Blanc Carnations

Blanc Carnations
40. Bandung



Agha sibuk dengan kehidupannya dan mama sibuk dengan mengurusi kemajuan perusahaannya yang entahlah akan bagaimana kedepannya. Dilihat dari luar kemajuannya stabil seperti biasa, namun jika dilihat dari dalam banyak sekali perbuatan dan beberapa hal yang mamanya lakukan demi mempertahankan perusahannya.


Jika ia tidak mampu membuat perusahaannya maju, ia harus mempertahankannya. Sudah beberapa orang sebagian banyak yang keluar dari perusahannya, Agha merasa senang.


Tapi juga ada beberapa orang juga yang setia membantu mama. Mereka memang orang-orang terdekat mama jadi ya wajar saja, dan mereka juga bisa mendapatkan posisi itu karena mama. Mama yang membantu mereka untuk mendapatkan pekerjaannya, jadi mereka merasa berterimakasih pada mama.


Mereka malahan lebih baik pada Agha dibandingkan mama sendiri. Tidak hanya pada Agha, tapi pada Jesy juga. Ah iya, karena janji Agha pada mama saat itu, mama lebih mengabaikan Jesy. Seperti menganggu Jesy tidak ada dalam kehidupannya.


Lucu juga tapi rasanya tidak adil. Bukan begitu sikap sebagai mama pada anaknya.


Terkadang juga Agha dan Jesy lebih sering diam di rumah om dibandingkan di rumahnya. Mereka diam di rumah jika mama tidak ada di rumah, bisa dibilang sibuk dengan urusan perusahaannya. Entahlah, rasanya tidak nyaman saja bersama mama di rumah.


Walaupun mama tidak pernah sekalipun mengucapkan satu kalimat pada mereka. Mama jadi tidak pernah berpamitan atau bilang apapun saat sebelum dirinya pergi, beliau seringnya pergi tanpa ucapan satu katapun.


Agha sendiri bisa terbangun karena pintu rumahnya yang tertutup cukup keras. Ya mungkin itu karena mama sedang terburu-buru, dia sembrono dalam sekitarnya. Namun juga suatu saat tiba-tiba saja mama memberikan Agha dan Jesy sebuah notes dia atas meja keluarga.


Mama menuliskan, “Ada makanan dikulkas, makan saja.” seketika perasaan Agha menjadi rindu dengan sikap mama sebelumnya.


Dan ini pertama kalinya setelah sekian lama. Jesy yang baru bangun dan melihat makanan kesukaannya di atas meja terlihat sangat senang. Dia tidak bertanya siapa yang membuat atau membelikannya. Selagi ada makanan yang membuatnya senang, Jesy akan lupa tidak menanyakan darimana asal-usulnya.


Malahan dia baru bertanya pada Agha jauh-jauh hari, yang dimana tiba-tiba saja dia teringat dengan makanan itu. Jesy sendiri tidak percaya kalau makanan itu dari mamanya, karena selama ini mamanya mengabaikan Jesy dan Jesy sendiri juga tidak memperdulikannya. Ia hanya fokus dengan masa depannya.


**


Dihari Agha mendapati cuti lama, ia pergi berlibur dengan Nana dan Nathan ke Bandung. Agha melihat kesenangan Nana dengan menaiki kuda, salah satu keinginannya. Dia bilang begitu saat keputusan terakhir kami untuk menentukan tempat berlibur yang pasti. Nana terlihat seperti orang yang sudah profesional, dia sudah lihai dengan kudanya. Agha sendiri sangat terkejut kalau Nana mempunyai keahlian tersembunyinya. Dipikirannya terngiang-nging, sejak kapan dia bisa begitu? Mustahil jika sebelumnya dia tidak sempat latihan. Jika adanya latihan, tapi kapan? Nana sama sekali tidak bercerita pada Agha soal berkuda. Dan kalau diingat-ingat juga Nana tidak membuka cerita banyak mengenai hobi atau keahliannya. Dia lebih sering bercerita tentang seni? Ah entahlah, Agha bisa menangkap kalau ceritanya itu tentang seni. Tapi ya bisa termasuk juga sih. Toh sebenarnya kegemaran pada Agha juga bisa disebut sebagai seni. Nana menyukai seninya bukan soal yang lebih dalam daripada umumnya artist lain, dia lebih menyukai membuat sesuatu dari berbagai media atau bahan lain. Lebih terlihatnya Nana suka membuat kerajinan. Entah itu tiba-tiba saja membuat syal atau sweater dari hasil rajutannya, lalu membuat keranjang dari rotan atau eceng gondok, dan kerajinan lainnya. Sudah Agha bilang untuk membuka usaha saja dibandingkan dengan membuat untuk kepentingan sendiri, lebih baik juga dia menghasilkan uang dari kelebihannya bukan? Sangat bermanfaat. Ya itung-itung menambah pemasukan Nana. Tapi Nana maish tidak berani untuk membuat usahanya, masih banyak pekerjaannya yang cukup menumpuk. Susah dan cukup sulit untuk membagi waktunya untuk hal lain. Dia juga membuat kerajinan saat ada waktu luang banyak ya contohnya saat dia mengambil cuti hamil anak pertamanya. Alih-alih untuk tidak tidur, dia mengerjakan sesuatu sambil menyusui Nathan.


Setelah dari sana kami berkunjung ke neneknya Nana. Sikapnya begitu ramah, dan beliau menyambut kami dengan senang disana. Awalnya kami berencana untuk menginap di hotel, tapi dengan melihat cuacanya yang terus menerus hujan dan kemungkinan keadaan kami untuk pergipun sangat tidak kemungkinan, akhirnya kami menginap di rumah nenek. Agha merasa canggung karena pertama kalinya ia menginap di rumah nenek, yang biasanya nenek lebih sering berkunjung ke rumah kami atau ke rumah mama.


Nenek terlihat sangat senang bertemu dengan cucunya haha. Nathanpun merasa senang bisa bertemu dan bermain dengan nenek sampai tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali haha. Suasana rumah nenek yang awalnya sepi kini menjadi cerah dan ramai karena keberadaan kami. Agha turut senang dengan melihatnya.


Karena dengan kedatangan kami yang begitu mendadak dan stok makanan di rumah nenek juga yang begitu sedikit, Agha berencana membeli sesuatu di luar. Dia membeli makanan rumah di sekitarnya dan untuknya tidak begitu jauh seperti di rumahnya di Jakarta. Jadi tidak memakan waktu banyak juga. Ini salah satu kesukaannya dengan kota kembang ini. Apa lebih baik pindah ke Bandung saja ya? Toh disini sudah seperti dimanjakan. Kalau mau apa-apa sudah tersediakan kumplit disini. Minimarketpun dekat dan bahkan ada banyak sekali minimarket disini yang letaknya sampai bersebelahan haha. Namanya juga bisnis market. Kan ada pepatah yang bilang dekatkan musuhmu daripada menjauhi musuhmu agar bisa tahu bagaimana titik kelemahannya. Haha sebeneranya Agha hanya melebih-lebihkan saja, ia sendiri lupa bagaimana kalimat pastinya bagaimana.


Saat malam hari sebelum kami tidur Agha bertanya pada Nana, berpendapat padanya apa lebih baik untuk pindah ke Bandung saja? Agha juga menjelaskan kalau di Bandung lebih nyaman dibandingkan di Jakarta. Banyak hal yang Agha benci juga disana. Tapi sebenarnya Nana juga punya pemikiran untuk pindah ke Bandung, namun ada hal yang ia tidak bisa tinggalkan di Jakarta. Dan juga Nana memikirkan dengan pekerjaan Agha yang menurut Nana sudah sangat cukup dan cocok untuk Agha. Nana sendiri bingung Agha bermaksud untuk pindah ke Bandung itu dengan merelakan pekerjaannya atau tidak, kan sayang juga. Jadi kemungkinan nanti saja dan dijadikan sebagai rencana Agha dan Nana kedepannya kalau sudah merasa lega dan puas di Jakarta.