
Agha tahu kalau ini hanya ngidam ku saja, jadi suatu hal yang sangat mustahil jika aku menonton konser idola. Karena aku masih dalam keadaan hal yang takutnya terjadi apa-apa nanti disana, lalu juga memang sangat susah untuk memesan tiket konsernya.
Tidak hanya itu, aku meminta Agha untuk membelikan kulkas. Dia bilang kalau permintaan ku yang kali ini sangat bermanfaat. Kita sangat perlu kulkas, dan kebetulan butuh. Jadi pas saja haha. Seneng banget deh kalau gini haha.
Memasuki usia tujuh bulan kehamilan ku. Masih tetap dengan keadaan yang sama, dan terkadang aku merasakan nyeri tiba-tiba. Tidak hanya itu, indra penciuman ku jadi lebih tajam daripada biasanya. Saat ada bau yang kurang enak seperti durian dan parfum yang membuat kepala ku pusing, aku merasa mual.
Anehnya juga saat mencium bau rendang, aku tiba-tiba mual. Padahal selama aku hamil, aku tidak terlalu sering makan rendang. Itu juga bukan buatan resto pada umumnya, aku lebih sering memakan rendang buatan mama.
Entahlah beda saja rasanya, seperti ada rasa yang khusus. Tapi mama bilang bahwa bumbu yang Ia gunakan itu sama saja seperti orang-orang membuat rendang pada umumnya. Mungkin karena mama sudah ahli dan terbiasa jadinya ada perbedaan rasanya, bahkan terasa lebih enak.
Delapan bulan tiga minggu kehamilan ku, saat-saat menuju hari kelahiran sukses membuat ku gugup. Banyak sekali pikiran-pikiran yang membuat ku terganggu, juga ada banyak kegelisahan yang terjadi pada ku. Pemikiran yang bahkan terkadang membuat ku takut akan mebgambil keputusan yang aku buat.
Takut banyak hal, tapi Agha selalu disampingku. Ia percaya dengan keputusan ku. Ia percaya bahwa aku bisa melaluinya. Agha sendiri yang menghentikan ku untuk berfikir yang tidak-tidak.
Memikirkan hal yang hanya untuk mengganggu ku itu menyia-nyiakan waktu ku saja. Membuang-buang waktu ku yang tidak berguna.
Itu yang Agha katakan.
“Na, keputusan apapun yang kamu buat, Agha pasti akan menerimanya. Agha akan berusaha untuk mencoba menerimanya. Agha harap keputusan yang Nana ambil itu sudah menjadi keputusan yang bulat. Kalau kamu merasa masih kurang atau ragu, lebih baik bicarakan pada ku. Agha akan berusaha mengambil jalan tengah atau siapa tahu bisa memberikan saran untukmu, Na. Tolong jangan lupakan keberadaan ku, Agha juga ingin dimanfaatkan dan berguna untukmu, Na.."
Dari perkataan Agha itu membuat ku menjadi tak segan untuk membuat keputusan. Namun sebelumnya pastinya aku meminimalisir beberapa konsekuensinya. Haha katanya Agha ingin dimanfaatkan juga olehku, lucu sekali.
Dengan begini, Agha sudah memberikan energi yang cukup untuk ku. Dukungannya pun membuat ku menjadi lebih percaya diri.
Tepat dihari seharusnya aku melahirkan. Jantung ku berdegup dengan sangat kencang, yang akhirnya membuat diri ku menjadi takut sendiri. Agha ikut untuk menenangkan ku dan memberi ku dukungan.
Dia selalu mengingatkan ku untuk tidak gugup dan tidak menjadi pikiran bagi ku. Aku berusaha untuk menenangkan diri, percaya dan pasrah pada Tuhan.
Semoga saja kelahiran ku berjalan dengan lancar, percobaan pertama ialah melahirkan dengan normal. Aku harus memancing perut ku untuk merasakan rasa mules. Dalam kurun waktu yang cukup lama untuk memancing rasa mules itu lebih sulit dari yang ku bayangkan.
Banyak yang aku takutkan kalau aku melakukan operasi dan menjalani resikonya. Maka dari itu aku tetap berusaha untuk memancing rasa mules dan selalu berdo’a agar aku bisa melahirkan normal seperti pada umumnya.
Setelah sekian kalinya aku mencoba berusaha, kali ini aku benar-benar pasrah. Aku serahkan saja semuanya pada Tuhan, aku relakan semua pada-Nya. Semua kepercayaan ku. Sebuah hal ajaib yang membuat ku sangat bersyukur ialah aku akhirnya bisa melahirkan dengan normal.
Ternyata begini rasanya melahirkan, aku dapat merasakan bagaimana rasa sakit yang selama ini ku pertanyakan. Rasa lega setelah semua hal yang sudah ku lalui selama ini. Mendengar tangisannya membuat ku banyak bersyukur sekaligus senang dan lega.
Anak pria pertama ku lahir dengan normal dan lancar. Seperti yang aku dan Agha sepakati sebelumnya, kami menamai anak kami jika pria yaitu bernama Nathan.
“Selamat ya, Na. Akhirnya kamu sudah melewati rintangan yang kamu lalui sampai saat ini. Agha sangat percaya sama Nana. Semoga anak kita bisa membuat bangga untuk orang tuanya dan bangsa. Tidak hanya itu, semoga juga dia bisa menjadi penjaga malaikatnya yaitu kamu. Dan adiknya kelak,” ucapnya sambil mengelus lembut Nathan dengan senyum yang merekah.
“Adik? Tolong deh, Gha. Nana baru melahirkan Nathan, udah ada bahasan lain lagi. Capek deh..”
Aku membuang muka, ya bagaimana tidak kesal coba? Baru saja Nathan lahir udah ada bahasan baru tentang adiknya nanti. Memangnya Agha ada niatan untuk menambah satu personil lagi dikeluarga sederhana ini? Haha konyol.
Ini saja belum tentu dia nanti besarnya bagaimana dan seperti apa. Huaa aku jadi tidak sabar untuk segera memakaikan baju bayi yang lucu-lucu pada Nathan. Membayangkannya saja sudah membuat ku gemas sendiri haha.
Mama dan mama Agha datang untuk menjenguk ku juga anak pertama kami. Mama bilang bahwa Nathan lebih menyerupai ayahnya. Sudah terlihat Nathan yang memiliki lesung pipit di pipi kanannya, sama seperti milik Agha. Mama juga terlihat sangat excited melihat cucu pertamanya.
Aku yakin, setelah ini mama akan ngomel-ngomel pada kakak bahwa dirinya kalah dengan adik sendiri yang sekarang sudah melahirkan anak pertamanya.
Padahal aku melarang mama untuk memarahinya, biarkan saja. Lagian ini semua terjadi bukan karena kehendak kita sendiri. Semuanya tergantung bagaimana rezeki yang di berikan-Nya.
Semoga saja mama paham apa yang aku katakan dan Ia tidak mengomel-ngomeli kakak. Ya kuharap terjadi seperti itu!
Aku merasa sangat lelah, dan aku memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Mengumpulkan energi dengan baik. Karena setelah ini, banyak sekali yang harus aku hadapi kedepannya.
*
Sudah kurang lebih selama seminggu setelah aku melahirkan Nathan. Tiap waktu aku selalu menjaganya. Nathan tahu jika Ia ditinggalkan bundanya walaupun sekedar ke toilet, Ia pasti menangis.
Ditinggalkan sebentar pasti Nathan akan menangis. Tiap malam dia selalu menangis, entah itu karena lapar, ada yang mengganggu tidurnya, atau merasa sakit.
Sudah menjadi kewajiban ku sebagai ibu untuk terus menjaga dan merawatnya, tak kenal waktu. Aku bahkan sampai terjaga di malam hari dan terkadang aku merasa sulit untuk makan. Tapi aku memaksakan diri untuk makan, semuanya demi Nathan. Kali ini yang ku pikirkan bukan hanya tentang aku, melainkan tentang Nathan juga.
Menikah itu tidak berdiri sendiri, seharusnya berdiri bersama-sama, keputusan yang dibuat tidak ditanggung sendiri dan tetap harus berkomunikasi. Saling memberi tahu agar tidak adanya kesalahpahaman. Agha tidak ingin memiliki kesalahpahaman dan kecanggungan di antara kami.
Agha juga terkadang menjadi manja pada ku, katanya aku terlalu sibuk mengurusi Nathan dibandingkan dirinya makanya Ia sampai berbuat seperti itu. Aku hanya bisa meminta maaf padanya. Memintanya untuk bersabar dengan keadaan sekarang.
Aku mengelus-ngelus kepala Agha yang sedang tidur di samping ku sambil aku menyusui Nathan dengan posisi duduk, menyenderkan tubuh ku pada tembok.
“Nana minta maaf ya, Gha. Tolong bersabar dan ngertiin posisi Nana juga. Tolong Agha sabar sampai Nathan tumbuh menjadi anak kecil hihii.."
"Kamu juga pasti kepingin banget kan buat main dengan Nathan, jadi tolong sabar ya. Kita pasti bisa laluin ini, Gha. Hingga waktu terasa begitu cepat. Agha pasti lelah bekerja, aku paham itu. Nana juga lelah, tapi ya mau bagaimana lagi. Kalau sempat atau Agha ada waktu libur, kita pergi liburan ya. Sekalian membiarkan Nathan mengetahui dunia luar rumah, bagaimana? Kita juga harus beristirahat dan mengambil waktu baik untuk menjernihkan pikiran,”
Agha bangun dan duduk menyender disamping ku sambil menatap ku dengan lembut. “Kalau kamu mau, Agha setuju. Biar Agha yang menghubungi om untuk mencarikan tempat penginapan,"
Aku menggeleng. “Jangan, Gha. Biar kita sendiri yang mencarinya. Kalau sempat aku akan mencarinya di internet. Ku mohon jangan menyusahkan orang lain lagi. Aku tahu itu akan lebih mudah, tapi aku ingin merasakannya sendiri Gha. Murni hasil dari kita, tanpa ada campur tangan orang lain bisa?”
Senyum Agha merekah. Mendengar ucapan Nana membuat dirinya semakin mencintai Nana. “Oke kalau gitu. Nanti Agha juga sempatkan membantu kamu mencari tempat penginapan dan rekreasi di internet. Kalau gini Agha harus kerja keras lagi supaya dapat hari libur dengan cepat haha,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku tersenyum. “Jangan terlalu memakasakan diri juga, Gha. Nana khawatir kamu sakit. Nanti yang ada Nana jadi repot sendiri kalau kamu sakit hahaha.."
“Iya tenang sayang, Agha pasti ngejaga diri Agha kok. Kamu sendiri kan tahu kalau Agha kuat haha. Apalagi kalau Agha dapat energi baik dari kamu,"
Aku tertawa kecil. “Kamu juga tolong jaga kondisi kamu, Na. Cukup fokus dengan kesehatanmu, Nathan, dan juga aku. Jangan memikirkan hal lain selain itu. Agha takut kalau kamu jadi bergantung sama hal lain dan tidak fokus pada keluarga. Yang paling terpenting, kalau butuh apa-apa jangan segan untuk menelepon ku atau mama ya. Agha usahain untuk selalu bantu kamu, tenang aja,"
Dia mengelus lembut rambut ku lalu mengecup kening ku. “Pasti,” jawab ku singkat sambil tersenyum dan menatap Agha dengan lembut.
“Udah ah, kamu cepet tidur. Pagi ini kamu kerja kan, jangan sampai terlambat. Nana usahain untuk buatkanmu sarapan kalau Nathan sudah tidur lelap,” ucap ku pelan.
Tak terasa kami mengobrol sampai jam menunjukan pukul satu pagi. Agha kembali membenarkan posisinya, bersiap untuk tidur.
“Yaudah, Agha tidur duluan. Selamat malam,” bisik Agha lalu mengecup lembut punggung tangan ku yang Ia pegang.
Aku pun tertidur kurang lebih selama tiga jam. Tangisan Nathan membuat ku terbangun. Ia menangis karena tubuhnya digigit nyamuk. Aku merasa bersalah karena tidak mengecek kembali selimutnya.
“Bunda minta maaf Nathan, maaf. Ini salah bunda sendiri ngga ngecek selimut kamu udah bener atau belum. Tenang nak, bunda disini. Jangan khawatir, kamu aman,” bisik ku sambil berusaha menenangkan Nathan.
Tangisan Nathan perlahan berhenti, Ia kembali tidur karena sudah merasa lebih baik. Aku sangat bersyukur Nathan bisa mengerti. Aku menidurkan Nathan di atas keranjang kecilnya, karena waktu sudah menunjukan matahari akan terbit.
Aku segera membersihkan rumah dan membereskan beberapa tempat yang terlihat berantakan, walaupun tidak banyak. Setelah semuanya beres, aku segera membersihkan diri lalu membuat sarapan.
Aku segera membangunkan Agha. Ku kira dia masih tertidur, ternyata dia sudah bangun. Bahkan Agha sudah siap untuk berangkat kerja. Tapi saat aku melihat dasinya yang sedikit tidak seimbang, dengan sigap aku membenarkannya.
Agha tersenyum melihat istrinya fokus membenarkan dasi. Nana menggemaskan jika dilihat dari atas haha. Seperti yang diketahui, tinggi Nana dengan Agha cukup jauh. Tingginya Nana kurang lebih sedagu Agha, terlihat lucu haha.
“Kenapa ketawa?" tanya ku yang sadar kalau sedari tadi Agha seperti menertawakan ku.
“Nana bikin Agha gemes,” jawabnya. Kini pipi ku memerah.
“Ih Agha, masih pagi udah bikin Nana salah tingkah! Udah ah, ayo sarapan! Mumpung Nathan tidurnya nyenyak, aku bisa nyantai dulu,"
Kami segera ke meja makan untuk sarapan. Ku lihat senyum Agha tak luntur-luntur hingga membuat ku salah tingkah sendiri, terlihat juga Agha yang sangat senang sekali.
“Usahain sering-sering kaya gini ya, Na,” ucap Agha tiba-tiba.
Aku tertawa. “Haha iya Nana usahakan,"
Sarapan kami sudah habis tanpa sisa, Agha segera beriap untuk berangkat kerja. Ia mengambil kunci mobilnya di atas lemari kecil dekat televisi dan membawa tas kerjanya yang Ia taruh di kursi sofa ruang tamu. Aku sendiri memastikan Agha berangkat tanpa ada barang yang tertinggal.
“Agha berangkat, hati-hati di rumah, ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi Agha,” ucapnya lalu mengecup kening ku.
Aku tersenyum. “Tentu saja! Agha juga hati-hati, semoga pekerjaanmu berjalan dengan lancar, semangat!!” dia membalasnya dengan tersenyum dan melambaikan tangan.
Dengan melihat senyuman Agha yang tidak berhenti membuat ku menjadi bersemangat untuk memulai hari. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih padanya karena telah memberi kekuatan untuk ku. Semoga saja hari ini berjalan dengan lancar dan berakhir dengan bahagia, begitu pun seterusnya.