
“Iya. Ini Nana lagi dekat sama kamu, Jes. Sama temen-temen yang lainnya juga,” Jesy pikir Nana akan langsung paham dengan pertanyaannya, tapi bukan itu yang Jesy maksud haha.
“Bukan itu, Na. Maksud Jesy orang deket gitu, kaya kamu sama Gilby..”
Nana bangkit dan membenarkan posisi duduknya. “Ohh, iya cuma Iby aja yang deket banget sama Nana,”
“Selain dia?” kini Jesy bangkit dan membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Nana.
Nana berfikir sebentar, Ia mencoba mengingatnya kembali. “Hmm ada sih, tapi belum terlalu dekat. Memangnya kenapa?”
Jesy takut jika Ia melanjutkan topiknya membuat Nana merasa tidak nyaman. Apa nanti saja Jesy lanjutkannya? Lebih baik nanti saja kali, ya. Dengan waktu yang pas. “Gapapa nanya aja sih Na hehe.."
"Ya ampun.." kekeh Nana.
**
Hari menua, Kini Jesy sudah pergi dari beberapa waktu lalu. Dirinya juga sedang sibuk dengan pekerjaan nya sendiri, memikirkan masa lalu yang kini bertubrukan dengan kelangsungan masa depannya bersama Agha serta keluarga.
Ponsel Nana bergetar dan nama Jesy tertera pada papan layar. Ia segera mengangkatnya. “Halo Jesy?”
"Halo, Na? Kamu masih dirumah sakit?"
“Iya, ada apa memangnya?”
"Aku ada urusan disana, biasa jadwal pemeriksaan bulanan. Nanti setelah aku beres, aku kesana ya. Jangan pergi!"
Nana tertawa, memang benar sih Nana jarang bertemu dengan Jesy karena waktunya selalu tidak tepat. Jadinya Nana terus-menerus membatalkan janji.
“Iya, tenang aja. Nana ngga akan pergi kok. Lagian mama belum pulang, jadi aku masih jaga Agha sampai mama datang,” jelasnya.
"Oke deh, bagus. Yaudah sampai jumpa!" Jesy langsung memutuskan panggilannya.
Sebenarnya Nana cukup terkejut mengetahui kalau Jesy itu adiknya Agha. Orang yang pernah Ia ceritakan pada Nana, ternyata Jesy. Haha sempit juga dunia.
Jadi teringat waktu Jesy terkejut dengan kehadiran Agha saat perayaan Jesy yang telah melaksanakan olimpiade.
Saat itu Jesy sibuk mempersiapkan perlombaannya. Ia lalu-lalang di laboratorium, berlatih soal-soal untuk olimpiade kimia. Beberapa guru kimia pastinya membantu Jesy untuk memantapkan persiapannya. Jesy menjadi sangat bersemangat setelah keluar dari zonanya yang selama ini Ia terperangkap di dalamnya. Kini Jesy sudah bebas melakukan apapun yang Ia sukai dan yang Ia inginkan. Seperti tidak nyata, namun ternyata begini rasanya.
Tidak hanya Ia yang merasakan kebebasan ini, abangnyapun pasti merasakan kebebasan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Pasti dia senang bukan? Ya walaupun abang entah mengapa masih berurusan dengan perusahaan mama, tapi Ia menyikapinya dengan seperlunya saja. Yang lainnya tidak perduli, menganggap bahwa yang Ia lakukan pada perusahaan mamanya itu hanya sekedar mengisi kekosongan saat Ia sedang tidak melakukan apa-apa.
Tapi Agha lebih aktif di kampus dibandingkan dengan perintah mamanya di perusahaan. Dia juga sama-sama sibuk dengan masa depan yang diinginkannya.
Nana terduduk di kursi panjang depan kelasnya. Meminum susu kotak rasa coklat sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya dengan tatapan yang kosong. Menyenangkan bukan? Hanya dengan melamun, tidak memikirkan apa-apa terasa menyenangkan.
Tapi jangan lama-lama juga sih, sama jangan terlalu keseringan. Bisa bahaya yang ada haha. Banyak sekali siswa yang berlalu-lalang di depan Nana. Beberapa orang menyapanya, tapi Nana tidak menyadarinya. Dia terlalu asik dengan dunianya sendiri. Jesy yang kebetulan lewat melihat Nana membuatnya menggeleng-gelengkan kepala. Ia segera menyadarkan Nana.
“Hei, Na!” ucapnya sambil menepuk pundak Nana.
Jesy kira dengan begitu Nana akan terkejut hebat, ternyata biasa saja. Yah ngga rame.
“Kenapa?” tanyanya polos sambil meminum susu kotaknya yang sudah habis.
“Ngga. Lagian Nana ngelamunnya ngga beres-beres, kasian orang-orang dari tadi nyapa kamu tuh,"
"Oh iya kah?" Nana bangkit untuk membuang kotak susu ke tempat sampah yang berada di sebrangnya.
"Iya, Na.."
“Oh, iya. Jesy kapan olimpiadenya?”
“Rabu depan, Na..” Jesy mengela nafas.
Kalau diingat-ingat, rabu depan sekolah kami belajar sebentar. Huft entahlah karena akan ada rapat dengan komite sekolah. Jesy sendiri tidak tahu mereka akan rapat apa, karena dirinya sibuk dengan olimpiade. Hmm tidak hanya Jesy, Nana juga tidak tahu apa yang akan mereka rapatkan.
Padahal dia biasanya yang tahu duluan kalau ada kejadian seperti ini. Jesy bingung, bagaimana bisa Nana mendapatkan informasi seperti itu? Bahkan sampai valid, membuatnya bergidik ngeri. Jesy jadi takut dengan Nana.
“Semangat ya!” Nana memberi dukungan pada Jesy dengan semangat, agar energi Jesy kembali terisi.
Jesy tersenyum, “Terimakasih!"
Ya, tidak ada salahnya berteman dengan Nana. Maaf ya, Na.
Jesy bersiap-siap untuk pergi ke gymnasium kampus Hyla. Seperti siswa pada umumnya, Jesy sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Ia perlu mengisi tenaganya agar fokus saat lomba nanti.
Melihat abangnya yang baru saja selesai mandi, Jesy bertanya memastikan. “Abang jadi kan antar Jesy ke gymnasium?” langkah Agha terhenti, Ia menjawab dengan mengangguk tanpa adanya satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Mungkin dia masih belum sadar sepenuhnya.
Setelah semuanya selesai, Agha segera pergi ke tempat parkir sedangkan Jesy menyusul karena mengecek dulu takutnya ada sesuatu yang tertinggal.
Jantung Jesy memburu, Ia gugup dengan lomba pertamanya. Lomba yang benar-benar murni usahanya dari hati dengan niat yang murni.
Beda saja rasanya melakukan sesuatu yang sesuai keinginan, dan niat kita. Excited tapi juga gugup. Berbeda dengan dirinya yang dulu Ia melakukan presentasi di perusahaan mamanya karena keinginan mama bukan niat murni dari Jesy.
Awalnya pasti akan ada rasa takut, tapi setelah melaluinya dia menjadi biasa saja. Bahkan Jesy berniat untuk menghancurkan perusahaan milik mamanya karena muak. Tapi Jesy mengurungkan niatnya. Kalau dia berbuat gegabah, bisa-bisa image mamanya rusak karenanya. Bisa juga Jesy tidak akan tinggal di apartement lagi.
Agha membuka pintu mobilnya, membantu Jesy turun dari mobil.
“Jangan tegang,” ucap Agha.
“Ih gimana ngga tegang, bang! Huhuu do’ain Jesy ya, semoga lancar.” Jesy terus memainkan kuku telunjuknya dengan kuku jempol. Agha menyadarinya, Ia menghentikan Jesy.
“Semangat! Abang pasti do’ain kamu. Semoga berhasil!” ucap Agha sambil memeluk Jesy singkat.
Dengan diberinya semangat oleh abangnya sendiri Jesy menjadi bersemangat. Abang sudah mendukungnya, Jesy gak boleh sampai ngecewain dia. Yang penting Jesy udah berusaha keras! Semangat!!
Tak lupa Jesy memberikan pesan pada Nana.
Jesyy. "Do’akan aku! Deg-degan hueeeee,"
Nanaiu. "Semangat!!"
Setelah membaca itu hati Jesy melega, calon kakak iparnya itu sudah menenangkan setengah dari kegugupannya. Hoohh.. semoga hari ini lancar jaya.