Blanc Carnations

Blanc Carnations
50. Kejutan



Setelah Agha selesai bekerja, dia segera menjemput Nathan. Untungnya Agha pulang lebih cepat. Agha pulang tepat pukul dua siang jadi sempat untuk menjemput Nathan. Sebelumnya dia menitipkan Nathan kepada gurunya dan teman-teman dekatnya.


Sekarang katanya Nathan bersama beberapa teman dekatnya di rumahnya. Orang tuanya menghubungi Agha, lebih baik biar mereka yang mengantar Nathan pulang.


Tapi Agha menolak, ia ingin memberi kejutan secara langsung. Jadi dia meminta tolong padanya untuk menjaga Nathan sebentar sebelum Agha sampai di rumahnya. Memang tidak sopan, tapi entahlah Agha merasa baik-baik saja. Dia bersikap biasa saja.


Kalau Nana mengetahuinya mungkin Agha bisa dapat omelan dari Nana. Dia akan mendengar Nana berpidato lagi. Tapi untungnya juga orang tua teman Nathan dan gurunya tidak menghubungi Nana, ya karena Agha yang bilang sendiri kalau Nana sedang sakit.


Mungkin dari situlah mereka enggan untuk meneleponnya karena takut mengganggu waktu istirahat Nana.


Mobil Agha menepi di tempat parkir depan rumah temannya Nathan. Lalu Agha menekan tombol belnya dan ada seorang wanita yang membuka pintu. Agha kira dia ibu dari temannya Nathan, ternyata bukan.


“Halo selamat siang. Nathannya ada?” ucap Agha. Dia menatap Agha garang membuat Agha bergidik ngeri.


Tiba-tiba Nathan berlari keluar lalu memeluk Agha sambil berteriak “ayah” dengan seru. Agha menyambutnya dengan gembira lalu membalas pelukannya.


Agha berjongkok sambil membenarkan rambut Nathan dan menatapnya, lalu berkata, “Maaf ya ayah terlambat”


Nathan menggeleng dan menjawab, “Gapapa kok, yah selama ayah beneran menjemput Nathan.” Agha tersenyum mendengarnya.


Orang tua teman Nathan kini sudah berada di depannya sambil menjinjing ransel Nathan. Dia segera menyerahkan ranselnya pada Agha dan Agha pun menerimanya, “Terima kasih banyak. Maaf juga sudah merepotkan.”


“Tidak apa-apa, Gha. Lagian Nathan anak yang baik. Dia juga senang bermain bersama Darel,” ucap mama Darel.


“Syukurlah kalau begitu,” jawab Agha.


“Sering-sering main ke rumahku ya Nathan!” ucap Darel bersemangat. Nathan menjawab dengan mengangguk.


Agha tersenyum, “Terimakasih ya,” ucapnya sambil mengacak-acak rambut Darel. “Kalau begitu saya sama Nathan pamit. Sekali lagi terimakasih banyak, sampai jumpa.” Pamit Agha lalu pergi bersama Nathan.


Nathan berjalan menuju mobil Agha dengan gembira. Tidak biasanya Agha melihat Nathan sebahagia ini setelah bermain dengan temannya. Di dalam mobil pun Nathan bersenandung sambil melihat keluar jendela dan kedua kakinya mengayun secara bergantian.


“Nathan kelihatannya seneng banget ya?” ucap Agha sambil meliriknya sebentar karena ia sedang menyetir.


Nathan menoleh dan tertawa. “Nathan seneng banget yah!” jawabnya dengan riang.


“Waahh memangnya Nathan bermain apa aja di rumah temanmu?”


“Nathan main banyak. Dari polisi-polisian, petak umpet, mobil-mobilan, robot-robotan, sama Nathan juga main seluncuran disana. Darel punya seluncuran bagus banget yah. Dibawahnya ada pasir-pasiran gitu. Terus juga ternyata di rumahnya ada kolam renang yang luas banget. Sebelum ayah datang, Nathan sama Darel mau main air. Dia ngajak Nathan, tapi dipikir-pikir juga Nathan ngga bawa baju ganti. Jadi lain kali aja deh kalau Nathan bermain lagi ke rumah Darel. Eh ngga lama kemudian ayah datang deh.”


“Seru banget ya main sama Darel. Nathan mau berenang?”


“Kalau ayah tidak ada janji lain, besok mau ngga berenang?” tanya Agha.


“Eh? Gapapa nih?” Agha mengangguk. “Bunda sama Rafa bagaimana? Bunda kan masih sakit, Rafa juga baru sembuh.”


Benar juga apa kata Nathan. Agha tidak enak kalau tidak mengajak Nana. “Lihat nanti di rumah saja ya. Ayah coba ngobrol sama bunda. Kalau ngga dapet izin dari bunda mungkin lain kali aja, gapapa?”


Nathan menangguk, “Gapapa yah. Nathan nggak maksa kok.” Agha tersenyum senang mendengarnya. Dia mengelus lembut kepala Nathan.


“Sebelum pulang, gimana kalau kita jajan dulu? Kita kasih kejutan buat bunda!” ajak Agha.


“Wah boleh banget yah!” seru Nathan.


Agha dan Nathan mampir ke toko kue. Terdengar aneh tapi hanya ini yang bisa Agha terpikirkan. Tapi tidak hanya itu, Agha membelikan beberapa roti asin kesukaannya. Awalnya Agha mau membelikan roti manis, tapi kan dia sudah membeli kue dan itu sudah terlihat seperti sangat manis. Hanya kali ini saja Agha mengizinkan Nana untuk mengkonsumsi yang manis-manis.


Kemudian juga Agha membelikan beberapa mainan untuk Nathan. Tidak banyak, Agha hanya membeli Nathan sebuah mobil kecil. Biasanya kalau di kalangan orang biasa dijadikan sebagai pajangan saja, tapi Agha merasa tidak apa-apa jika Nathan ingin memainkannya. Agha percaya kalau Nathan anaknya cukup rapi. Dia akan menggunakannya jika benar-benar ingin menggunakannya dan jika tidak memerlukannya dia akan menyimpannya dengan rapi di tempat yang aman dan mudah untuk dicari. Kalah dengan ayahnya. Agha juga rapi dalam menyimpan barang, tapi dia juga memiliki sifat ceroboh dan terkadang lupa. Begitupun dengan Nana.


Setelah semuanya terasa cukup bagi Agha juga Nathan, mereka pun kembali ke perjalanan pulangnya. Nathan langsung tertidur karena lelah membantu ayahnya untuk mencarikan kue yang tampilannya cantik dan membantu Agha membawakan roti yang yang ia beli. Padahal rotinya tidak terlalu banyak tapi cukup membuat Nathan lelah. Ia terlihat kesusahaan sewaktu membawa roti dari toko menuju mobil. Agha sudah menawarkan biar dia yang membawanya, tapi Nathan keukeuh biar dia yang membawanya. Tidak apa-apa katanya, ya lumayan bisa buat melatih tubuhnya katanya. Seolah-olah berolahraga secara tidak langsung. Kalau itu sudah kemauan Nathan ya sudahlah, biar dia belajar juga.


Agha menepi di bagasi rumah dan mematikan mesin mobilnya. Dia juga membangunkan Nathan dan akhirnya terbangun walaupun keadaannya masih belum sadar sepenuhnya. Nathan berjalan sempoyongan ke rumah. Agha mengikutinya dari belakang, sekalian berjaga-jaga juga, takutnya tiba-tiba Nathan terjatuh.


Di depan rumah Nathan yang mencoba untuk membuka pintunya, tapi tidak bisa karena tenaganya sudah habis. Dia perlu memulihkan kembali energinya. Jadi Agha yang membuka pintunya dan disambut dengan kehadiran mama.


“Wah Agha sama Nathan udah pulang!” seru mama. Nathan memeluk mama dengan lemas dan mamapun menggendong Nathan karena melihat Nathan masih mengantuk. Ia membawa Nathan ke kamar sebelah.


“Mama tadi datang jam berapa?” basa-basi Agha.


“Sekitar jam sembilan,” jawabnya.


Agha langsung mencari Nana, tapi keberadaannya tidak terlihat membuat dirinya panik.


“Nana lagi dikamar mandi,” ucap mama tiba-tiba. Agha menghela napas lega. Ia kira kalau Nana pergi keluar.


Tak lama kemudian juga Nana keluar dari kamar mandi dan dia terheran-heran melihat Agha. “Kenapa?”


Agha menggeleng, “Kamu gapapa? Udah mendingan sekarang?” Agha mengecek dahi Nana dan kedua pipinya lalu tiba-tiba mencubit pipi Nana membuat Nana meringis kesakitan.


Nana memukul bahu Agha. “Ih sakit Agha! Nana udah ngerasa mendingan, kayaknya sekarang udah sembuh gara-gara Agha nyubit pipi Nana.” bukannya minta maaf, melainkan Agha tertawa melihat Nana memasang wajah yang kesal. Lucu haha.