Blanc Carnations

Blanc Carnations
42. Purwakarta



Kebetulan juga ada yang menjual martabak di sekitar kantornya. Letaknya juga tidak terlalu jauh. Agha memesan martabak manis dan martabak telor, jaga-jaga kalau Nana tidak memasak. Siapa tahu juga mereka merasa lapar. Agha harap mereka menyukainya.


Ketika Agha sampai rumah, Nana menyambut hangat kedatangan Agha. Begitupun dengan Nathan. Dia berlari ke arah Agha lalu memeluk kaki Agha, haha imut sekali anak yang satu ini. Nana berinisiatif mengambil tas Agha dan melepaskan mantelnya.


Walaupun dia sambil menggendong Rafa tapi dia bisa melakukannya. Selagi salah satu tanganya kosong, Nana bisa melakukan hal yang lain. Agha sendiri tidak bisa melakukan seperti yang Nana lakukan karena cukup sulit baginya. Memang terlihat berbeda ya antara Wanita dan pria haha.


Nana sangat menyukai martabak yang Agha bawa, begitupun dengan Nathan menyukai martabak manisnya. Agha bersyukur kalau mereka menyukainya. Bagi Agha dengan begini saja sudah cukup baginya, melihat Nana dan anak-anak senang.


Agha hanya makan sedikit, dia cuma mencicipinya. Karena Agha juga sudah sangat lelah, ia pergi ke kamar dan segera tidur. Nana yang menyadarinya segera menghampiri Agha. Ia bertanya apakah Agha membutuhkan sesuatu atau tidak dan Agha bilang tidak, dia hanya butuh untuk istirahat saja.


Nana mengerti, dia menyelimuti tubuh Agha dengan kain selimutanya yang lembut. Tiba-tiba saja Nathan berlari masuk kedalam kamar sambil teriak, Nana tersenyum sambil memberi isyarat untuk jangan berisik.


Nathan berbisik dia ingin bermain dengan Ayah dan Nana bilang Ayah tidak bisa diganggu karena dia butuh istirahat. Nathan kecewa mendengarnya, Nana jadi merasa bersalah jadi dia yang bermain dengan Nathan. Mungkin juga Nathan merasa bosan karena lebih sering bermain dengan bunda dibandingkan dengan ayahnya.


Sekalinya bermain juga saat Agha memiliki waktu luang yang cukup panjang dibandingkan biasanya. Sekecewanya Nathan kalau dia sudah asik bermain jadi lupa dengan sikap sebelumnya.


Haha wajar saja sih, namanya juga anak kecil. Nana juga kewalahan dengan Rafa, dia berjalan merangkak kesana kemari, lalu ikut bermain dengan Nathan sambil mengacak-acak mainan.


Biasanya anak-anak lain akan marah jika mainannya direbut, diacak-acak, bahkan sampai dirusak. Namun berbeda dengan Nathan, dia tidak marah melainkan senang. Nathan tertawa terbahak-bahak atas kelakuan Rafa.


Nana sangat bersyukur bahwa Nathan tidak banyak tingkah yang membuat dirinya kesal, dia lebih baik dibandingkan anak-anak pada umumnya.


Nathan juga bahkan lebih sabar dibandingkan dirinya, selain itu dia sangat menjaga adik kecilnya. Pernah sekali Nana meminta tolong Nathan untuk menjaga Rafa, ada sedikit kekhawatiran juga tapi Nathan menjaganya dengan baik.


**


[D-6 Sebelum Agha Kecelakaan]


Esoknya Agha berangkat kerja seperti biasa, begitupun dengan Nana menitipkan anak-anak pada mama. Nana juga sudah bekerja seperti biasa, dan syukurlah Rafa sekarang sudah bisa dititipkan tidak seperti sebelumnya yang susah sekali untuk ditinggalkan. Walaupun ditinggalkan sebentar, Rafa selalu menangis sampai dia kesal dengan nangisnya yang dilebih-lebihkan.


Agha dapat kabar dari atasan bahwa dirinya harus pergi ke Purwakarta untuk meeting menggantikannya karena beliau tiba-tiba ada kabar bahagia dari istrinya akan melahirkan. Dan hanya Agha orang yang dapat dipercayanya, kerjanya juga sangat bagus dan Agha orangnya fleksible dia bisa apa-apa. Mau tidak mau Agha ke Purwakarta, namun sebelumnya dia memberi kabar dahulu pada Nana agar dia tidak merasa khawatir. Nana mengerti dan mengizinkannya, dia bilang untuk berhati-hati disana.


Agha kira jam perginya masih lama, ternyata sudah dekat. Ia segera berlari ke gerbong kereta yang dituju. Agha juga sempat salah jaluryang seharusnya ia ke jalur kereta yang ertujuan ke Purwakarta, tapi dia malah masuk ke jalur sebrangnya. Karena mengejar waktu juga, dia mau tidak mau menyebrang rel kereta. Bahaya tapi bagaimana lagi jika ia benjalan memutar terlebih dahulu dengan memutar, Agha akan tertinggal kereta. Otomatis tiketnya akan hangus dan juga orang-orang yang sudah berjanji untuk meeting disana akan marah, jadinya Agha merusak semua pekerjaan atasannya. Untungnya juga ada selain dirinya yang akan menyebrangi rel kereta, ada seorang bapak yang membawa anaknya. Mereka bersama menyebrangi rel kereta. Untungnya Agha sempat menaiki kereta, kalau saja dia terlambat sedikit dia akan tertinggal.


Di kereta Agha istirahat sebentar karena energinya terkuras habis dengan berlari-lari mengejar kereta. Melelahkan juga. Agha tidak bisa berpergian dengan mobilnya karena akhir-akhir ini mama memakai mobil Agha. Katanya urusan pekerjaan yang sangat penting, entahlah apa itu. Om bilang kalau mama sering keluar kota, terserah apa maunya mama selama dia tidak mengganggu rumah tangganya Agha tidak akan marah.


Sekitar kurang lebih sejam berlalu Agha sampai di station lalu segera ke tempat yang sudah dijanjikan. Tempatnya cukup jauh dari station jadi memerlukan waktu yang lama lagi untuk sampai kesana.


Agha pikir klien akan marah padanya karena Agha telat datang, ternyata tidak. Mereka memakluminya karena mereka juga dapat kabar dari atasan Agha akan digantikan oleh Agha dan sebenarnya atasan memberi amanat pada mereka untuk tidak terlalu memarahinya. Jika saja tidak ada amanat itu mungkin Agha bisa kena marah habis-habisan. Setelah semuanya siap, Aghapun segera memulai untuk presentasi.


Terbilang nyaman dengan bekerja diperusahaan sekarang. Sangat nyaman malahan. Tapi sebenarnya Agha juga kurang merasa nyaman karena sikap atasan pada karyawan-karyawannya yang terlalu terbuka. Terlalu nyantai juga terasa oleh karyawannya menjadi nyantai juga, gitu deh haha. Agha lebih menyukai dengan yang benar-benar serius tapi tegas, tapi yasudahlah. Sayang juga kalau Agha keluar dari perusahaan dan atasan juga sudah sangat mempercayai Agha bisa sampai dia meminta tolong padanya untuk menggantikannya. Pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang sangat mempercayai Agha dalam urusannya. Agha merasa sangat senang namun merasa kurang nyaman juga karena terlalu menggunakan Agha dibandingkan dengan yang lain. Agha sendiri menjadi takut, atasan kurang sekali memberi kesempatan untuk karyawan yang lain. Agha pernah membicarakan tentang hal ini dengan atasan untuk memberi kesempatan karyawan lain.


Mereka juga berhak untuk mendapatkan kesempatan seperti ini, mencoba juga siapa tau mereka menadapatkan kemampuan lain selain dari pekerjaan aslinya. Toh yang beruntung bukan hanya pada karyawannya saja, tapi bisa bermanfaat juga untuk perusahaan. Jadi ada timbal balik juga kan?