
Aku menggenggam tangan Agha dengan kedua tanganku, mengelusnya dengan pelan sambil menatap wajah Agha. Rambut Agha kini sudah sedikit lebih panjang. Padahal dia tidur dengan pulas, tapi rambutnya tetap bekerja. Wajah Agha juga terlihat sedikit pucat.
Ponselku bergetar, tertera nama Iby pada papan layar ponsel.
"Iby sudah sampai,"
“Oke!”
Sebelum aku pergi, aku merapikan kembali ranjang Agha dan meja kecil yang berada di samping ranjang. Tak lupa aku mengecup punggung tangan dan kening Agha. “Nana pergi dulu ya Agha,” aku tersenyum tipis sembari membuka pintu dan meninggalkan Agha.
Terlihat dari kejauhan, Iby sedang menungguku di parkiran sambil bermain kaki. Entahlah apa yang dia lakukan.
“By? Ngapain?” Iby menoleh saat mendengar suara ku lalu Ia menjawab.
“Mengisi kebosanan hehe..” aku menghela nafas.
Aku duduk di kursi depan dan memandang keluar jendela, selama perjalanan kami tidak berbicara sama sekali. Aku tahu kalau Iby pasti masih merasa canggung, begitu pun dengan ku. Dengan keadaan yang kurasakan sekarang aja aku jadi malas untuk bicara banyak, melelahkan.
Iby menawarkan diri untuk mengantar ku ke kantor, padahal aku sudah menolak. Tetapi Iby keukeuh, katanya sekalian ada perlu di sekitar daerah kantor ku. Entahlah perkataan Iby itu benar atau tidak, yang aku tahu Iby itu pintar mencari alasan.
16 April 2012
Jam istirahat sudah berdering. Semua siswa berlarian keluar kelas, kebanyakan dari mereka pergi menuju kantin karena rasa lapar yang sudah tidak dapat ditahan lebih lama lagi. Sama seperti siswa yang lain, aku pergi menuju kantin. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan Iby, Ia seperti mengikuti ku. Setiap beberapa langkah aku menengok ke belakang, Iby masih berjalan ke arah yang sama dengan ku.
“Jangan kepedean, Iby juga mau ke kantin,” ucap Iby cepat, Ia tak ingin disalahkan. Saat mendengar ucapan Iby, bibirku mengerucut.
Saat jam pelajaran seni, kelas kami mendapatkan jadwal ke ruang seni. Lagi-lagi Iby membuntuti ku, Ia sekarang duduk tepat di samping ku. Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Keesokan harinya, guru mata pelajaran Indonesia menyuruh kami untuk mengambil salah satu karya novel yang berada di perpustakaan lalu menganalisis karya novel tersebut.
Namun saat aku hendak mengambil salah satu buku novel yang letaknya berada di rak ketiga -tidak terlalu tinggi, Iby pun mengambil buku karya novel yang letaknya sama dengan ku. Karena kehadiran Iby, dengan cepat aku mengambil buku tersebut lalu berlari menuju pintu perpustakaan.
Anehnya lagi, saat aku mengobrol dengan Jesy di depan kelas Jesy. Ada Iby di dekat kami tengah menyenderkan badannya ke tembok dengan tatapan mencekam. Gila kali ya?
Keesokan harinya Iby tidak lagi membuntuti ku. Sikapnya berubah menjadi seperti biasa, namun kali ini menjadi lebih pendiam. Tetapi sekarang, saat aku akan bertanya atau berbicara dengannya, Ia selalu saha menghindar. Bisa dibilang hari ini aku tidak mengobrol sama sekali dengan Iby, lebih tepatnya aku diacuhkan oleh Iby. Gajelas deh, sampai saat pulang pun Iby tetap ngehindarin Nana.
Yang dibikin gila sih Iby tiba-tiba datang ke rumah ku malam-malam, Ia meminta izin ke mama untuk mengajak ku keluar. Demi apapun Iby tingkahnya aneh banget, gak jelas.
Karena aku kurang percaya pada Iby saat ini, aku pergi dengan pakaian yang seadaanya aku pakai sekarang. Walaupun aku sempat bertengkar dengan Iby, Ia menyuruh ku untuk mengganti baju namun aku menolak. Ya salah siapa juga, orang dia sendiri yang bikin aku ngerasa kurang srek sama tingkahnya yang gak jelas.
Aku berterus terang. “By! Nana gasuka ya kalau Iby aneh gini tiba-tiba," Iby melihat ku sambil cengengesan. Aku benar-benar kesal kalau semakin begini.
“Kalau Iby terus-terusan gak jelas kaya gini, Nana udahan deh. Tau gak sih! Nana paling gak suka kalau ada orang yang kaya gini ke Nana. Iby kan punya mulut, mulut tuh dipake. Kalau mau ngomelin Nana ya silahkan, kalau mau marah-marahin Nana atau apapun itu ya silahkan Nana gak bakal marah. Sikap Iby yang gini gak Nana suka! Setidaknya ngomong kek biar Nana jadi ngga bingung sendiri. Lama-lama Nana jadi kesel lihatnya! Terus tiba-tiba nyuekin Nana, Nana gak suka ya kalau Iby gitu tanpa ada alesan. Mana malem-malem nyulik anak orang keluar, gak sopan banget deh. Kesel Nana tuh, By sama Iby yang gak jelas gini,” gerutu ku panjang dengan amarah yang masih menggebu-gebu.
“Nana masih gak paham?” tanya Iby.
“Dih pake nanya lagi.” decak ku jengkel.
“Sebenernya Iby tuh penasaran sama Nana.” aku semakin mengerutkan alis ku. ”Gak jadi deh, Na. Nanti aja,” lanjutnya.
Tuh kan, Iby nyebelin banget. Ia menyuruh ku untuk menaiki motornya, aku segera duduk di jok motor dengan kasar. Bodo amat deh, motor dia ini kan. Salah sendiri juga.
Sejak awal Iby tidak memberitahu kami akan pergi kemana, yang penting aku ikut katanya. Rasa kesal ku juga tidak mereda sejak tadi, sehingga kami tidak berbicara di sepanjang perjalanan.
Kami telah sampai di studio band tempat biasa Iby latihan, aneh banget kan? Malem-malem nyulik anak orang cuma buat ke studio doang, dih.
“Ayo masuk!" ajak Iby.
Aku mengacuhkannya. Karena Iby yang tidak tahan melihat tingkah ku, Ia lantas menarik ku secara paksa untuk masuk ke dalam studio.
Dan saat kami masuk, terdengar suara terompet kecil. “Happy birthday Nana~ Happy birthday Nana~ Happy birthday! Happy birthday~ Happy birthday to you~ yeeeey!”
Sebuah nyanyian ulang tahun dilantunkan oleh teman-teman band Iby, Jesy dan beberapa teman ku yang cukup dekat. Senyum ku merekah dengan lebar. Mereka menyuruh ku untuk make a wish lalu meniup lilinnya.
“Jadi ini alasan sikap Iby tiba-tiba berubah?” tanya ku sambil tersenyum tipis.
Iby tertawa kecil, dari situ aku bisa tahu jawabannya. “Bener-bener gak lucu, Iby, ih!”
Aku memukul dengan kepalan tangan kanan ku pada bahu Iby. Tidak terlalu keras, tapi tetap saja itu membuat Iby meringis kesakitan. Karena tidak terlalu kerasnya aku berbeda dengan yang lain haha.
“Maaf ya, Na hehe.." sekali lagi aku memukul Iby.
“Yaudah, sekarang ayo kita makan-makan!” ajak Rian. Orang-orang bersorak ria. Tapi tunggu, ada yang janggal deh.
“Dimana? Siapa yang bayar?” tanya ku heran.
Mereka tertawa. “Tenang Na, gak usah dipikirin. Aman kok haha..” jawab Jesy.
Aman aman, merekanya aja yang ngerasa aman. Lah Nana kan jadi ngga enak hati, nih. Tahu-tahu nanti kalau makanan udah habis semuanya, ternyata mereka nyuruh Nana untuk bayar kan gak lucu, eww.
“Semuanya udah ditanggung Iby sama mamamu, Na..” bisik Iby.
Aku langsung menatapnya terkejut, dia hanya tertawa. Dih gak lucu banget. Mama juga ikut-ikut bikin acara ini? Wah bener-bener nih mama. Sama anak sendiri ngga ngasih tau! Pantesan mama mudah banget ngizinin Nana keluar malem-malem, lebih tepatnya ini tengah malem sih. Ya gimana Nana ngga heran daritadi?
Kami pun pergi menuju sebuah tempat restaurant kecil yang tak jauh dari lokasi studio band. Pantas saja Iby mengajak ku kemari, dia yang mengusulkan sendiri untuk makan-makan di restoran kecil milik om nya ternyata.