathan boleh menanyakan sesuatu?" Ijinnya.


Jesy mengangguk. "Apapun," jelas Jesy.


"Nathan.. Nathan.."


"Ya?" Jesy sekarang malah di buat penasaran.


-o0o-